
Eria menatap roti yang kemudian ibunya injak-injak. Dengan wajah menahan kesal, Eria berusaha menghentikan.
"Bu, bukankah berdoa bila ibu injak-injak makanan? Lagipula itu roti yang isinya telur bulat. Orang tidak membunuhnya tapi mendapatkan hasil yang diberikan oleh hewan itu sendiri. Bukankah ibu sendiri yang bilang tidak boleh menyia-nyiakan makanan?" Tanya Eria lalu memungutnya dan membersihkan lantai.
Dengan geram mendengar apa yang dikatakan Eria, sang ibu menatap jutek kepada Aiolos dan Nyx.
"KALIAN! Pasti kalian yang mengajarkan anak ini hal yang tidak biasa, bukan? JAWAB!!!" Teriak ibunya dengan wajah sangar.
"Maaf, Tante untuk kedatangan kami yang tiba-tiba ke rumah. Kami hanya mencemaskan Eria," jelas Aiolos dengan sopan.
"PERGI!!! KELUAR!!!" Teriak sang ibu enggan mendengarkan penjelasannya.
"Tante, Eria kelaparan apa Tante tidak merasa iba? Sebagai seorang ibu," kata Nyx.
Detik berikutnya Aiolos dan Nyx dipukul oleh pipa yang berasal dari dapur. Mereka semua menahan, Eria hanya menahan ketakutan. Aiolos yang paling banyak menerima pukulan.
"HUWAAAAA!!" Teriak Aiolos ternyata pipa itu berhasil memukul pipinya dan mata sedikit.
"AIO!!!" Teriak Nyx yang langsung melindungi badan temannya itu.
"KAKAK!!" Teriak Eria berlari histeris.
"Kamu... buat apa menolong mereka? Ini... rumahku... beraninya kalian," kata ibunya yang masih kaget melihat yang dilakukannya.
"Kakak, cepat bawa ke kamar mandi. Aku akan bawakan handuk kecil," kata Eria menunjuk.
"Kalian sudah masuk tanpa ijin," kata ibunya masih saja memarahi.
Tulang pipi dan mata Aiolos tampak memar, Nyx lalu menyeka darah yang agak mengucur. Eria mengambil es batu dalam kulkas dan handuk kecil, diberikannya pada Nyx.
Eris yang juga berada disana berusaha menyembuhkan nanar luka Aiolos dan juga Nyx. Aiolos menahan nyeri dia juga pusing.
Eria lalu keluar menghampiri ibunya dengan wajah kesal. "Bu, meski ibu selalu melakukan hal di luar kewajaran terhadapa aku. Aku tidak akan keberatan tapi ibu melakukan sesuatu pada kedua temanku, aku tidak akan memaafkanmu," kata Eria membuat ibunya terduduk dengan lemas.
__ADS_1
Eria kembali memeriksa tangan Nyx dan mengompresnya.
"Aku tidak apa-apa, yang penting Aiolos," kata Nyx melihat air mata jatuh di kedua mata Eria.
"Maaf ya, Kak," kata Eria mengusap air matanya.
Aiolos tersenyum menggapai kepala Eria. "Sudah tidak apa-apa, entah kenapa setelah dikompres es rasa sakitnya hilang,"
Eria menangia karena mereka datang ke rumah itu, ini yang terjadi. Ibunya memang sangat keterlaluan.
"Jangan sedih lagi ya. Kita sudah jadi teman," kata Nyx.
"Iya," jawab Eria. Mereka berdua lalu keluar menatap ibunya yang tertunduk.
Aiolos dan Nyx memutuskan untuk pulang saja. Eria mengantar sampai depan, ibunya tidak mempedulikan.
"Habiskan ya makanan dari kami," kata Aiolos yang mata sebelahnya sudah ditutup oleh kain.
Setelah kepergian mereka, Eria memasuki ruang tengah tanpa peduli bagaimana kondisi ibunya. Dia menutup semua bekal itu dan bermaksud membawa ke atas kamarnya.
Tiba-tiba keluarlah aura khas Eris yang tengah memegangi pundak Eria. Sontak kedua mata Eria berubah menjadi merah darah.
"Apakah kejadian itu harus tetulang kembali?" Tanya Eris meminjam tubuh Eria.
Ibu berteriak histeris. "A-apa!? S-siapa kamu!?"
"Apa kamu lebih menyukai kekuatannya atau anakmu sendiri?" Tanya Eris lagi.
"Kamu kenapa!? Benar ini pasti akibat kamu berkenalan dengan kedua orang tadi. Aku akan hubungi kuil. Ya, ya itu harus kulakukan!" Kata ibunya gemetaran.
"Aku tanya, mana yang lebih penting anakmu atau kekuatannya? Pikirkan baik-baik sebelum aku menghanguskan keduanya,"
Eris lalu menghilang dan Eria kembali tersadar menatap ibunya yang ketakutan.
__ADS_1
"Bu, aku ingin suatu hari kemampuanku ini hilang tentu aku akan sangat lebih bahagia. Makanan ini sudah lama tidak pernah aku makan, ibu jangan menggangguku," kata Eria lalu menuju kamarnya.
Ibunya menangis sambil mengumpat dan terus membayangkan dengan benci Aiolos dan Nyx, yang membuat putrinya membangkang. Ibunya teringat dengan tatapan yang berbeda dari Eria yang biasanya.
Sangat dingin dan merasa itu bukanlah putrinya, dia ketakutan sekali. Teringat apa katanya "Terulang kembali" tapi sang ibu tidak dapat mengingat apapun.
Eria memakan makanan tersebut dengan hati yang senang. Eris terus memandanginya, dia menatap kedua tangannya yang masih tembus pandang lalu memandangi Eria.
"Gadis ini memiliki kekuatanku dan sebagian kekuatanku itu membentuk karakter lain. Tapi bagaimana caranya dia bisa melakukan itu? Dan bagaimana cara aku bisa membuatnya masuk ke dalam toko?" Pikir Eris.
Dirinya semakin dalam kondisi kritis, apalagi tokonya pun kini tidak ada pondasi. Bila Raja dan Ratu tahu, mungkin dirinya akan langsung dibawa ke negeri Kegelapan. Misinya masih belum selesai.
Bila terus begini, Eris akan menghilang dari dunia dan Eria menjadi nyata. Terbayangkan bagaimana nasib Yuri dan Raven.
Sementara itu di luar, Arae dan Yuri berada di tempat itu dengan bersembunyi. Mereka masih mencari cara agar bisa membuat Eria masuk ke dalam toko. Eria harus memiliki keinginan dahulu.
"Bagaimana kalau kita mencari tahu apa masalah yang sedang dia hadapi?" Tanya Yuri pada Arae.
"Hmm agak sulit juga apalagi ada mereka berdua yang sudah dekat dengannya," tunjuk Arae ke sisi jalan lain.
Yuri terkejut 2 orang pemuda tampan keluar dari rumah Eria. "Wow! Jimin dan Jungkook!" Serunya kaget.
"Apaan sih, mereka itu Aiolos dan Nyx berbeda dengan idol. Tapi ada yang aneh," kata Arae menatap Nyx yang membantu menggandeng Aiolos jalan.
"Yang mirip Jimin terluka di pipi dan matanya," kata Yuri lalu menatap rumah Eria.
"Hei, apa mereka berdua sebegitu miripnya dengan anggota boyband terkenal itu?" Tanya Arae keheranan.
"Ya ampun, Arae! Ares saja mirip Kim Namjoon sampai aku gugup kalau berdiri dengannya. Kamu tidak tertarik?" Tanya Yuri.
"Aku lebih tertarik pada darah dan daging ma..." Arae terhenti saat Raven di waktu yang tepat membentur wajahnya.
"RAVEN!" Teriak Yuri menatap ke sekeliling, untung sudah sepi.
__ADS_1
Bersambung ...