Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
13


__ADS_3

Ares menelan ludahnya bila Eris sudah bicara dengan wajah serius memang ada sesuatu disini.


"Eris, Ares," kata Yuri mendekati mereka dengan ketakutan. Ya salah juga sekarang mengetahui sejarahnya menakutkan, inginnya pulang saja.


"Tenang, Ares akan menjagamu dan juga aku. Arae bertugas di luar kalau ada sesuatu yang aneh, dia juga akan bergerak," kata Eris menenangkan.


Yuri mengangguk menatap dengan takut. Dia mengira rumah ini semacam rumah hantu dengan terdapat jebakan yang dibuat oleh pemilik.


"Kita pasti bisa keluar hidup-hidup kan?" Tanya Yuri penuh harap.


Ares cukup cemas karena keadaan vila yang tidak sesuai harapan. Eris juga mengatakan ini bukan hanya sekedar permainan.


"Iya," jawab Eris hanya sekedar agar Yuri dan Ares bisa tenang.


Yuri lega menjadi lebih tenang karena memandang Eris sebagai iblis dan juga penyihir. Segalanya akan baik-baik saja.


"Lalu apa yang membuatmu tidak tenang, Eris?" Tanya Ares di belakangnya.


Eris berpikir tentu dia mengontak Eria dengan telepatinya yang berada dalam sekolahnya. Eria tahu posisi mereka dalam bahaya dan mengerti penjelasan yang Eris berikan.


Eris berbalik menatap Ares dan Yuri, wajahnya tidak yakin. "Kalian semua pada saat keadaannya nanti ternyata tidak sesuai dugaan, hubungi Eria dan dengarkan apa katanya,"


Yang lain mendengarkan dengan komentar bercanda namun terdiam melihat wajah Eris yang serius menatap semuanya.


Muncullah bayangan seseorang yang membuat mereka semua agak terkejut. Ternyata Chris, Sisna dan Olive, mereka langsung lega dan lemas.


"Maaf mengagetkan," kata Chris melihat semuanya lemas.


"Kami sedang membicarakan hal serius dan Anda... Muncul secara tiba-tiba," kata Iran yang juga kaget bersama Dani.


"Wah hahaha maaf kalau kalian sampai terkejut, pasti serius membicarakan sesuatu. Boleh aku tahu? Bukan kepo mungkin aku bisa membantu," kata Chris senyum.


Fuji kemudian menceritakan bergantian dengan Anita dan Rika dan Chris mengangguk setuju dengan idenya. Tentu dia pun mengetahui seperti apa Eria.


"Eria adalah exorsist handal, jangan abaikan apa yang dia katakan pada kalian nanti. Tapi tentunya aku harap ini tidak bertambah parah," kata Chris dengan wajah tenang.


"Vila ini mengalami banyak kejadian aneh serta sudah banyak korban berjatuhan. Ditambah tidak ada denah rumah yang kemungkinan dirahasiakan. Dan kita berada di dalamnya selama seminggu," kata Eris.


"Rio sudah memastikan Yoshi untuk berusaha mendapatkan denahnya. Jadi kita tunggu saja," kata Chris sambil mengikuti mereka menuju ruang makan.


"Saat malam pekat tiba, kegiatan apapun yang kalian lakukan harus ada yang menemani. Minimal berdua, maksimal berlima jangan sampai ada yang berani melanggar," kata Chris menatap tim Olive.


"Oke oke," kata Tora mengerti.


"Mila, pasangkan gofu pada setiap kamar," kata Eris.


Mila menatap Chris dan dia mengangguk. Karena situasinya tidak kondusif, mereka harus bekerjasama. Dan lagipula Eris mengakui kemampuannya.

__ADS_1


"Bisa saja tapi aku tidak yakin dengan keadaan ruangan yang berjarak seperti ini," kata Mila.


"Sudah, buat saja," kata Sisna setuju setidaknya mereka harus mulai melakukan gerakan.


Gofu adalah sejenis jimat, mantra penyegelan yang ditulis di atas kertas khusus.


"Baiklah," kata Mila mengedipkan sebelah matanya.


"Hei hei ini kan terlalu berlebihan, memangnya di Jepang?" tanya Kay mencemooh.


"Lebih baik berlebihan untuk jaga-jaga daripada nyawamu hilang," kata Ares kesal melihat Kay yang selalu mengejek.


"Terserahlah!" Kata Kay yang berjalan duluan menembus kerumunan itu bersama Dio.


"Hei! Jangan sendirian!" Teriak Ara tapi Kay hanya tertawa dan Dio menemaninya.


Sisna menghembuskan nafasnya dan wajahnya agak pucat.


"Kenapa kamu, na?" Tanya Mila agak cemas.


Sulit mengakui apa yang dikatakan Eria memang benar. "Aku setuju apa yang dikatakan oleh Eris. Rumah ini tidak baik," katanya.


Olive yang merasa pendapatnya benar mukai bertingkah, karena ada Chris. "Watashi wa nan to limashita ka. Kono heya ni wa iyana ora ga tadayotte iru


( Apa kan aku bilang. Ruangan ini memang tidak enak auranya ),"


"Kono heya dakedenaku, subete no


( Bukan ruangan ini saja tapi semua )," kata Sisna menatap tajam Olive.


"Tsumari... watashitachi no heya mo?"


( Maksudmu... ruangan kami juga? )" Tanya Olive agak gugup.


"ORU. Wakarudeshou? Ie to sono naka ni aru subete no mono ga yokunai kuki o motte iru no wa, warui kamo shirenasen. Mata, koi namagusa sa o kanjiru hito mo imasu yo ne?"


( SEMUA. Kamu mengerti? Rumah dan semua yang ada di dalamnya ada hawa yang tidak baik mungkin buruk. Apalagi beberapa dari kita mencium bau amis yang pekat kan )," kata Sisna membuat semuanya diam.


Olive tidak mempercayai apa kata Sisna. "Watashi wa sode wa arimasen


( A-aku tidak kok ),"


"Ya memang kamu mencurigakan, Liv. Apa Prof. Davis memang memiliki murid? Kalau iya seharusnya kamu yang lebih peka dari kami," kata Dani mengungkapkan entah Olive mengerti atau tidak.


Sebenarnya Olive bisa mengerti apa kata mereka namun karena dirinya harus pura-pura menjadi murid Profesor, terpaksa membantah.


"Anata no randamu! ( Sembarangan kalian )!" Kata Olive sambil menarik Rika.

__ADS_1


"Lihat? Aku yakin dia murid palsu. Kalau dia memang orang Jepang, seharusnya tidak mengerti yang aku ucapkan," kata Dani mengangkat bahunya.


"Benar kan dia memang penipu. Sombong tapi tetap saja penakut," kata Fuji tertawa.


"Hei, kita mau mau ke ruang makan atau ke tempat Chris meruqyah ruangan?" Tanya Ara.


"Aku mau lihat ruangan yang dimaksud oleh Pendeta," kata Fuji semangat.


"Kita saling berpegangan tangan saja jangan sampai lepas," kata Yuri yang disetujui oleh semuanya.


Mereka melewati ruangan makan yang dimana tim Olive sebagian sedang makan malam. Beberapa menit tibalah yang ditunjuk oleh Chris.


"Ini tempatnya," kata Chris membuka pintu.


Benar saja ruangan itu sangat aneh, lebih aneh dari yang pernah mereka lewati bersama. 1 ruangan tapi ada 2 pintu, 2 jendela di atas yang tampak tertanam, 2 jendela di bawah lantai.


Dengan iseng Yuri membuka jendela di lantai dibelakangnya Ares, Dani dan Iran berpegangan. Jendela itu beralaskan semen yang halus, entah untuk apa.


"Hebat!" Seru Yuri meski aneh. Dia berdiri dan berpegangan tangan lagi.


"Hanya di ruang tertentu saja, aku juga sudah mencoba menyelidiki dengan yang lain," kata Rio datang.


Mereka terus melintasi tempat yang lain 1 ruangan itu memang hampir sama besarnya dengan ruangan 3 tim.


"Seperti memasuki museum lukisan," kata Ares yang juga iseng membuka pintu ternyata isinya hanyalah dinding semen.


Mereka berpindah ke tempat lain dan berkata betapa beraninya Chris berada disini seorang diri. Eris melihat kekuatan tersembunyi yang besar pada Chris pantas saja dia tidak takut bila terjadi sesuatu kepadanya.


"Wah! Ruangan yang lain lagi tapi hampir sama dengan yang tadi," kata Fuji histeris.


"Ini seperti ada tanda sesuatu karena hanya beberapa ruangan saja kan," kata Anita membelai kedua tangannya.


Ara menatap dan memegang vas bunga yang ternyata menempel pada mejanya. Tampaknya terbuat dari tanah liat atau sejenisnya.


"Rumah ini aneh sekali ya masuk ke kamar lain eh ada ruangan lain," katanya membuka salah satu pintu.


Dia berpegangan tangan dengan Mila dan Sisna.


"Seperti dalam game RPG ya," kata Yuri.


Chris datang dengan wajah yang agak sedih, mereka keheranan.


"Ada apa? Tidak biasanya wajah pendeta murung," kata Sani.


"Aku menemukan ini," kata Chris menunjukkan jepit rambut perempuan. Mereka semua berkumpul menahan teriak tersembunyi. Ada noda darah yang tampaknya sudah mengering.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2