Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
4


__ADS_3

Eris menatapnya dengan dingin. "Ku peringatkan jangan pernah kamu menuliskan nama teman kamu di buku ini," lalu meninggalkan Sawa.


"Ke-kenapa!? Sekarang dia mulai menjadi penghalang ku," kata Sawa keberatan.


"Kamu akan kehilangan dia selamanya. Tidak masalah kah bagimu?" Tanya Eris melirik sedikit ke arah Sawa.


Sawa hanya terdiam menatap Eris saat kedua mata Sawa mengedip, sosok Eris sudah tidak ada di hadapannya. Sawa terduduk lemas. "Siapa anak itu?" Tanyanya memegang tangannya sendiri.


Dua hari setelahnya Yuri sudah sibuk mengiklankan sebuah minuman terbaru, Pocara bersama artis senior. Sawa tidak ingin melihatnya, Yuri tampak menikmatinya kemudian Sawa memutuskan untuk berjalan sendirian.


Sawa menghela nafas dan merasakan angin sepoi-sepoi memainkan rambutnya panjangnya. Setelah dirasa cukup melepaskan penat dan stresnya, dia masuk lagi ke dalam stasiun TV.


Saat menuju ruangannya, Sawa melihat Produser Pak Kimihiro tengah berjalan dengan santai. Sawa senang sekali dan akan menyapanya tapi saat dia akan melakukannya...


"Pak," kata Sawa dengan nada gembira.


Namun Sawa terhenti saat ternyata Pak Kimihiro menyapa Yuri. "Wah, kamu hebat! Ternyata bisa kan?" Tanyanya sambil senyum penuh.


"Hahaha lumayan juga Pak," kata Yuri yang ceria sekali. Yuri menundukkan kepalanya memberi hormat kepada Produser tersebut.


"Aku melihat iklannya, tampaknya kamu melakukannya dengan baik. Artis senior itu juga memujimu," kata Pak Kimihiro.


Sawa yang mendengarnya sangat marah, dia mengepalkan kedua tangannya. Selama bekerja di sana, Sawa sama sekali tidak pernah melihat Pak Kimihiro tersenyum gembira.


"Haha tapi aku masih jauh dengan Sawa. Kenapa artis itu tidak mengajak Sawa saja?" Tanya Yuri memberanikan diri.


Sawa juga penasaran. Ya, kenapa?


"Hmmm bagaimana ya? Artis senior itu meminta aku juga untuk melihat bakat kamu. Kalau Sawa sih, dia sudah terlalu banyak menjadi model iklan kan. Lagipula kami juga sudah bosan kalau terus memakainya, model banyak kenapa harus dia terus kan," kata Pak Kimihiro tertawa.


Sawa terkejut sekali. Selama ini dia sudah berusaha keras agar dirinya menjadi yang paling banyak menerima pekerjaan. Sekarang dia sudah hampir mencapai bintang tertinggi, nyatanya Yuri yang membuat produser berubah pikiran.


"Terima kasih Bapak mau memberikan kesempatan untukku bekerja disini," kata Yuri menghormat.


"Apa kamu sudah memikirkan tawaranku?" Tanya Pak Kimihiro.


"Hahaha Bapak bercanda? Saya tidak pantas," jawab Yuri membuat produser itu kecewa lagi.


"Kok? Kenapa mereka tampak akrab? Ada apa ini? Kenapa... Yuri kan tahu kalau aki yang ditawari menjadi pemeran utama. Kenapa Pak Kimihiro memberinya tawaran lain?" Tanya Sawa dalam hati.


Setelah tahu Pak Kimihiro telah pergi, Sawa memejamkan kedua matanya dan berwajah biasa kepada Yuri.


"Yuri," sapa Sawa dengan riang meskipun dalam hatinya dia mengumpat pada Yuri.


"Ah, Sawa! Cepat masuk ke studio 5 semua sudah menunggu," kata seorang staf menarik Sawa.


Yuri yang akan menyapanya langsung menurunkan tangannya dan pergi juga.


Sepuluh menit kemudian dalam ruang persiapan, Yuri juga telah berganti baju. "Sawa, kamu juga ada di sini? Senangnya," kata Yuri memeluk Sawa dan duduk bersama.


"Benarkah kamu senang aku ada?" Tanya Sawa dengan senyum terpaksa.


"Kamu kenapa? Oh iya lihat deh bajuku bagus kan? Katanya aku akan difoto untuk pembuatan poster baju kamu yang baru," kata Yuri mengedipkan sebelah matanya.

__ADS_1


Mendengar hal yang dikatakannya membuat Sawa kaget dan muak. "Yuri, tadi aku lihat kamu..." kata Sawa yang harus terpotong lagi.


"Yuri, bisa tolong kemari sebentar?" Tanya perias.


"Iya sebentar, tadi kamu mau tanya apa?" Tanya Yuri.


"Tidak jadi. Tuh kamu dipanggil cepat ke sana," kata Sawa memaksa senyum.


"Oke. Oh iya nanti ada yang mau aku ceritakan padamu. Jangan pulang dulu ya," kata Yuri lalu pergi.


Seperginya Yuri, Sawa sangat sedih kini Yuri harus masuk ke dalam daftar pesaingnya dan dia takut Yuri akan mengambil tempatnya. Saat staf perempuan menyisir rambut Sawa dan mengeritingnya, ada staf lain masuk dan mereka mengobrol di belakangnya.


"Kamu tahu anak itu? Sekarang dia diajak untuk main sinetron lho," tunjuk staf B menunjuk pada Yuri yang sedang mengikuti petunjuk pengarah.


"Ah, Yuri ya. Anak itu manis juga. Apa dia ada niat untuk menjadi model juga?" Tanya staf lain.


Staf B mengangkat bahunya. "Entahlah tapi wakil direktur memintanya untuk tampil di beberapa iklan lalu sekarang sinetron," katanya.


"Ya dengan begitu reputasinya akan menanjak dan menarik perhatian banyak orang," kata penata rias Sawa.


Sawa tidak suka mereka membicarakan mengenai Yuri saat dirinya ada disana, tapi dia juga penasaran. Sambil membolak-balik majalah, dia memasang kupingnya.


"Oh iya ya dia kan teman kamu ya. Dia sudah seperti asisten sering keluar masuk stasiun TV tapi siapa menyangka mungkin saja dia mengincar kesempatan seperti ini," kata penata riasnya.


Sawa meletakkan majalah itu ke meja rias. "Jangan berkata sembarangan tentang Yuri, dia bukan orang seperti itu!" Kata Sawa.


Mereka semua tertawa. "Kamu ini tidak tahu ya di dunia hiburan orang saling berebut kesempatan untuk menjadi terkenal. Selain itu menurut gosip, dia berhasil merebut perhatian Kimihiro produser dan sutradara yang terkenal itu. Kalau dia yang terkenal, karirmu tentu akan meredup Sawa," kata penata rias agak menyesal.


"Tidak. Aku tidak akan berakhir sama seperti Arae," kata Sawa agak kesal.


"Arae. Kalian masa tidak tahu? Dulu dia model seperti aku disini tapi karirnya berhenti karena kecelakaan," jelas Sawa.


"Hmmm mungkin model itu dari perusahaan lain ya," kata staf A menggaruk kepalanya.


Sawa terdiam mendengarnya. "Bukan, dia model di stasiun TV ini. Kalian juga pernah merias dia," kata Sawa.


"Hahhh Sawa sepertinya kamu terlalu lelah bekerja ya. Kami sudah 5 tahun bekerja di sini tapi belum pernah mendengar model bernama Arae. Kamu yakin dia pernah bekerja disini juga?" Tanya penata rias kebingungan.


Kini Sawa yang kebingungan, kenapa mereka semua tidak mengenal Arae? Sawa juga lalu bertanya pada wakil direktur, semuanya sama. Tidak ada yang kenal!


"Sudah biasa kalau ada model lain yang bekerja, maka model yang sudah lama berkarir akan digantikan begitu saja. Kamu harus kreatif Sawa, kalau tidak akan sama seperti model lainnya," saran Staf lain.


Sawa terdiam, dia menerawang dan menatap Yuri yang terkena cahaya lampu di atas panggung. Wajahnya berseri-seri saat orang memfotonya, dia teringat apa kata Eris mengenai Yuri.


Sawa menggelengkan kepalanya. "Bohong! Tidak mungkin Yuri akan begitu. Tapi... beberapa orang mengatakan kalau sudah tertarik pada seseorang, Pak Kimihiro akan memakai orang itu untuk peran utama. Meskipun dia belum terkenal dan filmnya akan menjadi hits," pikir Sawa memandang sinis pada Yuri.


Di sisi lain, saat Yuri tengah berpose dan menunggu di rias. Dia memikirkan mengenai Sawa.


"Setelah ini, aku akan ceritakan semuanya. Meskipun banyak yang meremehkannya, aku tidak bisa membuat Sawa bersedih. Aku tidak cocok dalam bidang ini meskipun menarik," pikir Yuri memantapkan hatinya.


"Iya. Pasti Yuri sudah merencanakan tipu muslihat ini padaku! Kamu tega berbuat begitu padaku, Yuri? Teganya!" Pikir Sawa sangat sedih.


Arae dan Eris tentu saja berada di luar ruangan menyaksikan perseteruan batin Sawa.

__ADS_1


"Hahaha melihat manusia bimbang lalu ragu setelah itu mengambil tindakan ceroboh adalah hal yang menyenangkan ya," kata Arae tertawa puas memperhatikan Sawa dari balik pintu.


Raven juga hadir namun menggelengkan kepala. "Tidak baik mengintip, Nona," katanya.


Arae lalu melemparkan bulatan energi kecil ke arah kepala Raven dan mengenainya. Tentu Raven berubah menjadi manusia dan dia kesakitan, lalu kabur ke belakang Eris.


Arae masih tertawa, kedua matanya berubah warna.


"Kamu akan turun tangan?" Tanya Eris.


"Aku harus mengembalikan hutang padanya. Kehilangan sahabat bagi dia tidak masalah kan," kata Arae lalu berdiri dan menyilangkan tangannya.


Arae menjentikkan jemarinya dan pakaiannya berubah menjadi model lain, supaya tidak terlalu mencolok juga.


"Lebih baik kita pulang saja Nona Eris daripada melihat sifat liar Nona Arae," kata Raven yang berubah menjadi gagak dan kabur duluan.


Arae mendengus. Eris juga menjentikkan jari dan BUFFF dia menghilang bagaikan sihir.


Setelah selesai pemotretan Sawa kembali ke ruangan ganti lalu secara tidak sengaja mendengarkan percakapan para staf yang lainnya.


"Hei kalian tahu tidak, katanya Pak Kimihiro memilih pemeran utama dalam film selanjutnya," kata A semangat.


"Lalu siapa? Pasti Sawa atau Tara kan," kata B menebak.


"Bukan keduanya. Tapi Yuri!" Teriak staf itu.


Sawa berhenti melangkah, kedua kakinya gemetaran. Air mata jatuh tidak tertahankan. Dirinya kini sama dengan posisi Arae dahulu meski tidak mengalami kecelakaan.


"Ti-tidak mungkin! Ini kan kesempatan yang sudah lama aku tunggu. Kenapa malah Yuri?" Pikir Sawa yang menahan tangisan.


"Wah! Kalau sutradaranya sendiri sudah berkata begitu tidak akan bisa diubah lagi, meskipun wakil direktur telah mengajukan Sawa sebagai calon," kata penata riasnya mendengus.


"Benar juga ya. Sayang sekali padahal Yuri kan bukan bintang atau artis," kata yang lainnya.


Sawa termenung di depan ruangan itu mendengarkan apa kata mereka. "Tidak! Aku tidak mau kesempatan ini direbut oleh siapapun! YURI, TEGANYA DIRIMU!" Teriak Sawa dalam hati lalu dia menuju ke ruangannya, membawa tas dan masuk ke toilet.


Kali ini dia memantapkan hatinya untuk menuliskan nama Yuri dalam lembaran terakhir.


"Yakin kamu mau melakukannya? Kenapa tidak tanyakan langsung pada Yuri?" Tanya Arae yang tiba-tiba sudah bersandar di pintu toilet luar.


"HAH!? ARAE? Bukankah kamu sedang dirawat? Tapi... kenapa semua orang tidak mengenalmu?" Tanya Sawa panik.


"HAHAHAHA bodoh sekali kamu pikir aku akan mati setelah kamu menuliskan namaku di buku itu? Hanya sedikit lecet, tahukah kamu kalau aku bisa menyembuhkan luka? Seperti ini," kata Arae memperlihatkan.


Arae melukai tangannya, Sawa berteriak lalu seketika luka itu sembuh.


"K-KAMU SIAPA!?" Teriak Sawa ketakutan.


"Lihatlah bayanganku," kata Arae.


Sawa terduduk dia melihat sosok iblis besar dari Arae dengan tanduk banteng yang besar. Sawa ketakutan sambil memegang buku diary.


"Kamu tidak akan bisa membunuhku. Manusia biasa tidak akan bisa melakukannya. Lalu kamu masih mau menuliskan nama sahabat sendiri?" Tanya Arae memandang ke arah buku itu.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2