
"TIDAAAAK!! ERIKAAA!! Kenapa? Kenapa kau lakukan itu!? Apa salah mereka!? Aku yang membukakan penutup mata itu, bawa aku saja!" Teriak Erika menarik beberapa temannya berusaha melindungi bola itu.
Dia juga melempar boneka-boneka yang menghalanginya dan memeriksa semua temannya. Sudah tidak bernyawa dan sepertinya roh itu sudah lama keluar tidak seperti teman lainnya.
"Kamu sama seperti dia, menggangguku," kata Boneka itu dengan suara mengerikan. Wajahnya berubah menjadi sangat menakutkan sambil menunjuk pada Erika.
Naoko lalu melihat tubuh Kaoru dan Sui melayang dan mulut Boneka itu terbuka sangat lebat dan besar. Dengan gigi-giginya yang runcing bagaikan jarum hendak memakan mereka berdua.
"Mereka akan dimakan! Tidak boleh!" Pikir Naoko lalu berusaha menarik keduanya.
Boneka itu marah lalu mengeluarkan semacam aura berbentuk tangan dan mengambil energi dari Naoko, seketika dia jatuh sambil menangis lalu pingsan.
"HAHAHAHAHA!" Teriaknya tertawa dengan menggema. Saat tubuh mereka mendekati mulutnya tiba-tiba Eris datang dan melemparkan kain segel.
"Untunglah belum terlambat," kata Eris.
Makhluk itu kemudian kesakitan. Kain itu menempel di belakang kepalanya dan memberikan sensasi sengatan listrik yang menghunus tajam.
"KAUUU!!" Teriak boneka itu dengan sangat marah. Boneka itu berubah ke wujud asli dengan mengerikan dan memiliki gigi taring besar.
Iblis itu memandangi Eris dan hendak mengoyaknya, tentu saja Arae datang dan berubah juga ke wujud aslinya. Mereka bertarung, Arae membawa iblis itu ke dimensi lain agar tidak melukai Naoko dan teman-temannya.
Pertarungan yang sengit karena ukuran mereka sama. Selama 10 menit kemudian, Arae mampu mengatasinya kemudian membelah iblis itu menjadi dua. Arae bernafas kelelahan tapi senang bahwa dia telah menang dan kembali ke wujud manisnya.
"Bagaimana mereka?" Tanya Arae yang memasuki toko dan memeriksa.
Eris dibantu dengan para boneka mengangkat Naoko dan temannya ke tengah ruangan. Mereka mengelilingi, sangat sedih.
"Nona," kata boneka yang berambut keriting berwarna perak.
"Tenang saja, semuanya selamat. Berkat Erika dan Naoko, bola kehidupan mereka bisa kembali," kata Eris. Para boneka lega begitu juga Arae.
"Untunglah mantra kamu selesai tepat waktu, Eris. Kalau saja sedetik lagi kita baru datang, habislah mereka semua," kata Arae istirahat sejenak.
Boneka petani membawakan cairan botol pada Arae untuk menghilangkan tanduk besarnya.
"Terima kasih," kata Arae membelai boneka Tani di sampingnya.
Eris melihat serpihan Boneka tadi yang dibawa oleh Arae. Hanya sisa sebelah saja. "Boneka ini terbuat dari kulit manusia, bila ada yang menyentuhnya otomatis akan mendendam," kata Eris.
Arae melihat bola Erika yang masih berada di luar warnanya sudah menghitam. "Apa dia mati?" Tanyanya.
Eris mendatanginya dan memeriksa. "Dia hanya ketakutan. Tenanglah semuanya sudah selesai," kata Eris.
Bola Erika kembali putih dan memasuki tubuhnya.
Beberapa menit berlalu, lalu Naoko membuka kedua matanya, dia sudah ada di ruang tengah toko, berbaring di sofa panjang bersama teman-temannya.
__ADS_1
Sofa itu berubah menjadi semacam matras yang empuk dan hangat. Dia terkejut banyak boneka antik yang mengelilinginya. Satu diantaranya tengah memegangi tangannya.
"Tenanglah, mereka adalah boneka yang baik dan penurut. Mereka cemas kamu dan yang lainnya menghadapi sesuatu yang rumit," kata Arae menepuk bahu Naoko.
Naoko menghela nafas dan mengangkat boneka disampingnya. "Terima kasih," katanya menangis lalu memeluknya.
Dia memandang ke sekelilingnya dan melihat semua temannya berbaring di sofa tersebut lalu Erika bangun dan duduk kebingungan.
Naoki gembira lalu memeluk Erika mereka berdua bersyukur masih diberi kesempatan untuk hidup.
"Saat kamu tidur ada sesuatu yang membekam mulutku lalu aku pingsan," jelas Erika dengan suara yang masih ketakutan.
"Syukurlah, kamu masih hidup," kata Naoko menangis juga.
Erika yang masih lemas duduk bersandar di sebuah kursi, Eris datang dan memberikan teh buatannya
"Tenanglah. Mereka hanya pingsan rohnya sudah kembali ke tubuh mereka masing-masing. Untunglah masih sempat diselamatkan meski aku turut berduka atas perginya temanmu," kata Eris lalu terduduk di kursinya.
Naoko dan Erika bingung. "Tunggu, maksudnya siapa yang sudah pergi?" Tanya Naoko.
"Nao, jangan-jangan... Sayoko..." kata Erika yang terkejut.
"Sayoko kenapa?" Tanya Naoko masih belum sadar.
"Kamu tidak tahu? Nyawa anak itu sudah lebih dulu dimakan oleh anak ini," kata Eris memandangi Naoko.
Eris menunjukkan pada mereka setengah dari boneka yang masih ada. "Boneka ini terbuat dari kulit manusia. Dia berpikir dengan memakan jiwa dan tubuh manusia itu sendiri, bisa membuatnya berubah menjadi manusia juga," katanya.
Naoko dan Erika menutup mulut mereka, terkejut jadi mungkin Sayoko adalah korban pertamanya tapi sayang tidak sempat dimakan.
"Alasan dia selalu berubah wujud menjadi Naoko apa?" Tanya Erika.
"Orang yang pertama membukanya adalah kamu, yang kedua adalah kamu. Dia ingin menjadi orang yang pertama membuka penutupnya karena menurutnya kamu berani melanggar aturan yang aku katakan," kata Eris.
"Kalau aku percaya begitu saja dan melakukan semua yang dia lakukan, membiarkan temanku tenggelam.." kata Naoko memandang Erika.
"Dia akan memakan kamu saat hati kamu lemah. Itu permulaan untunglah kamu menyadari semua kenakalannya," jelas Eris.
Naoko menangis dan menundukkan kepalanya lalu mengusap kedua matanya dan memandangi Eris lalu Erika. Erika sedang meminum teh yang diambilkan oleh Arae.
"Boneka antik itu sebenarnya apa?" Tanya Naoko.
"Boneka kegelapan yang mengawasi hati manusia yang membuang mereka dengan seenaknya tanpa memutuskan ikatan. Boneka itu lalu menyerap perasaan pemilik dan boneka iyu sendiri. Aku menyegel kekuatan jahatnya di dalam boneka ini serta pelindung," kata Eris.
"Kalau begitu, Naoko sudah merusaknya?" Tanya Erika.
Eris mengangguk. Naoko merasa seharusnya waktu itu dia mendengarkan semua perkataan temannya. Erika bersyukur bukan dirinya yang pertama melakukan itu.
__ADS_1
"Maafkan aku, Sayoko," kata Naoko menutup wajah dengan kedua tangannya.
Eris lalu turun dari kursi dan mengambilkan boneka antik yang tadi selalu ada di samping Naoko. "Bawalah anak ini. Jangan cemas dia anak yang baik sebagai pengganti boneka ini. Meski aku tidak bisa mengembalikan nyawa temanmu," katanya.
"Tidak apa-apakah? Boneka ini sangat cantik," kata Naoko agak ragu.
Erika kemudian kembali tertidur saat meminum teh tadi ada kemungkinan Eris mencampurkannya dengan sesuatu.
"Ya, ambillah. Sekarang kembalilah," kata Eris.
Sekitar toko perlahan menjadi berubah, Naoko kemudian seperti kehilangan kesadaran sambil memeluk boneka itu. Kedua matanya terlelap.
"Saat kalian semua sadar tidak akan mengingat apa yang terjadi pada kalian. Semua ingatan akan kembali saat melihat boneka seram ini," kata Eris menyapu ingatan semuanya.
Di luar toko para guru yang mencari dan beberapa murid menemukan mereka bertujuh tidur di atas rerumputan. Mereka semua terbangun dan kebingungan, para guru menyambut dan menanyakan kondisi mereka.
Di luar keadaan sudah malam pukul 10. Dan Naoko juga yang lain belum kembali membuat semuanya cemas. Mereka tidak ingat kenapa ada di tempat itu, yang mereka ingat ada seseorang yang menyamar menjadi Naoko mengajak mereka semua keluar.
Yang mereka ingat hanyalah mengenai memasuki toko untuk tugas laporan sekolah.
"Naoko san, itsu kara ningyo o kaimashita ka? ( Naoko, sejak kapan kamu membeli boneka)?" Tanya Kaoru merasa aneh.
"A, kore? Dareka ga watashitachi ni soe o kureta ( Ah, ini? Ada yang memberikannya untuk kita )," kata Naoko memberikan pada Kaoru ketua kelompok sambil berjalan.
"Hontodesuka? Totemo utsukushi watashi wa sore ga izen ni mita ningyo no yode wanai koto o negatte imasu ( Benarkah? Cantik sekali aku harap tidak seperti boneka yang kita lihat awal," kata Mina memegang rambutnya yang halus.
"Repoto shiryo no rei to shite shiyo shimasu ( Kita pakai sebagai contoh bahan laporan kita )," saran Sui dengan gembira.
Saat yang lain mengobrol soal tugas dan para guru yang menceramahi mereka, Naoko sesekali memandang je belakang mereka, toko yang biasa mereka datangi sudah tidak ada.
Naoko mendapati pengalaman dirinya sebagai manusia harus menghargai barang apapun mau hidup atau mati dan tidak menyia-nyiakannya. Teman-temannya tidak ada yang ingat, hanya dirinya saja.
Di sekolah laporan mereka mendapatkan banyak jempol dan dijadikan berita utama di koran dan majalah ditambahkan foto boneka manis yang duduk. Kepala Sekolah memberikan hadiah yaitu uang saku sebesar ¥70.000 untuk dibagikan menjadi tujuh.
Mereka lalu membawa boneka itu ke pemakaman Sayoko dan memberikan salam perpisahan dan juga maaf.
Toko Zalaam kini masih berada dalam suatu dimensi. Sisa dari boneka itu tertawa menyeramkan sedikit masih bisa bergerak karena memang belum sepenuhnya Arae bantai.
"Lihat! Aku bisa kan? Bagaimana kalau kau mengijinkanmu membantu untuk mendapatkan bola kehidupan agar lebih mudah kau kembali ke dunia sana," kata Boneka itu.
Boneka itu berdiri lalu tertawa. Eris membakar semuanya sampai tak berbisa menggunakan apinya.
"Tidak perlu. Aku akan melakukannya sendiri."
Eris menggenggam bola Sayoko dan memasukkannya ke dalam cermin besar. Dia memindahkan semuanya ke dalam cermin itu agar lebih indah.
Tubuhnya kini berasap dan dirinya menjadi anak usia Sekolah Dasar kelas 4.
__ADS_1