Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
8


__ADS_3

Malam harinya suasana toko menjadi lebih sendu dari biasanya. Rui telah memakai bajunya yang sedari awal dan memasuki aula toko. Melihat Eris mengeluarkan suatu energi yang indah.


Pintu toko terbuka lebar memperlihatkan mereka seperti berada di atas ruang angkasa, angin malam menghembuskan rambut Rui dan Eris yang indah.


"Datang juga. Lihatlah. Indah bukan," kata Eris yang berdiri di depan pintu toko tentu saja melayang.


Rui menghampiri dan terpana. Indah sekali baru kali ini Rui bisa melihat dari jarak dekat melihat seperti apa ruang angkasa.



"Hebaaat," kata Rui namun tidak bisa melangkah lebih jauh.


"Aku akan memastikan kamu benar-benar pulang. Berada lama di dimensi ini berbahaya untukmu. Sebentar lagi... saat meteor datang, kamu harus memohon untuk kembali pulang. Batu permata ini akan membuka gerbang lalu lari lah," kata Eris menunjukkan cahaya hijau yang terang.


Sebuah kilatan yang banyak datang dengan kecepatan cepat. Jantung Rui berdebar kencang, sinar dari batu permata hijau itu membentuk sebuah portal cantik saat sekumpulan meteor datang menghujani angkasa.


Angin besar menerpa mereka berdua. "Datang! Pergilah. Buat permohonan untuk pulang!" Teriak Eris yang melawan angin.


Setelah itu Rui melompat ke dalam portal namun dimuntahkan kembali ke dalam toko dalam keadaan terlentang dan meluncur ke belakang. Eris kaget dan memeriksa, portal itu seperti diselubungi pelindung.


"Dia..." kata Eris menatap Rui. "Apa yang kamu lakukan!? Portalnya dilindungi oleh pembatas," kata Eris agak kesal.


"Aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak bisa memohon kebohongan. Aku terus terpikir kamu akan sendirian disini meskipun ada Arae dan Raven," kata Rui bangun memegang tangannya yang terluka.


"Dasar bodoh! Kesempatan itu sudah hilang," kata Eris menatap meteor yang sudah menghilang dari tokonya dan pintu tertutup.


Siangnya kegiatan kembali berjalan Eris memikirkan cara untuk memulangkan Rui meski harus memaksanya atau menghipnotisnya. Seperti yang biasa dia lakukan pada korbannya.


Rui berada di dapur menyiapkan makan siang tiba-tiba...


PRAAANG PRANG PRANG


Suara piring yang berhamburan jatuh membuat Eris dan Arae berlari ke dapur.


"RUI!" Teriak Arae yang ketakutan.


Rui terbaring di lantai dapur dengan wajahnya yang sangat memucat, efek terbesarnya telah datang. Eris berjongkok memeriksa suhu tubuh Rui, badannya mulai memanas.


"Aku tidak apa-apa hanya..." kata Rui bernafas kelelahan.


"Kamu akan menghilang dan aku terpaksa akan memakan bola kehidupanmu," kata Eris memandang dengan tajam.


Rui kaget. Separah itukah dirinya?


"Tapi..." kata Arae yang menolak melakukannya. Kalau sudah begini tubuhnya pun harus dia makan juga.


"Arae, bantu aku. Raven," kata Eris menjentikkan jarinya dan Raven muncul sambil berlutut.

__ADS_1


"Baik, Nona," katanya lalu membantu Arae untuk membawa Rui ke arah pintu toko.


"Mau...di..bawa..ke...mana.." kata Rui dengan sangat lemah. Rohnya berpendar semakin pucat.


Mereka bertiga harus memaksanya.


"Bagaimana kamu melakukannya?" Tanya Arae melihat Eris melayang. Dia punya firasat buruk.


Eris berdiri dan menghadap ke arah mereka, dia memejamkan kedua matanya, gerbang hijau terang muncul dari belakangnya. Arae paham maksudnya.


"Rui, aku akan mengembalikan kamu ke dunia kamu yang sebenarnya. Bila kamu lama disini, suatu saat Rohmu akan benar-benar menghilang. Aku akan membawamu melewati ruang waktu. Ayo," kata Eris.


Badan Rui bergerak sendiri mengikuti Eris. Rui sudah tidak mampu melawan. Dia menyesal tidak menuruti apa kata Eris, soal dia akan bertemu dengannya pun mungkin akan ada jalan.


Arae dan Raven mengikuti dari belakang. Waktunya sedikit sekali kalau gagal lagi, mau tidak mau Eris harus menarik bola kehidupannya.


"Tapi..." kata Rui yang masih sadar.


"Tidakkah kau sayang kepada keluargamu? Bila kau tidak suka dengan yang dilakukan Mamamu kenapa kau tidak mencari alasan untuk menghentikannya? Memang sangat disayangkan sekali kamu tidak bisa berlama tinggal. Pikirkan bagaimana sulitnya Eris bertanggung jawab bila roh kamu hilang dan tubuhmu... aku makan. Pikirkan kami juga," kata Arae yang terbang di sisi Rui yang lemah.


Rui menatap Eris dengan sedih, Eris fokus pada kekuatan terbangnya membawa Rui yang sudah terlihat sekarat.


"Waktumu untuk pergi belum datang Rui, bertahanlah apapun yang kamu hadapi," kata Eris menatap ke depannya.


"Apa kamu akan baik-baik saja?" Tanya Rui dengan lemah.


Rui tertawa bersyukur bila dirinya ternyata ada gunanya. Dia menggenggam gelang pemintas waktu berdoa agar bisa berjumpa lagi dengan semuanya.


Eris melirik sedikit lalu keluar dari gerbang waktu dan tiba di atas Rumah Sakit tempat dimana tubuh Rui berada.


"Gelang itu sudah tidak ada gunanya hanya bisa dipakai untuk memulangkan mu. Tapi karena gagal, sekarang menjadi batu biasa," katanya memandang Rui.


Rui tersenyum meskipun begitu dia akan terus menyimpannya. Batu hijau itu berubah menjadi batu biasa dengan berisikan sebuah bongkahan batu meteor orange.


"Aku ingin sekali bisa bertemu dengan kalian lagi. Itu permohonannya," kata Rui berubah menjadi bola putih bersinar.


Rui mengantarkannya ke depan jendela dimana Mamanya Rui dan temannya tertidur. Eris memperhatikan kedua kata orang tuanya menampakkan bayangan hitam.


Botol bubuk yang Eris berikan tersisa beberapa dan dia mengambilnya. Botol air mata kini sudah terisi penuh.


Bola Rui dimasukkan ke dalam tubuhnya dan Eris menghilang menuju langit dimana Arae dan Raven menunggu lalu mereka bertiga memasuki portal biru.


Setelah itu Rui tersadar menatap dirinya yang berhasil pulang. Dia menangis bersyukur masih hidup dan gelang pemintas waktu yang sudah menjadi gelang biasa terpasang di tangan kanannya.


"Mama," kata Rui bangun dan membangunkannya.


Suasana bahagia menyambut. Mereka semua senang Rui kembali dan Mamanya berjanji tidak akan mengulangi lagi.

__ADS_1


Eris melihat dari tokonya. Rui kembali sadar dan memeluk semuanya, Suga menangis bersyukur Rui masih selamat.


"Ingatanmu mengenai kami akan dihapus. Kau tidak akan pernah mengingatku. Itulah yang kuinginkan," kata Eris mengirimkan sihir merah yang kemudian memasuki dahi Rui.


Entah kenapa dia seperti kehilangan sesuatu lalu menatap ke langit. Batu itu berkilauan dia hanya teringat sosok perempuan berambut putih yang dingin.


"Suatu hari nanti kita pasti bisa bertemu lagi," bisik Rui tersenyum pada langit.


Empat hari Rui pulang ditemani kedua orang tua dan juga Suga dan Mari. Sesampainya di rumah, mereka semua terkejut dengan bingkisan besar serta buket bunga yang beraneka ragam.


Dari buket bunga tersebut terdapat beberapa bunga yang dirangkai dengan cantik. Rui senang sekali, dia menangis seakan merindukan sesuatu yang hilang.


Teman-temannya kaget sekali apalagi kedua orang tuanya. Mereka mengira dari teman sekolah tapi Rui tahu bukan.


Ada seikat bunga Kamomil yang bermakna dengan nuansa tenang.


Seikat bunga Anyelir berwarna merah muda yang dimaknai "Aku tidak dapat bersamamu." Membuat Suga cemburu siapakah?


Seikat bunga Matahari yang memiliki makna keceriaan, semangat dan kreatif serta melambangkan sebagai energi positif.


Seikat bunga Krisan. Dimaknai sebagai kejujuran.


Seikat bunga Lavender. Dimaknai kesetiaan.


Seikat bunga Mawar merah dimaknai kasih sayang.


Seikat bunga Morning Glory bermakna perhatian atau kasih sayang.


Seikat bunga Tulip merah bermakna romantis.


Seikat Melati putih bermakna cinta yang manis.


Seikat bunga Lily putih bermakna simpatik, mulia, persahabatan dan pengabdian.


Seikat bunga Baby Breath bermakna cinta sejati yang tidak akan pernah berakhir.


Seikat bunga Daffodil bermakna keberuntungan melimpah atau hoki.


Seikat bunga Marigold cerah bermakna cinta yang sedih.


Dua batang bunga Larch bermakna orang yang tidak punya rasa percaya diri. Ini membuat Rui tertawa karena itulah dia.


Semuanya Rui peluk meski lupa siapa nama sosok itu dan kedua lainnya. Raven memperhatikan Rui dari tiang listrik di luar rumahnya.


"Astaga Rui!" Teriak Mamanya.


Rui berlari ke bawah melihat Mama dan Ayahnya serta temannya sangat terkejut. Barang yang Rui pernah beli seingatnya lalu terdapat uang dalam tas besar sangat banyak.

__ADS_1


Dengan uang itu mereka bisa kembali hidup karena saat Rui dirawat mereka menjual rumah dan segalanya. Kini dengan uang yang ajaib itu segalanya kembali lagi.


__ADS_2