Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
134


__ADS_3

"Aku... terbang..." bisik Emi lalu pingsan kembali.


Raven menangis dan terbang secepatnya lalu memasuki portal dan sampai di depan pintu toko Eris.


"NONA ERIS! NONA ARAE! YURI! TOLOOONG!!" Teriak Raven berubah wujud menjadi manusia sambil menggendong Emi.


Mereka semua keluar toko dan histeris melihat Emi sudah bersimbah darah. Itulah awalnya Emi menetap dalam toko untuk sementara waktu. Eris berusaha menyembuhkan luka bakar dan juga sakit dalamnya.


"Arae, belikan obatnya. Cepat!" Kata Eris.


Arae langsung terbang menuju portal dan tidak beberapa menit dia sudah kembali membawa obat.


Yuri menatap sendal Emi yang penuh darah segar lalu dia menangis.


Setelah itu Emi dirawat dan kini semuanya telah bersih. Eris termenung dan sangat marah kemudian pergi ke luar toko. Raven datang dan memberikan laporan.


"Nona mereka menemukan kuncinya tapi," kata Raven memperlihatkan kunci yang asli.


Eris tersenyum jahat melihatnya. Pancingannya telah berhasil, kunci yang asli Eris simpan di samping Emi yang tengah tertidur.


"Kasihan sekali anak ini. Sampai hati mereka melakukannya hanya demi warisan," kata Yuri membersihkan darah yang ada di sendal Emi.


"Tenang saja, mereka akan mendapatkan hukumannya," kata Eris lalu membawakan bubur buatannya.


Emi lalu membuka kedua matanya yang lelah menatap sekitarnya dan berusaha duduk.


"Jangan dulu. Tidur saja, tenang kamu aman di sini," kata Yuri membelai kepala Emi.


"Ini di mana? Bukankah aku... terbakar?" Tanya Emi menangis.


Yuri menatapnya dengan wajah sedih. "Kamu masih selamat mereka akan menjagamu di sini," kata Yuri memeluknya.


Emi mengucapkan terima kasih lalu Yuri menyuapinya dengan bubur buatan Eris. Dia makan dengan lahap entah apa yang dicampurkan oleh Eris sehingga luka bakarnya sembuh.


Emi melihat-lihat isi kamar itu yang dulu ditempati oleh Yuri. Tampak hangat dan suasananya nyaman sekali.


Arae datang membawakan kursi roda lalu membantu Emi mendudukkannya disana. Yuri mengajaknya jalan-jalan dalam toko lalu ke luar halaman.


"Aku ingin terbang," kata Emi menatap langit.


Yuri menatap Arae lalu membuat Emi terbang, dia senang sekali tapi sementara.

__ADS_1


"Ada apa?" Tanya Yuri.


"Aku ingin terbang sendiri oleh kemampuanku," kata Emi.


"Itu tidak mungkin," kata Arae lalu menurunkannya.


Emi mengerti maksudnya karena Eris pun berkata demikian. "Kak Eris bukan manusia bisa terbang, haruskah aku menjadi sama seperti Kakak?" Tanya Emi menghela nafas.


"Jadi kamu sudah lihat wujud aslinya?" Tanya Yuri tidak menyangka.


"Kebetulan," kata Emi.


Beberapa hari terlewati kini Emi sudah kembali sehat meskipun tetap harus meminum obat. Setiap Eris ada, Emi selalu bertanya kapan dia bisa membuatnya terbang?


Mereka semua tidak menyangka bila Emi anak yang sangat cerewet. Emi juga senang membantu Yuri mengelap barang pecah belah.


"Kenapa kamu ingin bisa terbang?" Tanya Yuri sambil mengelap gelap.


"Kalau aku terbang, aku bisa bebas dati orang-orang jahat," jawab Emi dengan polosnya.


Yuri menatap Emi dengan iba. "Kamu mau tinggal denganku? Tidak akan ada yang menyakitimu," kata Yuri.


"Arae dan Raven bisa membantumu," kata Yuri menunjuk.


"Tidak. Aku ingin bisa terbang sendiri tanpa bantuan sihir siapapun," kata Emi memberikan gelas itu pada Yuri.


"Bisa saja sih bila dia memaksa ingin terbang sendiri," kata Arae memandangi Raven.


"Ahhh benar juga. Cara itu. Tapi masalahnya apa kamu berani menarik nyawanya?" Tanya Raven menatap Emi yang di usili oleh Yuri.


Emi bernyanyi sambil membersihkan semua barang setelah selesai, dia melihat sebuah lukisan dengan berisikan rumah dan halaman bunga yang indah. Asalkan tidak ada Eris, dirinya bisa kembali tenang.


Beberapa pelanggan menyukainya karena cerewet menawarkan produk toko tersebut yang menarik. Semua orang tidak tahu kalau Emi adalah anak perempuan. Arae, Yuri dan Raven memperlakukannya seperti anak laki-laki karena rambut Emi pendek.


Eris lalu menatap Emi dengan kedua matanya berwarna merah darah, menyadari bahwa Emi hanya bertahan beberapa minggu.


Haruskah dia menarik bola kehidupannya supaya Emi tidak merasakan sakit? Namun diurungkan niatnya dan memasuki kamarnya melihat keadaan sang kakak.


Malam yang sunyi itu membuat apartemen Taro berubah menjadi ramai. Lagu didendangkan dengan keras dan mereka tengah berpesta.


"AKHIRNYA KITA KAYAAAA!!" Kata mereka berdua menari dengan senang.

__ADS_1


Mereka berkaraoke, berpesta menghabiskan uang dan melemparkan beberapa lembar uang ke jalanan. Jalanan sontak saja penuh orang uang mengambil uang tersebut.


Tanpa tahu yang akan terjadi setelahnya, Eris telah menukarkan uang dalam brankas dengan permata yang dia miliki dari dunianya.


Dimana menjelang tengah malam, permata itu akan berubah menjadi asap hitam yang akan merenggut nyawa mereka semua.


Kakek dan nenek tidak sabar membuka koper itu. Dan setelah dibuka...


"Lihat! Ternyata isinya permata semua dan perhiasan! Indah sekali, kita bisa menikah dengan perayaan ya g megah, Taro," kata Nana memeluknya.


Taro juga membalas lalu Ibu Taro mendorong Nama dengan keras. "Maaf, Nana tapi Taro akan menikah dengan anak perusahaan sahabatnya. Kamu tidak cocok dengan putra kami," kata Ibunya dengan ketus.


Nana yang terduduk, kaget. "Apa!? Benarkah? Taro kamu membohongiku! Kamu mengajak aku untuk membunuh orang tua angkat aku lalu setelah semuanya kita dapatkan, kamu meninggalkanku?!" Kata Nana tidak percaya.


"Bu, hentikan! Aku hanya mencintai Nana, kamilah yang berusaha merebut warisan anal itu bukan kalian," kata Taro menghalangi keluarganya mengusir Nana.


Saat itu Nana berada tepat sebelah beranda luar apartemen. Dia mundur dan bertahan sambil memegang pinggang Taro.


"Taro," kata Nana terharu.


"Kamu tidak pantas untuk anak kami. Lebih baik kamu juga pergi ke akhirat untuk bertemu dan mempertanggung jawabkan perbuatan mu pada orang tua angkat mu," kata Ayah Taro yang bisa menjangkau Nana dari samping.


"Terima kasih ya selama ini kamu setuju dengan rencana kami," kata Nenek Taro yang juga membantu anaknya mendorong tubuh Nana ke beranda dan menjatuhkannya.


"Hentikan!" Teriak Taro yang lengah melihat Nana sudah di dorong jatuh.


"Tidak. Tolong jangan begini, aku rela menjadi pembantu. Apapun! Tolong... TAROOOOO!!" Teriak Nana yang akhirnya jatuh meluncur ke bawah.


"NANAAAA!!!" Teriak Taro histeris.


Dia melihat tubuh Nana sudah tergeletak mengeluarkan darah. Kemudian Eris turun menghampiri Nana yang sekarat.


"Kasihan sekali inikah balasan yang harus kamu dapatkan?" Tanya Eris.


Kedatangan Eris membuat Nana kaget apalagi dia melihat sendiri Eris melayang di sampingnya.


"To...long," kata Nana menjangkau Eris lalu terbatuk-batuk.


"Apa yang kamu inginkan?" Tanya Eris.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2