Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
5


__ADS_3

Lira seakan-akan terhipnotis, dirinya menyadari sudah ada dalam toko saat tadi sedang memikirkan sesuatu.


"Ya ampun, aku sudah berada di dalam lagi?" Tanyanya kebingungan menatap isi toko Eris.


"Tidak apa-apa. Gelang itu kamu pakai ya. Lalu merasa ada perubahan?" Tanya Eris berdiri menyambutnya.


"Ah, oh gelang ini? Banyak orang yang mengaguminya," kata Lira sambil memegang gelang itu.


"Apa yang kamu katakan saat mereka menanyakan soal gelang itu?" Tanya Eris.


"Aku bilang ini dari seseorang dalam toko," kata Lira tertawa.


"Oh ya?" Tanya Eris lalu melirik gelangnya lagi yang mulai terisi asap hitam.


"Anu, apa gelang ini menjadi milikku? Kamu memberikannya agar masalahku teratasi bukan?" Tanya Lira yang terlihat ingin memilikinya.


Eris mendekati Lira dan memegang sesuatu di sampingnya. Asap hitam itu seperti cairan tinta kental meskipun Eris memotongnya akan tersambung lagi.


Lira menatap tangan Eris yang seperti hendak memegang sesuatu. "Apa yang kamu lakukan?" Tanya Lira.


Eris menarik kembali tangannya. "Gelang itu tidak bisa memperbaiki apapun, apa yang kamu tanam, itulah yang harus kamu tuai. Kamu sudah terbiasa melakukan banyak kebohongan," kata Eris lalu menyajikan secangkir teh dengan mawar di atasnya.


"Kamu aneh sekali aku sudah berkata beberapa kali kalau alu tidak pernah berbohong," kata Lira menerima teh tersebut.


"Berapa usiamu tahun ini?" Tanya Eris masih berdiri di hadapannya.


"20 tahun," kata Lira tersenyum.


"Kamu bekerja dimana?" Tanya Eris lagi.


"Guru Taman Kanak-Kanak," jawabnya dengan tersenyum. Jangan ditanya seperti apa asap hitam yang keluar darinya.


Gelang itu berfungsi sebagai penyaring tapi sepertinya tidak akan bisa merendam sebanyak ini. Tidak ada gunanya bila Eris membersihkannya pun.


"Lho lho lho, bukannya Anda kemarin berkata sebagai insinyur? Kenapa sekarang berubah lagi?" Tanya Arae memancing.


Namun dalam wajah Lira tidak terlihat seperti yang malu atau bagaimana. Dia hanya tertawa dan tersenyum.


"Kapan ya? Pekerjaanku sangat banyak itu mungkin salah satu yang aku lakukan. Tapi sebenarnya aku ini guru TK," kata Lira dengan wajah cantiknya.


"Kamu ini benar-benar tidak ingin tahu atau memang sudah tahu kebiasaan buruk kamu?" Tanya Eris agak tidak suka.

__ADS_1


"Apa aku melakukan yang aneh?" Tanya Lira pada Eris. Dia hanya tertawa tapi bukan tertawa senang, seperti yang sudah kesal pada mereka berdua.


Kemudian aura Eris berwarna ungu kehitaman terbuka membuat dirinya terbang melayang di hadapan Lira. Lira kaget dan berjalan mundur bermaksud akan lari, tapi kedua kakinya seakan menahannya di sana.


"K-Ka-kakiku," gumamnya berusaha menarik. Tiba-tiba Eris sudah berada di hadapannya. Kedua mata Lira menjadi kosong dan tidak ada tenaga.


"Kebiasaan yang aku maksudkan adalah dalam mulutmu dan hatimu. Kamu sama sekali tidak menyadarinya dalam waktu dekat, akan mengalami musibah yang mengenaskan. Sadarlah!" Kata Eris pada telinga Lira.


Eris lalu berdiri kembali dan menjentikkan jarinya membuat Lira tersadar.


"Aku... agak pusing. Tadi kamu mengatakan sesuatu?" Tanya Lira yang lunglai ke lantai.


"Apa ada hal yang aneh setelah kamu memakai gelang pemberianku?" Tanya Eris membuatnya berdiri dan menyuruhnya duduk.


Dengan wajah pucat, lelah dan kebingungan, Lira menyeka keringat di badannya. "Setelah aku diberi gelang cantik ini entah kenapa warnanya berubah menjadi hitam. Lalu kali ini sepertinya punggungku agak sakit. Kalau bungkuk, nyeri sekali," kata Lira memegang punggungnya.


"Saran ku tidak ada gunanya untukmu. Kalau begitu apa boleh buat," kata Eris kemudian berhadapan dengan Lira.


"Ya?" Tanya Lira gugup.


"Hentikan kebiasaan mu berbohong bila kamu masih ingin melihat matahari esok hari," kata Eris langsung mengutarakan dan menatap respon Lira.


"Akan sangat berbahaya kalau kamu tidak cepat menghentikannya," kata Eris menunjukkan asap hitam yang lebih tebal dan panjang.


"Gelangnya bagaimana?" Tanya Yuri dari dalam dapur.


"Semakin hitam, gelang itu bertugas untuk menyerap asap hitam di sekitarnya tapi sepertinya tidak akan bisa menyelamatkannya," kata Arae dengan nada yang sedih.


Mendengar itu Lira berpikir keras. "Kebiasaan jelek? Berbohong? Kalau aku menghentikannya apakah keadaanku akan normal kembali?" Tanya Lira dengan pandangan yang lurus.


"Kalau kamu memang yakin bisa dan berkemauan keras serta tekad untuk tidak mengulanginya, semua akan sembuh seperti sedia kala. Kalau kamu bisa," kata Eris.


"Oke, aku akan serius memikirkannya karena jari kelingkingku terbukti sembuh," kata Lira kemudian bangkit dari kursinya.


Eris, Arae dan Yuri menatap wanita tersebut yang merapihkan seragamnya. Cantik sayang sekali tapi hatinya bolong, tidak menyadari kebiasaannya yang merusak dirinya.


"Anda tahu, Anda akan lebih dihargai dan hidup dengan tenang bila jujur," kata Yuri dari balik lemari.


Lira mendengarkannya, dia agak pernah mendengar suara itu. Dan tersenyum.


"Mau minum tambah lagi Tehnya?" Tanya Eris basa basi. Dirinya masih tidak percaya kalau Lira akan memikirkannya dengan serius.

__ADS_1


"Aduh, sayang sekali tapi aku ada janji bertemu seseorang setelah dari sini," kata Lira yang terus tersenyum.


"Siapa?" Tanya Eris dengan wajah curiga.


"Suami," kata Lira.


Eris pasrah, Lira bukan tidak sadar tapi memang itulah penyakitnya.


"Hati-hati," kata Eris masih memandanginya.


"Iya, lain kali aku pasti akan menerima ajakan mu," kata Lira.


"Sayangnya kamu tidak akan pernah datang lagi," kata Eris membuat Yuri kaget lalu menatap Arae.


"Wah, kalau begitu mungkinkah urusanku sudah selesai? Berarti aku sembuh kan?" Tanya Lira dengan gembira meskipun dia sedikit kesakitan karena punggungnya.


Lira lalu berjalan dengan senang sambil membuka kenop pintu.


"Karena kamu akan mati," kata Eris mendengar pintu tokonya tertutup.


Raven lalu masuk bersamaan dengan Ella dan bernafas lega. "Mengerikan sekali wanita itu," katanya terduduk di lantai.


Yuri yang tidak mengerti menghampiri Eris. "Eris, kenapa kamu memberikan gelang itu kalau ternyata tidak akan ada perubahan?"


Eris terdiam mendengar pertanyaan Yuri. Dijelaskan pun Yuri tidak akan mengerti.


"Eris memberikannya hanya untuk mengumpulkan asap hitam itu tapi tampaknya terlalu banyak," kata Arae yang bersandar pada lemari kaca.


"Apa sih yang ada di sekitar wanita itu kelihatannya bukan asap biasa," kata Yuri agak penasaran.


"Jari tangan dan pergelangannya lalu sekarang punggungnya itu semua adalah akibat dari kebiasaan yang tidak pernah dia sadari," kata Eris pada Yuri.


"Hmmm bahaya juga ya kalau sudah terbiasa membohongi banyak orang. Sampai diri sendiri tidak bisa sadar," kata Yuri yang sedang menyapu toko.


"Kebiasaan adalah rutinitas perilaku yang diulang-ulang secara teratur dan cenderung terjadi secara tidak sadar. Bisa dikatakan dalam artian lain, cara berpikir, keinginan atau perasaan yang diperoleh melalui pengulangan pengalaman mental sebelumnya," jelas Eris kepada Yuri dan Raven.


"Kebiasaan ku sebelum ke toko pasti selalu olahraga dulu. Apa itu baik?" Tanya Yuri.


"Kalau membuat badanmu sehat, kenapa tidak? Asalkan kamu tidak melakukan suatu perjanjian karena kebiasaan lalu membuat orang lain tersakiti. Asap hitam itu akan memakanmu," kata Eris lalu membawakan beberapa barang untuk diganti.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2