
"Sebenarnya, dulu aku memiliki pengalaman mengerikan yang dialami bersama kakekku di suatu tempat. Kala itu aku sudah duduk di bangku kelas 6 SD, lalu kami sekeluarga berlibur ke rumah kakek yang berada di kota Y. Aku memang kadang dapat melihat sesuatu yang tidak biasa tapi, aku menganggap itu hanya khayalanku karena usiaku masih kecil," kata Ares dengan wajah serius.
"Hampir sama dengan Aiolos," kata Nyx membuat yang lain kaget.
"Benarkah?" Tanya Ares.
"Ya tapi karena kepentok pedang cosplay milik kakakku sih," kata Aiolos tertawa membuat semuanya menggelengkan kepala.
"Itu tidak seberapa. Yang mampu melihat begitu aku, ibu dan ayah tapi... Yah, karena ada sesuatu hal Ayahku jauh dari kami berdua. Ah, aku teruskan kisahnya. Setibanya kami di rumah kakek, aku bermain seperti biasa dan makan dengan tetangga," kata Ares.
Tersisa hanya beberapa lilin termasuk Eris dan Arae. Suara-suara masih terus terdengar hanya saja kini agak menghilang.
"Kemudian... aku melihat baju yang tampak bayangannya dan keheranan," kata Ares memeluk dirinya sendiri.
Memandangi wajah semua orang yang fokus mendengarkan ceritanya, Ares agak menahan tawa. Tentu Eris pun penasaran ada apa sebenarnya dengan bayangan baju itu.
"Apa... itu... penampakan hantu?" Tanya Anemoi yang sudah menempel ke Poi. Mereka saling berpelukan satu sama lain, lingkaran pun sudah berantakan.
Ares menghela nafas dan dengan suara mencekam berkata, "Jemuran baju nenekku yang terbang karena angin," jawabnya dengan singkat.
Hening... 😳😳😳
BUK BUK!! Mereka semua menumpuk Ares dengan botol teh yang telah kosong. Eris menahan nafas dan tertipu juga, Arae memijat kepalanya karena tertipu.
"Malam begini malah bercanda," kata Aiolos yang kesal sekali.
"Tolonglah jantungku sudah mau copot nih," rintih Apollo menenangkan jantungnya.
Ares tertawa dia senang sekali berhasil menipu semuanya meskipun harus kena hantaman botol dari setiap orang.
"Lanjut tidak nih? Hahaha," kata Ares masih tersenyum.
"Lanjut! Tapi jangan bercanda, kita kan sudah serius," kata Artemis mengacak-acak kepalanya.
"Baik baik. Kemudian suatu hari, kakek mengajakku pergi ke pasar untuk membeli kue kesukaanku. Aku senang sekali kakek tidak melupakan kesukaanku lalu kami pulang dari toko dan harus berdiri di belakang palang kereta api. Saat itu kakek sedang menghitung jumlah lotre yang dia miliki," kata Ares masih teringat lembaran banyak itu.
"Kakek kamu tukang judi ya," kata Anemoi agak kaget.
"Yah, begitulah lalu aku yang membawa bungkusan kue serta ikan, melihat sesosok perempuan yang berdiri di seberang palang juga," kata Ares.
__ADS_1
"Kali ini serius kan," bisik Nyx pada Aiolos.
"Lihat saja kalau bercanda lagi," jawab Aiolos siap-siap.
"Sudah mulai," kata Eris. Suara bergemuruh dan wadah air mulai bergoyang.
"Aku berkata pada kakek, 'Kek, ada apa dengan perempuan itu ya?' Lalu kakek memandangiku dengan aneh dan menatap ke seberang yang aku tunjukkan. 'Siapa? Yang mana? Tidak ada siapapun disana,' lalu aku terdiam. Kakek tidak bisa melihatnya, aku memegang baju kakek dengan erat karena akhirnya aku tahu hanya aku sendiri yang bisa melihatnya," kata Ares.
Mereka semua merinding tiba-tiba bisa dibayangkan betapa seramnya itu. Aura hitam memasuki ruangan mereka tapi karena terdapat garam lalu wadah air dan lilin yang masih berdiri, mantra pelindung masih bisa menghalau.
"Bukannya kamu sudah terbiasa?" Tanya Poi agak merinding.
"Bagaimana ya? Takut iya, bisa lihat juga meski terbiasa kan tetap seram," kata Ares agak menundukkan kepala.
"Sekarang masih sering?" Tanya Apollo.
"Semenjak aku kenal Eris, kemampuan itu seakan jarang terlihat," kata Ares menatap Eris dengan penuh arti.
"Kamu mirip denganku," kata Aiolos dengan mata berbinar.
"Kita kan bukan anak kembar," kata Ares memandang datar pada Aiolos.
Ares memandangnya sambil menghela nafas. "Untung bukan saudara sepertinya kakak yang satu ini agak-agak... menyebalkan," pikir Ares.
Jam menunjukkan pukul 11 malam, sisa 3 lilin yang masih menyala. Bagian Apollo, Artemis serta Eris dan Arae yang akan disatukan.
"Aku melihat bayangan perempuan yang anehnya tidak ada, sosok itu terlihat begitu lemas kadang transparan. Aku mengusap-usap mataku takutnya karena ada yang menghalangi. Kakek lalu bilang, 'Jangan dipedulikan jalan saja terus,' aku berusaha dan melewati perempuan itu yang terus berdiri di sana," kata Ares.
"HIIII," Kata yang lainnya.
Air dalam wadah mulai naik dari tempatnya, tampaknya pelindung sudah agak kritis karena kisah yang mereka semua bawakan. Ruangan sebelah terdengar suara gebrakan yang kuat dan bunyi KREK.
Eris memperhatikan Ares yang masih belum selesai, belum Apollo dan Artemis. Eris berdiri dan berjalan ke arah persenjataan membuat Teran penasaran.
"Aku berjalan menatap ke arah depan tanpa melihatnya, lalu berkata dalam hati, 'Perempuan ini pasti hantu karena tubuhnya menembus dan tidak ada warna kehidupan.' Hanya begitu saja lalu perempuan itu berkata yang membuat bulu kudukku berdiri," jelas Ares memandang semuanya.
"Apa katanya?" Tanya Artemis membuat yang lainnya saling memeluk tangan yang lain.
"Kenapa kamu tahu? Setelah itu aku langsung pingsan di tempat dan kakekku panik lalu menggendongku pulang. Selesai," kata Ares meniup lilinnya.
__ADS_1
Dia bernafas lega setelah menceritakannya pengalaman terburuk.
Mereka berenam berteriak dengan heboh sambil menutup telinga mereka. Nyx kebelet ingin buang air kecil, semakin heboh karena sudah diujung tanduk.
"Cepat...lah berce...rita," kata Nyx mengiba.
"Kamu kenapa?" Tanya Poi.
"Kebeleeeet nih," teriak Nyx dengan wajah yang merah.
Yang lain tertawa mendengarnya. "Buang disini saja karena tidak mungkin kita keluar dari sini sekarang," kata Artemis memberikan botol kosong pada Nyx.
Nyx agak heboh karena ada 3 perempuan tapi mereka memaksa dikeluarkan. Kemudian dengan saran Ares mereka mengelilingi Nyx yang padat menutupinya dengan membentangkan jaket.
Ares memandangi Eris yang berada di depan persenjataan jaman dahulu. Ares lalu hendak bergerak saat...
"WOI! WOI!" Teriak Nyx agak kesetanan melihat Ares yang pindah.
Arae memandangi sahabatnya itu dan berbisik. "Eris, sepertinya semakin gawat,"
Eris mengangguk setuju. "Tapi kita tidak bisa menghentikannya. Masih ada 2 orang lagi bukan? Tiga dengan kita berdua," kata Eris menunjuk ke arah lilin.
"Ya. Tidakkah mereka heran bagaimana mungkin lilin-lilin ini masih bisa menyala meskipun ada angin," kata Arae memandangi ketujuh pemuda.
"Mereka akan berburu monster malam ini," kata Eris memegang semua senjata dengan memberikan sebuah kekuatan unik.
Setelah beberapa detik, Nyx akhirnya bisa lega dan meletakkan botol urin di tempat yang berbeda agar tidak disamakan dengan teh.
"Sudah?" Tanya Ares.
"Legaaa," kata Nyx rebahan di lantai.
"Pengalaman kamu menegangkan ya," kata Apollo bernafas lega.
"Yah lumayan sejak itu aku mulai tidak peduli. Siapa sekarang yang belum cerita?" Tanya Ares lega lalu meregangkan badannya.
"Apollo dan Artemis lalu kedua gadis misterius itu," kata Anemoi.
Bersambung ...
__ADS_1