
"Memang bagaimana tayangannya?" Tanya Yuri.
"Kamu ini apa-apa serba tidak tahu ya," kata Anita.
"Jangan digubris kami juga tidak tahu karena jarang mendengar soal Profesor," Kata teman tim Anita lainnya.
"Profesor melemparkan batang aluminium yang sangat besar ke tembok. Dia juga bisa mengetahui sesuatu yang terkubur di dalam tanah," kata Chris.
Dani, Rio dan Key bersiul pasti memerlukan energi yang besar untuk melakukannya.
"Bagian itu sangat dikenal, sehingga banyak orang yang meminta bantuan," kata Mila.
Mereka semua menceritakannya dengan seru. Tanpa melihat Yoshi yang memperhatikan semuanya.
Dia berhitung dan lega jumlahnya masih sama. Setelah itu hanya Olive yang masih tertunduk, menyesali perjanjian itu.
Anita memarahinya juga dengan teman yang lain, Olive terisak pelan. Dia merasa tidak kuat dan ingin berhenti namun Tora dan Panca menjanjikan uang yang banyak, dia hanya harus bertahan.
Chris melihat gofu yang tertempel di setiap ruangan dan kamar-kamar. Mila sudah membuatkannya dibantu Sisna dengan susah payah.
Berharap tidak ada peserta yang hilang seperti tahun lalu.
"Waktunya tidur hari masih panjang," kata Chris yang menuju kamarnya.
Semua peserta mengakhiri obrolan dan berjalan dengan temannya karena kisahnya mungkin memang nyata.
Yuri masih belum lega dan meminta tidur bersama Eris. Karena Eris bukan manusia, dia hanya terjaga di ruang baca sambil mengawasi semuanya.
"Eris," kata Arae muncul di hadapannya saat semua orang tertidur.
"Arae. Bagaimana?" Tanya Eris berdiri.
"Keluarlah dari rumah ini," kata Arae dengan wajah serius.
"Separah itukah?" Tanya Eris merenung.
"Kalian tidak mungkin bisa tinggal terlalu lama. Kalau bisa, besok ya lebih baik besok mengundurkan diri," kata Arae memaksa.
Tanpa sepengetahuan mereka, Olive datang untuk mengintip karena memcari Chris.
Tanpa sengaja dia melihat sesuatu, Arae yang berada di depan Eris dengan ekor dan tanduk panahnya Arae.
Dia berbalik menahan suaranya, meski ketakutan tapi kelihatannya mereka membicarakan sesuatu.
Olive ingat kalau Eris memang tidak terlalu banyak bicara. Dan suaranya terkesan dingin tanpa ada ekspresi apapun.
"Aku sudah memeriksa luar rumah ini terdapat bagian yang aneh," kata Arae.
"Ya itu adalah sebuah rumah di dalam rumah bukan," kata Eris menatap luar jendela.
"Bukan hanya itu. Apa kamu tahu rumah yang kamu sebut tadi berada di bawah bangunan ini? Di dalam tanah bangunan ini," kata Arae.
Olive terus mendengarkan, dia lupa saat itu sudah tengah malam dan dia sendirian. Tak menyadari bahwa makhluk aneh tengah menatapnya.
Eris berbalik tampak kaget. "Jadi begitu, bagian yang disebutkan Yoshi tidak terjangkau. Karena tempatnya ada di kedalaman tanah,"
"Ada yang lebih buruk lagi," kata Arae memandang sekeliling.
"Apa?" Tanya Eris.
__ADS_1
Arae menyimpan mulutnya dan menunjuk ke arah pintu masuk di belakangnya. Eris mengerti dan menciptakan gelembung besar yang mengelilingi mereka.
Olive tidak mendengar apapun lagi dan dia heran lalu masuk. Ruangan itu kosong dia tidak melihat Eria tadi.
Arae dan Eris memperhatikan tingkah lakunya kemudian membuka kamar satu per satu.
Yang terakhir, dia kaget melihat Eris tertidur di kasur bersama Yuri. Dia yakin Eris ada di ruangan itu belum terlelap. Karena merasa matanya lelah, dia kembali.
Gelembung itu pecah Arae dan Eris melayang di tengah udara, mereka bertatapan.
Di luar ruangan, Olive merasa heran apakah dia berhalusinasi? Kemudian melihat ruangan tim Chris masih menyala, dan Chris ada di dalamnya.
Olive lega dan berlari, sosok hitam mengejarnya juga dan meraih tangannya yang mengerikan.
Sedetik kemudian saat Olive sampai di depan pintu ruangan tim Chris, dan bermaksud memanggilnya.
Tangan hitam menarik rambut dan mendekam mulutnya. Olive kaget sekali, dia tidak bisa meronta.
Dia menatap ke belakang makhluk mengerikan menyeringai dan Olive menangis sambil diseret dengan cepat.
Dalam ruangan Eris, Arae menggelengkan kepala. "Ternyata ada yang mendengarkan kita. Kamu mau aku mengurusnya?"
"Tidak perlu," jawab Eris kembali duduk.
Eris memperhatikan duplikatnya yang tertidur dan menghilang menjadi serpihan bintang. Mereka mengobrol lagi tanpa harus cemas Olive menguping.
"Seluruh dinding rumah ini mengerikan," kata Arae yang duduk di sofa sambil meminum teh.
Ekornya mengeluarkan bola energi berwarna biru gelap dan bergerak ke arah Eris. Rekaman itu terlihat saat Arae mencakar juga menarik bongkahan dinding.
"Apa itu?" Tanya Eris berdiri tegang.
Kedua pupil mata Eris membesar dan menutup mulutnya. Tidak mungkin!
Eris membuka sebuah lukisan, menampakkan dinding putih bersih kemudian dia cakar segaris.
"Tidak ada apa-apa Arae. Apa itu hanya di luar saja?" Tanya Eris.
"Bersabarlah dan lihat secara perlahan," kata Arae dengan santai.
Eris kaget dan mundur benar apa kata Arae, darah kental berwarna hitam keluar secara perlahan. Eris kibas kan tangan dan dinding itu kembali menutup.
"Benar kan," kata Arae menyimpan gelasnya. Gelas itu bergerak mencuci sendiri dan kembali ke tempatnya.
"Ini gawat sekali! Kalau memang benar gumpalan yang kulihat itu... Seluruh dinding ini terbuat dari cairan darah sebagai semen lalu..." kata Eris yang belum percaya.
"Batu bata adalah daging manusia. Mungkin para peserta dari tiga tahun yang lalu?" Tanya Arae tertunduk sedih.
Mereka berdua adalah anak iblis dan setengah penyihir, meski mereka senang mencari mangsa namun ini terlalu keji.
Atas alasan apa semua orang dibantai? Dan oleh siapakah?
"Pelayan itu juga aneh," kata Arae memandang Eris.
Eris termenung, dia mengingat bagaimana reaksi Yoshi saat bercerita nampaknya itu memang dia yang asli.
Tapi para pelayan? Mereka bahkan sama sekali tidak bicara sedikit pun dan ekspresinya... berbeda.
"Eris, masa iya karena mereka bosan melihat sekantung sarah. Mereka..." kata Arae agak tegang.
__ADS_1
Eris mengangguk, yah sambil menatap dinding itu yang kini kembali ke semula.
"Yang kamu sebutkan maksudnya mereka mengganti bahan kan untuk membuat rumah ini. Bisa jadi seperti yang tadi kita katakan," kata Eris.
"Semuanya ya Eris. Di sini, sana, ruang aula, bahkan pintu! Ada semacam ruangan aku tidak mau memikirkannya," kata Arae merinding.
"Itu semua di luar kewajaran kalau memang permainan ini tujuannya hanya menakuti," kata Eris.
"Kamu tidak bisa menebaknya?" Tanya Arae heran.
Eris menghela nafas pendek. "Aroma pekat darah yang tercium sewaktu datang mengaburkan semuanya. Aku hanya bisa mengandalkan kemampuanmu," kata Eris.
Arae mengangguk siap memegang tugasnya selama Eris dan lainnya baik-baik saja.
Arae memegang perutnya yang agak gemuk. "Aku tadi meminum satu liter tapi darah itu terus menerus mengalir,"
"Ini sudah bukan urusan kita lagi," kata Eris.
Arae kemudian keluar aroma ruangan itu membuatnya mual karena efek kenyang juga.
Eris kemudian mengeluarkan teko besar yang pernah dihinggapi burung Phoenix dan mencakar.
Darah mengalir masuk ke dalam teko itu sampai penuh lalu Eris buka gerbang dimensi dan memasukkannya.
Darahku. Jangan ambil darahku! Darahku! DARAHKUUUU!!!
Eris tersentak bangun membuat Yuri kaget setengah mati saat hendak membangunkannya. Baru kali ini dia bermimpi buruk.
"Eris! Aku kaget! Kamu tidur begitu nyenyak. Mimpi buruk?" Tanya Yuri.
Eris meski bermimpi buruk namun tidak pernah berkeringat sedikit pun. Untunglah. Yuri senyum kemudian menyiapkan sarapan di ruang tengah.
"Iya," jawab Eris masih kaget. ini bukan pertanda baik.
"Tumben bukannya iblis tidak pernah bermimpi buruk?" Tanya Yuri membawa nampan berisi omelet keju, salad buah serta kopi dan roti.
Eris menatapnya dan meminum kopi buatan Yuri. Dia akan merindukannya nanti.
"Tidak juga, aku kan spesies gabungan dari iblis dan penyihir. Pukul berapa ini?" Tanya Eria takut siang.
"Pukul tujuh pagi, tidurku juga nyenyak. Yang lain juga sepertinya belum ada yang bangun," kata Yuri membereskan kasur.
"Area sudah bangun?" Tanya Eris.
"Sudah," jawab Yuri.
"Panggilkan. Ini sangat mendesak," kata Yuri yang membawa nampannya ke ruang tengah.
"Anu, Eris," kata Yuri sebelum menemui Ares.
"Ya?" Tanya Eris.
"Ah, nanti juga kamu tahu. Aku akan panggilkan Ares," kata Yuri lalu berlari.
Kedua mata Eris datar jangan-jangan...
"Maaf, aku terus mengikuti. Aku sudah ada di sini sejak pukul lima dan mengobrol dengan Ares," kata Chris.
Yah, inilah tebakan Eris.
__ADS_1
Bersambung ...