Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
2


__ADS_3

Eris tersenyum kini wajahnya yang biasa selalu dingin sudah agak bisa hangat, tentu hal itu membuat Arae sangat senang. Ternyata ada untungnya juga Ratu melemparnya ke Bumi. Yuri juga senang menatap perubahan Eris.


"Baiklah," kata Eris bersiap-siap. Yuri membawa tasnya dan mereka berjalan menuju pintu toko. Ella memberikan hormat agar mereka bersenang-senang. Sudah lama juga semenjak mereka sibuk dengan pekerjaannya.


Di luar Yuri belum bisa melepaskan pandangannya dari Eris. Tinggi badan Eris yang sekarang hampir sama dengan dirinya, bahu mereka juga sejajar. Eris tahu bahwa Yuri terus memperhatikannya.


"Kenapa? Anehkah?" Tanya Eris sambil terus menatap jalan.


Yuri tertawa dan memegang tangan kanannya dengan senang meskipun usia mereka terpaut sangat jauh, kenyataannya. Mereka sekarang seperti teman satu usia.


Rambut Eris yang panjang berwarna putih membuat mereka sangat mencolok. Orang-orang menatap mereka dengan pandangan yang aneh. Ah ya Indonesia memandangi seseorang berambut putih biasanya karena wig.


Tiba-tiba beberapa gadis remaja menepuknya dari arah belakang. Mereka berdua berbalik bersamaan.


"Kamu Eria, kan?" Tanya gadis berambut pendek.


"Bukan. Namanya Eris memang sih agak mirip ya dengan sang Medium, Eria," jelas Yuri.


Eris hanya diam benar, dalam ingatan mereka pastilah Eria juga mungkin sekarang sudah seusia gadis remaja. Tapi yang sebenarnya... Eria adalah kekuatan Eris.


"Ya ampun, maafkan aku," kata gadis berambut coklat tersebut sangat malu.


"Hihi mana mungkin dia Eria. Tinggi Eria memang sama tapi dia kan sekarang masih SMP. Maafkan teman kami," kata teman yang lain tertawa.


"Tapi... kenapa bisa mirip ya?" Tanya yang lainnya heran.


Yuri dan Eris masih mendengarkan percakapan mereka. Lalu Eris memegang rambutnya dan berpikir.


"Hmm tampaknya aku harus sedikit mengubah gaya rambut dan warnanya," kata Eris.


"Iya ya semua orang memandangimu, Eris. Di sini kan orang berambut putih sangat jarang, dikiranya kamu cosplayer," kata Yuri memandangi sekeliling.


Lalu mereka memasuki gedung dan meminta ijin ke dalam toilet. Eris menggunakan kekuatannya mengubah rambut nenjadi pirang. Setidaknya itu yang bisa dia lakukan, dia tidak menyukai warna hitam kecuali untuk bajunya.


Yuri semakin terpana melihat Eris menjadi lebih cantik dari yang sebelumnya. Gaya rambutnya pun dibuat lebih umum. Mereka jalan-jalan namun masih saja beberapa orang menatap dirinya.


"Apa mereka merasa kamu masih aneh?" Tanya Yuri bingung.


"Biarkan saja. Kenapa kamu bersusah payah memikirkan bagaimana pandangan mereka kepadaku?" Tanya Eris menatap Yuri.


"Aku hanya takut kamu tidak nyaman," kata Yuri senyum.


"Aku bukan manusia. Aku tidak melihat penampilan itu penting," jelas Eris berjalan sendirian.


Yuri lupa! Dan dia meminta maaf lalu menuju pusat perbelanjaan dan melihat kedai Toppoki yang sangat disukainya.


"Eris, kita beli toppoki yuk," ajak Yuri. Eris memperhatikan dan mereka berdua masuk ke kedai tersebut.


Yuri memesan 2 porsi yang original dan yang ada mozarellanya. Eris hanya memperhatikan lalu mencobanya, Enak! Dia terkejut dengan rasanya dan memakan agak banyak.


Yuri senang sekali melihat Eria menyukai makanan tersebut. Ternyata meskipun Eria bukan manusia, tapi indera perasanya sangat bekerja baik.

__ADS_1


"Ini enak," gumam Eris melahap yang mozarela.


Saat mereka tengah makan, datanglah sekelompok anak SMA memasuki kedai dimana mereka berada. Salah satunya ada yang memakai hijab berwarna biru terang dengan motif bunga di ujung kainnya.


"Almira, mau pesan apa?" Tanya temannya.


"Aku mau odeng saja," kata Almira sambil melihat menu kedai.


Mereka semua berlima termasuk siswi bernama Almira yang duduk membelakangi Yuri. Siswi bernama Almira memiliki parah yang cantik dan ayu, dengan lesung pipi.


"Kalian tahu Andika dari kelas 3-4? Dia menyatakan dong ke aku tadi saat istirahat," kata A dengan gembira sekali.


"BOHONG! Dia kan ketua OSIS!" Seru mereka berempat bersamaan.


"Kok bisa sih?" Tanya B heran.


A tentu saja menahan tawa melihat semua temannya penasaran, tidak dengan Almira. "Hehehe sudah tentu kalian sudah tahu kan berkat tangan Aphrodite Almira!" serunya menunjuk Almira.


"Hentikan! Tidak benar itu. Bukan karena tanganku, tapi itu usaha kamu sejak dari kelas 1 kan," kata Almira kesal.


Yuri dan Eris akhirnya jadi ikut mendengar karena suara mereka agak keras.


"Eris, memangnya benar ada tangan Aphrodite?" Tanya Yuri berbisik.


Eria menghentikan makannya, berpikir kemungkinan kakak dewinya memotong tangannya atau memberikan kekuatan pada manusia disini. Lalu dia berbalik memperhatikan tangan kanan Almira. Anak itu memang memiliki aura yang terang dan sejuk, Eris tersenyum.


"Tentu," jawab Eria singkat membuat Yuri tertarik.


Eris yang hendak menghentikannya, berpikir kemungkinan Yuri harus mencobanya. Yuri kemudian berjalan ke arah Almira.


"Anu..." kata Yuri menatap mereka.


"Eh? Ya, ada apa, kak?" Tanya mereka semua. Almira hanya kebingungan.


"Apa benar tangan kanan kamu mampu mengikat tali kasih?" Tanya Yuri dengan sopan dan antusias.


Mereka semua diam sesaat lalu tertawa dan bersama-sama menyodorkan tangan kanan Almira pada Yuri.


"Iya, kak benar," kata A antusias.


"Silakan, kak. Sudah terbukti kok. Teman-teman kami sekelas sudah membuktikan hasilnya," kata B dan C bersamaan.


"Hei, kalian!" Kata Almira mencoba menolak.


Yuri sudah tentu langsung memegangnya seperti posisi bersalaman. Almira berwajah merah karena malu akan perkataan teman-temannya.


Yuri melemparkan harapannya agar bisa jadian dengan Jungkook atau Suga. Yahh Yuri adalah penggemar mereka berdua.


"Memangnya Kakak mau merajut kasih dengan gebetan ya?" Tanya D.


"Dengan Jungkook," jawab Yuri tertawa.

__ADS_1


Semuanya histeris siapa sih yang tidak mau? Dan mereka sama sekali tidak terpikir ke arah sana tentu Almira menolak.


"Kalau itu sih kami juga maauuuu," seru mereka semua.


"Hahaha bercanda kok terlalu jauh harapannya. Kakak hanya ingin mencoba saja," kata Yuri setelah meminta maaf pada Almira.


Teman-temannya mengobrol sambil tertawa. Almira membungkuk juga sambil menatap Yuri yang kembali ke tempatnya. Eris sudah menghabiskan 1 porsi dan Yuri memesan kembali.


"Kalian ini, aku kan sangat malu. Tali kasih apanya? Tangan Aphrodite apanya?" Tanya Almira yang kesal. Teman-temannya membujuknya dan pesanan mereka pun datang.


Eris menghela nafas melihat Yuri yang senang. Namun aura dari Almira memang menarik minat Eris, berwarna pink terang dengan warna kuning. Bukan pertanda yang menakutkan hanya menampilkan bahwa Almira adalah gadis yang sangat rajin beribadah.


"Apa menurutmu gadis itu bisa masuk toko?" Tanya Yuri sedikit berbisik.


"Bila dia menginginkannya," kata Eria tanpa adanya emosi.


Yuri senang. "Bagaimana kalau kita berikan kartunya?" Tanya Yuri mengambil satu dari tasnya. Eria tidak mampu menjawab karena Yuri sudah menuju meja mereka.


Yuri lupa toko itu hanya bisa dilihat dan dimasukki bila orang tersebut memiliki keinginan yang paling darurat.


"Ada apa lagi, kak? Apa kurang?" Tanya B.


"Bukan, bukan. Kakak hanya mau memberikan kartu toko saja," kata Yuri memberikan kartu.


"Kartu?" Tanya Almira ingin lihat.


"Bila kalian ada masalah yang tidak bisa dikatakan atau orang lain sulit memberikan solusi, datang saja ke toko kami," kata Yuri.


"Apa kalian membuka konsultasi cinta?" Tanya D.


"Apapun," jawab Yuri kemudian pergi.


Semuanya melihat kartu itu satu per satu. "Toko?" Tanya A.


"Aahhh! Toko ini sih aku tahu. Yang baru buka itu lho, kita kesana yuk," ajak C.


Almira merasa tidak pernah melihat toko yang dimaksudkan oleh A tapi mungkin dirinya saat itu sedang sibuk memikirkan sesuatu.


"Aku sih tidak bisa hari ini ada les mengaji dengan guru," kata Almira sambil makan odeng dengan lahap.


"Iya juga ya. Kapan-kapan saja kalau Almira bisa. Toko ini buka setiap hari dan 24 jam. Jadi kita bisa tenang, masih bisa esok hari," kata D membaca keterangan.


"Wow hebat 24 jam," kata B.


"Ada cafenya tidak sih?" Tanya D.


"Ada. Ada. Nih," tunjuk Almira menunjukkan gambar kotak.


"Wah, asyik!" Seru kedua temannya.


Yuri dan Eris pamit pergi duluan, mereka selesai memakan 4 porsi. Mereka semua terpana melihat perut mereka yang sama sekali tidak terlihat gemuk.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2