
Thanatos kaget bukan main Yuri malah menghampirinya dan berhadapan dengannya.
"Kamu Thanatos kan? Yang mengusir aku saat menjadi roh yang tersesat," kata Yuri sambil menunjuk oleh jarinya ke wajah Thanatos.
Kedua tangan Thanatos mengepal tidak menyangka anak manusia bisa tidak sopan di hadapannya.
"Beraninya kamu menunjukku dengan jari kotor! Seharusnya aku melenyapkan roh mu waktu itu. Supaya tidak membuatku susah melakukan hal begini," katanya dengan suara menahan amarah lalu mendekati Yuri.
Yuri tidak bisa bergerak, tidak bisa juga melangkah mundur. Kedua kakinya seakan ditahan oleh sesuatu yang tidak terlihat.
"Tidak ada yang bisa menolong mu," kata Thanatos lalu mencekik leher kecil Yuri. "Suruh siapa kamu malah mendekatiku dan menantang. Hmmm?" Tanya Thanatos lebih dalam mencekiknya.
"KH...! To..lo...ng. Uhuk! Uhuk! Lep..as..kan!" Teriak Yuri sambil menentang perutnya, memukul tangannya dan berusaha mencakar wajah Thanatos.
Thanatos tertawa keras, keadaan sekitarnya entah kenapa tidak ada yang memperhatikan mereka berdua. Yuri berusaha menepuk bahu orang tapi orang itu melihat sekelilingnya tidak ada siapapun dan berjalan lagi.
Saat Yuri hampir kehabisan nafas, tangan Thanatos disambar oleh panah api lalu melepaskan Yuri ke jalanan.
"AH! SIAPA YANG MENGGANGGU!?" Tanyanya berbalik ke arah belakang.
Arae dan Eris berdiri di atas kepalanya. Arae mengarahkan panah api dengan pandangan jahat pada Thanatos. Eris lalu mengeluarkan bola api yang mengitarinya seperti roda.
Arae sudah bersiap untuk melemparkan panahnya lagi. "Aku siap! Kita bakar saja dewa menyedihkan ini," kata Arae.
Eris turun. "Wah wah, Paman memang ingin menguji kesabaran ku? Ini kedua kalinya Paman berbuat ulah. Apa aku harus melenyapkan Paman?" Tanya Eris dengan mata yang mengancam.
Tanpa diperintah bola api menghujani Thanatos dengan kecepatan yang melesat. Thanatos berusaha menghindari tapi beberapa bola mengenai tubuhnya.
Thanatos membalasnya dengan air hitam namun bola api tersebut berubah bentuk menjadi semacam kristal tajam. Dan menutup beberapa bagian tubuhnya.
"Aaaa!!" Teriak Thanatos kesakitan.
"Kurang ajar benar lah apa kata dunia bila kamu memang dewa yang tidak disukai oleh manusia bahkan para dewa lainnya. Dewa macam apa yang bersembunyi untuk membunuh Yuri," kata Arae dengan nada mengancam.
"Sial! Kamu, urusan ku denganmu masih akan berlanjut!" Kata Thanatos lalu menghilang untuk merawat lukanya.
"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Arae busur dan panah apinya langsung menghilang.
Yuri agak ketakutan, dia gemetaran namun bisa menjawab pertanyaan Arae. "Ha..nya se..ra..k," kata Yuri menunjuk ke tenggorokannya.
__ADS_1
Eris memeriksa leher Yuri memerah dengan dalam. "Ayo ke toko supaya aku bisa merawat lukamu," kata Eris membantu Yuri berdiri.
Dengan hentakan kaki Eris, portal terbuka di hadapan mereka bertiga dan mereka memapah Yuri menuju toko.
Dalam toko Arae membawa kotak P3K dan Eris mencoba menyembuhkan luka Yuri dengan kekuatannya.
"Sudah cukup bisa di tutup tapi masih harus dipasang perban. Memarnya masih terlihat dalam," kata Eris.
"Akhir-akhir ini Thanatos terlihat sembarangan menyerang. Kenapa sih dia?" Tanya Arae yang mulai membalut leher Yuri.
"Memang begitu kelakuannya. Misinya sebagai Death kadang tidak pernah dia laksanakan dengan baik," kata Eris.
Yuri meringis kesakitan. "Bodohnya aku malah mendekatinya," kata Yuri.
"Lain kali bila dia datang atau kamu berada dalam bahaya, panggil kami dalam hati," kata Eris.
Setelah itu mereka mengantarkan Yuri ke depan rumahnya.
"Aku merasa tidak enak kalau harus menghubungi kalian," kata Yuri yang suaranya sudah kembali normal. Berkat ramuan Eris.
"Panggil kami. Oke," kata Arae dengan wajah serius.
"Iya. Terima kasih Arae dan Eris," kata Yuri yang berdiri depan pintu rumahnya.
Se perginya mereka berdua, Yuri memencet tombol rumah lalu ambruk begitu saja. Papanya yang baru saja tiba di rumah membukakan pintu dan melihat Yuri yang pingsan serta leher yang memakai perban.
"YURI! Ada apa, Nak? Kamu kenapa? MAMA!!" Panggil Papanya dengan panik.
Mama dan Papanya lalu membawa Yuri ke dalam kamar, Mamanya memijat tangan Yuri dan memeriksa luka di leher. Yuri terbangun dan memeluknya menceritakan apa yang terjadi kepadanya.
Mereka takut bila lelaki yang terus membuntuti anaknya masih berkeliaran dan memutuskan agar Yuri sementara tidak kuliah.
Kabar itu juga didengar oleh Ketua Drama, Xin. Sely sudah tentu merasa doanya terkabul sangat senang. Tetapi Yuri tetap meminta naskah selanjutnya, dia akan terus berlatih di rumahnya.
Eris masih memikirkan soal tindakan Thanatos yang terbilang cukup aneh. Thanatos tidak akan mau susah payah memegang kulit manusia karena dia akan merasa jijik.
"Ada apa dengannya? Atau mungkinkah..." kata Eris kemudian memutuskan untuk mengunjungi kediaman Pamannya itu.
Thanatos sedang gelisah, dia sudah membersihkan tangannya sampai 100x. Tanpa ada peringatan, Eris berjalan melalui cermin besarnya.
__ADS_1
"Kenapa Paman melakukan itu?" Tanya Eris membuat Thanatos terkejut.
"Eris. Kamu membuatku kaget," katanya memegang dadanya.
Eris mendekatinya. "Siapa yang meminta Paman melakukan itu?" Tanya Eris.
"Tidak ada. Itu keinginan aku," kata Thanatos menyembunyikan rasa gelisah.
Eris duduk dengan pose seorang Lady lalu menuangkan air berwarna hijau pekat dan meminumnya.
"Hubungan kita memang tidak ada yang baik. Tapi aku tahu kalau Paman tidak akan pernah sembarangan menyerang apalagi menyentuh kulit manusia," kata Eris menggoyangkan gelas besar itu.
"Padahal sedikit lagi aku mendapatkan gadis itu," gumam Thanatos yang tidak mendengar apa kata Eris.
"Kak Venus bukan yang menyuruh Paman?" Tanya Eris memperhatikan punggung Thanatos yang agak kaget.
Thanatos menghela nafas dan menghadapi Eris sambil duduk. "Venus hanya cemas pada manusia yang bisa menyeret mu ke sesuatu yang berbahaya," jelasnya.
"Aku yang selalu menyeret manusia apalagi Yuri hanya pegawai biasa di toko, ancaman apa yang dia perbuat?" Tanya Eris dengan nada dingin.
"Yah, harap maklum saja. Kakakmu itu..." kata Thanatos menelan ludah. Entah apa yang membuat Thanatos ketakutan pada sosok Eris.
"Kalau sekali lagi Paman menyerangnya, aku juga tidak akan segan untuk melukai Paman bahkan memusnahkan semua yang Paman miliki," ancam Eris.
Thanatos mendengarnya dan mengeluarkan senjata sabit besar yang runcing. "Eris, aku harus membawa gadis itu ke dunia orang mati dalam 24 jam. Aku tahu kamu akan menghalangi, lalu apa yang akan kamu perbuat?" Tanya Thanatos yang duduk di kursi singgasananya.
Seketika itu aura yang sangat kelam dan jahat keluar dari balik tubuh Eris. Aura api berwarna ungu gelap, hijau dan merah bersatu.
Mereka berdua berdiri saling berhadapan.
"Tidak akan kubiarkan Paman mencabut paksa bola kehidupannya Yuri," kata Eris bersiap-siap.
"Haruskah kita bertarung?" Tanya Thanatos dengan menatap tajam keponakannya.
Eris mengeluarkan tongkat panjang berwarna hitam metalik dengan hiasan yang tidak biasa.
Saat Thanatos melihat senjata yang dipegang oleh Eris, dia mengalah dan menyimpan tongkatnya. Kemudian Eris menghilang.
__ADS_1
"Dia benar-benar serius," senyum Thanatos lalu menghembuskan nafasnya lelah. "Mungkin aku terlalu serius mencekik salah satu pegawainya," kata Thanatos.
Bersambung ...