
Kembali ke masa sekarang, gadis bernama Rui tersebut sangat sedih mengingat seperti apa Mama memperlakukannya. Bahkan Ayahnya sendiri pun tidak berani membantah, setidaknya diam-diam Ayahnya selalu membelikan makanan.
"Biarpun sesudahnya pasti akan kena marah, tapi hari ini aku benar-benar ingin pergi. Aku ingin sekali bisa keluar dengannya, aku yang selalu disibukkan oleh les dan belajar berbagai keterampilan. Hanya untuk berteman dengan satu orang pun, selalu saja Mama mengganggu," kata Rui menangis, sampai Suga pun akhirnya berperilaku dingin kepadanya.
Eris lalu menawarkannya teh hangat yang sangat harum dan Rui menerimanya sambil menyeka air matanya.
"Minumlah," kata Eris kemudian duduk kembali. Sepertinya Rui masih memiliki kekesalan pada Mamanya.
"Karena keinginan Mamaku, aku tidak ada waktu untuk bermain dan yah akhirnya Suga pun pergi. Aku sudah banyak berharap di sekolah SMP ini, aku harus punya teman," kata Rui dengan ceria.
"Dia tahu keadaan kamu?" Tanya Eris.
Rui mengangguk. "Dia tidak keberatan dan selalu berusaha mencuri waktu, aku pernah les piano hanya setengah jam lalu bermain," kata Rui.
"Ketahuan?" Tanya Eris dengan wajah datarnya.
"Tidak," kata Rui sangat senang.
Eris tersenyum dingin.
"Ketahuan karena aku terlalu senang hampir setiap hari. Untung saja guru les aku mengerti. Tapi yah setelah ketahuan, aku dipindahkan tempat les. Mari dan lainnya menjadi sulit, lalu aku berbuat nekat bolos les dan berjalan ke taman," kata Rui sedih kembali.
"Kemudian kejadian selanjutnya kamu berada di sini," kata Eris.
"Saat itu aku melihat hujan meteor dan... yah begitulah aku berharap ingin pergi jauh dari tempatku sekarang. Bisa terbebas dari Mama," kata Rui memejamkan kedua matanya.
"Kamu menyesal?" Tanya Eris.
"Karena pengharapan itu sehingga aku bisa begini. Jawabannya tidak, aku senang. Aku ingin mengenal dunia asing ini, kalau boleh aku ingin membantumu juga," kata Rui dengan.ceria dan memohon.
Eris menggelengkan kepalanya, ditemani oleh manusia apalagi dirinya bukanlah manusia entah apa yang dipikirkannya.
"Kamu tidak ingin tahu aku siapa?" Tanya Eris memandang Rui.
Rui menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Aku bukan manusia," kata Eris.
"Aku tidak percaya," kata Rui mengira Eris berkata begitu untuk menolaknya.
Eris menunjukkan bayangan di tembok dan Rui melihatnya. Dia terkejut sekali melihat penampakan asli Eris lalu menggeleng. "Aku tidak perduli meski kamu bukan manusia pun. Kamu menolongku karena kamu makhluk yang baik," kata Rui.
"Aku akan memulangkan mu," kata Eris berdiri dan membawa cermin besar.
"Aku bisa membantumu. Aku tidak akan mengecewakan. Tolonglah, aku harus punya alasan kalau aku harus kembali ke duniaku. Aku bisa membereskan atau membuat sesuatu. Apa saja!" Kata Rui memohon dengan sangat.
Dia terus mengikuti Eris kemanapun, tidak ingin pulang dan memegang tangan Eris meskipun sedingin es batu. Dan berlutut, Eris terdiam dan menghela nafas.
"Aku tidak butuh bantuan," kata Eris.
Rui lalu melihat ke sekelilingnya, dia tidak menyerah dan melihat-lihat keadaan sekitar toko Eris. Eris tidak memperdulikannya lagi dan terserah apa yang Rui ingin lakukan.
Akhirnya toko berhenti berjelajah dan cuaca di sekitar memperlihatkan pemandangan sekitar kota. Tentu bukan di dimensi Rui, namun dia senang bisa melihat pemandangan yang berbeda.
"Paaaa..." kata Arae yang datang mengantarkan banyak paket. Dia terkejut melihat ada manusia di dalam toko Eris.
"Jangan tanya," kata Eris masuk ke dalam dapur.
Setelah itu Arae memberitahukan Rui untuk mengambil beberapa barang dari suatu kamar dan dia kembali dengan barang itu. Rui juga membantu Arae membuka paket yang baru datang dan menyimpannya di rak.
Lalu Rui masuk kembali dan membawa kotak berwarna putih berisikan perhiasan, gelang, kalung, anting dan permata.
Rui memandangi Eris, dia takut kalau Eris akan memarahinya. Namun Eris pergi ke ruangan sihir untuk membuat ramuan dan Rui dengan senang hati memajang perhiasan tersebut.
"Wah, perhiasan! Aku baru tahu kalau toko ini bukan hanya menjual barang antik saja tapi perhiasan juga. Kamu pegawai baru?" Tanya Perempuan berambut merah. Tentu saja dia manusia.
Rui yang menunggu pembeli itu tampak kaget. "E...eh iya. Aku baru datang hari ini," katanya dengan sopan.
"Ah, begitu. Karena aku jarang melihat ada pegawai di sini. Aku sering sekali datang ke toko ini yang kadang 3 bulan sekali aku bisa melihatnya lagi," katanya mengedipkan sebelah matanya.
"Begitukah? Apa Anda tidak merasa aneh?" Tanya Rui agak berbisik.
__ADS_1
"Hahaha karena pemiliknya ya? Hmm aku memang suka sesuatu yang unik, asing dan aneh. Semoga kamu nyaman ya bekerja disini. Siapa namamu?" Tanyanya.
"Namaku Rui. Kalau Kakak?" tanya Rui senang sekali bisa bertemu dengan orang lain.
Eris memandangi pembeli itu lalu menatap Rui.
"Namaku Kayako. Salam kenal ya," kata perempuan itu membeli beberapa perhiasan lalu keluar toko.
Rui yang masih mengagumi perempuan itu berpikir kalau namanya mirip dengan Mamanya tapi kan tidak mungkin bisa bertemu.
Eris tentu tahu memang perempuan tadi itu adalah Mamanya Rui tapi tidak memberitahukan.
Lebih banyak lagi pembeli yang datang tentu melihat barang yang Rui bawa dan letakkan. "Silahkan bila ada barang atau perhiasan yang kalian minat," kata Rui.
"Aku tidak membutuhkan uang," kata Eris melihat beberapa gepok uang di dalam kasnya.
"T-tapi... ini..." kata Rui kebingungan.
"Apapun yang ku butuhkan semuanya sudah ada di sini. Tapi, kalau kamu ingin menjual perhiasan itu silakan saja. Aku tidak peduli," kata Eris mengamati cara kerja Rui.
"Serahkan penjualan barang ini padaku. Begini-begini aku pernah kerja sambilan secara sembunyi dengan Mari," kata Rui dengan penuh semangat.
Arae menghampiri. "Tidak bisakah kamu membawanya ke dunia kita? Kerjanya boleh juga, mungkin kamu bisa mengubahnya menjadi seperti kita," kata Arae berbisik.
"Dia masih hidup," kata Eris.
"Apa!? Lalu... kenapa dia..." kata Arae melongo.
"Rohnya terpental dari tubuhnya dan sepertinya... tersedot ruang waktu saat toko ini berpindah tempat. Sekarang aku sedang mencari waktu yang tepat untuk memulangkannya," jelas Eris memperhatikan bulatan bulan di tangannya.
"Sayang sekali," kata Arae sedih.
Rui benar-benar memenuhi janjinya, perhiasan yang Eris miliki habis laris manis. Rui lalu melapor barang jualannya dan memberikan uang sebanyak Rp 50.000.000.
Eris memandangi uang itu melirik ke arah Arae yang tertawa usil kepadanya. Eris lalu memasukkannya ke dalam sebuah kantung.
__ADS_1
Setelah itu Rui mulai membersihkan barang antik yang sudah berdebu. Ela juga kadang membantu Arae atau Rui, meski kesannya agak canggung.
Bersambung ...