Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
1


__ADS_3

Setelah Emak dan adiknya Nyx pulang, Sawa akhirnya bisa rebahan dalam kamarnya. Tentu saja akhirnya kakaknya ikut membantu meskipun hanya sebentar karena Ibunya menyuruhnya untuk fokus belajar saja.


Lalu Sawa merogoh tangannya dan memegang uang tip Rp 30.000 dari kakak Nyx dan menaruh uang tersebut dalam kaleng tabungannya. Ketika akan tidur, samar-damar dia mendengar suara yang dia pernah dengar.


"Suara itu," katanya lalu bangkit dan keluar kamar.


Dia menuju ruang tamu dimana semua anggota keluarga sedang menyaksikan tayangan seorang gadis yang sedang bernyanyi.


"Dia..." kata Sawa berdiri di pintu.


"Ah, dia pemenang audisi yang kakak ikuti juga. Tidak seperti kakak, dia baru pertama kali ikut sudah menang. Coba dicontoh tuh," kata adiknya menjulurkan lidah pada Sawa.


Lantas Sawa jewer telinganya dan kakaknya menengahi mereka berdua.


"Iya juga kekurangan kamu hanya kurang percaya diri. Bagaimana mau menggapai impian kalau begitu terus? Ah, suara anak ini merdu sekali," kata Ayahnya mendengarkan terus.


"Coba dong kamu tingkatkan lagi rasa percaya diri kamu, aku nih sudah mengeluarkan banyak uang hanya untuk mendaftarkan kamu banyak audisi. Sudah sekolah saja dulu, nanti kalau kamu sudah mantap baru mengejar karir," kata Ibunya sambil memakan cemilan.


Sawa kesal sekali mendengarnya dan menatap Arae yang memakai baju manis. Suaranya memang enak didengar, lalu Sawa menuju kamarnya dan mengunci diri.


Setelah itu adiknya, Tori menuju kamarnya dan menyalakan radio dengan suara yang keras. Sudah tentu sengaja dia lakukan.


"KECILKAN SUARANYA. BERISIK!" Teriak Sawa membuka pintu kamar adiknya begitu saja.


"Idih! Kesal karena gagal jangan salahkan Radio aku dong," kata Adiknya tidak mau kalah.


"Bukan urusan kamu! Kecilkan!" Kata Sawa berusaha menggapai radio adiknya.


"Enak saja. Suaranya tidak keras itu kakak saja yang sensitif karena tidak menang juga. Coba dengar suara kakak itu jelek!" Kata Tori mengejek kakaknya.


Kesal, Sawa langsung menjambak rambut adiknya. "Aku sedang buat tugas sekolah," kata Sawa galak.


Tidak mau kalah, adiknya membalas dengan menjambak rambut panjang Sawa lalu mengancam akan di guntingnya.


"HEI, JANGAN RIBUT!!" Teriak Ibu mereka yang akhirnya masuk ke dalam kamar dan menjewer mereka berdua.


Lalu mereka berdua diam dan saling mengusap kepala masing-masing. Setelah Ibu mereka memberikan pidato panjang, Sawa kembali ke kamarnya. Tori memutuskan untuk mematikan radionya.


"Huh! Aku sudah muak! Setiap hari selalu disuruh mengantarkan cilok ke rumah pembeli. Sudah begitu kamar ini dindingnya menggunakan bahan triplek. Mau berlatih bernyanyi pun mana bisa leluasa, mana sebelah kakak sedang belajar. Aku juga tidak bisa fokus belajar karena Tori sering memainkan PlayStation. Aku ingin segera keluar dari rumah ini!" Pikir Sawa yang menangis.


Eris berada di atas atap rumah Sawa. Dia duduk tepat dimana Sawa berada. Lalu melihat Arae yang menikmati perannya sebagai idola.


Sawa teringat apa kata teman-temannya dan Yuri di tahun ajaran lalu.


"Sawa, kamu bisa deh menjadi artis atau penyanyi. Suara kamu bagus sih," kata Teman sekelasnya sambil menatap Sawa.


"Ah, masa sih? Suaraku biasa saja kok," kata Sawa yang memerah wajahnya.


"**Aku serius. Benar kan teman-teman?" Tanya A kepada Yuri yang baru datang.


"Iya iya, coba deh kamu dengar sendiri," kata Yuri memberikan rekaman kaset saat Sawa menyanyikan lagu Face My Fears nya Utada Hikaru.


Kemudian Sawa mendengarkan suaranya dan memang bagus sekali. Dia tampak terkejut.


"Kamu juga kan modis dan setiap hati berlatih di karaoke. Coba saja ikut audisi," kata Yuri dengan kedua mata berapi-api.

__ADS_1


"Hmmm! Baiklah kalau begitu. Nanti kamu temani aku ya, Yuri," kedip Sawa pada sahabatnya itu.


"Beres," kata Yuri mengacungkan jempolnya**.


Setelah itu dimulailah Sawa terus mengikuti audisi, ada yang hampir menang namun yang menjadi pertimbangan adalah usia Sawa yang masih belum memenuhi kriteria.


Kemudian Sawa tertidur dalam hatinya, dia akan terus berjuang ikut audisi sampai dirinya dinyatakan berhasil.


"Benar, kalau aku jadi bintang, aku akan tinggal di kamar yang luas. Banyak pakaian indah, dikelilingi banyak bunga dan... tidak perlu lagi mendengarkan radio butut milik adikku. Aku ingin jadi bintang!" Pikir Sawa lalu tertidur.


Mendengar isi hati Sawa, membuat Eris tersenyum lalu melayang dan menghilang ke dalam tokonya. Eris menyiapkan sesuatu yang cocok untuk Sawa, agar impiannya tercapai.


Sebuah Buku bersampul ukiran semacam huruf Hieroglif, Eris letakkan di rak yang bisa terlihat jelas oleh Sawa. Karena Arae tidak ada, dia harus menyiapkan segalanya sendirian lagi.


"Kuharap dia tidak lupa siapa dirinya," kata Eris menatap apron milik Arae.


Keesokan paginya di hari Sabtu, sekolahnya libur membuat Sawa menegakkan badannya dan senam sedikit. Lalu mandi dan tentu saja memulai pekerjaannya sebagai pengantar cilok.


Saat sedang menunggu lampu merah, dia memandang ke toko televisi yang menampilkan Arae sedang berakting.


"Itu gadis yang melakukan audisi bersamaku ternyata sudah melakukan debut pertamanya. Kalau saja waktu itu dia tidak ada, mungkin sekarang aku yang akan berakting dan bernyanyi di sana. Kalau saja anak itu tidak ada," gumam Sawa dengan sebal.


Lampu sudah hijau dan Sawa mengayuh kan sepedanya ke rumah pembeli. Ternyata cilok itu dipesan oleh dua orang yaitu Poseidon dan Artemis.


Sawa mengantarkan ke rumah mereka berdua yang ternyata rumahnya hanya berbeda 5 blok saja.


"Berapa semuanya?" Tanya Poseidon dengan ramah pada Sawa.


"Rp 50.000 Kak," jawab Sawa yang malu-malu.


Sawa merasa beruntung sekali hari ini. "Terima kasih, Kak. Mari," kata Sawa mengendarai sepedanya menuju ke rumah Artemis.


Poseidon hendak masuk saat Ares menyusulnya keluar. "Wah!" Serunya berbinar-binar.


"Ayo sambil kita bicarakan soal Eris," kata Poseidon memberikan cilok itu.


Di jalan, Sawa melihat alamat dan berdecak kagum. "Ternyata di dekat sini. Permisi!" Seru Sawa di depan gerbang.


"Yaaa? Tukang cilok ya? Semuanya Rp 50.000 kan. Ino tip untuk kamu, terima kasih," kata Artemis yang menyerahkan uang lalu masuk ke dalam rumah lagi.


Sawa yang belum sempat bicara hanya bisa mengangguk dan bengong. "Sama-sama," jawabnya melihat Tip Rp 20.000 wah, dia senang sekali.


Dalam perjalanan kembali ke rumahnya, tiba-tiba hujan deras mengguyur dirinya.


"Ya ampun! HWAAA! Celaka, aku kebasahan begini. Huweeeehhh dingiiiiin," katanya menggigil. Sawa lalu mencari rumah atau apapun agar dirinya tidak semakin basah.


Terlihatlah toko Eris yang berada di rimbunan pepohonan, tanpa pikir panjang Sawa menuju kesana dengan berlari. Lalu melemparkan sepedanya sembarang dan memasuki toko.


Gerbang toko terbuka dengan sendirinya seakan mempersilahkan Sawa untuk masuk. Dia berdiri di depan pintu, lalu Eris keluar sambil membawakan handuk.


"Lebih baik kamu berteduh di dalam. Silakan," kata Eris memberikan handuk.


Sawa kaget sekali saat tahu pintu rumah itu terbuka dan melihat Eris membawakan handuk putih untuknya. Merasa tidak enak, dia mengambil handuk itu.


"Oh! Tidak usah. Aku basah kuyup nanti lantainya basah lagipula, aku hanya ikut berteduh saja sebentar lagi aku akan per..." kata Sawa tidak meneruskan.

__ADS_1


Hujan sangat deras sekali apalagi disertai angin yang sangat dingin terpaksa Sawa akhirnya menerima ajakan untuk masuk ke dalam toko.


"Selamat datang," sambut Ela tersenyum pada Sawa.


"Ah, iya. Permisi. Wah," kata Sawa takjub.


Sambil mengeringkan bajunya, Sawa kagum sekali dengan isi toko itu. Dan juga suasananya sangat hangat.


"Duduk dan minumlah susu hangat ini," kata Eris menaruh minuman serta kue kering.


Kebetulan seharusnya dia sudah saatnya makan siang, dengan agak malu dia duduk sambil mengeringkan bajunya.


"Enaknya dan hangat sekali. Terima kasih," kata Sawa menundukkan kepalanya pada Eris.


Eris membalas lalu duduk terdiam sambil membaca buku. Setelah kenyang, Sawa memperhatikan jendela. Masih hujan. Dia menghela nafas dan memutuskan untuk melihat-lihat barang di dalam toko itu.


"Wah, ada jimat! Toko ini ternyata menjual berbagai macam jimat, untuk peruntungan juga ada. mungkinkah aku perlu jimat supaya aku bisa lulus saat audisi lagi nanti," kata Sawa mengambil satu jimat berwarna merah.


"Mungkin aku salah perkiraan," pikir Eris memandangi buku yang tadi dia pajang. Lalu Eris bersiap untuk menjadi kasir karena yang diambil Sawa adalah jimat yang memiliki harga jual.


Sambil membawa jimat itu, Sawa masih melihat-lihat dan menangkap sebuah buku penuh huruf Hieroglif. Dia mencoba memegang dan membukanya, warna lembarannya abu-abu. Dia pikir itu buku cerita tapi ternyata sebuah Diary.


Eris tersenyum melihatnya.


"Anu, berapa harga buku Diary ini?" Tanya Sawa meletakkannya ke atas meja etalase.


"Itu bukan buku Diary biasa," kata Eris.


Sawa bengong menatap buku itu. "Lalu?" Tanyanya.


"Buku itu berasal dari dunia Kegelapan berbeda dengan Diary yang ada di dunia ini. Apa kamu tertarik?" Tanya Eris menatap Sawa dengan pandangan dingin.


"Dunia kegelapan? Apa kamu sedang bercanda, Dik? Hehehe," kata Sawa namun mengetahui Eris tidak tertawa, dia menghentikannya.


"Hampir sama fungsinya dengan Diary yang ada di dunia ini tapi buku yang ini berfungsi untuk menghilangkan saingan pada pekerjaan," kata Eris membuka lembaran awal.


Sawa teringat soal Arae lalu menggelengkan kepalanya. Dia juga menatap lembaran buku yang tertulis:


..."Nama siapa yang ingin kamu hilangkan?"...


"Ah, tapi pekerjaanku kan mengantarkan pesanan cilok jadi tidak ada saingan apapun," kata Sawa tertawa kering.


"Jenisnya itu banyak. Contoh lainnya audisi," kata Eris menutup buku itu lalu menyimpannya lagi.


Sawa teringat lagi bagaimana Arae dengan mudahnya menjadi pemenang dan sekarang melakukan debut. Eris sengaja berkata begitu supaya Sawa bisa menyadarkan Arae.


"Tunggu. Hmmm bagaimana caranya? Kalau sama dengan buku Diary berarti..." kata Sawa berpikir.


"Tulis saja nama saingan yang kamu ingin hilangkan. Tulis di dalamnya maka saingan mu akan dihilangkan, tidak perlu kamu menuliskan penyebabnya apa. Bagaimana?" Tanya Eris membuat Sawa hilang kesadaran.


"Dihilangkan itu maksudmu membunuh? Mana mungkin aku bisa melakukannya!" Kata Sawa agak keberatan.


"Tidak akan sampai tahap begitu, hanya kecelakaan sampai dirinya tidak bisa berjalan. Tenang saja kecelakaan yang mudah dan kamu bisa menggapai Bintang," kata Eris menohok ke jantung Sawa.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2