Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
4


__ADS_3

"Hanya..." kata Diega berpikir takut salah yang dia perkirakan.


"Kenapa? Ahhh, aku tahu. Soal dia tiba-tiba ada di belakang kamu?" Tebak Ekok karena dia juga merasa aneh.


"Nah itu" jentik jari Diega.


"Memangnya bagaimana sih pemandangan di atas gunung itu sampai kamu merasa aneh sama Keling ini," kata Ekok.


"Itu kan ada batu besaaaar buat jadi tempat ngompol itu susah! Apalagi jongkok," terang Diega.


Ares yang mendengarkan juga mulai berpikir dan dia tahu Keling ini bukan manusia. Jadi bagaimana bisa?


"Pakai pasir lah seperti kucing dan guk guk," kata Ekok sambil tertawa.


"Mana ada Kang kaya begituan di gunung meski memang banyak pasir tapi kan... aku nih sering hiking sama grup, di atas puncak tuh udaranya dingiiiiin seperti kutub. Kalau buka celana untuk ngompol, beku bagian bawahnya boro-boro deh," jelas Diega tertawa keras.


"........... APAAAAAA!?" Seru Ekok membayangkan dirinya harus mengompol dan keadaan udara super dingin.


"Setelah itu, kami mendirikan tenda dia juga sama. Lalu ada undangan untuk pesta kembang api," kata Diega lanjut.


"**Eh, Akang bertemu lagi. Nanti kita mau adakan pesta kembang api. Kalau mau ikut gabung saja," kata Keling yang sudah berganti baju.


"Pesta kembang api? Memangnya boleh? Bukannya kita harus menjaga kelestarian?" Tanya Diega toh dia sudah beberapa kali melihat ada peringatan.


"Oh, tidak apa-apa kok kami sudah biasa. Tenang saja kami sudah memberikan sesuatu untuk penunggu disini. Supaya kita bisa lebih akrab lagi," kata Keling dengan malu.

__ADS_1


Diega juga malu sekali tapi agak sayang kalau menolak karena dia tertarik pada Keling. "Yah bolehlah kalau begitu. Kami akan bawa makanan," kata Diega menunjuk ke tenda makanan.


Keling senang sekali lalu melaporkannya pada ketua. "Dia mau ikut," katanya senang pada temannya.


"Ingat, jangan berlebihan. Kita disini untuk membimbing mereka tidak memasuki kawasan terlarang. Kamu suka salah satu dari mereka ya?" Tanya Ketua grup.


Keling diam, dia tahu maksudnya. Alam mereka berbeda, Keling membuyarkan semuanya berkali-kali cintanya pada manusia harus patah oleh kenyataan**.


"Lalu kita mengadakan perkenalan di pesta itu. Aku mengobrol dengan grup dia, seru sekali! Lalu Keling datang sambil membawa minuman. Dia duduk sebelah aku lalu kita mengobrol seru," kata Diega.


"Baju yang dia pakai masih sama?" Tanya Ekok.


"Tidaklah. Dia sudah ganti lebih sopan tapi mini kan aneh. Seperti sudah terbiasa. Ini gunung lho malam saja grup aku semua pakai jaket dan celana panjang," kata Diega keheranan.


"Pastinya tapi mana ada sih hantu cantik sekali. Khodam? Tapi dia tidak pulang kemana-mana," kata Diega.


"Jangan-jangan siluman," tebak Ekok.


"..........." kata Diega.


"..........." kata Ekok dan semua kru dalam studio.


Eris tertawa mendengarnya. "Memang siluman," kata Eris berbisik.


"**Kamu tidak dingin?" Tanya Diega lalu memandangi semuanya yang tertutup jaket atau beludru.

__ADS_1


"Sudah biasa kok," kata Keling santai**.


"Sudah biasa? Sedingin ini malahan ada kabut pula. Edan! Nih perempuan manusia atau..." pikir Diega lalu menggelengkan kepalanya.


"Aku tanya ke dia begitu karena baju atasannya tuh kurang bahan meski sopan. Anehnya semua teman satu grupnya tidak ada yang berkomentar. Berkabut lho! Kembang api kemana, kabut ke mana," kata Diega garuk kepala.


"Kok semakin aneh ya?" Tanya Ekok. Kadang sebagai MC di Radio tersebut memiliki cerita tersendiri.


"Dia bukan hantu ya karena dia minum air, makan oh iya aku tidak pernah melihat dia makan meski hanya secuil pun. Mungkin diet ya," kata Diega merasa aneh juga.


"**Nih, pakai jaket aku saja meski sudah terbiasa tetap saja tidak wajar," kata Diega memberikan jaket besarnya.


Keling agak malu sekali tentu saja berbeda. Dia sudah terbiasa karena memang penunggu tempat itu.


"Akang bagaimana?" Tanya Keling.


"Akang kan laki-laki masa membiarkan perempuan kedinginan?" Tanya Diega yang terkadang menggosokkan kedua tangannya.


"Aku malu. Akang pakai saja, aku ke tenda sebentar," kata Keling membuka jaket tapi Diega menolak. Akhirnya Keling ke tenda dan keluar membawa jaket tebal.


"Ternyata kamu bawa ya. Apa ini semacam modus?" Tanya Diega menggoda Keling.


Keling hanya memberikan jaketnya pada Diega tanpa menjawab. Dia sangat malu sekali.


Bersambung** ...

__ADS_1


__ADS_2