
Mokona masuk klub kesenian dengan cemas dan terburu-buru. "KAK KUDO!" Teriaknya dengan nada supeeer cemas.
"Ya? Ada apa?" Tanya Kudo.
Mokona memperhatikan tangan kanan Kudo yang telah diperban berwarna cokelat dan putih. Dia sedih dan menangis menatapnya.
Kudo senang dan tersenyum dengan perhatian uang diberikan anak kelas 1 tersebut. "Aku sudah tidak apa kok jangan cemas," kata Kudo.
Mia yang penasaran apalagi soal gosip, langsung mencoba kembali lagi ke klub kesenian dengan mengendap-endap.
Mokona sedih sekali menatap pergelangan tangan seniornya itu. "Kak, Kakak harus terus semangat ya kalau ada yang bisa kulakukan, katakan saja. Aku akan membantu Kakak sebisa mungkin. Jadi tangan kanan Kakak pun, aku bersedia!" Ucap Mokona.
Kudo tertawa mendengarnya. "Terima kasih," katanya.
Sejenak dunia mereka dihujani kelopak bunga yang indah, itulah yang dilihat oleh Mia. Dirinya semakin memanas melihat adegan bak putri dan pangeran itu.
Waktu menunjukkan pukul 3 sore saatnya mereka semua bersiap untuk pulang. Saat Mia selesai berkemas, Kudo masuk kelas sambil menariknya.
"Mia, ayo ikut aku," kata Kudo.
"Cieeee tamparan cinta niiih," sorak teman Kudo mengejeknya.
"Apaan sih!? LEPASKAN!" Teriak Mia namun genggaman tangan Kudo sangatlah sulit dilepaskan.
Akhirnya Mia pasrah diseret begitu saja oleh Kudo dengan diiringi tepukan tangan dari semua teman sekelas.
Mereka keluar sekolah lalu menaiki taksi, Mia menatap Kudo kebingungan dan kesal.
"Kita mau kemana?" Tanya Mia.
"Jangan cemas aku tidak ada niat menculik nenek lampir. Lihat saja nanti," balas Kudo mengeluarkan ongkos dari dompetnya.
Mereka berhenti di sebuah tempat gedung pelatihan untuk kelenturan otot. Mia menatap gedung itu dengan penuh seksama.
"Kenapa kamu bawa aku ke sini?" Tanya Mia.
"Tempat ini milik temanku, di sini kamu bisa ikut terapi tanpa terlihat orang lain. Tenang saja gratis kok sampai kamu sembuh. Ayo kita terapi dan sembuh bersama ya," ajak Kudo senyum.
Mia keheranan, tanpa dia ketahui tangan kanan tidak bisa digerakkan adalah hasil santetnya Mia. Lantas kenapa dia harus membantunya untuk sembuh?
"Hah? Kenapa aku harus terapi bersamamu?" Tanya Mia menolak.
"Sebab aku juga ingin menyembuhkan tangan ini," kata Kudo memperlihatkan betapa kakunya tangan kanannya.
"Hahaha itu tidak mungkin bisa sembuh," kata Mia agak kelepasan lalu terdiam.
"Kenapa? Kan belum dicoba," kata Kudo tidak menaruh curiga.
"Karena tanganmu itu aku yang... Ah sudahlah!" Mia menutup mulutnya dan memukul kepalanya sendiri.
__ADS_1
Mia akan keluar dari gedung itu dan pulang.
"Ternyata kamu tipe penyerah ya sayang sekali," kata Kudo sengaja.
"Apa katamu?" Tanya Mia berbalik kepadanya.
"Apa kamu akan berhenti senam hanya karena masalah ini? Memalukan sekali. Kamu terus saja mengungkit kesalahanku tapi tidak ada usaha menyembuhkannya," kata Kudo menyengir kuda pada Mia.
"Kurang ajar! Berani sekali kamu berkata begitu," kata Mia mengepalkan tangan kanannya pada Kudo.
"Kamu suka senam kan? Kamu mencintainya kan? Kamu paling bersemangat pada waktu berlatih senam. Aku juga menyukai melukis dan mencintainya, segala bentuk kekecewaan aku tumpahkan pada lukisan. Itu membuatku tenang dan bersemangat. Aku tidak akan menyerah! Sebab melukis juga adalah cita-cita dan kehidupanku," kata Kudo.
Saat Kudo menggenggam tas sekolahnya, tas itu terjatuh dan Kudo mengambilnya dengan tangan kanannya. Jelas terlihat bagaimana tangan kanannya sulit membuka namun Kudo tidak menyerah.
Mia yang melihatnya hanya termenung, ada rasa bersalah dalam hatinya. "Masa begitu saja tidak bisa mengambilnya sih? Ini," kata Mia mengambilkan tasnya Kudo.
Kudo heran lalu tersenyum, Mia memalingkan wajahnya. Melihat senyum senang Kudo entah kenapa membuat hatinya terasa sakit.
"Dadaku sakit. Kenapa ya? Bukankah lebih baik jika perasaanku menjadi lebih baik melihat dirinya tidak mampu melukis lagi? Kenapa?" Pikir Mia yang masih melihat Kudo memegang tasnya.
Akhirnya karena merasa tertantang, Mia datang untuk mengikuti terapi ditemani ibu dan ayahnya. Di sana sudah ada Kudo yang sedang dibimbing pelatih. Mia juga namun berbeda.
Seminggu berlalu sekarang Mia sudah tidak memerlukan penopang kayu. Dia memutuskan untuk mencoba berjalan sendiri. Perihal santetnya kepada Kudo hilang begitu saja karena mereka bersama melakukan terapi.
Keesokan harinya, Mia sudah ceria kembali meskipun teman-temannya masih belum bisa memaafkannya. Saat Mia kembali datang ke klub kesenian, dia kaget melihat Kudo sedang membuat sketsa dengan tangan kirinya.
Kudo lalu bergegas menutup kanvas itu. "Aku sedang mencoba apa aku bisa melukis dengan tangan kiri. Dengan begini, jika nanti tangan kananku sembuh, aku akan jadi pelukis dia tangan. Hebat kan hehehe," kata Kudo yang bahagia.
Dia sendiri yang jahat membalaskan dendam, dia juga yang termotivasi melihat usaha yang dilakukan oleh Kudo.
Setelah itu Kudo memperlihatkan hasil buatan tangan kirinya dan Mia tertawa. "Jelek sekali," kata Mia.
Tanpa disadarinya Kudo terus memperhatikan Mia yang perlahan berubah.
Mia mengamati hasil lukisannya. "Dia benar-benar menyukai melukis sedangkan aku.. membuat tangannya sakit," pikirnya merasa bersalah lagi.
Eris sudah tentu memperhatikan Calon korbannya dari cermin besar.
"Nona, kalau terus menolong manusia kapan Nona bisa pulang?" Tanya Raven.
Eris menundukkan kepalanya. "Biarlah, drama yang dilakukan oleh manusia sangat menarik. Aku bisa pulang kapan saja, saat kekuatanku kembali aku bisa membuka portal," kata Eris.
Raven lalu berpikir, "Kalau Nona Eris pergi berarti aku tidak akan bisa menjadi manusia lagi dan menakan makanan enak disini. Haruskah aku berharap Nona terus membantu manusia saja?" Pikir Raven agak bimbang.
Sepulangnya Mia bertekad akan mulai rajin mengikuti terapi untuk kakinya. Entah kenapa dirinya semangat setelah melihat perjuangan Kudo.
Mia tengah berjalan menuju kelasnya di lantai atas ketika itu dia melihat Mokona dan dua orang temannya yang sedang mengobrol di taman. Mereka membelakanginya, dan terdengar jelas apa kata mereka.
"Hei, kamu harus berhati-hati lho belakangan ini Kak Kudo dengan dengan Kak Mia," kata A.
__ADS_1
"Oh hohoho itu sih bukan masalah. Kak Kudo hanya kasihan padanya. Hari ini aku mau menyatakan cinta kepada Kak kudo," kata Mokona dengan gembira.
"Aku mendukungmu deh Kak Mia kan galak, angkuh dan merasa dirinya hebat. Mana mungkin juga Kak Kudo mau dengan dia," kata B.
"Kabarnya Kak Kudo juga kena tampar karena patung itu melukai kakinya," kata A.
"Apa!? Kok jadi menyalahkan sih? Harusnya dia mikir ya itu kan ujian untuknya juga karena sangat sombong," kata Mokona menyilang kan kedua tangannya di dadanya.
Setelah itu Mia menjadi turun semangatnya. Merasa memang pantas dia dipandang kasihan oleh orang yang membuat kakinya terluka. Setelah itu Mia masuk kelas, beberapa teman membicarakannya karena mulai dekat dengan Kudo.
Waktu pulang tiba, Mia yang seharusnya ada jadwal terapi memutuskan untuk berhenti. Mia menghampiri meja Kudo yang sedang bergumam ceria.
"Eh, Kudo. Anu hari ini..." kata Mia berusaha mengatakannya.
"Oh, hai Mia. Aku ada keperluan di klub, hari ini kamu pergi duluan saja ya. Nanti pulangnya bareng ya," kata Kudo lalu berdiri.
Beberapa murid telah meninggalkan kelas dan kebetulan agak sepi.
"Tidak mau!!" Teriak Mia saat kaki Kudo mencapai pintu kelas.
"Eh, apa? Kenapa?" Tanya Kudo agak panik.
"Sudah kubilang tidak mau ya tidak mau! Jangan paksa aku lagi," kata Mia segera berlalu tanpa memandangi Kudo.
Kudo yang tidak paham lalu mendekatinya dan Mia mundur, menjaga jarak. "Apa kamu memang sudah menyerah? Kamu salah mengerti, Mia. Coba jelaskan padaku apa yang terjadi? Kenapa berubah pikiran pada saat sudah setengah perjalanan?" Tanya Kudo berdiri di hadapannya.
"Biarkan saja mau aku salah mengerti kek atau dibenci olehmu juga! TIDAK APA-APA! Karena aku tahu kamu hanya iba padaku saja!!" Kata Mia lalu pergi dengan langkah cepat.
Syukurlah kakinya kini sudah baikan, tidak ada rasa sakit meski masih pincang.
"Siapa yang bilang aku iba? WOI, MIA! Kenapa sih dia?" Tanya Kudo keheranan padahal sedikit lagi tujuannya tercapai.
Lalu tanpa melihat arah kedua kakinya bergerak ke tempat dirinya dulu berlatih senam. "Lho? Kok aku kesini? Ah ya sudah lama juga ya,"
"Mia!" Teriak seorang gadis yang seusia dengannya.
"Marina," jawab Mia melihat dirinya yang ceria.
"Lama tidak jumpa ya. Oh iya aku sudah naik pangkat jadi atlet utama, lho! Ini juga berkat kamu, Mia. Aku jadi lebih sering berlatih lalu Ketua mempercayakan ku soal pertandingan yang akan datang. Sudah ya, aku mau latihan dulu," kata Marina berlalu sambil melambaikan tangannya.
"Hanya iba," kata Mokona.
"Kamu salah mengerti," kata Kudo yang meyakinkan Mia ya memang iba kepadanya.
"Ini berkat kamu juga, Mia," kata Marina dengan ceria.
Mia tahu berkat ketidakhadirannya semua menjadi lancar dan sukses bagi orang lain. "Menyedihkan sekali aku ini. Aku tidak suka! Kalau saja aku tidak cedera, dia juga..." kata Mia menyesali yang terjadi padanya dan pada Kudo.
Bersambung ...
__ADS_1