
"Eh? Tana?" Tanya Almira memandangi Apollo. Ada rasa penyesalan di dalam dadanya setelah mengetahui perasaannya.
"Si bodoh itu belum bilang ya, padahal dia berkata akan mengungkapkan perasaannya nanti di sekolah. Ah ya, maaf sebentar lagi aku harus menuju tempat klien. Tidak apa-apa kan kalau aku pergi sekarang?" Tanya Apollo mengeluarkan lagi permen coklatnya dalam jumlah yang banyak.
Almira kaget bahwa Apollo sudah menyiapkan cokelat, bagaimana bisa dia tahu alasan Almira memanggilnya?
"Ya ampun, Kak! Terima kasih. Iya tidak apa-apa kok," kata Almira tertawa menerimanya.
Apollo lalu melambaikan tangan dan jalan dengan tergesa-gesa meninggalkan Almira yang tertawa menatap permen itu. Nana lalu muncul setelah melihat Apollo pergi.
"Bagaimana?" Tanya Nana dan kaget melihat banyak permen cokelat.
Almira tidak menjawab tapi langsung menangis, Nana menenangkan dan Almira menceritakan semuanya.
"Kamu itu lupa ya soal keyakinannya. Aku mau beritahu tapi.. melihat kamu yang masih galau, jadi aku diam. Maaf ya," kata Nana memeluk Almira.
"Harusnya kamu bilang, mengingatkan aku. Aku kan lupa, kali dia bisa masuk Islam," kata Almira tertawa.
"Dasar bodoh. Kamu hanya menyukainya sebagai penggemar sama seperti aku," kata Nana mencubit pipi temannya itu.
Setelah dirasa sudah cukup rasa kesedihannya, Almira membagi permennya kepada Nana. Apollo tidak pernah berkata yang jelek karena meski laki-laki itu terkesan cuek ternyata sangat mengerti.
Di sisi lain, Apollo berubah menjadi Eris dan tersenyum lalu menarik sesuatu. Benang takdir dari Almira, Eris melihatnya tidak terhubung dengan Apollo.
"Takdirmu bukan dengan Apollo, Almira," kata Eris lalu menghilangkan benang itu dan pergi. Apollo yang asli sedang berjemur menikmati sinar mentari di siang hari sambil terpejam.
Beberapa menit kemudian, dia mendapatkan telepon dari klien yang meminta dibuatkan desain rumah bertingkat.
Kembali ke tempat Almira, Nana menginginkan agar temannya itu mencoba membuka hati pada Tana. Almira akan memikirkannya toh dia teringat apa kata Apollo.
Almira menatap tangan kanannya dan meremasnya, lalu menghela nafas. "Tanganku ini padahal aku ingin sekali bisa berpegangan tangan dengan orang yang aku sukai. Apa karena aku menghindar dan berbohong, membuat hubunganku dan Apollo agak retak? Apa ini karma?" Pikir Almira.
"Sepertinya aku memang tidak mungkin bisa dengan Tana," kata Almira lesu menuju rumahnya.
"Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Sekarang, tenangkan dulu saja kamu ada kegiatan DKM?" tanya Nana.
"Oh iya ya kamu arahnya sama denganku. Aku lupa," kata Almira agak kaget.
"Kamu!! Ingat ya sudah berapa tahun kita pulang bareng dan pergi bareng!" Kata Nana menjitak kepala Almira.
__ADS_1
"Maaaaf," kata Almira mengeluh sakit.
"Sudah ya Almira, Besok pagi bareng lagi menuju sekolah seperti biasa. Awas saja kalau kamu lupa," kata Nana menuju rumahnya.
Sepulang sekolah, dia memang menuju mesjid dan melakukan kegiatannya. Tentu Tana ada tapi Almira tidak melihatnya. Toh dia juga sibuk merenovasi segala macam ruangan.
Apollo tidak terlihat lagi semenjak Almira berbicara dengannya. Tana melirik Almira dengan tatapan sedih dan dia sudah merelakan. Berpikir mereka sudah menjadi kekasih. Tana juga kesulitan menghubungi Apollo, dia agak merasa aneh saat Apollo mengirimkan pesan.
"Aku sangat sibuk. Maaf tidak akan bisa datang sementara waktu,"
Sejak itu juga Almira jarang mengobrol dengan Tana dan mempertanyakan keberadaan Apollo. Lalu di sore hari di lain hari, kebetulan DKM sedang libur selama seminggu. Almira menyapu halaman seperti biasa.
"Assalamu'alaikum," sapa Tana agak ragu-ragu.
"Walaikumsalam. Lho? Tana? Ada apa?" Tanya Almira agak gugup.
Mereka berdua berhadapan, canggung sekali. mereka kebingungan harus berkata apa.
"Aku..." kata Tana memulai percakapan.
"Apollo hanya menganggap ku sebagai adik," kata Almira tiba-tiba dengan wajah merah.
Tana memandangi Almira dengan salah tingkah. "Oh... oh ya? Lagipula tidak cocok juga,"
"Jelas sekali kan agama kamu berbeda sama dia. Sampai menikah juga tidak mungkin," kata Tana agak kesal.
Almira cengengesan dan Tana salah tingkah juga.
"Lagian kamu kenapa sih? Gugup sekali kelihatannya. Terus kenapa kalau di DKM kamu jarang menyapa ketua mu ini, hah?!" Tanya Tana mencubit pipinya Almira. Dia sangat lega mendengar pernyataan Almira tadi.
Almira menebas tangannya Tana dengan kasar. "Eeeh tidak sopan ya! Sesuka aku dong, aku juga sibuk sebagai anggota ya. Kamu bawa apa?" Tanya Almira menatap yang dibawa Tana.
"Ah, ini. Undangan untuk kegiatan kurban nanti di mesjid. Nih," kata Tana memberikan.
"Wah, sudah jadi," kata Almira membukanya.
Tana memperhatikan wajah bulat Almira. "Apollo kelihatannya tidak akan bisa datang membantu,"
"Oh ya," jawab Almira tidak memperhatikan. Dia melihat desain kartu itu dengan seksama. "Ini kak Apollo yang buat?"
__ADS_1
"Iya. Dia itu pintar buat desain sih," kata Tana. "Eh, Almira jangan terlalu memaksakan diri ya," kata Tana lalu pergi.
Almira ingin berkata sesuatu tapi Tana keburu pergi. Dia hanya bisa menatap punggung Tana yang sudah berjalan jauh. Almira menyesal harus berbohong, dia ingin mengatakan sesuatu meski mungkin akan kena tolak dua kali.
Besok paginya kembali sekolah Nana dan Almira berjalan bersama. Nana terus membicarakan tempat liburan mana yang akan dia datangi bersama keluarga. Nana ingin Almira juga bisa ikut.
Di sekolah dalam kelas A histeris menceritakan tentang pernyataan pacarnya yang berbeda sekolah. Banyak murid lain mendengarkannya dan lebih histeris saat Almira masuk.
"Berkat tangan kamu ini! Hubunganku dengan pacar semakin akrab. Tangan Aphrodite memang hebat!" Kata A dengan suara agak keras.
"Apa? Apa?" Tanya Almira kebingungan. Ah ya dia menepuk dahinya di sekolah tentu kembali disebut tangan Aphrodite.
"Hei, A kamu kan sudah janji tidak akan mengiklankan lagi tangan Almira," kata Nana sebal.
A tidak memperdulikan apa kata Nana, dia semakin histeris menjelaskan. "Masa kalian tidak tahu cerita soal tangannya Almira? Karena rumahnya berdekatan dengan mesjid besar, dan dia rajin ibadah. Dia dianugerahi tangan setara dewi Aphrodite!"
"Oh ya? Aku baru dengar. Aku mau salaman juga," kata murid lain.
Akhirnya banyak yang berebutan dan Almira lagi-lagi sulit menolak, sebagian besar gengnya berjalan lancar setelah bersalaman.
"HENTIKAN KALIAN SEMUA! APA PERNAH KALIAN MEMIKIRKAN PERASAAN ALMIRA!?" Teriak Nana yang alhasil semuanya berhenti.
Nana memarahi A dengan sadis, tidak bisa memegang janji. Dan A hanya terdiam memandang Almira yang juga diam.
"Sudahlah, tidak akan ada gunanya. Toh mereka hanya ingin bersalaman, kenapa hubungan kamu lancar itu karena kamu tidak banyak main-main," kata Almira membuat A malu.
"Benar juga ya hubungan lancar kan karena usaha sendiri bukan tangan Almira," kata murid lain lalu bubar.
B dan C juga memberitahukan A yang sudah keterlaluan. Dia harus memikirkan perasaan Almira yang tidak ingin disebut apapun.
"Kamu ini kenapa sih? Tolak dong kalau memang tidak mau, kenapa juga harus selalu aku yang marah-marah?" Tanya Nana menuju mejanya.
Almira hanya diam, dia berpikir terlalu lemah dirinya hanya bisa mengandalkan Nana.
"Iya, aku keberatan kalau kamu terus menyebarkan cerita bohong. Tolong ya untuk semuanya, berhenti menganggap tanganku bertuah," kata Almira dengan tegas.
Nana dan lainnya mengacungkan jempol membuat A meminta maaf karena terlalu senang dan pergi.
"Mana kelas sebelah juga datang ke sini," kata B memandangi mereka yang kembali ke kelasnya.
__ADS_1
"Habis mereka kan geng kita juga, tapi untungnya kebanyakan kita sudah tahu kan cerita asmara mereka," kata Almira mengedipkan matanya.
Bersambung ...