Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
8


__ADS_3

"Hai, Arwah bila kami disini menanyakannya pertanyaan jawablah dengan cara bunyikan lonceng ini 1x sebagai tanda Ya dan 2x sebagai jawaban Tidak. Bila kau ingin memberitahukan sesuatu, arahkan bulatan yang ada di atas papan ini," kata Nemesis.


Arae mengayunkan telunjuk agar lonceng itu berbunyi 1x. TING!


Mereka semua mengangguk bahwa arwah yang mereka panggil sudah mengerti. Artemis dan Apollo semakin tegang karena merasakan auranya kini semakin berbeda.


"Siapa dulu yang mau bertanya?" Tanya Nemesis.


"Kamu saja dulu, aku sedang berpikir mau bertanya," kata Anta serta yang lainnya setuju.


Mereka tidak tegang hanya terlalu malu dengan kehadiran lelaki tampan ini.


"Baiklah. Apa kau tahu siapa pemilik dari anak yang meminjamkan lonceng ini?" Tanya Nemesis.


Lonceng berbunyi sekali lalu bulatan itu bergerak. I-B-L-I-S.


Mereka semua terkejut, hari begini ada iblis yang jelas menampakkan diri apalagi berbentuk wujud anak kecil. Meskipun tidak menakutkan tapi Nemesis baru sadar juga karena tempat tokonya yang jauh dari kebisingan.


"Hei, kenapa ketakutan begitu? Iblis kan sama dengan setan jadi biasa saja. Justru ini sesuai kan dengan yang kita inginkan. Naik level," kata Arika menenangkan.


"Benar juga ya siapa tahu kita bisa memintanya bergabung kan," kata Saka.


"Kalau bergabung, jangan deh," kata Nemesis yang menenangkan diri.


"Ada apa?" Tanya Artemis penasaran. Karena mereka berenam berbisik-bisik.


"Oh, tidak ada apa-apa. Hanya semangat saja kalian mau ikut menanyakan sesuatu?" Tanya Nemesis merahasiakan apa yang iblis itu katakan.


"Ah, nanti saja aku pikir keadaan disini seperti semakin panas," kata Artemis menggosokkan kedua tangannya.


Nemesis memberi kode agar mereka bersiap lagi dan tidak terlalu berdekatan supaya mereka berdua bisa terus menonton.


"Apa bayarannya saat aku meminjam lonceng dan papan ini?" Tanya Nemesis. Saat itu dia tersadar tidak begitu fokus pada jawaban Eris.


N-Y-A-W-A.


"Tunggu tunggu tidak mungkin kan kalau soal ini. Kamu diberitahukan tidak soal batas harus mengembalikannya?" Tanya Ringu menenangkan semua temannya.


"Iya katanya bisa dalam jangka waktu 10 tahun tergantung apa kata pemiliknya," kata Nemesis agak gemetaran.


"Bayarannya nyawa? Sudahi permainan ini kalian tidak takut?" Tanya Apollo yang bisa membaca semuanya.


"Mungkin maksudnya kalau kamu melebihi batas peminjaman, nyawa kamu sebagai bayaran dendanya," kata Artemis berpikir.


"Apa anak itu bisa membunuh? Kamu yang meminjam kan jadi kita tidak akan kena kan," kata Linda ketakutan.


"Ini salah kita juga. Kita malah mencari jalan lain dan alat yang tidak biasanya jadi bukan salah Nemesis saja," kata Arika merasa bersalah.


"Stupid! Jangan percaya begitu saja ada kemungkinan itu hanya gertakan supaya kita tidak menyalahi aturan!" Seru Anta.


"Aku setuju dengan pendapat kamu," kata Artemis.


"See? Kak Artemis saja setuju. Sudah! Setelah ini selesai, besok kamu kembalikan kalau takut nyawa sebagai bayaran," kata Ringu memberikan solusi.


"Kematian itu tidak ada yang tahu tapi kalau saat meminjam ini dia memberitahukan bayaran dan kamu tidak mendengarkan, ya salah kamu," kata Arika sambil deg-degan.


"Bagaimana kalau dihentikan saja? Sudah cukup kan toh kalian memanggil iblis," kata Apollo.


"Tapi ini baru pembukaan, kak. Aku mau bertanya sesuatu justru," kata Anta agak cemberut.


"Kalau begitu cepatlah. Memangnya mau bertanya soal apa?" Tanya Apollo.


Anta tersenyum geli, dia mencoba peruntungan. "Arwah, apakah aku bisa menjadi pacar atau calon istri kak Apollo?" Tanyanya pada papan.


Lonceng berbunyi dua kali lalu teman-temannya bersorak tertawa. Apollo menggelengkan kepala lalu tertawa.


"Aku boleh bertanya?" Tanya Artemis.


"Tentu, silakan kan," kata Nemesis.

__ADS_1


"Siapa yang menyuruhmu datang kemari? Apa kamu benar tertarik oleh permainan ini atau... kamu memang sidah ada di tempat ini?" Tanya Artemis membuat semuanya memandanginya.


"Maksud kakak, arwah ini memang sudah ada sejak tadi?" Tanya Nemesis.


"Mungkin," kata Artemis singkat.


Apollo menatap Artemis yang terlihat merasakan sesuatu. Artemis menyisir rambutnya dengan jemarinya membuat Nemesis memerah wajahnya. Artemis menangkapnya.


"Maaf," kata Nemesis langsung menutup wajahnya.


"Kamu demam?" Tanya Artemis yang mau memeriksa tapi ditepis oleh Nemesis.


"Aku tidak apa-apa. Lalu loncengnya apa berbunyi?" Tanya Nemesis mengalihkan pandangan.


"Tidak ada. Kenapa ya?" Tanya Ringu merasa aneh.


Artemis hanya mendengus tertawa tipis, membuat Apollo berjaga-jaga.


Di atas mereka kedua mata Arae bersinar merah. "Lelaki itu... kenapa sosoknya pernah aku lihat?" Tanyanya.


Eris menatapnya juga. "Siapa namanya? Hanya dia yang bisa berpikiran jernih dan satu lagi temannya. Berhati-hatilah. Arae?" Tanyanya.


Arae turun agak ke bawah untuk melihat Artemis lebih dekat. Dia ingin memastikan sesuatu. Eris yang menangkapnya pun ikut turun, Arae bila penasaran akan melakukan tindakan berlebihan.


Lalu Arae membuat dirinya tembus pandang dan mendekati Artemis. Artemis yang berdiri merasakan bulu kuduk di belakang lehernya dan doa dengan cepat berhadapan dengan Arae.


"Pemuda ini mirip dengan musuhku. Tidak mungkin... dia bereinkarnasi," dalam pikiran Arae yang menatap benci Artemis.


"Hei, loncengnya tidak berbunyi kenapa ya?" Tanya Ringu lagi. Dia memegang dan teriak kecil.


"Kenapa!?" Tanya Arika.


"Loncengnya panas sekali. Kalian coba pegang saja," kata Ringu ketakutan.


Mereka semua termasuk Apollo memegangnya. Benar! Sangat panas. Apa artinya?


Artemis merasa ada sosok gadis imut di hadapannya tapi memiliki tanduk. Arae mengeluarkan cambuk dan bersiap menyerangnya.


Arae mendengarnya dan tersenyum mengerikan lalu memecut Artemis.


CTAR!!


Artemis menahan serangannya meski tidak tahu tapi dia merasa ada tebasan tipis yang menyayat tangannya.


"ARTEMIS!" Teriak Apollo dan berlari ke arahnya.


"KYAAA!! KAK ARTEMIS!!" Teriak semuanya.


Artemis menahan perih lukanya. Bagaikan tersengat listrik dia menahan semuanya dan Eris tepat waktu membawa Arae menuju portal waktunya.


"APA YANG KAMU LAKUKAN!?" Teriak Eris marah untunglah tepat waktu. "Pemuda itu bisa menahan serangan mu. Apa kamu sadar cambuknya bisa membuatnya terpotong? Arae sadarlah! Itu bukan musuh mu," kata Eris memukul wajahnya.


Arae tersadar dan dia bengong. "Aku... terbawa suasana... aku pikir dia..."


"Sudah cukup! Itulah kenapa aku selalu melarang mu ikut campur urusan para pembeli. Lebih baik kamu menjaga toko aku yakin Ela membutuhkan bantuanmu," kata Eris mengirimkan Arae yang masih melongo.


Eris mengubah gagak menjadi wujud manusia dan membawa Arae terbang menjauh. "Hahhh aku tidak bisa membantunya. Kalaupun memang musuh mu, di dunia ini sifatnya akan berbeda. Seharusnya dia sadar," katanya.


Di bawah mereka panik bukan hanya tangan tapi hampir semuanya tersayat dan mengeluarkan darah.


"Aku tidak apa-apa," kata Artemis menenangkan dirinya.


"Tidak apa-apa bagaimana? Kamu berdarah!" Kata Apollo panik. Pasti keluarganya akan marah sekali.


"Kak, lebih baik kakak tidak bertanya lagi aku yakin mungkin pertanyaan kakak membuat iblis itu marah," kata Saka memberikan saputangan.


"Kita hentikan saja ya," kata Linda agak ketakutan.


"Aku tidak apa-apa sayatan ini kecil kok. Sudah, Apollo jangan sedih begitu," kata Artemis menatap sahabatnya itu.

__ADS_1


Wajah Apollo memerah, kedua matanya berkaca takut Artemis kenapa-napa. "Habis kalau kamu kenapa-kenapa bagaimana aku jelaskan pada keluarga kamu," katanya.


"Hah, bilang saja aku jatuh atau bagaimana," jawab Artemis menyeka semua darah yang keluar.


"Emak kamu pasti akan melempar ku jauh ke gurun pasir," kata Apollo menyeka air matanya.


Artemis terdiam. "Jadi kamu lebih takut dilempar? Jadi kamu tidak cemas kalau aku terluka parah hmmm," katanya sambil menjambak kerah baju Apollo.


"Ampun ampun," kata Apollo menggosokkan kedua tangannya.


Mereka berenam tertawa melihat kelakuan lucu dua makhluk manusia lelaki ini.


"Waktunya masih ada kan. Kita teruskan saja kalau hanya aku yang terluka, bukankah kerja sampingan kita sia-sia," kata Artemis berbisik.


"Kita teruskan saja. Kalian jangan cemas dia ini kuat orangnya," kata Apollo menepuk bahu Artemis.


"Kita tanya pertanyaan yang agak berbobot. Bagaimana?" Tanya Saka memandangi temannya.


Eris kemudian mengambil alih pekerjaan Arae. Dia berada di atas jauh dari taman itu tapi masih bisa melihat dengan jelas.


"Baiklah. Arwah, kau berasal dari mana?" Tanya Anta kali ini.


D-U-N-I-A I-B-L-I-S. Eris memberitahukan dirinya. Makhluk besar itu kini berusaha masuk dari kabut yang Arae ciptakan. Dia sudah mulai bisa melalui Kabut itu. "Aku harus membuat mereka pergi," katanya.


"Hal apa yang kamu sukai?" Tanya Ringu.


P-E-R-M-A-I-N-A-N.


"Giliran aku. Seperti apa penampakan mu?" Tanya Arika penasaran.


Eris berpikir akan menyebutkan makhluk besar yang sedang menerobos kabut itu agar mereka menghentikan permainan. Meskipun kini sudah banyak hadir berbagai macam arwah di tempat mereka.


B-E-S-A-R D-A-N T-I-N-G-G-I.


Mereka membaca jawaban itu dan saling berpandangan.


"Dimana kamu sekarang berada?" Tanya Linda yang agak was-was.


M-E-N-U-J-U K-A-L-I-A-N.


Mereka semua tersentak, Apollo tidak heran mereka sudah memainkan permainan ini 15 menit. Mereka lalu memeriksa sekelilingnya ada debaran jantung yang semakin membuat mereka tegang.


"Hei, ini sudah terlalu malam sebentar lagi menjelang subuh. Kita hentikan saja ya," pinta Saka agak ketakutan ditambah melihat luka Artemis yang tidak sedikit.


Nemesis melihat jam tangannya, waktu menunjukkan pukul jam 1 malam. Padahal dirinya bersemangat tapi apa boleh buat, Artemis masih menyeka lukanya yang terus mengeluarkan darah meski sedikit.


"Aku bawa perlengkapan P3K jangan cemas," katanya tersenyum pada mereka semua.


"Rumah kita kan jauh-jauh," kata Saka lagi.


"Kamu tidak mau bertanya lagi Ringu?" Tanya Nemesis.


"Tidak, aku lewat saja. Melihat luka Kak Artemis sepertinya kita melebihi batas sesuatu," kata Ringu agak tidak enak.


"Kalian semua keluar rumah tanpa ijin kan ya," kata Arika. Dirinya juga sama saja.


"Aku tidak apa-apa. Teruskan saja," kata Artemis dengan wajah cueknya.


"Katanya begitu, ayolah sedikit lagi saja sampai pukul satu pas, kita akhiri," kata Nemesis.


Meski enggan dan tidak merasa enak. Akhirnya mereka meneruskan.


"Apa ada harga lain yang harus kami bayarkan?" Tanya Nemesis.


Lonceng tidak berbunyi tapi arwah sekitar mereka sudah semakin banyak dan udara sekeliling menjadi panas. Apollo merasa sesak juga dan berjaga dengan Artemis.


"Kamu kenapa sih menanyakan hal itu? Kan banyak topik yang lain," kata Linda agak kesal.


"Maaf, aku hanya ingin tahu saja habis ada bayaran soal meminjam lonceng tapi sekarang tidak ada jawaban. Apa jangan-jangan yang dikatakan kak Artemis itu benar? Kalau iblis itu sebenarnya sudah ada disini," kata Nemesis mulai ketakutan juga.

__ADS_1


"Aku juga mulai cemas. Sudahlah aku mulai ingin bertanya," kata Ringu.


Bersambung ...


__ADS_2