
"Pak, panggil ambulans!" Kata staf menggotong Arae yang pingsan.
Lalu Sawa melihat sendiri kepala Arae berdarah lumayan banyak dan Sawa memegang erat tasnya.
"Apa boleh buat, karena dia tidak bisa ikut kontes, kita lakukan penyaringan terakhir," kata Direktur menghela nafas.
Sawa mendengarkan kalimat itu juga, dia tersenyum tipis. Sawa berdebar mendengarnya, dia memejamkan kedua matanya dan Yuri menggenggam tangannya.
Lalu pencarian bintang iklan terus dilanjutkan tanpa kehadiran Arae. Setiap Peserta menunjukkan kebolehannya begitu juga dengan Sawa. Kali ini dia bernyanyi dengan penuh penghayatan.
"Inilah pengumuman pemenang setelah dilakukan penyaringan terakhir. Pemenangnya adalah... selamat kepada Sawa, peserta nomor 30! Dengan ini Sawa akan dihadiahkan berupa uang sebesar Rp 5.000.000,- dan tiket wisata ke Amsterdam. Kemudian dia juga akan ditetapkan untuk tampil menjadi gadis iklan cokelat Kacang Mede," kata MC dengan ceria.
Semuanya bersorak kepada Sawa sebagai pemenang. Dia sangat senang sekali, dan menerima banyak hadiah serta buket bunga.
"Aku menang! YURIIII!" Teriak Sawa setelahnya.
"Selamat, Sawa! Akhirnya impian kamu akan tercapai," teriak Yuri yang ikut bergembira dan menangis.
Eris memperhatikan Sawa yang sekarang berhasil meraih bintang. Dia tersenyum lalu keluar dari aula dan menghilang.
Semenjak itu namanya menjadi terkenal dan menjadi pusat perhatian. Setiap ada pekerjaan apapun yang orang-orang memasukkan nama artis, Sawa selalu menuliskan nama mereka dan Sawa lah yang menerima pekerjaan.
Lembaran di buku pun kian hari menjadi sedikit lalu tersisa lah satu lembar yang paling akhir. Tentu Sawa tidak pernah melupakan dari mana dia berasal. Sebagian uang hasil kerjanya dia berikan kepada orang tuanya dan pamit keluar dari rumah.
Orang tuanya sedih tapi bangga dan mereka akan menggunakan uang itu untuk mencari pekerja dan membangun toko supaya lebih bagus.
Lama kelamaan banyak yang menyukainya apalagi saat bernyanyi, banyak orang yang menjadi penggemarnya. Ratingnya sangat tinggi melebihi Arae. Yuri juga sangat bangga kini semua doanya tercapai.
Sawa juga keluar dari sekolahnya untuk lebih fokus dalam karirnya. Sangat disayangkan tapi semuanya ikut senang dengan keberhasilannya.
Setelah itu Yuri masih tetap menemaninya dalam studio. Suatu hari saat Yuri menemani Sawa tidak sengaja dia menyenggol tasnya dan keluarlah buku Diary dalam tas itu.
Yuri melihat buku itu tapi tidak membukanya, kemudian Sawa selesai pemotretan dan terkejut saat melihat Yuri menaruh kembali buku itu ke tasnya. Dengan hati yang berdebar, Sawa bertanya.
"Yuri, kamu melihat buku diary ku?" Tanyanya agak takut. Takutnya Yuri melihat nama-nama artis yang dia tulis di sana.
"Oh, tentu tidak. Aku tidak sengaja menyenggolnya. Tumben kamu menulis diary, ini aku hanya memasukkannya saja ke dalam tas. sudah selesai?" Tanya Yuri tersenyum padanya.
Entah kenapa Sawa bernafas lega, dia tidak mau sampai Yuri tahu apa yang telah diperbuatnya selama ini.
Sore harinya wakil Direktur datang membawa kabar gembira.
"Sawa! Kamu hebat sekarang, kamu bisa menjadi pemeran utama film layar lebar," katanya dengan wajah yang super senang.
Sawa senang sekali mendengarnya, Yuri pun begitu.
"Begitu kah?!" Tanya Sawa tidak percaya.
"Bukankah mereka sudah menetapkan Jingga yang jadi pemeran utamanya?" Tanya A keheranan.
"Ah, kalau dia sih disarankan saja belum tentu jadi juga. Sudah jadi berita di majalah lain juga sih," kata wakil direktur membuka majalah.
Sawa melihatnya, dia agak pucat. Kesempatan bermain di layar lebar sudah tentu menjadi impiannya juga. Yuri tahu itu.
"Lalu bagaimana? Apa Direktur mencalonkan Sawa?" Tanya Yuri agak cemas.
"Iya tentu saja, Direktur juga berpikir dua kali karena itulah aku mencoba membujuknya agar memasukkan nama kamu. Sebagai pemeran utama Hebat kan," kata wakil kepada Sawa.
"Hebat! Kamu sangat beruntung, Sawa!" Pekik Yuri senang sekali.
"Terima kasih," kata Sawa tersenyum palsu. Lalu dia permisi keluar sambil membawa tas kecil dan masuk ke dalam toilet.
"Orang-orang yang menghalangiku akan ku hilangkan dengan buku ini. Lalu aku bisa memperoleh kesempatan dengan mudah. Dengan buku ini aku akan menjadi satu-satunya pilihan," pikir Sawa mulai membukanya.
Lalu dia menuliskan nama Jingga dan menunggu. Saat hendak memasukkan, dia penasaran berapa lembar lagi yang tersisa.
__ADS_1
"Satu lembar lagi!? Sial, selama ini aku tidak memperhatikan bahwa buku ini hanya berisi 10 lembar saja. Apa aku harus kembali ke toko itu? Ah, tidak kalau aku kembali buku ini pasti diminta," kata Sawa berpikir lalu mulai berhemat dengan menuliskan nama orang yang paling fatal.
Di tempat lain, Eris datang menertawakan penampakan Arae yang terbungkus perban.
"SIAL! Kok bisa-bisanya aku kalah dengan anak manusia?! Eris, ini pasti ulahnya," kata Arae marah.
"Ingatlah siapa dirimu. Mana ada anak iblis bekerja di bawah perintah manusia. Kamu lupa siapa kamu ini sebenarnya?" Tanya Eris yang masih tertawa.
Arae lalu melayang mengeluarkan sayapnya dan mengeluarkan energi kekuningan menyembuhkan luka di kepalanya.
"Hah, sayang sekali aku terlalu larut dalam permainan dunia manusia ini. Baiklah, kamu menang! Terima kasih sudah mengingatkan. Lalu dia sedang apa?" Tanya Arae berubah bajunya dengan yang biasa. Sayapnya dia masukkan lagi.
Eris lalu berjalan keluar kamar itu dan Arae mengikuti. Suster yang melihatnya belum berkata apapun, Arae menjentikkan jemarinya. Suster itu kebingungan kenapa dia berlari?
"Kenapa aku ke sini? Memangnya ada yang dirawat? Aneh," gumamnya lalu kembali ke pos depan.
Arae menghapus semua ingatan orang disana mengenai dirinya. Juga ingatan di tempatnya menjadi bintang terkenal.
Mereka berdua mendengarkan pembicaraan wakil Direktur dan Arae membaca pikiran Sawa. "Wow, manusia lebih menakutkan ya. Buku itu penyebabnya?" Tanya Arae.
"Ada bagusnya kamu kecelakaan ringan kalau diteruskan dia bisa saja membunuhmu," kata Eris dari belakang.
"Membunuh? Hahaha kita ini iblis. Dia lah yang akan aku bunuh. Kita ini lebih superior," kata Arae. taringnya keluar dan kedua matanya berwarna merah kehitaman.
Eris tertawa lalu mereka berdua menghilang.
Beberapa hari kemudian di gedung stasiun TV Sawa tengah menunggu Yuri yang sedang membelikan minuman. Yuri datang dengan riang.
"Sawa, ini minuman mu," kata Yuri memberikan kaleng pada Sawa.
"Terima kasih. Maaf ya, kamu jadi sering aku datang kemari. Meminta menemaniku saat aku sedang rehat," kata Sawa.
Yuri duduk di sampingnya sambil tertawa. "Tidak apa-apa, aku juga sedang tidak ada kerjaan. Sekolah juga mengijinkan. Senang yaaa kamu tidak perlu mengantarkan cilok goang lagi," goda Yuri.
Sawa bermuka merah mendengarnya. "Sudah hentikan sekarang aku kan bintang terkenal. Mengantarkan cilok tidak sesuai dengan keahlian ku," kata Sawa agak sombong lalu tertawa.
Sawa menghela nafas. "Aku sudah bilang pada kedua orang tuaku kalau aku ingin keluar dan fokus di pekerjaanku sekarang. Kakak dan adik mendukung, meskipun Ayah dan Ibu tidak tapi akhirnya mereka menyerah," kata Sawa senyum.
"Kami kehilangan kamu di kelas. Tidak ada lagi paduan suara," keluh Yuri.
"Hahaha kamu kan bisa menggantikan aku," kata Sawa menepuk keras punggung Yuri sampai tersedak.
"Lalu hari ini ada kabar apa? Terlihat kamu senang," kata Yuri mendekat.
"Hehehe kamu tahu kan soal wakil direktur mengajukan aku sebagai pemeran utama?" Tanya Sawa.
Yuri mengangguk.
"Ternyata sutradara nya Pak Kimihiro!" Teriak Sawa histeris.
"Bohooong! Film yang disutradai dia kan selalu berakhir jadi film yang viral! Wah, benar-benar beruntung semenjak kamu dinobatkan menjadi pemenang!" Kata Yuri tambah senang lalu memeluk Sawa.
Sawa gembira namun tersenyum tipis. Kalau saja Yuri tahu apa yang dia perbuat untuk mendapatkan semua pekerjaan itu pastilah sangat kecewa.
"Tapi kabarnya sutradara itu sangat sulit menerima artis lain untuk bermain di filmnya," kata Sawa murung.
"Hei hei, kenapa kamu turun lagi percaya dirinya? Ayo semangat dong," kata Yuri memberikan semangat.
"Humm dia juga sedang tidak ada minat membuat film ternyata. Sia-sia dong meski aku sudah diajukan pun," kata Sawa memainkan kaleng yang sudah kosong itu.
"Biarkan sana nanti juga pasti dipanggil. Aku akan terus mendukungmu," kata Yuri memeluk Sawa lagi.
"Iya terus doakan aku ya," kata Sawa memeluk Yuri juga.
"Beres," jawabnya sambil tertawa.
__ADS_1
Setelah itu Yuri ditinggalkan pergi oleh Sawa karena ada pertunjukkan di studio lain. Beberapa jam kemudian Sawa telah selesai dan kembali ke ruangan dimana Yuri berada.
Saat itu datanglah staf lain dan mengajaknya mengobrol, dari wajah Yuri dia terkejut tapi menolak sesuatu. Itu terlihat oleh Sawa.
Sawa yang keheranan akhirnya mendatangi dan mendengarkan pembicaraan mereka.
"Hah!? Aku jadi gadis iklan Pocara? Tapi aku belum pernah punya pengalaman begitu," kata Yuri menolak.
"Tidak apa-apa anggap saja ini sebagai pengalaman pertama mu. Ada artis senior yang melihatmu saat menemani Sawa dan dia ingin kolaborasi denganmu. Sudahlah coba saja ya," kata staf itu memohon.
Sawa sudah tentu mendengarnya. "Artis senior meminta Yuri menjadi model iklan? Aku kan lebih senior dari Yuri, tapi kenapa? Kenapa artis senior itu tidak memintaku?" Pikir Sawa membatin.
"Aduh, bagaimana ya? Ah ya, Sawa! Biar Sawa saja yang membawakan iklan itu," kata Yuri melihat Sawa yang terdiam.
Sawa tersenyum ternyata Yuri sangat memikirkannya. "Benar, aku bisa kok kan sudah 5 bulan juga aku menjadi model iklan," kata Sawa.
Staf itu menggelengkan kepalanya. "Yang dia mau itu bukan kamu Sawa. Maaf ya, kamu kan sudah punya banyak pekerjaan jadi kali ini artis itu ingin temanmu yang melakukannya. Kamu tolong bujuk dia ya. Aku tidak enak kalau menolak," kata staf itu pergi dengan tergesa-gesa.
Mendengar itu, seketika wajah Yuri agak marah. Yuri juga tidak enak, karena dia tidak pernah ada maksud mendapatkan pekerjaan seperti Sawa.
"Anu, Sawa bagaimana? Aku tidak bermaksud menyetujuinya," kata Yuri paham betul.
"Kok tanya ke aku? Kalau kamu mau terima saja tawarannya. Lagipula yang mengajukannya artis senior lho, aku bisa apa?" Tanya Sawa berbalik membelakangi Yuri.
"Benarkah tidak apa-apa? Baiklah, aku akan mencobanya," kata Yuri senang sekali.
Sebenarnya Sawa sangat kesal dan marah sekali bagaimana mungkin Yuri bisa dilirik artis lain lalu dirinya sendiri selama bekerja di sana, tidak ada yang mau bekerjasama.
"Apakah ini efek buku itu? Tidak tidak, itu tidak mungkin. Aku kan hanya menghilangkan yang menghalangi jalanku saja. Bukan semua orang!" Teriak Sawa dalam hati.
Eris sudah tentu ada disana memperhatikan gerak gerik Sawa lalu menghilang. Yuri yang mencari staf itu membuat stafnya lega dan berjanji tidak akan sampai mengganggu sekolahnya.
"Tenang saja saya akan bayar kamu sebagai pekerja paruh. Sampai besok ya," kata artis senior itu berpisah dengan Yuri dan stafnya.
Yuri seperti sedang bermimpi apalagi sekarang dia bisa selalu bertemu dengan Sawa.
Tanpa Yuri ketahui, Sawa sedari tadi menguping pembicaraan mereka. Wajahnya sekarang menunjukkan bahwa Yuri adalah saingannya.
"Dia bisa tampil di TV padahal hanya sekedar datang karena aku yang memanggil. Tapi sekarang, aku yang bekerja keras harus mengalami kegagalan yang pahit dalam audisi. Ini tidak adil!" Pikir Sawa marah sekali.
"Itu adil," kata Eris yang menjawab bersandar pada pintu kamar mandi.
"AH! Kamu... kenapa bisa ada di sini?" Tanya Sawa kaget menjatuhkan bukunya.
Eris berjalan ke arahnya dan mengambil buku itu. Dia melihat ada banyak sekali nama artis yang diduga mengambil bagiannya. Lalu melihat lembaran yang tersisa, Eris tertawa.
"Adil karena kamu memperoleh ketenaran dengan membuat siapapun mengalami kecelakaan. Sedangkan temanmu memiliki kesabaran dan kerendahan hati. Kamu tidak memiliki itu, karena itulah keberuntungan bukan berada di pihak mu," jelas Eris.
Sawa yang sudah tenggelam dalam kesombongan dirinya bintang terkenal, mencemooh apa kata Eris.
"Dia bukan sahabatku lagi! Dia penghalang," ucap Sawa dengan wajah yang mengerikan.
"Kau yakin? Dia selalu mendoakan mu saat kau berkali-kali gagal. Dan sekarang hanya karena ada seseorang yang menawarinya iklan, kau langsung menganggapnya saingan?" Tanya Eris sambil memegang buku itu.
Inilah sosok manusia sebenarnya. Setelah mencapai tingkat yang dia inginkan, tidak akan pernah puas. Selalu kurang dan kurang sampai akhirnya lupa seperti apa dirinya sendiri.
"Karena... karena dia sama sekali tidak memberikan kebahagiaan yang tulus kepadaku seharusnya dia menolak tawaran itu. Kamu juga berpikir begitu bukan? Dia tahu aku impiannya menjadi terkenal, seharusnya dia begitu kan," kata Sawa membela dirinya.
"HM! Sombong sekali. Kamu sudah mendapatkan segalanya. Bukunya aku ambil," kata Eris yang kemudian berlalu dari Sawa.
Satu lembar lagi adalah untuk Yuri, itu yang terakhir. Sawa belum bisa menerima semuanya, dia berlari menyusul Eris dan menghadangnya. Sambil air mata yang berlinang berusaha tetap tenang.
"Belum, ini baru permulaan. Kumohon! Sampai aku menjadi bintang nomor satu baru akan ku kembalikan. Sungguh!" Kata Sawa menunduk memohon.
"Sungguh hina sekali untuk mendapatkan keinginannya dia harus melenyapkan satu per satu orang yang sebenarnya akan menjadi batu loncatannya menjunjung impiannya," pikir Eris menatap miris pada Sawa.
__ADS_1
Bersambung ...