Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
KUNCI LAUT


__ADS_3

Beberapa hari terlewati Eris mencoba berjalan sendirian menuju taman pada suatu malam. Secara kebetulan takdir yang tidak dapat terelakkan Ares yang sedang mengerjakan tugas menggambar bertemu dengan Eris.


Mereka berdua berdiam diri, Ares menatap Eris begitu juga sebaliknya. Dahulu di dimensi lain Ares menganggapnya sebagai adik. Lalu sekarang?


Roh Ares menempati badan anak SMA. Secara tiba-tiba Ares berjalan ke arahnya dan Eris masih terdiam. Ares melayangkan senyuman dan berjalan dengan memasukkan satu tangannya ke dalam saku celana.


Ares melewati Eris yang berdiri, semilir angin menyambut rambut mereka berdua. "Yo! Lama sekali kalian," kata Ares berteriak lantang.


Suara lembutnya masih tetap sama dengan yang Eris dengar di dimensi lain. Eris lalu berjalan tanpa ekspresi dan menuju arah lain.


"Ah, mungkin dia adalah orang yang berbeda di dimensi ini. Tidak mungkin dia adalah kakak yang selalu melindungi ku," pikir Eris.


Ares tampaknya tidak peduli lalu dia pergi dengan teman sekolahnya namun terhenti gerakannya.


"Ada apa?" Tanya temannya itu keheranan.


Ares berbalik, "AKU SENANG KAMU BAIK-BAIK SAJA!" Teriak Ares lalu pergi.


"Hei, apa yang kamu lakukan tadi?" Tanya A keheranan.


"Kamu bicara sama hantu lagi ya?" Tanya B merinding dan melihat sekelilingnya.


"Bodoh. Ayo kita pergi," ajak Ares menyeret mereka semua ke rumahnya.


Eris menghentikan langkahnya, air mata keluar dari kedua matanya lalu dia seka. Eris berbalik menatap punggung Ares yang menjauh darinya.


"Ini mungkin lebih baik daripada kita jujur saling mengenal. Mungkin takdir bisa kita ubah karena ini," kata Eris lalu menghilang.


Christopher - Heartbeat


...This is my Darkness...


...Nothing anyone says can console me......


...Despair and Hope......


...Light and Dark......


...Happy and Sad......


...Hard and Easy......


...Good and Evil......


...Fall and Rise......


...Near and Fall......


...Group and Invidual...


...The only sensible way to live is without Rules...


Hari ini adalah hari Minggu, semua orang bersenang-senang termasuk Arae yang memaksa Eris untuk ikut dengannya.


"Ayolah, kamu ini sedang berada di dunia manusia masa bekerja terus?" Tanya Arae yang cemberut menatap sahabatnya.


Eris memang sedang giat membuatkan suatu adonan di dapurnya, dia sama sekali tidak keberatan setiap harinya adalah Minggu.


"Lalu kenapa dengan Minggu?" Tanya Eris yang masih fokus.


"Minggu adalah hari dimana kamu bisa bersenang-senang," kata Arae mengungkapkan dengan gembira.


"Aku setiap hari selalu bersenang-senang menarik bola kehidupan para pembeli," kata Eris sambil mencampurkan sesuatu.


"Tapi kamu masih saja bekerja. Oh, ayolaaah! Lihat, ini ada akuarium baru di kota Semarang. Ayo kita kesana. Ya? Ya?" Tanya Arae yang terus mengikuti Eris kemanapun dia pergi.


"Kamu tidak lihat aku sedang sibuk? Dunia Kegelapan mengirimkan paket bahan aneh dan aku harus mencari tahu apa kegunaannya," kata Eris memperlihatkan bebatuan berwarna pada Arae.


"Aku tahuuuu ayolah Eris, kalau kamu terus bekerja lama kelamaan kamu akan mati," kata Arae.


Kedua tangan Eris berhenti. "Kita ini makhluk kekal. Kalau aku bisa mati, aku akan sangat senang sekali. Biasanya juga kamu selalu pergi sendiri atau kamu ajak Raven saja," kata Eris.


"Raven tidak bisa. Burung man takut air," kata Arae melihat awan di luar agak mendung.

__ADS_1


"Burung senang air kecuali kalau di dalam air ada ikan yang buas. Jangan ganggu aku, pergilah," kata Eris melemparkan sesuatu pada Arae.


Arae menyilang kan kedua tangannya dan kedua pipinya dia gelembung kan. Arae bukan tipe penyerah, dia memiliki ide gila agar Eris bisa ikut dengannya.


Baju Episode ini :



Siang harinya mereka menggunakan dimensi waktu dan pergi ke kota Semarang untuk mencoba mendatangi akuarium besar yang ada di kota N.


Eris muram sekali memandangi Arae dengan wajah sadisnya. Yups, Arae berhasil membuat Eris keluar dari tokonya setelah dia menyembunyikan semua bahan yang akan Eris olah.


Dengan terpaksa, Eris akhirnya ikut dan mereka bersenang-senang. Meskipun lagi-lagi baju yang Eris kenakan sangat mencolok.


"Ada cosplay ya?"


"Baju yang dipakai anak itu cantik sekali,"


Beragam komentar dari orang-orang yang mereka lewati tentu saja Arae senang.


"Lalu kamu mau pergi kemana?" Tanya Eris yang berjalan menggunakan baju khasnya, Gothic.


"Itu dia. Ayo Eris," kata Arae menunjukkan ke tempat yang ramai pengunjung.


Mereka berbaris juga dan menunggu giliran untuk memasuki bangunan berbentuk kubah air itu. Di dalamnya terdapat berbagai macam ikan hias, ikan tawar dan ikan laut.


Arae senang sekali, dia melihat cumi-cumi dan melakukan gerakan yang sama seperti hewan laut itu. Anak-anak kecil yang melihatnya tertawa, hanya Eris yang termenung. Dia mengeluarkan aura hitam yang membuat semua ikan memilih menjauhinya.


"Ibu! Lihat ada hiu!" Teriak anak laki-laki sekitar usia 11 tahun menarik tangan ibunya.


"Kamu ini sudah besar, Kio. Kamu tidak malu teriak seperti itu?" Tanya Ibunya tertawa.


"Ah, Ibu. Mana mungkin aku malu, dulu kan kita sering ke akuarium besar ini. Dulu tidak sehebat ini ingat tidak? Dengan Ayah. Coba Ayah masih ada," kata anak bernama Kio itu menatap sendu akuarium besar.


Ibunya menghela nafas dan memeluknya. Arae memandangi Eris yang juga menyaksikan adegan itu.


"Bagaimana? Ada manfaatnya juga kan aku memaksa melakukan itu," kata Arae berbisik.


"Ibu lapar nih ayo kita ke food court. Katanya ada menu baru juga kamu tidak penasaran?" Tanya Ibunya mengedipkan sebelah matanya.


"AYO!" Kata Kio bersemangat sekali.


Mereka berdua menuju lantai 3 sudah tentu Eris dan Arae juga mengikuti mereka. Arae penasaran makanan apa yang mereka buat sedangkan Eris lebih penasaran dengan Ibu dan anak itu.


Lantai 3 adalah food court yang juga dikelilingi oleh akuarium kecil yang panjang sekali sampai ujung kedai.


"Waaaaah!! Disini juga ada akuarium! Bu, lihat ada ikan Guppy, Ikan Molly, Discus. Wah, ikan Zebra juga ada! Komet, Tetra, wah semuanya lengkap! Hebat! Hebat!" Kata Kio dengan sangat antusias.


Beberapa pengunjung tertawa mendengar Kio menyebutkan semua ikan. Ibunya sendiri tertawa dan menutup wajahnya karena sangat malu.


"Anaknya suka ikan, ya?" Tanya Waitress tertawa.


"Iya, Ayahnya dulu yang mengenalkannya. Ayo Kio sini duduk, kamu harus makan nanti kita jalan-jalan lagi," kata Ibunya.


Kio bernyanyi tentang ikan sambil duduk dan memesan menu yang baru mereka buat. Mereka berdua bercanda dan tertawa bersama.


"Kamu suka ikan?" Tanya Ibunya yang melahap makanannya.


"Sukaaaaaa," jawab Kio.


"Kalau kamu naik kelas lalu masuk ke tiga besar, Ibu akan belikan kamu sepuluh ikan hias. Bagaimana? Kamu bisa?" Tanya Ibunya mengedipkan mata kirinya.


"Sungguh!? Baiklah! Janji ya," kata Kio lalu mereka membuat janji.


Makanan yang dipesan oleh Arae akhirnya terhidang kan. Arae menyantapnya dengan nikmat sedangkan Eris makan dengan pelan.


Kemudian mereka selesai, Ibu dan anak itu juga turun ke lantai bawah setelah selesai membayar.


"Menurutmu Ibu itu akan memenuhi janjinya?" Tanya Arae memandang ke bawah.


"Iya. Tapi masalah akan datang setelah anak itu memasuki kelas 2. Mau lihat bagaimana kisahnya?" Tanya Eris menunjukkan jam waktu.


Jam yang diberikan oleh nenek yang sering datang ke tokonya dulu. Saat meninggal dia memberikan pembayarannya karena di ijinkan mendengarkan masalah orang-orang.

__ADS_1


"Baiklah," kata Arae.


Mereka berdua keluar dari akuarium besar itu dan duduk di atas rerumputan yang rimbun.


Eris memutarkan waktu, sekitar mereka berputar dengan cepat. Mereka menyaksikan anak itu memang belajar dengan keras.


Ibunya sangat puas sekali, memang nilai anaknya turun drastis saat Ayahnya meninggal. Dan anak itu juga tidak bisa mendapatkan nilai yang bagus tapi kali itu, dia berusaha.


Saat pembagian rapot, akhirnya anak itu berhasil masuk ke tiga besar, Ibunya terharu dan menghadiahkannya 10 ikan hias. Lalu Ibunya juga membelikan akuarium yang disimpan di ruang tengah.


Sang anak bersuka cita dan menangis akhirnya memliki ikan sendiri dalam rumahnya. Sejak itulah dimulai, para orang tua berusaha memasukkan anaknya ke sekolah menengah yang terkenal.


Ibu itu memandangi Kio dalam benaknya, dia tidak boleh tertinggal apalagi dirinya dan suami adalah murid terpintar saat itu.


Beberapa bulan berlalu, mereka tiba di waktu dimana Kio telah kelas 2 SMP. Kio datang sendirian ke tempat akuarium itu untuk membeli makanan ikan.


Arae dan Eris menghilang kala anak itu berlari melewati mereka berdua. Eris menunggu Kio dalam tokonya yang berdiri di pinggir kota.


Sesampainya di rumah, Kio meletakkan sepatu dengan rapih lalu memasuki ruang tamu dan melihat ikan hadiah fari Ibunya, yang sudah gemuk.


"Aku pulang. Ini makanlah," kata Kio membukakan kantung makanan ikan.


Ikwn-ikan itu makan dengan lahap dan menatap Kio dengan senang. Ibunya datang dan menghela nafas melihat Kio sibuk dengan ikannya.


"Kamu habis dari mana?" Tanya Ibunya menghampiri Kio.


"Aku beli makanan ikan, Bu. Ibu sudah pulang," kata Kio menyambut.


Ibunya lalu duduk dan merasa lelah lalu memandang ikan yang dia beli untuk hadiah. Kini semua ikan itu menjadi gemuk katena Kio dengan rajin memberinya makan.


"Jangan main ikan terus, kapan kamu belajarnya?" Tanya Ibunya.


Kio meletakkan kantung itu di samping akuarium. "Iya Bu, sebentar lagi. Oh iya bukan depan dia akuarium itu akan kedatangan ikan baru. Kita kesana yuk. Sudah lama juga kan," ajak Kio dengan semangat.


"Kalau Ibu tidak lelah ya. Tadi habis rapat dengan ibu-ibu komplek. Nilai kamu kenapa menurun lagi sih?" Tanya Ibunya membuat Kio kaget.


Setelah dirinya berhasil mendapatkan nilai lumayan tinggi dan masuk 3 besar, entah kenapa Ibunya menjadi agak berbeda. Mulai banyak menuntut, lalu mengurangi jam bermain dengan teman sekolah atau tetangga, kalau lama pulang pasti diceramahi dan ditanya "Kapan Belajar".


"Aku bosan. Butuh liburan, Bu," kata Kio yang duduk di depannya sambil menunduk.


"Ibu menyekolahkan kamu di sekolah itu bukan untuk main-main, Kio. Batasi kesukaan kamu melihat ikan, belajarlah lebih rajin lagi. Mengerti? Jangan buat Ibu malu di hadapan para orang tua lainnya, Kio," kata Ibunya dengan kesal.


Kio terdiam. Apa yang Lio utarakan, sama sekali tidak pernah didengarkan. "Baiklah," jawabnya lalu menuju ke kamar.


Malam harinya Kio belajar dan menggambar beberapa ikan di bukunya lalu membuat pembatas buku.


"Aku akan perlihatkan ini ke teman-teman besok," katanya lalu turun ke bawah untuk makan malam. Tidak lupa sebelum memasuki ruang makan, dia menyapa ikannya.


"Selamat malam kalian semua," ucap Kio senang. Para ikan menyambutnya.


"Kio, ayo makan!" Kata Ibunya dari arah dapur.


"Iya, Bu," kata Kio lalu berlari memasuki ruang makan.


"Kamu sudah belajar?" Tanya Ibunya menatap Kio dengan tajam.


"Sudah. Oh iya aku membuat pembatas buku. Ibu mau lihat? Gambarnya ikan..." kata Kio yang berusaha menjelaskan lalu terpotong.


"Tidak usah! Kamu harus mengejar ketertinggalan pelajaran di sekolah," kata Ibunya sambil makan malam.


Kio lalu mengangguk menatap sedih Ibunya, dulu dia berhasil masuk dan sesuai janji Ibunya membelikan akuarium serta ikannya. Sekarang Ibunya mulai meminta Kio belajar les piano, berenang dan hampir tidak ada waktu untuk ikannya.


"Bu, kalau aku belum datang ke rumah tolong Ibu berikan makanan ya. Nanti ikan ku mati," kata Kio memohon.


Ibunya menatap Kio dengan tatapan tidak suka. "Belajar saja. Ikan kalau tidak diberi makanan mereka masih bisa hidup," kata Ibunya lalu membereskan meja makan.


"Apa itu artinya Ibu tidak mau? Padahal ikan itu kan pemberian dari Ibu," kata Kio lalu beranjak pergi.


Ibunya menaruh peralatan makan dan terdiam. Dia ingat bagaimana para ibu memamerkan anak-anak mereka yang akan memasuki sekolah elit.


Di dalam kamar Kio, dia lalu rebahan sambil menatap yang dia baru buat. "Ibu kenapa ya? Tidak seperti biasanya selalu ceria. Sekarang rasa-rasanya semakin mengerikan apalagi waktu bermainku dengan teman-teman hampir tidak ada. Ah, apa seperti ini ya yang dialami oleh kak Yui?" Tanya Kio merasa lelah.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2