Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
3


__ADS_3

Reony yang kemudian lemas tidak berdaya masih belum sadar kalau minumannya diracuni oleh idolanya sendiri. Supir wanita itu kemudian datang untuk menjemput majikannya juga mengetahui jadwal selesai akting putrinya.


Reony keluar menatap ayahnya lalu menangis sambil berlari.


"A...yah... ak..u ga...gal," kata Reony memeluk ayahnya itu.


Dengan tidak jelas, ayahnya keheranan. "Reony, ada apa dengan suaramu? Kenapa bisa gagal? Bukankah kamu sudah berlatih keras?" Tanya Ayahnya menghapus air mata putrinya itu.


"Saat diuji tiba-tiba suaraku se...rak... la...gi," Reony menangis lagi.


"Sudah sudah rupanya kamu juga bisa gugup. Kamu tidak apa-apa?" Tanya Ayahnya menepuk bahu putrinya.


"Tidak apa-apa tapi agak aneh. Suaraku sekarang baik-baik saja tapi sudah tidak ada kesempatan lagi aku bisa mencobanya," kata Reony tersedu-sedu.


"Kenapa? Coba ayah bicarakan pada mereka," katanya yang mau pergi.


"Karena Bu Venus diputuskan untuk menjadi pemeran Ophelia lagi. Sudah, mungkin belum waktunya aku bisa memegang peran utama," kata Reony tersenyum meski air matanya masih mengalir.


"Sekarang aku tahu penyebab suaramu yang tiba-tiba serak, Nak. Wanita itu! Kalau saja anak kecil itu tidak memperingatkan, aku sudah membunuhnya. Dan Reony pasti akan menggapai keberhasilan aktingnya," pikir supir itu sambil kedua tangannya mengepal.


Akhir kisah dari pengangkatannya lagi menjadi bintang utama, Venus yang menjadi Ophelia kembali berhasil dengan gemilang.


Gelang Venus yang dia pakai benar-benar membuatnya menjadi gadis yang penuh kesegaran. Kulitnya menjadi sangat mulus dan glowing.


Wajahnya cerah seperti masa mudanya dulu tapi suaminya tetap mual melihatnya. Yah karena penglihatan orang-orang berbeda dengan kedua mata suaminya.


"Mereka semua sudah gila menyanjung nenek-nenek!" Katanya kemudian pergi sambil kesal.


Intinya gelang itu menipu mata semua orang yang memandangi Venus. Venus pun lupa diri kalau usia akan selalu bertambah dan energinya terus terserap meski perlahan.


Reony pun dengan segera mengundurkan diri karena Reony gagal menjadi salah satu pemeran figuran juga, Venus tidak ingin dicap sebagai wanita jahat.


Dengan wajah yang pura-pura simpati, dia mengumumkan akan membiarkan Reony bekerja untuknya sebagai latihan. Semua orang pun memuji kebaikannya dengan senyuman jahat dalam sisi lain.


Selama berakting, mengiklan atau semua kegiatannya gelang itu selalu dia pakai. Banyak yang mengagumi kecantikannya bahkan mereka semua tidak percaya saat Venus mengatakan dirinya sudah berusia 64 tahun. Venus menatap gelangnya yang berkilauan dan tertawa kegirangan.


Reony hanya bisa pasrah melihat idolanya semakin gemilang mencapai kesuksesan dan kembali bekerja di toko makanan.


Venus datang ke tempatnya bekerja dan menawarkan pekerjaan sebagai asisten pribadinya yang selalu melayaninya setiap hari, dan setiap waktu. Tentu saja Venus bermaksud ingin menyiksanya dan memberinya pelajaran.


"Bekerjalah denganku, sambil kamu melihat aku bagaimana berakting yang sesungguhnya. Siapa tahu nanti ada produser lain yang minat dan kamu sudah siap," kata Venus.


"Aku? Benarkah? Baik, aku terima!" Sambut Reony dengan polosnya.


Venus tertawa dengan jahat dalam hatinya. "Akan ku buat kamu menderita sama seperti ayah tuamu. Yah tentu saja kamu hanya bisa dapat ijin akting dariku yaitu majikanmu. Sangat polos sekali dirimu Reony, akan kuinjak sampai puas!" Kata Venus dalam hatinya.


Beberapa bulan terlewati dan Venus menjadi semakin terkenal. Namanya selalu ada dalam spanduk film bahkan iklan obat gosok sekalipun. Gelang emas itu semakin berkilau membuatnya dijuluki sebagai dewi Aphrodite.


"Eh, aneh tidak sih menurutku agak tidak cocok aktris itu disebut dewi Aphrodite," kata A melihat spanduk.


"Iya aku juga merasa begitu. Habisnya dia kan sudah nenek-nenek. Bukankah dewi itu pantasnya perempuan yang masih segar dan cantik?" Tanya B.


"Aku tidak suka dengan pandangan matanya. Seperti iblis bukan dewi," kata yang lain.


Mereka semua menertawakannya. Eris juga ada disana, beberapa lembaran tersobek dan mendarat di ujung kakinya. Eris mengambil kertas itu.


"Sepertinya dia sudah semakin sukses," kata Eris.


Arae datang dengan menggunakan baju seragam sekolah. "Pastinya dia tidak akan mengembalikan gelang itu," katanya sambil memegang es krim.


"Kamu memakai seragam sekolah?" Tanya Eris keheranan.


"Hahahaha manis kan daripada memakai baju khas dunia kita. Bisa jadi bahan tertawaan dan di nilai tidak sopan, Eris," kata Arae berputar memamerkan bajunya.


"Gadis itu ingin mencapai kesuksesan juga mau aku yang membuat skenario lain?" Tanya Arae.


"Tidak usah sebaiknya kita tidak terlalu ikut campur. Biar takdir mereka yang berkata," kata Eris melanjutkan perjalanannya menuju Cafe.


Lambat laun Eris mulai merasa betah di dunia manusia ini apalagi ada Arae yang selalu menemaninya.


"Cepatlah kembali ke tubuh semula Eris supaya kita bisa setara tingginya. Masa aku harus menggendong kamu terus?" Kata Arae menangis.

__ADS_1


"Ratu. Entah kapan tubuh ini bisa tumbuh," gumam Eris menatap dirinya sendiri.


Supir tua itu sudah banyak bersabar dan menahan rasa ingin membunuh majikannya lalu kejadian tidak terduga datang. Dirinya dipecat secara tidak hormat dan hanya diberi upah setengah dari biasanya.


"Kamu aku pecat! Sekarang, aku punya pembantu yang lain. Dan ini gaji kamu tapi aku potong untuk membayar sisa hutang kamu yang dulu!!" Kata Venus melemparkan 3 gepok uang berwarna merah muda ke wajah Pak Sapto.


"Tolong jangan pecat saya. Saya akan lakukan apapun, Nyonya! Tidak dibayar pun tidak apa, asalkan jangan dipecat," kata Pak Sapto tidak mengambil uang itu.


"Pergi! Tua bangka! Untuk apa aku harus memberimu pekerjaan? Kulit kamu sudah mengering, aku malu memiliki supir seperti kamu! Ambil uang itu kalau tidak, akan aku ambil kembali! Hiduplah sampai ajalmu tiba hahahahaha!!" Kata Venus dengan menyayat hati.


"Tapi siapa pembantu baru yang Anda maksudkan? Jangan-jangan..." kata Pak Sapto menduga yang terburuk.


"Benar. Putrimu yang cantik rupanya itu," kata Venus.


"Ja...jangan! Aku mohon cukup aku saja, jangan ambil Reony," pinta Pak Sapto sambil menangis.


"Akan ku buat anakmu menderita. Berani-beraninya dia mau mencuri tokoh utamaku. Gadis yang cantik rupanya lalu kulitnya yang segar itu akan kuperas menjadi kering seperti KAMU!! PERGI!!" Kata Venus menendang Pak Sapto.


Sebenarnya Pak Sapto tidak begitu terlalu tua usianya masih masih terbilang muda. Usia 76 tahun hanya saja keadaannya menjadi seperti itu karena selalu menderita. Pak Sapto pulang dengan membawa 3 gepok uang, air matanya bercucuran.


Dia kemudian bertemu dengan Eris yang melihat kejadian tersebut. "Nak, harus sesabar apa lagi saya bertahan? Anak saya akan dijadikan budak olehnya," kata Pak Sapto menangis.


"Tunggulah. Roda takdir akan mengubah segalanya," kata Eris.


Eris memang anak dunia lain tapi dia tidak mau ikut campur dalam takdir, dirinya hanya akan membuat perhitungan dengan orang yang dia anggap pantas menerimanya. Toh melihat drama Reony sangatlah membuatnya tertarik. Dia ingin banyak mempelajari kehidupan orang di Bumi.


Suami Venus histeris sebelum rencananya dilaksanakan, Pak Sapto sudah ditendang duluan oleh istrinya. Dia harus memikirkan cara lain.


Gelangnya pun masih belum bisa dia dapatkan, dia berteriak dalam rumahnya yang mewah itu dengan frustasi.


Benarlah Reony dijadikan pembantu dalam rumah Venus, Venus dengan sengaja memberhentikan semua pembantu dan hanya Reony saja yang ada. Kecuali tukang kebun dan tukang cuci mobil. Hanya mereka bertiga yang saling menguatkan.


Sekarang Venus memiliki budak baru yang bisa dia perintah seenaknya dengan alasan agar dirinya bisa luwes saat nanti diijinkan berakting. Tentu saja Reony menjadi semangat dan melakukan semuanya.


"Nak, menurut kami itu hanya alasannya saja agar kamu tidak keluar dari pekerjaan ini," kata tukang kebun melihat Reony yang duduk kelelahan.


"Ah, Bapak ini. Bu Venus orangnya baik begitu mengijinkan saya yang mengelola rumah ini lagipula katanya kalau ada produser yang berminat, saya akan diijinkan berakting," kata Reony ceria dengan keringat yang bercucuran.


Tukang kebun memandanginya dengan sedih. "Kamu tidak tahu? Apa Bu Venus pernah memberimu naskah untuk latihan?" Tanyanya memandangi Reony.


"Ini. Saat saya membantu kamu membereskan rumah, saya menemukan naskah yang sudah Nyonya buang. Berlatihlah saat Nyonya pergi di rumah ini, kami akan bekerja sama membantu kamu," kata tukang cuci mobil menyerahkan naskah yang sudah kotor itu.


Reony berkilat-kikat kedua matanya. Dia memeluk mereka berdua yang terus mendukungnya. Saat Venus pergi untuk berpesta, Reony mulai berlatih banyak. Dengan bantuan dari kedua tukang itu, Reony mulai berlatih banyak naskah. Dan mereka menyaksikannya lalu bertepuk tangan.


"Waktu kamu di tes benar suaramu serak?" Tanya tukang kebun.


"Iya, ternyata aku bisa gugup juga," kata Reony tertawa.


"Sewaktu kamu berlatih, kami berpendapat tidak ada rasa gugup dan bahkan sepertinya kamu memang sudah menguasai suasana," kata tukang cuci mobil.


"Saya sering berlatih di taman bersama teman jadi gedung latihan sudah saya anggap sebagai taman. Ada apa?" Tanya Reony yang selesai mencuci piring.


Mereka berdua berpandangan. "Nak, kami pikir Nyonya sudah melakukan sesuatu pada air yang kamu minum," kata A.


"Tidak tidak jangan berpikir begitu. Apa buktinya?" Tanya Reony mulai merasa tidak enak.


"Kemarilah," kata B mengajak Reony masuk ke sebuah ruangan dari kamarnya Venus.


"Nyonya lama kembali jadi tenang saja, saya akan berjaga di luar," kata A.


Mereka mengangguk.


"Apa ini? Ruangan apa?" Tanya Reony ketakutan.


"Tenang saja saya ingin menunjukkannya sesuatu. Saya pikir ini berhubungan dengan kejadian tidak terduga itu. Ini adalah ruang obat," kata B membuka pintu itu.


Ruangan kecil yang terdapat banyak bubuk dengan botol kecil. Lalu Reony terbeku di depan pintunya. B mengambil botol kecil yang isinya sudah setengah lalu memberikannya pada Reony.


"Ini..." kata Reony lalu membaca judulnya. Suara Serak.


"Nak kami pikir Nyonya sudah memasukkan ini ke dalam minuman itu," katanya.

__ADS_1


"Bohong. Tidak mungkin! Masa Bu Venus setega itu. Tolong ya kalau kalian tidak betah disini, lebih baik keluar saja," kata Reony menolak hendak keluar.


"Lihatlah kalau dicampur air begini kondisinya," kata B mengisi air dengan limun dan membubuhkan satu sendok. "Adakah sisa bubuknya?" Tanyanya menyerahkan pada Reony.


"Oh...." kata Reony tergeletak lemas di lantai. Lalu B membuangnya ke wastafel dan mengeringkannya dengan rapi.


Reony menangis dan B menepuk bahunya. "Balas dendam terbaik adalah kamu terus berlatih dan ini..." Kata B menyerahkan botol obat tidur pada Reony.


"Saya...harus menggunakan ini," kata Reony menatap bot kecil itu.


"Gunakan dengan bijak, Nak. Saat kamu memutuskan sesuatu dengan rencana yang matang, gunakan bubuk ini. Kenapa kami tidak dipecat karena kamilah yang mengurus obat ini. Jangan cemas saya akan membuatnya kembali penuh," kata B tersenyum dan menarik Reony untuk kembali berdiri.


"Kalau begitu kalian... saat nanti aku sukses, ikutlah denganku. Tinggalkan rumah ini. Ya? Ya? Aku berjanji akan membalaskan dendam wanita jahat itu!" Kata Reony dengan penuh keyakinan.


Tukang cuci mobil itu tersenyum lalu menutup kamar itu tanpa ada celah sedikit pun lalu bergabung dengan tukang kebun. Reony menyimpannya di tempat yang aman yaitu kotak gula, dia menguburnya di kedalaman. Dan bersikap biasa lagi saat Venus pulang.


Malam harinya saat Nyonya itu tengah menyaksikan konser dalam ruangan bioskopnya. Tukang kebun mengetuk pintu kamar Reony dan menyerahkan sekotak penuh dengan surat panggilan.


Ternyata surat-surat itu adalah undangan untuk Reony mengikuti pelatihan drama dan akting.


"Selama ini saat kamu bekerja di rumah belakang, banyak pos yang mengirimkan formulir pendaftaran akting. Tapi Nyonya membuangnya. Nak, kamu harus keluar dari rumah ini kalau ada kesempatan yang pernah mundur lagi," kata tukang kebun itu lalu pergi.


Reony terduduk di kasur dan menangis dengan keras. Dalam keheningan malam, menyadari bahwa dirinya sangat bodoh bisa mempercayai wanita tua itu. Surat-surat itu kemudian Reony dekap erat dan berjanji akan melakukan semuanya. Dia akan banyak berlatih agar kelak, bila ada kesempatan dia bisa menggapai bintang emas.


Di atas rumah terdapat dua makhluk yang tampak tenang menikmati malam. Satunya berjongkok, satunya lagi berdiri sambil mengepulkan asal rokok.


Beberapa hari kemudian sang produser memberikan pengumuman akan ditayangkannya film berjudul Venus yang isinya menceritakan mengenai kehidupan dewi Aphrodite, tentu saja itu disambut meriah tak terkecuali Venus.


"Tentu saja aku yang akan memerankannya," katanya dengan bangga.


Beberapa pemain bersikap sebal kepadanya. Lalu datanglah produser lain yang memasuki ruangan.


"Saya membuka lowongan pendaftaran untuk semua orang yang memiliki bakat akting. Sebarkan mereka bisa terima untuk figuran dan tokoh pelengkap," katanya.


"Lalu untuk tokoh utamanya bagaimana?" Tanya yang lain.


"Saya sudah mengirimkan surat undangan untuk Reony, saya pernah melihat aktingnya yang cukup mengesankan," katanya membuat Venus terkejut.


"Kalau Reony, dia sedang sibuk bekerja. Saya sudah memberitahukannya tapi dia ingin fokus bekerja dulu," kata Venus.


"Ah sayang sekali. Padahal kesempatan ini bisa membuatnya menjadi batu pijakan," kata produser itu.


Venus kesal ternyata meskipun kejadian aktingnya yang kocak itu, ternyata beberapa produser memang berminat meminangnya menjadi artis mereka.


"Saya saja, Pak. Saya mampu memerankan Venus dengan baik," kata Venus membuat yang lainnya semakin sebal.


"Bagaimana ya? Nanti akan kupikirkan," katanya berlalu dengan cepat.


Akhirnya.... disinilah mereka berada. Di sebuah pantai untuk pengambilan gambar tentunya Venus berhasil membuatnya menjadi tokoh utama. Venus tengah bersantai mengenakan baju dewa dewi dan sedang duduk berjemur.


"REO! Kemana sih mengarahkan payungnya? Tidak ada gunanya kalau kamu yang tidak terkena matahari! Kepanasan nih!" Teriak Venus kesal.


"Ah, Maaf Nyonya saya sedang merapikan peralatan make up. Segini sudah cukup?" Tanyanya membetulkan payung itu.


Di belakang dari Venus terdapat beberapa orang figuran tengah berbisik. "Hei hei, bukannya dewi Venus itu seseorang mulia dan cantik? Bagaimana bisa produser memilih wanita tua yang kulitnya keriput itu menjadi Venus?" Tanyanya merasa aneh


"Kalau saja anak di belakangnya itu mengikuti kasting, dia akab lebih cocok menjadi Venus," bisik yang lain.


Mereka setuju.


"Kalau Venus nya diperankan aktris tua itu bukankah sama saja menghina sosok dewi yang sebenarnya? Apa sih yang dipikirkan produser film ini?" Tanya yang lain lagi.


Venus sudah tentu bisa mendengarnya begitu juga Reony tapi berpura-pura tidak dengar. Saat Reony mencari formulir tersebut, Venus sudah menyobek-nyobeknya menjadi kertas kecil. Pupus sudah harapannya tapi dia tidak pantang menyerah. Tidak apa, masih ada surat lain yang batas waktunya juga lama.


"HEI! JANGAN BILANG AKU TIDAK DENGAR APA YANG KALIAN KATAKAN!" Seru Venus dengan marah. Mereka semua langsung lari dengan cepat.


Venus duduk dengan kasar dia mulai mengomel tidak jelas. Tanpa sepengetahuannya, Reony sidah mendapatkan nomor kasting untuk tahun depan, dirinya sudah puas dan menjalankan pekerjaannya.


"Huh! Seperti sudah bertemu dengan dewi Aphrodite saja! Aku ini jauh lebih cantik dari dewi itu. Kalau aku tidak memakai gelang ini memang terlihat tua, tapi ini yang terakhir kalinya aku memakai toh peran Venus ini adalah film terbesar. Aku tidak boleh melewatkannya," kata Venus saat itu Reony tengah memasukkan semua baju yang berantakan ke dalam mobil.


Venus menatap Reony dengan pandangan menghina dan puas sekali melihatnya terus bercucuran keringat.

__ADS_1


"Sayang sekali kamu harus menua bersamaku, Reony. Aku tidak akan membiarkanmu mengikuti kasting apapun!" Katanya sambil tertawa. Saat itu Reony kembali dan mendengarkan dengan jelas. Reony menatap gelang yang dipakai oleh Venus dan curiga.


Bersambung ...


__ADS_2