
Hahaha apa urusanmu, makhluk kecil? Perjanjian ku sangatlah istimewa, tidak semua orang bisa melakukannya.
Sosok itu maju dan menampakkan dirinya, membuat Eris dan Arae harus mundur secepatnya.
"Makhluk yang seharusnya tidak ada di muka bumi. Untuk apa kau hadir?!" Tanya Arae.
"Begitu banyak kamu membunuh yang tidak bersalah. Apa tujuanmu?" Tanya Eris dengan pandangan waspada.
Hahaha dia memanggilku dan memintaku untuk meningkatkan popularitasnya. Dengan balasan, aku membunuh sesuka hatiku.
Arae dan Eris menutup hidungnya, bau bangkai keluar dari mulut monster zombie tersebut.
Kebetulan aku memerlukan darah segar, dan kalianlah mangsakuuuu.
Sosok itu berlari dengan cepat berusaha menangkap mereka berdua. Arae mengeluarkan bola api dan menyerangnya.
Zombie itu kesakitan dan berteriak membabi buta melesat menuju Arae.
Eris menyerang dengan pedangnya dan melukai bahu zombie, makhluk itu berteriak kepanasan.
"Apa kamu yang membunuh dua peserta disini?" Tanya Eris menunjuk ke leher dengan pedangnya.
Aaah dua perempuan manis itu, aku membuat duplikat temannya dan menariknya kemari. Dengan tenangnya aku langsung menebas.
Sesuai dugaan Eris bahwa Anita dan Olive memang sudah lama mati. Karena bola arwah Anita datang dan menangis.
Dengan darah mereka aku bisa panjang umur HAHAHAHA!!
"Menjijikkan!" Teriak Eris yang kemudian melukai dadanya.
Dari pedang Eris keluar api biru putih yang mengkilat menyambar tubuh makhluk itu.
Zombie mengerikan itu mengibaskan tangannya mendorong Eris terpental jatuh.
"Eris!" Teriak Arae.
"Aku tidak apa-apa. Kita harus memusnahkannya. Kalau tidak..." kata Eris bangkit dan menghindari serangan.
Bibir Eris mengeluarkan darah biru namun luka itu segera sembuh seperti sedia kala. Zombie tertawa menatap Eris yang mampu bangkit.
Ternyata kau makhluk abadi dengan meminum iblis kecil sepertimu, aku tidak perlu takut matahari! BERIKAN DARAHMU!
Eris melafalkan sesuatu dan sekumpulan bola petir muncul dan menyerang zombie dari berbagai arah.
"Aku bukan iblis biasa. Dengan meminum. darahku, kau yakin akan abadi?" Tanya Eris menghindari serangan.
"Musnahlah monster!" Teriak Arae melemparkan cincin raksasa yang dibuat mengikat zombie itu.
Aku bukan monster, aku juga manusia pada awalnya. Hanya berbeda versi saat besar.
"Zombie," kata mereka bersamaan.
Zombie? Bukaaan aku manusia.
"Manusia tidak membutuhkan darah untuk hidup. Kamu itu tidak punya cermin ya? Coba lihat bagaimana wajahmu?" kata Arae dengan marah.
Cincin pengikat tidak mampu menahannya dan hancur begitu saja. Eris yakin itu karena zombie tersebut sengaja dibuat oleh seseorang.
Zombie itu tertawa sambil memegang luka dan berlari masuk ke dalam lorong dalam rumah. Mereka tidak bisa mengejar.
Eris teringat waktunya sempit untuk bisa kembali agar Chris tidak curiga. Arae tidak diijinkan menghadapinya sendirian.
Mereka keluar dari rumah itu dan membuat segel agar tidak sembarang orang bisa masuk.
"Ini gawat ternyata yang kita hadapi bukan iblis," kata Eris menatap penampakan rumah itu.
"Zombie? Tapi kok bisa?" Tanya Arae.
"Apa mungkin pesugihan versi modern?" Tanya Eris.
"Hah? Menggunakan zombie ya? Tapi siapa?" Tanya Arae penasaran.
Eris tidak bisa berkata jauh juga setidaknya mereka berhasil membuatnya terluka.
Eris dan Arae kembali, se perginya mereka sang zombie tertawa lebih menakutkan.
__ADS_1
Kalian melukaimu, balasannya akan lebih mengerikan. Lihat saja.
Zombie tertatih memasuki sarangnya dengan ditunggu seseorang yang entah siapa. Zombie melewatinya dan membisikkan sesuatu, orang tersebut mengangguk.
Beberapa waktu setelah Eris memisahkan diri, di tempat suatu ruangan lain, Ares dan Yuri memasuki aula. Sudah banyak peserta yang menunggu termasuk Chris pendeta muda yang tampan dan Sisna.
Untungnya lampu di ruangan itu telah di redupkan jadi sosok duplikat Eris tidak terlalu bisa terlihat.
Tinggi Yuri dan Eris hampir sama jadi Chris mengira Yuri adalah Eris. Sisna kemudian memberikan biodata Olive dan Anita pada Rio.
"Silakan masuk untuk kalian yang baru datang. Terima kasih kalian yang sudah mau berpartisipasi dengan kegiatan kami," kata Rei menyambut.
Mereka agak tegang melihat ruangan sudah berbeda dan beberapa lilin terbentuk lima sisi.
"Masuklah, mereka masih persiapan. Kita hanya menunggu saja," kata Mila dengan seragam Miko.
"Kamu tidak ikut?" Tanya Ares.
"Kemampuan aku kan hanya sebatas Miko, mengusir roh jahat kecil ya bisa. Aku bukan Onmyouji," kata Mila.
"Rio Onmyouji?" Tanya Iran.
"Iya," kata Rio mendengarkan.
"Keren!" Kata mereka semua kecuali Yuri dan Ares.
"Maaf aku kurang paham," kata Yuri.
"Kalau ada Anita pasti kena semprot. Bersyukurlah dia masih belum ditemukan," kata Ara.
"Dengan kata lain, orang yang mampu memusnahkan atau menyegel youkai atau iblis. Siluman juga," jelas Mila.
"Bukannya sihir juga termasuk?" Tanya Ara.
"Berbeda dong. Onmyouji itu spesialisnya memang dalam sihir tapi bukan penyihir ya. Dan bisa meramal percintaan juga lho," kata Mila.
"Hei hei, untuk masalah itu tidak bisa menjamin ya," kata Rio menatap Mila.
"Payah sekali sih. Kalau dalam negara Jepang, biasanya tugas mereka membuat kalender, meramal, perlindungan dan melakukan pengusiran roh jahat. Mirip Chris kan," kata Mila.
Chris terdiam. "Tidak bisa hehehe aku khusus memusnahkan iblis,"
"Dia bohong, sebenarnya bisa hanya saja dia merasa lebih baik menjadi penjaga dan Rio yang melakukannya," kata Sisna menatap pendeta itu.
"Waaah aku ingin sekali melihat kemampuan menyerang Chris," kata Fuji dan beberapa perempuan lain.
Chris hanya tertawa saja.
"Kalau Chris spesialis nya berbeda sih jadi memang tidak bisa seenaknya. Jadi Rio itu bukan penyihir ya, hanya kadang bisa meramal," kata Mila berbisik.
Yuri menatap duplikat Eris yang memandangi mereka, menatapnya dengan datar.
"Tapi pasti ada asalnya kan kenapa sebutan onmyouji ini ada," kata Rika.
"Hmmm aku mencari keterangan lain di klasifikasi kan dari pegawai negeri milik Biro Onmyo dalam sistem ritsuryo Jepang kuno. Tidak semua orang bisa memiliki gelar ini. Kalau Chris punya berarti tandanya dia bukan pendeta sembarangan kan," kata Sisna.
Mereka memandangi pendeta tampan yang sedang memperhitungkan kemungkinan buruk.
Maaf ya Author pakai pemerannya karena suuuka sekali. Namun dalam cerita ini rambut Chris berwarna pirang bukan hitam.
"Ares juga sama tampannya," kata Fuji.
"Tapi bukankah agak gelap ya disini, lampunya bisa agak dibuat terang tidak?" Tanya Sani.
Mila dan Kei mengangkat salah satu alisnya menatap Sani.
"Hah? Kalau melakukan upacara pemanggilan, seharusnya kita menggunakan lilin. Tapi karena terbatas, Kami meminta pada Yoshi lampu yang agak redup. Hantu kan tidak suka cahaya," kata Mila keheranan.
"Maaf aku kan tidak tahu," kata Sani menunduk.
"Cari deh di internet kamu lihat saja bagaimana mereka membuat ruangan agak redup dan gelap," kata Sisna.
"Yang namanya Sisna menyebalkan sekali, tingkahnya seolah-olah dia yang paling dibutuhkan. Apalagi kelihatan dia mendekatkan diri pada Chris," bisik Sani pada Fuji dan Ara.
__ADS_1
Sisna memang beberapa kali kerap melakukan pendekatan, dan Chris hanya tertawa saja kadang menghindar juga.
Chris tidak terlalu tertarik pada perempuan untuk saat ini, dia masih mengemban tugas.
"Kalian perlu kamera lagi tidak? Siapa tahu ada yang ingin merekam?" Tanya Dani yang bosan diam.
"Wah, boleh juga tuh sekalian bisa kita dokumentasikan. Bagaimana Chris?" Tanya Mila.
"Oke kalau kamu tidak keberatan," kata Chris dengan wajah ramahnya.
Para wanita histeris menatap ketampanan Chris dan Sisna sebal sekali.
"Chris, lebih baik kamu tidak terlalu sering tersenyum apalagi menampakkan wajah ramah pada mereka," kata Sisna.
"Apa kamu bilang? Kamu cemburu ya," kata Sani dengan berani.
Chris hanya senyum. "Tidak apa-apa senyum itu kan sedekah. Kalau mereka sampai terpana berarti bagus kan," katanya berlalu.
Sisna hanya diam, Mila menahan tawa dan Rio menghela nafas, menggumam kan 'Dasar remaja'.
"Memangnya kamu siapanya pendeta? Kekasih juga bukan. Sepertinya bertepuk sebelah tangan ya," kata Ara dan Rika.
Sisna memalingkan wajah dan marah, duduk sambil memperhatikan Chris yang memang membuatnya jatuh hati.
Sayangnya Chris agak lemot dan tidak peka, kerja terus yang ada di pikirannya.
Kamera yang Dani ambilkan kemudian ditempatkan di sebelah pintu dan satu lagi di tempat mereka melakukan pemanggilan.
Setelah persiapan selesai, Rio meminta dua orang sebagai perwakilan setiap kelompok.
Tim satu: Ares dan Fuji.
Tim dua: Kei dan Iran.
Tim tiga: Yogi dan Tora.
Tim empat: Chris dan Sisna.
Mereka ber delapan berdiri membentuk lingkaran dengan saling berpegangan tangan.
Rio duduk di atas kursi sambil memegang sebuah pedang kayu. Sekitarnya terdapat kertas yang disusun rapi dan pulpen.
Mereka menyebutkan kalimat pembukaan untuk mengundang arwah sesuai biodata.
"Olive tidak dapat terpanggil karena rohnya sudah tidak ada," kata Rio sambil menutup mata.
Peserta lain hanya menonton dan sedih mengetahui Olive memang sudah tidak ada. Anita juga tidak disetujui oleh beberapa anggota, menurutnya tidak siap kalau memang benar Anita sudah tidak ada.
Alhasil, mereka akan memanggil para arwah yang berada di sekitar itu.
Ada sekelebat orang yang melesat melakukan sesuatu saat mereka memejamkan kedua mata.
Di lorong lain, Eris yang menuju aula menyadari pemanggilan arwah itu sudah di mulai.
Mereka tengah berlari karena sang zombie ternyata berusaha menangkap mereka.
Arae memandangi belakang, kedua mata zombie tersebut menyala namun tidak meneruskan lari.
Cahaya matahari menerobos memasuki sebagian lorong, dan zombie itu tertawa kemudian hilang.
"Dia sudah tidak mengejar," kata Arae lega.
Beberapa sinar bulat muncul di dekat mereka.
"Mereka telah memulai pemanggilan arwah. Yang datang roh pelayan tahun lalu. Arae, pergilah," kata Eris.
Arae mengangguk, "Hati-hati Eris, zombie itu kemungkinan masih mencari mangsa," katanya kemudian menghilang.
Eris menuju aula dan menyelinap masuk, sang duplikat menghilang menjadi asap.
Arae kembali ke dalam toko dan melepaskan salah satu pelayan yang dia tangkap kemarin.
Raven menyapanya kenapa dia baru terlihat, Arae menceritakan padanya dan dia sangat cemas.
Bersambung ...
__ADS_1