Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
3


__ADS_3

Sheila mengerjakan tugas matematika dengan susah payah meskipun tidak dia mengerti tentang hubungan X dan Y bisa menjadi XY. Setelah itu suhu kamarnya menurun, dan dia merasakan rasa dingin yang mencekam.


Dia merasa ada yang mengawasinya, terus memperhatikannya dari suatu sudut, dia tahu dari belakangnya.


"Apa ini? Ada yang mengawasi ku. Aku yakin tapi dimana? Siapa?" Pikir Sheila menatap sekelilingnya dan memeriksa. Dia hanya takut seseorang memasang CTV tersembunyi.


Saat dirasa hanya imajinasinya, dia melanjutkan lagi mengerjakan tugas sekolah. Lalu kakinya merasakan hembusan angin yang membuatnya keheranan.


Di bawahnya tentu saja hanya ada dinding kokoh yang tidak memiliki keretakan atau bolong. Karena penasaran Sheila mendongak melihat ke bawah untuk memeriksa.


"KYAAAAAA!!" Teriak Sheila sambil berdiri dan membuat kursinya terjatuh.


Sheila menutup mulutnya dan melihat dengan ngeri, sepasang kaki kecil berdiri dalam kolong meja belajarnya. Dia berjongkok menangis dan terus membacakan apapun yang terlintas dan yang dia ingat.


Lalu dia membuka kedua tangannya dan memeriksa, tidak ada! Dia membeku apakah karena efek terlalu fokus belajar?


Dia berjongkok kembali dengan pelan dan mencari.


"Tidak ada? Ini hanya perasaanku saja gara-gara terlalu memikirkan cerita di sekolah lalu ditambah cerita kak Anoko! Hah! Apa karena tugas matematika ini juga ya? Ah, sudahlah dilanjutkan besok lagi saja," pikir Sheila memutuskan.


Sheila menuju kasur dan mengalungkan selimutnya yang hangat. Malam itu membuat moodnya turun apalagi soal halusinasinya. Lampur kamar dibiarkannya menyala karena masih berdebar. Berharap ibu kos tidak marah.


"SHEILA MATIKAN LAMPUNYA!" Teriak Ibu kos yang membuat Sheila terpaksa mematikan. Sheila penasaran apakah ibu kosnya tidak lelah berkeliling memastikan setiap kamar.


"Yaa," jawab Sheila malas lalu masuk selimutnya.


Sheila berusaha menutup kedua matanya meski agak kesulitan. Suara angin malam seakan mengetuk jendelanya lalu tirai nya yang tiba-tiba terhempas.


Akhirnya dia bisa terbiasa juga dan tertidur selama 1 jam sampai akhirnya dia mengeluh dalam tidurnya.


"Uh...berat... siapa sih yang ada di atas?" Tanya Sheila menggeliat berusaha menyingkirkan.


Dengan kedua mata yang masih terpejam, dia memegang sebuah baju dan memeriksa. "Bu?" Tanyanya.

__ADS_1


Lalu dia teringat bahwa Ibunya berada di negara lain bersama adiknya jadi tidak mungkin... dia sadar kembali dirinya kan kini berada di asrama sekolah. Lalu tangannya dia tarik.


To..long..


Suara kecil itu terdengar lagi dia tengah berdiri di atas kaki Sheila dengan kedua kakinya yang kecil. Sheila kenal karena sepatunya sama dengan penampakan di bawah meja.


"AAAAAAA!!!" Teriak Sheila dengan suara yang lebih keras dari sebelumnya.


Teriakannya itu lagi-lagi membangunkan semua penghuni di gedung tempat Sheila berada.


"Ada apa lagi?"


"Kamar Sheila itu,"


"Lagi? Ini sudah keberapa kalinya kan," kata yang lainnya berbisik.


Ibu kos datang dengan bergegas. "KALIAN SEMUA TENANG! SHEILA! BUKA PINTUNYA!" Ibu kos menggedor pintu dengan cemas.


Sheila membuka kemudian menangis memeluk ibu kosnya. Para penghuni semakin ketakutan ada apakah di kamar 105 sebenarnya?


"Sudah tenang?" Tanya Ibu kos dengan cemas.


"Sedikit," kata Sheila mengusap air matanya.


"Ada apa lagi? Ceritakan," pinta ibu kos duduk dekatnya.


"Saat aku sedang belajar ada kaki kecil di bawa mejaku bu. Aku tidak bohong, lalu aku memutuskan untuk tidur saja selang beberapa jam, aku merasa seperti ada yang menindih ku," kata Sheila yerisak-isak.


Ibu kos menghela nafas. "Apa itu dengan anak kecil berusia 6 tahun?" Tanyanya.


"Iya sekitar segitu usianya dia seperti ingin mengatakan sesuatu kepadaku tapi alu tidak tahi karena suaranya tampak terputus-putus," kata Sheila meminum susu tersebut.


Ibu kos terdiam dan menarik nafas, lagi-lagi kamar itu membuat masalah. "Bagaimana ya saya disini pun baru menjadi pengurus. Saya juga mendengar gosip itu tapi ada juga beberapa orang yang tidak mengalami kejadian apapun. Jadi saya pikir itu hanyalah halusinasi. Kamar yang lain pun tidak ada yang aneh. Ya sudah kita lihat dulu saja keadaan ke depannya ya," katanya.

__ADS_1


"Tapi Bu, yang aku lihat itu kakinya saja di awalan lalu sekarang..." kata Sheila yang masih ketakutan.


"Lampu boleh tetap dinyalakan kalau ada apa-apa cepat hubungi saya ya," kata ibu kos mengantarkan Sheila ke kamarnya.


Akibatnya, Sheila sama sekali tidak bisa tidur dan terus memikirkan yang dikatakan oleh hantu anak kecil itu.


"Perasaan tidak enak itu sudah ada ketika aku pertama masuk ke kamar ini. Ternyata bukan karena bangunan yang usang tapi pasti ada sesuatu di kamar ini. Pasti!" Pikir Sheila mencari-cari.


Sampai pagi menjelang, kedua mata Sheila terus membuka dan dia menguap. Datang ke sekolah dengan perasaan kacau dan terus melamun. Angkasa yang dia sukai pun terlihat tidak begitu semangat.


"Guru Fisika tidak masuk," kata anak lain.


"HOREEEE!!" Teriak mereka semua.


"Kamu kenapa?" Tanya Erin yang dayang dengan Karin.


"Aku habis begadang gara-gara hari kemarin," kata Sheila menguap dengan lebar.


"Angkasa melihat kamu terus lho selama pelajaran," bisik Karin melirik ke arah lain.


Sheila menatap Angkasa yang kebetulan menatap dirinya dan saling memalingkan wajah. Lalu Sheila menceritakan semuanya dan mereka berdua berteriak histeris membuat yang lainnya memandangi mereka.


"Ternyata gosip itu benar!" Seru mereka senang.


"Lalu seperti apa hantu itu? Melayang?" Tanya Karin semangat.


"Bukannya bersimpati malah gembira. Aku ini ketakutan tahu justru yang keluar duluan itu kedua kakinya!" Kata Sheila cemberut.


"Cuma kaki!?" Tanya mereka berdua terkejut.


"Gara-gara itu aku sama sekali tidak bisa tidur semalaman. Lalu hantu itu juga menindih kakiku, jadi hari ini aku hanya ingin tidur sesaat saja," kata Sheila merebahkan kepalanya di atas meja dan tertidur.


Mereka berdua saling memandangi satu sama lainnya dan sejenak membiarkan Sheila tidur. Mereka berdua tidak menyangka bahwa kemajuan sepesat itu dan mengerikan.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2