
Ost. Outlaw Star - Hiru No Tsuki
...This is my Darkness...
...Nothing anyone says can console me......
...Despair and Hope......
...Light and Dark......
...Happy and Sad......
...Hard and Easy......
...Good and Evil......
...Fall and Rise......
...Near and Fall......
...Group and Invidual......
...It's better to hear your LIES...
...Than to hear the TRUTH...
Di sebuah gedung aula berkumpulah banyak peserta berusia 12 sampai 14 tahun yang merupakan calon penyanyi serta model iklan. Arae sudah tentu mengikuti juga audisi itu dengan tampilan manisnya. Sambil mencari pembeli dia membagikan kartu nama toko Eris.
"Kalian datang ya ke toko ini ada banyak sekali barang yang bisa kalian beli," katanya dengan riang.
Tentu mereka dengan senang hati menerimanya. Tidak lupa Arae memasang portal di sekitar tempatnya mengikuti audisi menyanyi.
"Baiklah, kalian semua bersiap!" Seru staf yang memasuki aula.
Mereka semua mulai menghentikan latihan dan bersiap untuk mementaskan bakat yang mereka miliki. Dengan memakai kacamata mencari level masalah yang ada pada para peserta, dapatlah oleh Arae ke satu anak yang tingkat percaya dirinya sangat rendah.
"Hai, kamu! Ayo semangat! Kenapa murung? Oh iya ini kartu nama toko aku, aku bekerja disini datang ya kalau kamu ada waktu luang," kata Arae dengan nada yang lembut dan ceria.
Anak perempuan itu menerimanya dan membacanya. "Zalaam? Di mana ini?" Tanyanya merasa aneh.
Arae tertawa tipis menatapnya. "Kalau kamu mau kesana, nanti aku antar. Kenapa kamu murung sekali? Yang lainnya bersemangat kok," katanya menunjuk ke semua peserta.
"Ini audisi yang ke dua belas kalinya tapi aku tidak yakin," kata anak itu agak lemah.
"Wah! Giat sekali ya kamu. Aku yang pertama kalinya. Kamu pilih apa?" Tanya Arae ingin tahu.
"Aku memilih menyanyi. Kamu?" Tanya anak itu dengan wajah murung.
"Aku akting. Ayo sama-sama berusaha juga ya," kata Arae menyemangatinya.
"Sawa! Apa dia datang?" Tanya staf.
"Ah, itu namaku!" Kata Sawa mengangkat tangannya lalu menunduk pada Arae.
"Ayo! Semangat!" Kata Arae ceria, Sawa lalu mengangguk dan dengan percaya diri memasuki aula pengujian.
Arae tersenyum lalu pergi ke dalam aula lain dan mengubah tampilannya dengan baju merah kesukaannya. Dia juga sudah siap memasuki aula pengujian akting.
Sawa menunjukkan kebolehannya, teman dekatnya juga ada di sana memberikan dukungan. Sawa bernyanyi dengan penuh penghayatan, para juri mendengarkan lalu memberikan nilai.
Sawa lalu datang kembali ke aula awal. Wajahnya sulit ditebak. Arae sudah lebih dulu kembali.
"Bagaimana?" Tanya Arae penasaran.
Sawa kaget dan termenung melihat kostum Arae yang berbeda dengan lainnya. "Aman," kata Sawa tersenyum.
Arae senyum dengan dingin ke arahnya tahu kalau sebenarnya Sawa tidak percaya diri. Sejam kemudian mereka semua sudah berdiri di panggung untuk mendengarkan hasilnya.
MC memasuki panggung sambil memegang mic dan secarik kertas.
"Pemenang audisi kali ini adalah... selamat kepada Arae! Peserta nomor 34!" Kata MC.
Arae tidak percaya, ini memang pertama kalinya dan dia senang bukan main. "Aku menang? KYAAAA!" Serunya senang sekali.
Arae menerima hadiah buket bunga mawar yang indah dan ikut terharu juga. Eris ada disana menghela nafas, lagi-lagi sahabatnya ikut hal yang selalu dilakukan oleh manusia.
__ADS_1
Setelah selesai, Sawa menemui Arae dengan agak murung tapi dia pasrah. "Selamat ya," katanya.
"Terima kasiiiih. Dengar ya, percaya diri itu sangat diperlukan. Kamu kurang percaya dengan diri kamu sendiri," kata Arae menepuk bahu Sawa.
"Iya, sepertinya begitu," kata Sawa lalu berjalan menuju pintu keluar.
Setelah dirasa aman, Eris muncul di sisinya. "Bisa-bisanya kamu menang," ucapnya dingin.
"Wah, Eris! Aku juga tidak tahu kamu kan tahu aku ikut hanya untuk mempromosikan toko. Lalu iseng aku juga mendaftar, sungguh! Bagaimana ini?" Tanya Arae bingung tapi senang sekali.
"Teruskan saja," kata Eris lalu pergi meninggalkan Arae yang bahagia.
Arae lalu dibawa pergi oleh produser untuk memulai debut pekerjaannya, tentu saja Arae senang. Dari kejauhan Sawa melihat Arae dan orang-orang.
"Lagi-lagi aku kalah dengan orang yang baru pertama ikut audisi," pikir Sawa murung.
Dia lalu berganti baju dan keluar gedung disambut oleh sahabatnya.
"Jangan murung. Ayo aku traktir es krim," kata sahabatnya mengedipkan sebelah matanya.
"Oke," jawab Sawa tersenyum. Hanya sahabatnya lah yang tahu bagaimana membuatnya kembali ceria.
Dalam kedai es krim, mereka mengobrol soal audisi dan sahabatnya justru merasa aneh karena Arae yang baru ikut bisa menang telak.
"Dia percaya diri sekali sih apalagi manis juga. Coba kalau kamu lihat kostumnya, agak berani dia," kata Sawa yang menyendok es krimnya ke dalam mulut.
"Dia anak SMP?" Tanya sahabatnya.
Sawa terdiam. "Aku lupa menanyakannya tapi pasti usianya sama dengan kita," katanya berpikir.
"Anak SMP memakai kostum begitu terbuka? Aku lihat kok sewaktu dia di uji tapi kesannya aneh," kata sahabatnya memakan es krim yang banyak.
"Kenapa?" Tanya Sawa memandangi sahabatnya.
"Benar-benar aneh! Padahal dibandingkan dengan peserta 34, kamu yang lebih cantik!" Kata sahabatnya tidak menerima kekalahan teman dekatnya.
Sawa tertawa dan dia tampak malu sekali karena semua orang memandangi mereka berdua. "Sudahlah. Dia memang manis dan cantik juga. Maaf ya membuatmu malu,"
"Karena apa? Kenapa aku sampai harus malu?" Tanya sahabatnya merasa aneh.
"Hei! Jangan begitu! Aku ini sahabat kamu, hal seperti ini tidak perlu sampai kamu pikirkan. Aku akan selalu mendukung kamu kok," katanya sambil memeluk Sawa.
"Terima kasih," kata Sawa menangis dalam pelukannya.
"Sudah ah jangan menangis. Kamu pikir deh kita ini sudah bersahabat selama beberapa tahun? Sejak kecil lho! Lebih baik kamu terus semangat dan berusaha lebih keras lagi!" Kata Yuri dengan semangat dan memesan es krim lagi untuk Sawa.
"Baik!" Semangat Sawa naik dan kedua matanya mengecil melihat pesanan besar dari Yuri.
"Ayo dimakan," kata Yuri tertawa.
"Kamu ingin buat aku gendut ya? Ini sih sama saja kamu memberi kode supaya aku kalah," kata Sawa melirik Yuri.
Mereka bertengkar sambil Sawa membagikan es krimnya pada mangkok Yuri. Lalu tertawa bersama.
Hanya dengan mendengar kata-kata sahabatnya itu bisa membuatnya kembali ceria. Yuri adalah sahabat Sawa sejak kecil, yang paling memperhatikannya dan lebih mengerti.
Keluarga Sawa adalah penjual Cilok Goang yang terkenal di wilayahnya. Cita-citanya yang ingin menjadi penyanyi atau model iklan dan juga akting sudah pernah dia lakukan sejak usia enam tahun. Dan di usia 12 tahun ini dia ingin lebih fokus ke cita-citanya.
"Aku pulaaaang," kata Sawa memasuki rumah sebelah tokonya. Dia melepaskan sepatunya dan berjalan sedih ke arah kamar.
Baru mau memasuki kamarnya, tiba-tiba ibunya mengeluarkan kepala dari jendela sebelah. "Untunglah kamu sudah pulang, ini ada pesanan cilok. Tolong antarkan ya sudah Ibu selipkan juga alamatnya. Ayah sudah menyimpannya di keranjang sepeda mu," katanya lalu masuk ke tokonya.
Sawa kesal seubun-ubun, dia baru ingat kalau rumahnya berdempetan dengan toko cilok milik orang tuanya. Sawa membuka jendela toko dimana ibunya tengah membuat saos.
"Bu, buka lowongan kek! Masa aku terus mengantarkan cilok sih?! Ada kan kakak atau adik," kata Sawa marah.
Ibunya lalu membuka jendela suara keras Sawa tentu saja membuat kedua orang tuanya agak kesal. "Kakak kamu mau ada ujian di kampusnya, adik kamu juga sedang belajar. Sudah jangan banyak mengomel, untuk uang audisi saja kan itu memakai uang toko. CEPAT ANTARKAN!" Teriak ibunya lalu menutup jendela.
"Aku kan ingin menikmati masa mudaaaaaaa!!" Teriak Sawa namun ibunya menutup lagi pembungkus jendela.
Ayahnya masuk ke dalam rumah, mengerti kalau selama ini memang Sawa sendiri yang terus disuruh mengantarkan pesanan.
"Mau bagaimana lagi? Uangnya masih kurang kita kan jualan ciloknya juga pas-pasan," kata Ayahnya mengambil baskom.
"Ayah, aku juga ingin menikmati masa SMPku. Teman-temanku bisa bepergian bersama pacar atau teman, masa aku harus terus mengantarkan pesanan sepanjang hari? Tori juga tidak sedang belajar kok, aku yakin dia sedang main PlayStation," kata Sawa mengomel.
"Benarkah?" Tanya Ayahnya lalu memeriksa. Dan benar saja anak paling bungsu sama sekali tidak belajar dan Ayahnya menyuruh adiknya membantu di toko.
__ADS_1
"Kakak!" Kata Tori kesal akhirnya ketahuan juga.
"Rasakan! Toko kita kan sudah lumayan terkenal di wilayah ini, Yah. Pelit sekali soh Ibu!" Kata Sawa yang memakan cemilan di dapur.
"Tadinya memang kita ada maksud membuka lowongan tapi kan uangnya terpakai untuk audisi kamu! Lalu kamu juga memaksa untuk berlatih vokal. Kapan kamu menang? Sudah gagal 12x kan, menyerah sajalah. Ayo, kamu bantu di toko!" Kata Ayah menyeret Tori.
"Jangan salah ya aku akan terkenal nanti. Aku tidak akan tinggal disini lagi!" Kata Sawa mengatakan pada Ayahnya.
Ayah ya mengacungkan jempol tapi tidak dengan adiknya yang kesal diseret ke toko. Sawa menjulurkan lidah ke adiknya lalu memasuki kamarnya.
Dilihatnya kakaknya memang sedang belajar giat. "Enak sekali. Kakak sejak masuk kuliah sama sekali tidak pernah membantu di toko. Hahh kapan aku bisa terkenal ya?" Pikir Sawa mengganti baju dengan santai lalu menuju sepedanya.
Sawa mengayuh sepedanya dan membaca alamat yang audah ditulis disana. Ternyata pesanan itu mengarah ke rumah Nyx, ah kalau rumah itu sih Sawa tahu.
"CILOOOOOOKKKK!!!!" Teriak Sawa sekuat tenaga.
"IYAAAAAAA!!!" Teriak Nyx yang berlari dengan kilat menuju gerbang depan.
"Wah, Kak Jungkook toh yang pesan. Banyak sekali," kata Sawa mengambilkan dengan dibantu oleh Nyx.
"Jungkook Jungkook, aku Nyx tahu!! Ada teman. Mau masuk dulu?" Tanya Nyx yang mencubit pipi Sawa karena sebal.
Terdengar lagu BTS yang agak hip-hop dan mendengarkan gerakan hempasan kaki dari emaknya Nyx yang lincah.
"Aduh, tidak sepertinya. Sekali masuk, susah keluar. Nih mangkuk lainnya. Semuanya Rp 70.000," kata Sawa sambil memberikan bon nya.
Nyx sudah menyiapkan uang untuk cilok dan mengeluarkan seratus ribu. "Nih sekalian tip untuk kamu jajan, jangan cemberut mulu. Audisi gagal kan sudah biasa HAHAHAHA!!"
"Dasar! Makasih kak. Asyiiiik. Emak lagi apa?" Tanya Sawa penasaran. Guncangan kaki kembali terasa.
"Noh. Terasa kan guncangannya?" Tanya Nyx mencomot beberapa cilok.
Emak Nyx sedang berlatih joget hip hop ala Jhope, anak perempuannya tidak mau kalah dan membuat emaknya kalah.
"Aih..." kata Sawa tertawa melihat gerakan Emaknya.
"Kamu audisi lagi?" Tanya Nyx yang menatap Sawa.
"Iya," jawabnya tertawa melihat gerakan emaknya Nyx.
"Terus?" Tanya Nyx sambil makan.
"Gagal," jawab Sawa mengantongi uang itu.
"Alhamdulillah, sabar ya hehehe," kata Nyx lalu kabur ngibrit ke dalam rumah sebelum Sawa melemparkan sendalnya.
"Aku pulang ya," kata Sawa mengayuh sepedanya.
"Siap!" Teriak Nyx lalu mengunci pintunya menuju kamar.
Saat berbalik, Aiolos baru saja turun untuk membantu Nyx yang kewalahan membawa sebaskom cilok.
"Wah, tampaknya enak sekali," sambut Aiolos menatap si botak yang kenyal-kenyal.
"Tentu saja cilok ini terkenal lho di wilayah ini. Makan di atas yuk, disini berisik," kata Nyx melirik emak dan adiknya.
Emak tentu saja menangkap aroma harum dari cilok tersebut dan mencari si pemilik. "Sawa mana?" Tanyanya melihat ke jendela.
"Sudah pulang. Yuk," kata Nyx yang bermaksud kabur.
"Kok kamu usir sih? Suruh masuk napa? Suaranya merdu lho," kata Emak menatap anaknya sebal.
"Yaelah, Mak. Memangnya dia makanan? Dia takut masuk karena Emak katanya kalau sudah masuk susah keluar. Mirip kalau Emak sakit perut, susah keluar kan dari kamar mandi," kata Nyx tertawa keras.
Emaknya lalu memukulkan gambar tangan yang besar pada kepala Nyx. "Sontoloyo kamu nih. Memangnya Emak mu ini penyebab dia sulit keluar rumah? Eh, itu cilok dari toko dia kan. Sini sini emak mau," katanya bergegas masuk dapur.
"Adek juga mau," kata adiknya yang perempuan menyusul ke dapur.
"Oraaaa ini pakai uang aku sendiri. Buruan ke atas," kata Nyx langsung lari menuju lantai dua.
Aiolos pun langsung kabur ke atas duluan sambil membawa baskom itu. Emak Nyx keluar dan hampir memukulnya namun adiknya menghalangi.
"Mak, kita beli saja yok. Pesta di sana sekalian," kata anaknya yang kedua.
Akhirnya mereka menuju toko Sawa dan berpesta ala Korea disana. Sudah tentu Sawa tertawa terbahak-bahak.
Bersambung ...
__ADS_1