
"Aneh, jelas-jelas tadi boneka ini terluka. Kalian juga melihatnya dia mengeluarkan setetes darah kan?" Tanya Naoko pada teman-temannya.
Mereka semua mengangguk.
"Lebih baik kamu beli boneka yang normal saja deh, Nao. Ini kan masih banyak yang lebih bagus dan baik-baik saja," tunjuk Mina ke boneka antik lainnya.
"Tapi aku penasaran dengan yang ini. Sedikit lagi saja," kata Naoko kembali membuka penutup mata boneka tersebut.
"Kalau aku jadi kamu, aku tidak akan pernah membuka kotak kaca itu meski penasaran," ucap Eris tiba-tiba berdiri di belakang mereka semua.
"YA TUHAN!" Teriak mereka semua kaget memegang dada masing-masing.
Eris terdiam meskipun mereka menyembunyikan boneka itu keluar dari kacanya. Tapi akhirnya Sui berikan boneka itu kepada Eris.
"Maaf, habisnya kami penasaran karena berbeda dengan yang lainnya," kata Sui memandang Eris.
"Anak ini sangat nakal itulah kenapa saya memasukkannya ke dalam kotak kaca. Boneka lain sangat ketakutan. Boneka ini harus tetap dalam kotaknya kalau kalian tidak ingin terancam. Jangan pernah membukanya lagi dan biarkan penutup mata itu tetap begitu," kata Eris.
"Aneh sekali tidak? Dia bilang 'Anak'?" Bisik Sayoko pada yang lainnya.
"Tolong maafkan kami! Kami pikir boneka ini tidak seharusnya terpisah sendiri," kata Kaoru menjelaskan. Tapi karena sudah diberitahukan ya mereka terpaksa menurutinya meskipun sangat aneh.
Eris berlalu tidak memberikan penjelasan lagi namun saat berjalan dia tersenyum jahat.
"Wah, dingin sekali anak itu. Toko ini punya dia?" Tanya Sui melongo.
"Apa kubilang kan jangan seenaknya," kata Kaoru marah pada Naoko.
"Paaakeeet!" Teriak Arae dari luar toko sambil tertawa.
Eris berjalan lalu keluar dan melihat Arae tertawa jahil. "Biarkan saja mereka membuka penutupnya, manusia kadang tidak pernah mau menurut apa yang sudah dilarang. Biar mereka mengerti betapa seramnya anak itu," kata Arae tertawa.
"Benar juga hihihi," kata Eris menunggu.
Karena Naoko masih sangat penasaran tanpa temannya sadari, akhirnya dia berhasil melepaskan penutup mata boneka.
"Berhasil! Lihat lihat, kedua matanya normal kok," kata Naoko tertawa jahil.
"Ya ampun! Bagaimana kalau ketahuan lagi? Kamu ini!" Kata Sayoko kesal.
"Tapi memang sih biasa saja lalu kenapa ditutup ya?" Tanya Mina dan Sui.
Kaoru dan Sayoko merasa merinding memandanginya.
"Naoko, tutup lagi. Cepat! Aku merinding nih," kata Sayoko.
"Duh, penakut sekali sih. Iya aku tutup nih," kata Naoko akhirnya.
"Kita harus menemui anak yang tadi lagi apa boleh kita datang lagi kesini. Waktu kita disini tidak banyak kan," kata Sui melihat jam tangannya.
"Tentu kalian boleh datang kemari lagi," kata Eris.
"Hahh kapan kamu masuknya?" Tanya Sui penasaran.
__ADS_1
"Aku lihat kok tadi dia baru masuk. Kalian saja yang terlalu fokus," kata Mina.
Mereka semua mengangguk, Naoko menatap boneka tadi sudah kembali dia rapihkan lagi dan dimasukkan ke dalam kotak kaca. Tanpa mereka ketahui, boneka itu tersenyum.
Diluar toko, bahasa mereka kembali menjadi Jepang lagi dan mereka terkejut. Semuanya berpendapat toko itu sangat misterius membuat banyak pengalaman terutama bahasa mereka.
Mereka semua ternyata sedang menjalani karyawisata tugas sekolah yang menugaskan membuat kelompok untuk membuat laporan sejarah. Kalau laporan ada yang paling bagus mengangkat temanya, kelompok akan mendapatkan hadiah dari Kepala Sekolah.
Mereka berenam menginap di sebuah penginapan, kembalinya dari toko mereka semua berganti baju lalu mengikuti kegiatan dari arahan guru masing-masing kelompok.
Dalam kamar yang berisi tujuh tempat tidur bertingkat, satu kasur berada di bawah.
"Subete ga iesu ni doi suru ( Kalau begitu semuanya setuju ya )," kata Kaoru sebagai ketua kelompok.
Mereka semua mengangguk. Tema laporan mereka akan dibuat judul "Boneka Antik", mereka juga ditugaskan secara berbeda ada yang harus mencari sejarahnya, perbedaan boneka antik jaman dulu dan sekarang, mengumpulkan foto dari internet dan dari kamera manual, yang bertugas mengetikkan narasi, dan masih banyak lagi.
"Ashita wa sono mise ni modotte, Naoko wa oboete imasu! ( Besok kita kembali lagi ke toko itu dan Naoko ingat! )," kata Kaoru memperingatkan Naoko yang sama sekali tidak peduli akan keselamatan teman grupnya.
"Moichido hako o hirakenaide kudasai! Rikai suru! ( Jangan pernah membuka kotaknya lagi! Mengerti )!" Kata Sayoko dan Mina.
Naoko yang mendengarnya tertunduk kesal, kan hanya dia yang penasaran kenapa semua orang memarahinya. Kalau tidak suka kenapa mereka tidak pergi saja tadi itu.
"Watashi to Sayoko wa hijo ni hazukashi to shokku o uketa toki ni sore o aite kyatchi shimasu ( Aku dan Sayoko sudah cukup malu dan terkejut sewaktu kamu ketahuan akan membukanya )," kata Kaoru dengan kesal.
"Saiwai ni mo shonen wa okotte imasen ( Untunglah anak itu tidak marah )," kata Sui lega.
Mereka semua tahu Naoko memang sulit diperingatkan, karena itu juga banyak yang tidak mau satu grup dengannya. Tidak bisa memikirkan perasaan orang saat melakukan sesuatu. Tadi saja dia masih terus berusaha membuka padahal Eris sudah memperingatkan akan bahayanya.
"Kono shonen wa kono basho kara kite inai yoda ne ( Anak itu sepertinya bukan berasal dari tempat ini ya )," Kata Mina sambil memakan cemilannya.
"Watashitachi no kuni de shiroi kami no hito ga mo kimyode wa nai ni shite mo, kanojo no me wa sore de, kanojo no kaminokedesu ( Kedua matanya kosong lalu rambutnya meskipun di negara kita irang dengan rambut putih sudah bukan hal yang aneh lagi )," kata Naoko angkat suara.
Pintu kamar mereka diketuk seorang pengawas mengatakan sebentar lagi makan malam dan mereka harus ke aula untuk makan bersama. Mereka mengangguk akan ke sana bersama-sama lalu pintu ditutup kembali.
"Watashi wa kare ga totatsu funona basho kara kite iru to kanjimashita ( Aku hanya merasa dia berasal dari suatu tempat yang tidak bisa dijangkau )," kata Kaoru memakan nori pedas.
"Anata wa doomoimasuka? ( Bagaimana menurutmu )?" Tanya Mina pada Sayoko yang terdiam menyimak semua temannya.
Sayoko mengangkat kedua tangannya ke atas dan merenggangkan punggungnya.
"A, shiranai ( Ah, aku tidak tahu ). Watashi wa kanari kowakattashi, shokku o ukete shinimashita ( Aku sudah cukup takut dan terkejut setengah mati tadi )," kata Sayoko yang rebahan sebentar di atas lantai.
"Watashi wa moichido yarimasen! ( Aku tidak akan melakukannya lagi )!" Seru Naoko meminta maaf pada semuanya. Sampai mereka semua benar-benar memaafkannya dan Naoko sadar sudah banyak membahayakan mereka.
Pukul enam malam mereka kemudian mendatangi aula untuk makan malam bersama. Suasana di aula sangat hiruk pikuk, mereka bercanda, menjahili temannya ada juga yang fokus menikmati makan malam.
Kelompok Kaoru sudah tentu sama hebohnya saat sedang makan, datanglah teman mereka bersama guru pembimbing. Guru tersebut menyebutkan bahwa kamar mereka dan grup kurang satu orang.
"Kyo kara anata wa karera no gurupu ni sankashimasu ( Mulai hari ini kamu akan bergabung dengan grup mereka )," kata Guru pembimbing.
Grup Kaoru menyimak, mereka kenal siapa murid yang dibawa guru. Sebagian ada yang tidak menyukainya.
"Hai, okusama sensei ( Iya, Bu guru )," kata Kaoru, Mina, Sayoko, dan Sui bersamaan.
__ADS_1
Sedangkan Naoko dan Rei tidak merespon karena mereka memiliki masalah dengan Erika. Erika adalah murid dari kelas lain dan kabarnya sangat angkuh. Kenapa juga harus kelompok mereka yang kena?
"Kanojo no namae wa Erika desu. Guzen ni mo, kanojo wa 2-kakan shika taizai shite inainode, kono firudotorippu ni wa mada gurupu ga imasen ( Namanya Erika kebetulan dia baru masuk dua hari jadi di karyawisata ini masih belum mendapat grup )," jelas guru tersebut.
Erika lalu duduk bergabung makan dengan mereka berenam. Dia duduk sebelah Sayoko dan mereka saling bergeser memberikan banyak ruang untuk Erika.
Erika duduk dengan kedua kaki bak seorang putri membuat yang lainnya mendelik kan kedua matanya.
"A, ma, watashitachiha tashikani 1-ri sukunai hitodesu yoi ( Oh, baiklah kita memang kurang satu orang lagi )," kata Kaoru memandangi gurunya dengan senyum.
"Erika, kaban to heya to gurupu o motte kimasu ne ( Erika, kamu nanti bawa tasnya dan satu kamar dan satu grup dengan mereka ya )," kata guru itu lalu pergi.
Sambil makan Erika mengobrol dengan teman barunya. Dia juga agak kurang nyaman dengan mereka karena bukan satu kelas tapi mau bagaimana lagi.
"Ne, anata ga gurupu ni hairu koto wa dekimasu ka? ( Hei, boleh kan aku masuk ke dalam kelompok kalian )?" Tanya Erika.
Mereka semua mengangguk. Mereka tidak mau terlalu banyak bicara dengan Erika karena sekali bicara, nadanya akan tinggi dan mengejek. Sudah banyak yang kena dengannya.
"Ma, ureshii Anata wa tema o tsukutta nodesu ka? Sorehanandesuka? ( Wah, senangnya! Lalu kalian sufah membuat tema? Apa itu )?" Tanya Erika sambil makan.
"Ningyo tema ( Tema kami tentang Boneka )," jawab Sayoko.
Erika melongo. Dari kesekian banyaknya judul kenapa harus boneka? "Ningyo? Naze? Naze hokanohito wa inai no? Watashi wa sore ga taikutsuda to omou? ( Boneka? Kenapa? Kenapa tidak tentang yang lain? Menurutku itu membosankan )!" Kata Erika dengan nada meremehkan.
Inilah yang akan terjadi kalau tuh anak masuk kelompok siapa saja. Bukannya menerima membuat anggota kelompok lain bete. Fan suaranya sengaja ditinggikan, beberapa kelompok lain memandangi grup Kaoru.
"Anata ga doi shinainara, sudeni hai! Anata no iken ni doi suru betsu no gurupu o kensaku suru dakedesu ( kalau kamu tidak setuju, ya sudah! Cari saja kelompok lain yang setuju dengan pendapat kamu )," kata Naoko kesal.
"Tonikaku watashitachi no gurupu ni sanka subeki riyu wa? Anata ga kashikoinara, anata wa itsumo itu ( Kenapa harus ikut kelompok kita sih? Kamu selalu bilang, kalau kamu itu pintar )," kata Rei yang juga bete.
Sayoko berusaha menenangkan mereka berdua meski memang aneh padahal banyak kelompok yang kekurangan anggota, lantas kenapa mereka yang dipilih oleh pembimbing?
Erika hanya diam mendengarkan ocehan Naoko dan Rei yang memang kesannya aneh saja dia malah memilih kelompok Kaoru. Ada angin apa coba. Kelas mereka berseteru dengan kelas sebelah eh sekarang harus menerima satu dari murid kelas sana.
"Naze sumatona hitobito no gurupu ni hairu koto wa arimasen ka? ( Jadi kenapa tidak masuk ke dalam kelompok yang isinya orang-orang pintar )?" Tanya Naoko lagi memandang menantang pada Erika.
Sisanya hanya menyimak saja daripada berakhir kacau sesi makan malam ini.
"Heibon'na no dake o motte iru watashitachi to itsu no gurupu o mutsu yori mo? ( Daripada harus satu kelompok dengan kami yang hanya punya otak pas-pasan )?" Tanya Rei.
Erika memainkan salad nya, mendengar celotehan mereka berdua.
"Hoka no yujin wa dare mo watashi o ukeiremasen ( Teman-teman yang lain tidak ada yang mau menerimaku )," kata Erika dengan pandangan sedih yang masih memainkan makanannya.
Mereka semua terdiam. Ternyata teman di sekitarnya adalah palsu, mereka hanya ingin tidak dipandang rendah dan bergabung dengannya. Tapi saat dia sakit 2 hari, semua berubah apalagi saat karyawisata dimulai. Tidak ada satupun temannya yang memberitahukan perihal kelompok.
"Kesshite shinpai shiranai ( Sudah sudahlah, Naoko ). Anata ga deru toki ni doi shinainara, hai ( Iya kalau kamu tidak setuju kamu bisa keluar kok )," kata Kaoru menengahi.
Erika terdiam, suasana di kelas dengan kelas Kaoru sangat berbeda. Itulah kenapa dia sengaja menunjuk masuk ke kelompoknya, dari jauh dia selalu memandangi mereka semua. Tertawa dan bebas melakukan yang mereka sukai tanpa ada ocehan lain.
"Sudeni arasoimasen ( Sudah jangan bertengkar )," kata Mina menepuk bahu Rei dan Naoko yang panas.
"Atode sore ga kikoeru to, watashitachiha ikatteiru paku kyoshi o erudeshou ( Nanti kalau terdengar, kita akan kena marah Pak Guru kan )," kata Sayoko mengingatkan.
__ADS_1
Mereka semua memandangi guru yang tampak berbisik ke arah grup mereka. Erika juga menyadarinya apalagi dari kelasnya juga tengah membicarakannya.
Bersambung ...