
"Nak, gelembungnya..." kata Papanya tidak percaya.
"Ya Tuhan! Sabun itu mujarab, Ma, Pa! Gelembungnya mengecil!" Kata Sia tertawa gembira padahal dirinya baru memakainya sehari ini.
"Teruskan sayang, Papa yakin kamu akan sembuh. Kamu masih punya sabun nya? Papa akan beri banyak uang lebih baik kamu beli sebanyak mungkin," kata Papanya mengeluarkan kartu kredit.
"Tidak bisa, Pa. Sia hanya diberi satu buah sampai bentuknya mengecil serta bubuk garam hitam ini unyuk ditaruh depan kamar," kata Sia memperlihatkan botol bubuk itu
Papanya mengambil dan keheranan. "Untuk apa ini?" Tanyanya.
"Katanya ada yang mengirim kutukan ke aku makanya semua penyakit ini tidak bisa disembuhkan," kata Sia memperlihatkan semuanya.
"Astaga!" Pekik Mamanya tidak menyangka.
"Hmmm ada kemungkinan garam ini dimaksudkan untuk menghilangkan kutukan itu tapi siapa yang tega melakukannya?" Tanya Papanya. Bubuk garam itu berisikan sesuatu yang berkilauan.
"Iya, Pa tapi pasti lama untuk sembuhnya," kata Sia dirinya sudah gembira dari rasa sakit itu ternyata tumbuh kegembiraan.
"Tentu saja sayang, obat itu pasti bertahap efeknya. Kalau menurutmu sabun itu aman dan terbukti kulitmu bisa kembali seperti semula, teruskan saja sampai kulitmu kembali sehat," kata Mamanya yang masih belum bisa menyentuh putri satu-satunya itu.
Setidaknya gelembung itu sudah tidak terlihat begitu menjijikkan, yang mengirim kutukan pun pasti akan kecewa saat nanti melihat dirinya kembali pulih.
"Urusan sekolahmu biar Papa yang urus, bagaimana kalai kita pindah saja ke luar negeri?" Tanya Papanya memberikan selebaran sekolah ternama.
"Jangan, aku tidak mau pindah ke sekolah manapun Pa. Aku harus menemukan pelakunya siapa yang mengirimkan kutukan. Lagipula disana ada sahabatku satu-satunya, aku tidak mau meninggalkannya. Besok aku akan bersekolah tentunya memakai perban," kata Sia masih sedih.
"Bersabarlah, Mama simpan kue mu di meja belajar ya," kata Mamanya.
"Iya belum sembuh total, apa boleh buat," kata Papanya secercah kegembiraan melihat perkembangan penyakit putrinya kian menunjukkan jalan.
Setelah mereka berdua pergi ke lantai bawah, Sia berjalan perlahan untuk mengambil kue kesukaannya dan dia duduk dengan pelan di kasurnya. Dia memandangi jam dinding kamarnya 2 jam kemudian dia harus mandi lagi dan menyiapkan 1 handuk saja.
Di bawah, mereka mendengar rintihan tangisan putri mereka. Papa dan Mamanya masih terus berusaha.
"Meski sabun itu memang membantunya tapi kita tetap harus mencari dokter lain yang bisa memulihkannya," kata Mamanya jelas cemas.
"Iya Ma, Papa juga tidak tahan kalau Ambrosia terus menerus seperti ini. Dia pasti sedang menahan rasa perihnya. Papa akan mencari koneksi untuk dokter di luar negeri," katanya menggenggam erat tangan istrinya itu.
"Sekarang mau tidak mau kita harus percayakan sepenuhnya pada sabun yang Sia dapatkan. Untuk saat ini kita lihat perkembangannya," kata Mamanya.
Besok paginya di sekolah SMP, Ambrosia benar masuk sekolah dengan seluruh tubuh yang masih memakai perban. Semua murid menertawakannya sebagian ada juga yang sudah terbiasa dan mereka menyapanya dengan biasa.
Datang menuju kelasnya dalam lorong kelas banyak murid yang membicarakannya secara jelas.
"Wah wah, bintang tamu kita datang ke sekolah juga setelah empat hari berturut-turut tidak masuk. Hei, Mummy selama empat hari kemana saja kamu?" Tanya salah satu murid sambil tertawa.
Sia hanya jalan dengan cueknya sambil menyeret pelan kedua kakinya dengan tongkat jalan.
"Eh, aku penasaran deh ingin sekali melihat seluruh tubuhnya dibalik perban itu," kata A berbisik.
"Jangan deh kata anak sebelah seluruh tubuhnya dipenuhi dengan gelembung kecil menjijikkan. Gelembung itu ada yang meledak tapi anehnya muncul lagi," kata yang lain membuat temannya merinding.
Sia berhenti jalan. Siapa yang sudah menyebarkannya? "Hei, kalian siapa yang bilang kalau aku punya gelembung menjijikkan?" Tanyanya kembali ke kelompok tadi.
__ADS_1
"Ada tuh yang bilang aku tidak tahu siapa. Ini juga kabarnya dapat entah dari mana," kata anak itu menghindari Sia.
"Jadi kabar itu benar ya? Makanya kamu pakai perban setiap hari?" Tanya yang lain.
"Kenapa aku gunakan perban selama ini bukan karena itu tapi aku mengalami kecelakaan. Kalian senang sekali ya memakan kabar palsu sama dengan tampang kalian yang palsu," kata Sia berbalik berjalan menuju kelasnya.
"Hah, jadi itu bohong? Bagaimana sih kamu yang menerima kabarnya?" Tanyanya pada temannya.
"Huh! Siapa sih yang menyebarkannya? Tunggu yang tahu soal ini kan hanya Sehan dan Adelia. Masa sih mereka berdua menyebarkannya? Sehan meski dia musuhku, tidak pernah suka dengan perbuatan kotor. Adelia kah? Tapi kenapa?" Dalam hatinya.
Saat Sia sudah menjauh,mereka masih membicarakannya.
"Tapi kamu pernah tidak mencium bau sesuatu dari badannya?" Tanya B.
"Pernah pernah bau amis dan busuk kan. Awal aku kira karena periode aku tapi bukan," kata C.
"Intinya mungkin dia pernah melakukan sesuatu disamping banyak mengejek anak-anak," kata D.
"Mungkin itu hukuman karena dia selalu memamerkan apapun yang dia miliki. Ya, memang sih dia berbeda tidak seperti kita-kita yang hidupnya sederhana," bisik yang lain lalu mereka setuju.
Kelasnya masih sepi, dia masuk melihat kursinya yang masih sama lalu menaruh tas dan menyenderkan tongkatnya di belakang kursinya. Saat itu, Aegis taksiran Sia terlihat sedang berolahraga dengan teman-temannya.
Semenit kemudian pintu kelas bergeser dan masuklah teman yang duduk dekat dengannya.
"Hai, bagaimana kabarmu, Sia? Empat hari kami tidak masuk, semuanya menanyakan kabarmu. Maaf ya aku tidak bisa menengokmu. Bagaimana keadaan luka-lukamu? Oh iya aku akan membantumu menjalani kehidupan sekolah. Boleh kan," kata Adelia yang mendekatinya.
Dia duduk di depan Sia. Adelia adalah teman sekelasnya tapi Sia selalu seakan jaga jarak bukan karena berbeda status. Sejak kenal pun terlihat sekali kalau Adelia memaksakan pertemanan kepadanya.
"Tidak perlu. Aku bisa sendiri. Jangan cemas aku sudah menemukan obat yang ampuh untuk penyakitku dan memar ini. Jadi kamu tidak usah repot mau menolong," kata Sia dengan jutek.
"Obat ampuh? Ah ya untuk gelembung itu kan," kata Adelia membalikkan badan.
Sia melihat wajahnya yang agak kecewa. "Oh iya sebelum masuk kelas aku mendengar kabar yang tidak enak," katanya.
"Apa itu?" Tanya Adelia.
"Kabarnya ada anak yang memberitahukan seluruh isi sekolah mengenai sakitku. Soal gelembung. Apa kamu tahu soal itu?" Tanya Sia melipatkan kedua tangannya.
Adelia berhenti tersenyum lalu senyum tipis. "Mungkin Sehan yang sebarkan. Dia kan juga tahu soal kesakitan kamu," katanya senyum kecut.
"Oh ya? Dia yang pertama tahu dan kamu mencuri dengar," kata Sia memandangi Adelia.
"Aku tidak begitu sama kamu. Aku kan sudah bilang saat itu tidak sengaja aku mendengar apa yang kalian katakan," kata Adelia menggigit bibir bawahnya.
"Oh," kata Sia dengan datar dan memandangi luar jendela lagi.
Adelia agak gugup. "Kamu dan Sehan kan musuhan, bisa jadi kan agar kamu kesannya jelek dia menyebarkan hal yang dia tahu," katanya meyakinkan.
"Dia memang musuhku tapi tidak pernah menggunakan cara kotor untuk menjatuhkan ku. Berbeda dengan kamu," kata Sia tidak memperhatikannya.
Adelia terdiam, masih memandangi Sia dengan kedua matanya yang dia buat simpati. Saat teman-teman lain masuk, dia berusaha membuat mereka simpati padanya.
"Aku hanya ingin membantumu sebagai penebusan ku waktu itu. Sungguh," kata Adelia.
__ADS_1
Sia hanya diam saja. Kecelakaan yang dia terima adalah hasil rekayasa Adelia yang membuatnya memiliki luka lebam.
"Kamu memfitnahku sebagai tukang rundung dan teman-teman kelas lain memukulku. Dan mereka sengaja menabrak ku dengan troli bangunan. Lalu menyebarkan cerita lain, apa sih dendam kamu sama aku? Soal aku yang mengejek kamu juga itu tidak benar," kata Sia yang tidak mau memandanginya lagi.
Adelia menundukkan wajahnya, sejak itu semuanya berubah. Sehan mendatangi Aegis lalu mereka tampaknya saking mengejek sesamanya. Terlihat Aegis yang menjitak kepala Sehan lalu dikejar.
"Ini aku membuat daftar obat yang bisa menyembuhkan lukamu, coba deh," kata Adelia sengaja mengeraskan suaranya.
Masih tidak memandanginya, Sia hanya melihat Sehan dan Aegis. "Itu semua tidak berguna, apa kamu sendiri sudah mencobanya? Bukankah kamu bilang kakimu terluka saat sedang mengejar bola?" Tanya Sia.
"Ah... i... itu..." katanya agak panik.
"Memangnya kamu jatuh, Adelia? Mana?" Tanya yang lain menghampirinya.
"Ah... itu... maksudku aku jatuh saat mengejar bola basket," katanya menatap Sia dengan pandangan tertantang.
"Kapan?" Tanya A.
"Saat pelajaran olahraga. Ceritakan saja Adelia saat itu kamu sedang apa sampai jatuh begitu," kata Sia.
Adelia terdiam, dia kebingungan harus menjawab apa.
"Saat kita olahraga bukannya kamu ada di ruang perawat? Katanya lambung nya kambuh kan. Lalu luka kaki kamu karena apa?" Tanya yang lain agak aneh.
Adelia tidak menjawab, dia memandang Sia meminta bantuan tapi Sia hanya terdiam sambil menyiapkan pelajaran.
"Lah, kalian masa masih belum tahu? Adelia dari ruang perawat dia masuk ke ruang bola, biasa melakukan hal begituan sama orang," kata yang lain baru datang.
"Aku tidak melakukan itu," kata Adelia.
Otomatis semua kerumunan menjadi sepi setelah mereka tahu dengan jelas kebiasaan Adelia. Mereka sebal juga sudah banyak dibohongi kecuali teman dari kelas sebelah.
"Menjijikkan," kata Sia menyeringai kepadanya.
Adelia marah padanya. "Ya memang aku yang memberitahu semua orang soal penyakit barumu itu. Bagaimana rasanya dikelilingi orang yang membencimu?" Tanya Adelia tertawa menang.
"Aku tahu itu memang kamu itulah kenapa dari awal aku tidak berminat berteman dengan kamu. Hal buruk yang terjadi padaku itu adalah perbuatan mu," kata Sia.
Adelia terdiam mendengarnya, dia dengan malas mengeluarkan buku lalu keluar kelas. Yang lain membicarakannya juga bagaimana kelakuannya sangat hina apalagi ini dalam sekolah.
Adelia dijemput oleh temannya dan menuju kantin bawah.
"Ambrosia jahat sekali sama aku, aku kan niatnya mau membantu dia eh aku malah dikatai," kata Adelia pura-pura menangis.
"Untuk apa juga kamu pakai bantu dia segala?" Tanya A menenangkannya.
"Dia itu sombong sekali kalau nanti dia sudah sembuh, aku yakin dia akan melakukannya lagi. Dia akan kembali menginjak kamu," kata B.
"Sudah jangan berteman lagi sama dia, gabung kita saja. Kita tidak akan meninggalkan kamu," kata yang lain menyemangati.
"Ya baiklah," kata Adelia tersenyum kembali.
Bersambung ...
__ADS_1