
Emi terheran melihat wajahnya yang datar tapi membawa keranjang piknik. Emi tertawa menatap Eris, akhirnya mereka membuka tikar kain dan menaruh semua makanan.
"Tampaknya enak," kata Emi memegang perutnya.
Eris memperhatikan anak itu dengan kedua matanya yang berwarna merah keemasan. "Kamu tidak takut denganku?" Tanyanya.
Emi menggelengkan kepalanya, baru kali ini dia percaya.
"Bagaimana kalau aku sama saja dengan orang-orang itu?" Tanya Eris menunjuk ke bawah.
Emi terdiam, kedua matanya berkaca-kaca dia lupa! Lalu Emi ingat akan susu yang dia minum.
"Aku baik-baik saja saat meminum susu milik kakak. Jadi kakak bukan orang jahat," kata Emi yakin.
"Makanlah, kamu lapar kan? Setiap hari menghindari orang-orang yang berusaha menjilat," kata Eris.
Emi lalu makan dan dia menyukai makanan itu.
Yuri yang membuat makanan tersebut dengan memaksa Eris untuk berjalan-jalan sambil disiapkan keranjang piknik.
"Urusan toko serahkan pada kami. Ini," kata Yuri saat itu.
Eris diseret keluar oleh Arae lalu menutup pintu toko. Eris menatap pintu dan keranjang itu lalu muncul portal dan membawanya entah kemana.
Muncul ke Bumi dan memandangi bawah dengan bingung, Eris bermaksud turun dan memandangi sosok kecil yang berada di atas atap gedung sebuah Rumah Sakit. Eris mendekatinya yang ternyata anak kecil yang tengah menangis.
Dia menghilangkan keranjang pikniknya dan membuka pintu atap lebar lalu turun menyapanya.
Emi makan dengan lahap sekali, Eris memandanginya dan menatap makanan yang dibuat oleh Yuri memang menggugah selera.
"Kenapa kamu berada di sini sendirian?" Tanya Eris.
Emi berhenti makan, "Banyak orang di sekitarku ingin warisan Ayah dan Ibu. Aku harus menjaganya itulah pesan mereka berdua," kata Emi menatap Eris lalu makan lagi.
Eris agak miris anak sekecil ini kenapa ditugaskan menjaga kekayaan orang tuanya?
"Kamu tidak punya saudara lain?" Tanya Eris.
"Ada," jawab Emi.
"Kenapa tidak dia saja?" Tanya Eris.
__ADS_1
Emi menggeleng. "Kakakku itu yang membunuh kedua orang tuaku dengan mencampurkan sesuatu ke minuman. Mungkin... aku juga lama-lama akan mengalami itu," kata Emi meneteskan air matanya.
Eris menghela nafas, dia ingin sekali menawari anak itu suatu barang tapi diurungkan niatnya.
Selesainya, Emi memegang perutnya. "Kenyaaaang. Makanannya masih tersisa banyak. Kakak tidak makan?" Tanya Emi yang tahu sedari tadi Eris tidak mengambil makanan satupun.
"Kamu lebih membutuhkan. Bukan kah setiap waktu kamu diberikan makan?" Tanya Eris.
Emi menggelengkan kepalanya. "Semua orang mengincar ku. Aku jadi merasa tidak aman memakan makanan Rumah Sakit ini," kata Emi menundukkan kepala.
Eris kemudian berdiri dan Emi juga. Saat hendak membantu tiba-tiba suster datang.
"Emi, kenapa kamu berada di sini?" Tanya suster.
Emi terdiam.
"Lalu kenapa ada nasi di pipimu? Kamu makan dengan siapa?" Tanya suster merapihkan nasi tersebut.
"Eh? Oh! Aku bertemu kakak di sini. Aku ada hutang padanya jadi aku..." kata Emi berbalik melihat Eris yang sudah tidak ada di manapun.
Emi berdiri diam, yang ada di sana hanyalah keranjang anyaman saja.
"Mana? Kamu janji bertemu seseorang di sini?" Tanya suster lagi.
Eris sudah berada jauh di atas langit dan memandangi Emi lalu menghilang.
"Ayo masuk, bawa saja keranjangnya ya," kata suster membawakan keranjang tersebut. Emi masih saja memandangi belakangnya, tidak ada siapapun.
Malamnya karena Emi menolak makanan Rumah Sakit, dia memilih memakan makanan Eris. Nana dan Taro datang menatap makanan yang mereka bawa tidak disentuh sama sekali oleh Emi.
"Makanan dari siapa itu?" Tanya Nana dengan takjub.
"Seorang kakak. Aku janji makan dengannya sebagai bayaran hutangku ke dia," jawab Emi dengan semangat.
"Kamu tidak takut itu ada racunnya? Kakak buatkan kamu makanan sehat," tunjuk Nana.
"Justru aku takut makanan yang dimasak olehmu jangan-jangan diberi bubuk beracun," kata Emi tidak peduli.
"KAMU!" Teriak Nana lalu membanting makanan miliknya ke lantai. Emi tidak peduli sudah biasa kakaknya lakukan itu bila kesal.
"Hei, masa kamu begitu kepada kakakmu sendiri?" Tanya Taro memegang bahu Emi.
__ADS_1
"Jangan sentuh aku dengan tangan kotor mu! Kalian semua pembunuh," kata Emi menatapnya dengan sengit.
Taro menarik lagi tangannya dan berdiri lalu mundur mengajak Nana pergi. Nana kemudian menurut dan saat mereka membuka pintu, Emi berkata.
"Kak, apa Kakak tidak malu memiliki kekasih yang menipu kakak lalu mengajak untuk membunuh kedua orang tua kita? Kalau Kakak masih memihak nya, aku akan memutus tali persaudaraan kita," kata Emi memandangi punggung Nana.
Nana sekilas merasa sedih namun berbalik. "Kita bukan saudara sedarah, Emi. Kamu pasti sudah tahu kan? Aku bukan kakak kandung kamu," kata Nana.
"Bukan, Kak. Aku ini benar-benar..." kata Emi yang terpotong dengan suara gebrakan pintu. Emi menangis bagaimana caranya memberitahukan Nana bahwa mereka benar kakak beradik kandung?
Dalam toko, Yuri penasaran akan keranjangnya. "Eris, keranjangnya mana?" Tanya Yuri.
"Ah, ketinggalan di suatu tempat. Besok buatkan lagi beberapa makanan yang enak," kata Eris menuju kamarnya.
"Wah, tampaknya dia menemukan sesuatu yang menyenangkan," kata Arae menebak.
"Oh ya?" Tanya Yuri.
"Iya, biasanya kebiasaan dia meninggalkan barang di suatu tempat. Besok buat makanan enak lagi ya," kata Arae mengedipkan matanya.
"Hm! Aku senang," kata Yuri yang tidak tahu.
Sejak itulah Eris sering datang menemui Emi di kamarnya dan banyak mengobrol. Emi menunjukkan sebuah kunci berukiran kepala macan, dikatakannya itulah yang orang-orang cari termasuk kakaknya.
"Kunci ini menyimpan banyak berkas-berkas milik Ayah. Ibu sudah memberikan kunci miliknya pada Nana tapi katanya kurang dan meminta bagian Ayah," kata Emi menyerahkan pada Eris.
"Kenapa diberikan kepadaku?" Tanya Eris menatap kunci tersebut.
"Karena kakak tidak punya niat buruk kepadaku dan selalu datang memberi banyak makanan enak. Terima kasih, dengan kunci ini Kakak bisa mengambil uang untuk hutangku," kata Emi.
"Simpan saja bersamamu, kamu menemaniku makan itu sudah cukup," kata Eris menolak.
Emi mengangkat bahu dan mengambil kembali lalu menunjukkan tempat persembunyian kunci.
Eris melirik ke arah pintu dia tahu Nana dan beberapa orang sedang mengawasi dan mendengarkan pembicaraan mereka.
Yang jadi masalah, mereka hanya mendengar suara Emi seorang diri.
"Apa adikmu sudah mulai gila?" Tanya orang lain.
Nana tidak mengerti, jelas dia melihat tidak ada seorang pun di dalam kamar adiknya. Soal kunci disembunyikan dimana pun Emi tidak memberitahukan.
__ADS_1
Dengan gerak cepat, Nana membuka pintu. Dan ...
Bersambung ...