
Setelah keputusan mereka sudah sesuai keinginan, mereka memutuskan berkumpul di kota pukul 8 pagi.
Yuri dan Ares mengangguk dan pulang lebih awal. Toko tutup sementara waktu karena tidak yakin permainan itu akan baik-baik saja.
Arae diminta terus mengawasi mereka bertiga selama dalam rumah tersebut, tentu saja Raven absen di hari itu. Aiolos akan datang di hari berikutnya.
Eria dari balik jendela rumahnya menatap langit di malam hari. Hatinya tidak tenang tentu saja dia tahu Eris dan lainnya akan pergi menuju tempat yang berbahaya.
"Ada apa Eria?" Tanya Ayahnya datang.
Eria berbalik. "Tidak apa-apa, Ayah," katanya tidak ingin membuat Ayahnya cemas.
"Ayo, kita ke bawah. Ibu membuatkan agar-agar yabg enak," ajak Ayahnya menggenggam tangan Eria.
Sesampainya di ruang makan, sajian yang memuaskan kedua mata tampak. Agar-agar buah dengan dibalut fla putih serta makanan lainnya.
"Waaah," seru mereka berdua kemudian duduk bersama.
"Kamu memang istri yang luar biasa," kata suaminya memuji.
"Tentu saja! Ayo Eria, ini kan salah satu kesukaan kamu," kata Ibunya dengan gembira.
Eria duduk dan mencoba dan terasaaa lezat sekali.
"Suka? Mungkin agak manis karena semenjak aku memaksa kamu bekerja, sudah jarang memasak makanan enak," kata Ibunya dengan menyesal.
Eria menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa aku bersyukur Ibu sudah menjadi normal. Ini enak sekali!"
Ibunya tersenyum. "Aku jadi ingat orang yang mendatangi rumah ini,"
"Hmm? Memangnya kenapa sayang?" Tanya suaminya sibuk mengunyah buah.
"Bagaimana dia bisa menduga bahwa Eria tahu keadaan rumah mengerikan itu?" Tanya istrinya.
"Yah, sejarah Eria yang mengawali karir di acara Exorsist memang banyak menyita perhatian publik. Apalagi semenjak dia berhenti," kata suaminya.
"Memangnya rumah yang dia tunjukkan kejam?" Tanya Ayahnya memandangi Eria.
Eria masih makan dan mengangguk lalu menghabiskan agar nya. "Rumah itu sangat buruk sekali. Aku harap mereka yang mengikuti permainan itu tidak terlena karena uang," kata Eria meremas kedua tangannya.
"Uang memang bisa merubah sifat orang ya. Aku juga begitu," kata Ibunya menghela nafas.
__ADS_1
"Dulu ya, sayang. Sekarang kita coba dari awal lagi kan, nanti kita liburan yuk ke Hawai," ajak suaminya dan mereka berdua bersorak.
Keesokan harinya pagi tiba, Yuri, Ares dan Eris sudah siap menunggu bus yang dijanjikan oleh Sani dalam chat.
Bus datang dengan sudah terisi anggota yang lainnya, tempat Eris adalah paling terakhir, sudah disediakan untuk 3 tempat duduk juga. Ares membawa bekal banyak sekali, sebagian Yuri dan Eris yang bawa.
"Wah, banyak sekali nasi kepalnya," kata Kay kaget.
"Ibuku senang sekali aku bisa berwisata," kata Ares dengan wajah malu.
"Kamu ini belajar terus ya tidak heran universitas G kan isinya orang ber IQ 200 ke atas," kata Fuji memandang genit pada Ares.
Yuri dan Eria menatap Ares yang salah tingkah, dia memilih kursi yang paling ujung supaya Fuji dan Sani tidak menghampirinya.
Mereka semua memakan nasi kepal buatan ibunya Ares dengan gembira, berbagai macam isinya.
Perjalanan menempuh 12 jam ke lokasi rumah menantang maut. Mereka berhenti dua kali untuk sekedar meluruskan kedua kaki mereka kemudian pergi lagi.
Bus melalui hutan yang rimbun dan tebal, mereka merinding melihatnya. Hanya Eris yang duduk menghadap lurus ke depan, dengan melipatkan kedua tangannya.
"Apa sebegitu menyenangkannya menatap rimbunan semak dan pepohonan?" Pikir Eris tidak tertarik.
"Lokasi tempat tujuan," kata supir bus memasukkan busnya ke dalam area rumah.
"Wah!" Seru mereka semua.
Keadaan sekitar sudah malam tapi banyak lampu lampion merah dan lentera menerangkan rumah besar itu dengan indah. Tidak terlihat seperti rumah yang mengerikan.
Mereka semua turun satu per satu memakai jaket dan memandangi semuanya, sepertinya mereka saja yang baru sampai.
Eris turun dan langsung terasa bau amis yang pekat olehnya. Eris mengeluarkan pil bening pada mereka. "Makan,"
"Apa ini?" Tanya Fuji curiga.
"Kita perjalanan 12 jam, obat ini untuk menghilangkan jetlag," kata Yuri berusaha menjelaskan.
"Oh," kata mereka lalu memakannya. Ternyata pemikiran mereka bukan terasa seperti obat namun permen buah.
"Ngomong-ngomong Eris, obat apa ini?" Tanya Yuri.
Eris memandangi Yuri, obat itu adalah untuk menyembunyikan bau amis setidaknya untuk sementara. Entahlah kalau mereka ada yang memiliki penciuman tingkat tinggi, tidak akan ada gunanya.
__ADS_1
"Meminimalisir rasa mual," kata Eris.
"Jadi memang untuk menekan efek jetlag ya," kata Yuri tebakannya tepat.
Mereka semua mulai berjalan menuju rumah yang mirip kastil tersebut. Besar dan sangat luas.
"Rumah seperti ini yang berbahaya kalau kosong bertahun-tahun," kata Dani.
"Hebat ya besar sekali rumahnya," kata Fuji memandangi semua jendela rumah.
"Ya memang hebat sih tapi ini sama saja kita memasuki kawasan rumah berhantu kan," kata Sani memperlihatkan semacam informasi.
Mereka semua mengerumuni sebuah papan informasi dan membaca. Rumah yang akan mereka tempati sementara dikenal sebagai Red House karena isinya banyak benda berwarna merah.
"Ahhh karena warna merah, bukan sesuatu yang mengerikan," kata Sani berkacak pinggang.
Saat hendak masuk, mereka melihat bus lain yang mengarah ke rumah.
"Siapa itu?" Tanya Dio.
Terdapat kelompok lain beranggotakan 7 orang, mereka melambaikan tangan, bus berhenti dan mereka keluar.
"Kalian juga ikut?" Sambut Sani dan Fuji ke beberapa anggota kelompok lain.
Eris, Yuri dan Ares agak canggung namun mereka di sapa oleh mereka yang baru datang. Yuri mengingat-ingat nama mereka, ada Mila, Ara, Kei, Rio, Tom, Sisna, Iran dan Chris.
Merek bersama-sama memasuki rumah tersebut dan disambut oleh ketua pelayan yang menunggu di teras depan.
Dengan wajah yang mulus licin dan wajah tegas dia menyambut. "Selamat datang, perkenalkan nama saya Yoshi. Saya adalah pelayan senior yang dipercayakan oleh Nyonya pada kesempatan ini. Kalian bisa menganggap saya sebagai pemilik rumah,"
Mereka meneliti Yoshi, laki-laki berusia 56 tahun namun terlihat masih agak muda. Mereka berpikir sangat aneh meski yah, banyak juga usia tua namun wajah dan tubuh versi remaja.
Tim Ares sudah tentu berdiri sejajar begitu juga dengan tim Chris. Iran lelaki yang baru dikenal oleh Yuri, terus memandanginya dengan malu-malu. Yuri menyadari kalau dirinya diperhatikan oleh Iran.
Eris senang di sisi lain acara ini bisa membuat yuri dekat dengan laki-laki.
Arae juga tiba dan berdiri di atas atap rumah, dia juga menangkap bau amis yang kuat dari darah. Dia kebingungan bau itu ada dimana-mana.
"Tempat apa ini?" Tanya Arae agak aneh.
Bersambung ...
__ADS_1