
"Anak laki-laki itu kamu?" Tanya Ares.
"Bukan. Itu anak tetangga saya, orang tuanya cerita semenjak melihat hal mengerikan itu anak mereka mengalami gangguan syaraf. Kasihan sekali, anjing itu dia pelihara sejak kecil," kata Anemoi menundukkan kepalanya.
Eris memperhatikan riakan kecil dalam wadah air besi tersebut. Tidak ada yang membuatnya bergoyang atau menyenggolnya. Arae sangat serius mendengarkan kisah itu mana baru satu masih ada 9 cerita.
"Baik, itu mendebarkan sekali aku punya peliharaan anjing juga di kampung. Setelah ini aku harus menelepon saudara disana, apa dia baik-baik saja," kata Apollo agak khawatir. Kedua tangannya terlihat gemetaran dan dia usap-usap.
"Itu hanya cerita," kata Aiolos tertawa.
"Selanjutnya? Atau... Eris, apa kamu atau temanmu mau bercerita?" Tanya Ares.
"Aku terakhir," kata Eris.
"Cerita aku akan berhubungan dengan cerita Eris," kata Arae membuat semuanya penasaran.
Ares lalu menepuk Poi temannya itu, dan dia berdehem menyiapkan kisahnya.
"Kisah ini terjadi pada saat aku masih bersekolah di SMP A saat itu, aku belum kenal dengan Ares. Sehari-hari aku ke sekolah menggunakan bis umum yang selalu datang ke depan rumahku. Aku biasanya suka duduk paling belakang karena aku bisa kembali tidur menuju sekolah," kata Poi.
"Hmmm awalnya pasti cerita yang bagus-bagus," kata Artemis. Mereka setuju.
"Lalu suatu hari aku bertanya pada supir bis, apa dia bisa menjemput ku di sekolah pukul 5 sore karena aku ada kegiatan basket. Supir itu menjawab, 'Oke,' lalu aku turun ke sekolah," kata Poi sambil menarik nafas.
"Apa supir itu manusia?" Tanya Nyx.
Semuanya menatap Nyx dengan tatapan datar. Nyx memang selalu mengomentari cerita orang yang akhirnya, Aiolos menutupi mulutnya.
"Ya dia manusia tentu saja. Bagian anehnya bukan pada supir," kata Poi bersabar.
"Tampaknya tidak akan terlalu mengerikan ceritanya," kata Nyx lagi yang menyingkirkan tangan Aiolos.
"Belumlah ini kan masih cerita awal," kata Aiolos.
Ares yang berada di tengah antara Apollo dan Poseidon menyuruh mereka berdua menyimak ceritanya. Nyx dan Aiolos merasa dimarahi lalu terdiam menatap Poi.
Arae memegangi tangan Eris karena ketakutan dan Eris menatapnya dengan mata setengah datar.
"Lalu saat itu karena ternyata kegiatanku berakhir lebih sore, supir itu masih menunggu dengan beberapa penumpang di dalamnya yang tidak keberatan menungguku.
Bis kemudian berjalan kebetulan macet sekali, satu per satu penumpang turun. Tersisa penumpang yang arah pulangnya sama denganku.
__ADS_1
Kemudian sang supir melambat kan bisnya melihat seorang gadis cantik yang berdiri di pinggir jalan," jelas Poi.
"Kamu masih ingat kenangan itu," kata Artemis kagum.
"Karena mengerikan, Kak," jawab Poi dengan agak pucat.
"Teruskan," kata Arae.
"Supir bis membukakan pintu dan masuklah gadis kecil itu dengan rambut yang berwarna merah dan memilih duduk di sebelah supir.
'Mau kemana? Sudah malam begini,' kata supir. Anak itu hanya menjawab, 'Pulang'. Sangat singkat. Aku hanya mendengarkan saja sambil memakan cemilan," kata Poi.
"Kamu tidak ikut bertanya soal kenapa gadis itu ada di pinggiran jalan?" Tanya Aiolos agak kaget.
"Tidak, aku saat itu sibuk makan cokelat yang aku sukai hehehe," kata Poi dengan malu-malu.
"Kamu bisa melihat gadis itu juga?" Tanya Arae.
Poi mengangguk, dan mereka bernafas lega. Berbeda dengan Arae dan Eris kelihatannya yang bisa melihat hantu hanya beberapa orang.
"Aku kira anak itu pasti hantu," kata Nyx mengusap dadanya.
"Aku melihatnya dari tempat dudukku di belakang. Supir itu terus mengajaknya mengobrol dan gadis itu hanya diam sambil terus melihat ke arah depan.
"Apa rumahnya sebelah kamu?" Tanya Apollo.
"Sebelum jalan ke rumahku, dia menunjuk ke depan bahwa itu rumahnya dan supir menurunkannya. Aku kembali menikmati cemilan ku dan tidak ada yang memperhatikan bahwa tasnya ketinggalan," kata Poi.
Riakan dalam wadah besi kemudian bergelombang tapi tenang lagi. Eris tahu bahwa dari isi kisah yang mereka ceritakan, roh jahat berusaha memasuki tempat mereka berada.
Garam pun seperti berubah menjadi air dan menetes ke bawah lantai kayu. Terdengar suara gemeretak dari ruangan belakang. Eris berdiri, memeriksa memandangi mereka bersembilan tengah serius.
Beberapa garam tampak seperti terhapus, sudah tentu itulah kenapa kisah seram bisa memberikan efek roh jahat akan berkumpul disini untuk makan. Eris menambahkannya lagi, garam hampir habis di sekitaran Teran.
Eris berjalan kembali menuju tempat duduknya.
"Keesokan harinya, sang supir yang menjemput ku menyadari tas kuning dan berkata pada ku bahwa akan mengunjungi sebentar rumah gadis waktu malam.
Aku mengangguk tidak masalah, kami tiba di depan rumahnya dan supir itu turun dari kursinya. Keluarlah seorang wanita yang sedang menangis.
Aku melihat ada anak itu, dia berdiri di dalam rumah menatap kami berdua," kata Poi menelan ludahnya.
__ADS_1
"HIIIII!!!" Teriak Aiolos dan Ares bersamaan.
Eris ingat Aiolos memang tidak menyukai cerita seram meskipun dirinya memiliki kemampuan bisa melihat "Mereka".
Dia ingat bagaimana Ares dan Artemis selalu menggodanya dengan menakuti dan membuatnya menangis dan berteriak keras. Lalu melaporkan hal itu pada pamannya.
Kembali ke sosoknya di Bumi, masih sama dengan yang diingatnya. Aiolos berteriak lalu pindah posisi memeluk Ares. Entah bagaimana caranya Apollo tiba-tiba saja tergeser dari sebelah Ares.
Tapi dia hanya tenang saja menatap Aiolos yang ketakutan. Ares merasa terganggu mendorongnya berusaha melepaskan diri namun akhirnya menyerah.
Melihat Aiolos sangat ketakutan setengah mati. Nyx juga begitu, dia memeluk tangan Apollo. Jadi selama ini mereka berdua berisik karena takut pada kisah seram.
"Setelah itu supir merasa ini bukan waktu yang tepat lalu memilih meneruskan pekerjaannya.
Siang hari, ibu yang kami lihat memasuki bis dan supir berkata, 'Ibu, kemarin malam anaknya yang berambut merah menaiki bis ini juga,' ibu itu menatap supir dengan ketakutan, dia pikir supir ini sudah gila," kata Poi.
"Lalu?" Tanya Nyx.
"Supir tahu apa yang dipikirkan ibu ini lalu mengambil tas kuning dan berikan kepadanya.
'Ini tasnya yang tertinggal,' ibu itu terkejut, terdiam sesaat lalu memegang tas kuning dengan erat. Ibu itu menangis sekuat-kuatnya sambil berjongkok," kata Poi yang agak meneteskan air matanya.
Semuanya serius dan mengerti betapa sedihnya saat tahu anaknya ternyata sempat menaiki bis itu.
"Kami semua menenangkan sang Ibu dan bertanya kenapa. Ternyata anaknya itu telah diculik dan di mutilasi begitu saja. Tubuhnya belum ditemukan, satu-satunya petunjuk adalah tas kuning yang selalu dia bawa," kata Poi lega.
Mereka semua menganga dan menelan ludah. Apollo, Artemis dan Ares merasa sedih untuk akhir sang gadis. Aiolos menutup telinga, Nyx memegang kedua kakinya.
Ares menenangkan dirinya, Aiolos melepaskan pelukan. Teran memandangi sekelilingnya, takut ada hantu yang menyasar. Dia ingat sudah ditaburi garam jadi aman, lalu melihat beberapa garam tampak bertebaran lalu merapihkannya.
"Lalu apa isi tas itu?" Tanya Apollo penasaran.
"Sebuah foto yang memperlihatkan pelakunya," kata Poi.
"Siapa?" Tanya mereka kompak.
"Ayahnya. Lalu polisi dan Ibu itu menemukan suaminya sudah tidak bernyawa sejak kemarin siang. Dan yang aneh, disampingnya terdapat sepotong tangan dari anak gadisnya yang memegang tangan ayahnya," jelas Poi merinding.
Mereka semua ketakutan, memasukkan tangan ke dalam mulut.
"Lalu tubuhnya bagaimana?" Tanya Artemis.
__ADS_1
"Ya itu yang aneh, semua bagian tubuhnya ditemukan dalam koper sudah dalam kondisi membusuk. Seperti sudah lewat sebulan. Dan kisah ku selesai," kata Poi meniup lilin.
Bersambung ...