
Dia bersyukur bisa bertemu dengannya dan akan berusaha menjadi manusia yang terbaik. Keesokan harinya, Keling memakai baju yang tertutup dan membuat Diega terkejut.
"Tumben, sekarang pakai baju tertutup," kata Diega.
Keling tampak malu-malu dia tidak mengatakan alasan sebenarnya karena dia tidak bisa merasakan cuaca apapun. Kini dirinya bisa merasakan apa yang dirasakan manusia tentang udara dan rasa makanan.
Akhirnya Diega mengumumkan kepada semuanya bahwa dia dan Keling sudah pacaran. Sontak semuanya menyoraki dan membuatnya malu.
Keling juga mulai menceritakan kepada teman-temannya, dia membagikan obat itu kepada temannya, kini mereka pun bisa merasakan makanan manusia.
"Enak?" Tanya Diega melihat Keling makan dengan lahap.
"Enaknya!" Kata Keling senang sekali. Pertama kalinya perutnya kekenyangan. Sampai menangis teman-temannya menyemangati.
"Duh, lebay sekali," kata grup perempuan lain memandang Keling.
"Jadi kamu tahu siapa sebenarnya Keling itu? Penjaga gunung? Siluman dong? Kamu tidak takut?" Tanya Ekok agak merinding.
"Ya bagaimana ya. Takut tapi tidak takut kan aku tidak pernah berbuat aneh-aneh ke dia. Lagipula dia makhluk yang baik kok. Akhirnya saat kami memutuskan untuk berhubungan ke lebih serius dengan memberanikan diri dia menceritakan segalanya. Dia mendapat hukuman karena anak haramnya dunia sana," jelas Diega menundukkan kepalanya.
"Ih, merinding disko. Ternyata soal anak haram itu tidak hanya ada di dunia kita ya tapi di sana juga ada," kara Ekok memasang tangan pada dagunya.
"Ada dong. Aku mendengarnya justru simpati sama dia," kata Diega memainkan liontin pasangan.
"Lalu apa salah satu orang tuanya manusia?" Tanya Ekok.
"Iya. Anak selingkuhan dengan makhluk dari dunianya tapi sebenarnya dia diterima disana hanya minggat karena malu. Dia pergi untuk mencari ayah atau ibu manusianya," kata Diega memandangi foto Keling lalu memberikannya pada MC.
"Imut nih! Ini wujud asli? Manusia," kata Ekok merasa aneh.
"Iya wujud aslinya. Fisiknya manusia tapi isinya ya siluman peri hutan," kata Diega.
Ekok memberikan lagi liontin itu para staf juga penasaran dan mereka terkejut melihatnya. Tidak seperti siluman tetapi manusia pada umumnya.
"Lalu?" Tanya Ekok.
"Dia ditemukan di dunia manusia lalu diseret dan diberikan hukuman untuk menjadi penjaga gunung itu," kata Diega.
"Berapa tahun tuh?" Tanya Ekok.
"Sampai usianya 6000 tahun yang dimana dalam dunia manusia sekitar 60 tahun," kata Diega.
"Hah! Tidak bisa menikah dong?" Tanya Ekok.
Diega mengangguk. "Kalaupun bisa ya sesama lebih enak kan tinggal disana tapi dia tidak minat. Beberapa kali dia jatuh cinta tapi kebanyakan yah namanya laki-laki sampai bertemu denganku," kata Diega tersenyum senang.
__ADS_1
"Lalu dia menjadi manusia itu bagaimana sih ceritanya?" Tanya Ekok.
Diega lalu menceritakannya kepada para pendengar radio Seram.
Di sisi lain, Ares yang juga ikut mendengarkan agak termenung. "Kok kisahnya mirip Bibi ya?" Tanyanya agak aneh.
Toko Eris pun dia mendengarkan kisah Diega yang muda, istrinya Keling tidak lain adalah ibu kandung Ares tertawa mendengarnya.
Kenapa Ares menganggap bibinya bukan ibunya, karena usia Keling yang agak berbeda. Pamannya, Diega sudah terlihat tua sedangkan Keling masih agak muda meskipun wajah dan rambutnya keriput.
Akhirnya Keling meminta orang tua asuh Ares yang sekarang, merawat keempat anak mereka dan menganggap mereka adalah Paman dan Bibinya. Berhubung adik Diega ini tidak dikaruniai anak, mereka sangat senang sekali.
"Tenanglah, akan kami sayangi mereka," ucap adik dari Diega yang juga sudah menikah.
"Akhirnya kita bisa hiking bersama lalu ada kejadian yang hampir merenggut nyawa aku dan dia. Saat sedang berjalan ke gunung terjal yang sebelahnya jurang, kaki aku terpleset dan jatuh. Yang lain histeris karena jurang nya menyempit ke bawah," jelas Diega.
"**ABANG!!!" Teriak Keling histeris.
"Tenang tenang, ulurkan tali. Diega jatuh!" Teriak ketua membuat para anggota langsung siaga.
"Abang! Abang!" Teriak Keling menangis. Dia merasa alam tidak mengijinkannya untuk pergi keluar gunung itu.
"Tenang Keling,jangan panik," kata Diega dengan santai. Dia melihat Keling agak ketakutan.
"Ini salah aku. Seharusnya aku tahu tidak mungkin bisa keluar dari sini," kata Keling menangis menutupi wajahnya.
"Jangan berpikir negatif! Aku tidak apa-apa, ini sudah biasa," kata Diega. Akhirnya dia bisa naik ke atas dan Keling memeluknya dengan erat sambil menangis.
Semuanya menyoraki keberuntungan Diega lalu menenangkan Keling**.
"Kamu selamat?" Tanya Ekok bertepuk tangan.
"Alhamdulillah selamat kang. Keling menangis tapi dia bersyukur aku tidak kenapa-kenapa. Teman yang lain ya keheranan karena Keling histeris. Ya aku tahu kenapa," kata Diega.
"Kamu tidak cerita bahwa sebenarnya sudah tahu cerita siapa dia?" Tanya Ekok.
"Tidak, itulah kenapa alu berjuang sampai bisa berdiri lagi di pinggir gunung itu. Demi dia. Kami berjalan lagi, aku memegangi tangannya lalu ada sebuah batu yang terlempar ke arah Keling," kata Diega mengingat.
"Dilempar?" Tanya Ekok.
"Iya dan terkena kepalanya, darah segar mengucur," kata Diega.
"Dia langsung jatuh atau bagaimana?" Tanya Ekok.
"Iya dia agak hilang keseimbangan lalu jatuh ke jurang untungnya ada batu besar menopang badan dia. Aku kaget semuanya juga, akhirnya ya dia selamat dan batu yang menopangnya jatuh dong," kata Diega agak heran.
__ADS_1
"Ya batunya tidak bisa menahan berat badan dia kali," kata Ekok.
"Masalahnya, batunya itu besar kang. Kalau diinjak sama Akang juga tidak akan jatuh tapi itu aneh sih," kara Diega berpikir.
"Bisa jadi tidak sih kalau gunung itu menolak dia ikut dengan kamu?" Tanya Ekok.
"Bisa jadi bisa disebut dia itu primadonanya di gunung itu," kara Diega memandangi Ekok.
Mereka semua hening apalagi mereka mulai berpikir aneh mengenai Diega. Seperti dia sedang berkisah soal masa lalunya. Beberapa staf mempersiapkan alat pengusir roh karena namanya Radio Seram, terkadang ada penampakan.
"**Bang, lepas Bang. Aku ikhlas kalau harus terus menjadi penjaga di sini," kata Keling saat itu.
"Tidak akan aku...le...paskan! Kamu bertahan ya. WOI TALI!" Teriak Diega yang masih memegang tangan indah Keling.
"Tanganku sakit. Aku bisa menjadi manusia sesaat itu sudah membuatku bahagia. Sekarang lepaskan saja aku," kata Keling meneteskan buliran air mata.
"Kamu ini bicara apa sih?!" Tanya Diega tidak ingin mendengar.
"Aku bukan manusia. Aku ini peri hutan," kata Keling memberitahukan.
"Aku sudah tahu. Ayo! Setelah keluar dari sini, aku akan menikahi mu jadi kamu harus bertahan!" Kata Diega membuat Keling terkejut lalu mengangguk**.
"WOW! Saat begitu kamu bisa langsung mengajak dia menikah? Lalu responnya bagaimana?" Tanya Ekok terkejut lalu tertawa keras.
"Ya bahagia lalu menangis. Dia selamat dan aku benar-benar memeluk dia, tidak pernah aku lepaskan lagi. Aku pulang dan mengenalkannya ke keluarga besar, memang sih ada sedikit masalah saat aku bilang ingin menikah dengannya," jelas Diega tertawa.
"Keluarga ada yang bertanya siapa dia, darimana asalnya," kara Ekok.
"Iyalah. Akhirnya dia bercerita kalau ayahnya adalah manusia dan sudah punya keluarga. Jadi aku membantu dia menemukannya. Ayahnya senang sekali dan meminta maaf pada Keling. Istri ayahnya tidak mengira kalau benar sampai punya anak, ya dia agak... cemburu tapi akhirnya dibantu lah dia untuk menikah," jelas Diega menghela nafas.
"Jadi kamu itu sudah menikah? Lalu bagaimana perjanjian istri kamu dengan gunung itu? Enak bulan sekali kalian benar datang kesana?" Tanya Ekok.
"Iya dong. Sambil membawa beraneka bunga, kami disambut teman-teman disana. Dia punya ide untuk membuat taman bunga di gunung. Kami sengaja membeli sebungkus bibit bunga setiap enam bulan sekali dan menanamnya disana," kata Diega memperlihatkan foto taman itu.
"Wihhh keren! Seru sekali. Dia benar-benar sudah jadi manusia?" Tanya Ekok memandangi taman bunga yang indah dan sekelebat kabut tipis.
"Iya hehehe kami juga dikaruniai anak. Manusia ya bukan jenis makhluk gaib, dia sangat senang sekali tapi kami tidak bisa merawatnya karena istriku tiba-tiba sakit," kata Diega agak sedih.
"Kalian punya anak berapa?" Tanya Ekok.
"Ada 4, sepasang begitu. Rumah jadi semakin seru, Keling hobinya nyanyi dan itu menurun pada anaknya yang keempat. Lalu dia juga senang menyulam, sepulang aku bekerja selalu tersedia makanan enak," kata Diega membayangkan.
"Itu sesajen?" Tanya Ekok agak seram.
"Parah lu! Ya makanan manusia lah!" Kata Diega menggetok kepala Ekok pakai buku.
__ADS_1
"Ya kali hahaha! Bagian ada anak perempuan aneh yang mendatangi istri kamu itu bagaimana kisahnya?" Tanya Ekok.
Bersambung ...