Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
4


__ADS_3

"Kak Aiolos, jangan tinggalkan aku!! KAKAK!!" Teriak Alira sambil menangis.


Di tempat lain Aiolos terbangun tiba-tiba ternyata hari sudah sore. Setelah tadi diperkenalkan bagian yang harus dia kerjakan, lalu temannya mengajaknya ke bar untuk merayakan penerimaannya. Setelah itu dia langsung diberi pekerjaan rumah oleh Managernya karena lelah ternyata dia sampai ketiduran.


"Mimpi tadi sepertinya gawat sekali semoga saja anak itu bisa keluar dari sana. Aiolos bangun dan mandi lalu memasak, dia tak punya orang tua lalu diangkat anak oleh orang lain.


Meskipun saat kecil menderita, tapi Aiolos terus melanjutkan hidupnya apalagi keluarga adopsinya sangat baik. Setiap sebulan sekali semua keluarga adopsinya menelepon memastikan kabarnya baik, bila tidak ada uang mereka akan mengirimkan.


Tapi Aiolos selalu menolak dia sudah bersyukur dirawat oleh mereka namun tidak pantas kalau harus meminta. Aiolos keluar dari rumah itu karena mereka yang terlalu baik. Dia ingin mandiri.


Masih dalam dunia mimpi, menyadari Aiolos tiba-tiba menghilang membuat Alira semakin panik. Sudah pasti Aiolos terbangun dan mungkin menganggap kehadirannya hanyalah mimpi.


"Kakak! Tolong!" Teriak Alira sambil berlari tidak tahu kemana arahnya.


"Alira," suara perempuan memanggilnya.


"Siapa? Tolong keluarkan aku dari sini," kata Alira mencari sumber suara itu.


"Kemarilah aku akan mengeluarkanmu dari sini," kata suara itu. Terlihat sosok perempuan tinggi dengan memakai mahkota angsa.


"Kamu siapa? Mahkota itu.." kata Alira yang bisa melihat. Mahkota yang wanita itu pakai mirip persis dengan yang dia punya hanya... bentuknya kenapa beda?


Kabut yang tadinya seputih awan, kini berubah menjadi abu-abu dan seperti ada kilatan. Alira yang memandanginya ketakutan.


"Kemarilah," kata wanita itu mengulurkan tangannya.


Jantung Alira tidak menentu antara takut dan ingin tahu, tangan wanita itu dibalut dengan sarung tangan berwarna hijau dan terdapat beberapa cabang pohon.


Tiba-tiba...


"Jangan disambut uluran tangannya kamu tidak akan pernah bisa pulang. Ikut aku, cepat!" Suara Eris muncul tepat di sebelahnya.


Eris terpaksa memasuki alam mimpi karena Alira memasuki dunia itu lagi. Ternyata Alira benar-benar terobsesi dengan sosok kedua laki-laki itu, padahal kenyataannya kalau saja Alira sadar, mereka berdua memang ada di dunia nyata.


"Kamu siapa? Aku kira masih bisa datang dengan aman," kata Alira yang menangis senang tapi takut.


Alira melihat gadis yang menariknya lalu berlari lurus ke arah sesuatu. Gadis itu memiliki rambut berwarna putih yang panjang, terdapat mahkota cantik di kepalanya. Bajunya serba hitam panjang tapi tidak membuat Alira takut.


"Jangkau portal disana dan jangan lagi kamu memakai mahkota itu. Keinginanmu sudah terkabul berhentilah masuk ke dalam dunia ini lagi," kata Eris menunjuk ke portal biru penuh dengan bintang.


Dengan anggukan cepat, Alira berlari tanpa berhenti. Angin hitam menerpanya menghalanginya untuk memasuki portal itu. Tapi Alira bertekad untuk kembali. Dia sampai depan portal lalu berbalik ke belakang.


"Kamu tidak masuk?" Tanya Alira.


"CEPAT!" Teriak Eris.


"TIDAK AKAN KUBIARKAN KAU PENGGANGGU," Teriak penyihir itu mengeluarkan ular untuk menahan Alira.


"Hentikan. kau sudah mati, mau apalagi?" Tanya Eris menghalangi.


"Aku di segel di tempat ini tidak ada siapapun yang bisa aku temui. Setidaknya anak itu bisa menemaniku," kata sosok penyihir itu lalu memperlihatkan wujudnya.


Wanita ayu yang memiliki rambut keemasan menangis di depan Eris. Alira yang melihatnya sangat sedih, dia tidak jadi masuk ke dalam portal dan menghampirinya.


"Kamu penyihir?" Tanya Alira.


"Kamu harus pulang, semua orang mencemaskan mu. Urusannya biar aku yang atasi," kata Eris memakai topeng agar Alira tidak tahu siapa dirinya.


Wanita itu masih menangis di hadapan mereka. "Dengarlah ceritaku dulu, Ku tidak bermaksud jahat pada kalian. Aku hanya butuh orang yang bisa mendengarkan," katanya masih menangis.


"Aku akan mendengarkan. Mereka bisa menunggu tenang saja," kata Alira kepada Eris.


"Benarkah? Iya Nona, setelah aku selesai cerita aku akan menyerahkan diri," pinta wanita itu.


"Baiklah," jawab Eris sambil berdiri.


"Namaku Zelen aku berasal dari desa bernama Weyz. Aku penyihir putih disana yang bertugas membantu para warga desa. Suatu hati warga memfitnahku mereka percaya pada berita orang yang mengatakan aku lah pelaku pembantaian hewan. Memang ada kasus seperti itu tapi saat itu aku sedang membuat pelindung untuk mereka," kata wanita itu menghapus air matanya.


Eris dan Alira terdiam mendengarkan.

__ADS_1


"Mereka beramai-ramai membakar ku dan meneriaki aku penyihir keji buktinya ada banyak kepala angsa di gudang rumah. Itu bukan aku, meski mereka membunuhku, aku memasukkan kekuatanku sedikit di dalam mahkota ini," kata Zelen melepaskan mahkotanya.


"Mahkotamu sama dengan yang aku punya hanya berbeda bentuknya," kata Alira.


"Iya memang, yang kamu punya adalah mahkota pembuka alam ini dan yang ini adalah penutupnya. Aku memiliki abdi yang sangat setia, dia melihat aku melakukan itu lalu mengambil mahkotanya. Warga memburunya, dalam ilusi aku berkata padanya, 'Cari orang bernama Eris dia bisa menjaga mahkotaku.' Abdiku mengerti," kata Zelen memandangi Eris.


Eris meletakkan telunjuk di depan wajahnya menutup mulut Zelen agar Alira tidak tahu. Zelen mengerti karena dalam pikirannya kalau Alira sampai tahu, dia pasti akan memburu Eris.


"Eris? Ah ya aku juga ke tokonya. Soal itu, kamu mirip dengannya. Apa kamu Eris?" Tanya Alira.


"Kamu salah, Nona ini bukan Eris. Dia adalah Ratu penguasa Dunia Kegelapan, tugasnya mengembalikan makhluk seperti aku ke dunia roh," kata Zelen tersenyum.


"Ahh maaf! Lalu?" Tanya Alira.


"Abdiku berhasil mencapai kerajaannya meski sekarat dia mengirimkan mahkotanya dengan kekuatan yang tersisa lalu mati ditikam panah," kata Zelen sedih.


Diluar dunia mimpi, Honna dan Tira tiba di depan rumah Alira. Honna mengetuk tapi tidak ada jawaban lalu melihat ke samping rumah, juga tidak ada orang.


"Orang tuanya tidak ada dan pintunya juga dikunci. Ayo, kita lewat jendela saja," kata Honna membuka jendela dapur.


"Aku merasa seperti hendak mencuri," kata Tira agak malu.


"Mau bagaimana lagi kan? Ayo," ajak Honna berjalan menuju kamar Alira.


Mereka masuk dan melihat kelopak dari mahkota yang Alira pakai berguguran. Honna dan Tora menjerit lalu berlari.


"ALIRA, BANGUN!! BANGUN!!" Teriak Tora dengan keras.


Alira terbujur lemas mahkotanya jatuh kelopak mawar jatuh berguguran ke lantai kamarnya. Honna menangis.


Dalam mimpi Eris merasa sudah waktunya Alira bangun. "Mereka mencemaskanmu," kata Eris memperlihatkan bola kristalnya.


"Honna! Torako!" Kata Alira menangis.


"Nak, pulanglah terima kasih mau mendengarkan ceritaku," kata wanita itu memeluk Alira.


"Iya aku akan pulang. Maaf merepotkan," kata Alira langsung menghilang.


Eris menghela nafas. "Waktumu sebenarnya sudah habis. Aku tidak bisa menolong mu," kata Eris membuka topengnya.


"Saya berterimakasih pada Anda, Nona Eris. Akhirnya saya bisa bertemu. Gadis tadi ada maksud lain Anda memberikan mahkotaku padanya?" Tanya Zelen.


"Aku bermimpi sosok laki-laki yang ternyata sama dengan yang dilihat gadis itu. Aku tidak bisa memasuki dunia ini kalau tidak dari makhluk lain," kata Eris menjelaskan.


"Ah! Benar juga. Anda sangat baik, saya mendukung bila Andalah yang menjadi penguasa di dunia kita," kata Zelen kemudian tubuhnya seperti habis dimakan waktu. Lalu berubah menjadi aura yang memasuki mahkota itu.


"Kembalilah pada kegelapan," kata Eris yang membakar mahkota itu dengan api berwarna ungu kebiruan.


Dalam kamar Alira, Alira dengan terkejut bangun. Honna langsung memeluknya sambil menangis. Tora juga tapi langsung dia hapus.


"Syukurlaaah aku kira kamu tidak akan kembali. Maafkan akuuu," kata Honna menangis.


"Iya iya sudah aku sudah kembali. Maaf ya membuat kamu cemas," kata Alira menghapus air mata Honna. Lalu menatap Tora dengan pandangan yang aneh. "Kamu siapa?" Tanyanya.


Tora yang juga dalam keadaan lemas, duduk dengan otomatis di atas karpet. "Ya ampun kamu lupa dengan aku?" Tanyanya.


"Sebentar, aku akan ambilkan air," kata Honna keluar kamar Alira.


Alira bengong lalu turun dari kasurnya dan duduk di depan Tora. "Torako? Benar ini kamu?" Tanya Alira yang tersipu.


"Apa kabarmu? Aku sama sekali tidak pernah melupakanmu. Aku selalu ingin bertemu denganmu, aku selalu menjahili kamu karena ingin lebih dekat tapi sepertinya kamu tidak suka. Maaf ya," kata Tora tertawa.


"Dadar bodoh! Aku selalu suka kamu," kata Alira langsung memeluk Torako.


"Ehem ehem! Panas ya? Ini minumannya," kata Honna yang masuk mengganggu.


Mereka berdua melepaskan pelukan dan tersipu malu. Kemudian Alira menceritakan semuanya dan mereka tidak menyangka kalau penyihir itu hanya ingin dirinya didengarkan.


"Mahkota ini tiba-tiba berguguran begitu saja," kata Honna.

__ADS_1


"Karena tugasnya sudah selesai. Kita bakar yuk," ajak Alira.


Mereka kemudian mengumpulkan semua kelopaknya dan menempatkannya di dalam kotak kardus lalu membakarnya. Percikan berwarna merah dan kuning keluar dari mahkota tersebut.


"Seperti kembang api ya," kata Alira. Mereka berdua setuju.


Besok paginya mereka berkumpul di suatu taman kota. Honna datang bersama Tora, Tora merasa tidak enak kalau harus menginap di rumahnya lalu untuk urusan mereka menjadi mudah, Bapaknya mendaftarkan ya ke sekolah yang sama dengan Honna dan Alira.


Honna mengganggu Alira kini, dirinya tidak perlu lagi memakai obat tidur untuk menanti Tora. Alira membawa selembar kertas sebagai bayarannya pada mimpinya.


"Apa itu?" Tanya Honna.


"Ini? Yang aku gambar sewaktu di sekolah. Aku berjanji akan menggambarkan sosok lelaki yang aku temui," kata Alira lalu membukanya.


Tora tampak tidak menyukai sosok yang Alira gambarkan, dia agak cemburu. "Apa dia yang kamu temui?" Tanya Tora.


"Iya namanya Aiolos," kata Alira memandanginya.


"Kamu yakin mau ke sana? Menurutku tempat itu sepertinya bukan tempat yang baik. Aku takut saat masuk nanti kamu tidak bisa keluar," kata Honna cemas.


"Aku setuju, kamu tidak perlu memberikan gulungan ini. Gara-gara dia juga kan kamu tersesat di dunia sana," kata Tora.


"Aku yang memintanya bukan dia. Dia hanya memberikan pilihan karena obat yang aku konsumsi lebih membahayakan. Salahku, sudah diberi tahu sekali malah ingin bertemu lagi seharusnya aku tahu kalau itu berbahaya," jelas Alira.


"Benar kan kamu hanya memberikan itu saja?" Tanya Honna.


"Tenanglah aku rasa pemilik toko tidak bermaksud jahat entah ada makna sesuatu dari mimpi itu. Lelaki ini sepertinya mengatakan sesuatu dan dia membawa seikat bunga yang indah. Ya ini orangnya," kata Alira.


Kemudian mereka menuju toko Eris dan memutuskan untuk menunggu di luar gang saja supaya lebih cepat.


"Alira, sebelum kamu pergi bawalah salib dan air suci ini untuk berjaga-jaga," kata Tora.


"Baiklah, kalian tunggu disini. Aku tidak akan lama," kata Alira memakainya lalu pergi.


Alira memasuki toko itu dan disambut oleh Ela.


Eris menunggu di balik etalase. Alira menyerahkan gulungan itu pada Eris. Eris menatap kalung salip dari Tora.


"Sepertinya kamu sudah menemukan sosok lelaki itu," kata Eris memegang gulungan kertas.


"Hehehe iya. Terima kasih atas pemberian mahkotanya, aku mendapatkan pelajaran berharga. Ini pembayarannya dan anehnya aku bertemu sosok perempuan yang mirip denganmu," kata Alira dengan gembira.


Eris menerima pembayarannya. "Syukurlah," kata Eris dingin.


"Maaf kalau gambarnya jelek aku sudah berusaha semampunya, dia benar-benar tampan! Laki-laki itu memegang buket bunga bakung putih," jelas Alira.


"Terima kasih atas pembayarannya. Semoga kau berbahagia," kata Eris membungkukkan kepalanya. Alira membalasnya lalu keluar toko.


Selepas Alira pergi, Eris membuka gulungan kertas itu dan melihat hasil gambarannya. Benar-benar tarikan pensil yang bagus sekali.


Tampak gambar seorang lelaki dengan paras wajah lembut dan tampan, rambutnya pendek berwarna pirang bergelombang, senyuman hangat dan tulus tersungging di mulutnya.


Bola mata yang menunjukkan keramahtamahan, perawakan bagaikan seorang pangeran dengan memakai tuksedo putih, kerahnya agak dilonggarkan. Lalu celana panjang berwarna biru gelap membawa seikat buket bunga bakung putih.


Bagaikan tersihir Eris agaknya mengenal siapa pemuda itu tapi tidak yakin. Dalam dunianya semua berkabut tidak ada ingatan apapun mengenal sosok ini.


Di sekitar Mall, Honna ijin pergi mengambil uang di mesin uang. Alira dan Tora ikut menunggunya, sambil mengobrol. Lewatlah Aiolos yang baru saja membeli beberapa makanan bersama Nyx.


Alira yang menyadarinya lalu mengejarnya. Tora dan Honna ikut menyusul.


"Kak! Kakak Aiolos?" Tanya Alira menepuk tasnya.


Aiolos melirik ke belakang. "Alira," kata Aiolos.


Honna, Tora dan Nyx hanya memandangi mereka. Apalagi Honna yang dia menganggap Alira awalnya hanya berhalusinasi. Kini dia melihat sendiri kalau laki-laki yang dilihat temannya memang ada.


"Syukurlah, kamu bisa keluar. Sekarang kamu tidak perlu lagi mencari yang lain," kata Aiolos membelai kepala Alira.


Tora cemburu sekali dan Aiolos menghentikannya setelah itu mereka berpamitan. Honna tidak menyangka kalau itu nyata dan meminta maaf karena sudah membuat Alira tidak enak.

__ADS_1


"Kamu kenal dia? Bagaimana ceritanya? Manis sekali," kata Nyx.


Aiolos tertawa. "Jangan, itu kekasihnya. Ayolah ada yang mau aku bicarakan," kata Aiolos menarik leher temannya itu.


__ADS_2