Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
2


__ADS_3

"Oooh Juli kenapa kamu pergi? Hidup di dunia ini tanpamu, aku pun akan segera menyusul mu," kata Yuri dengan dialognya.


Meskipun dia merasa belum sepenuhnya siap, tapi tertantang untuk mencoba latihan di atas panggung.


"Oke! Itu dia! Di situ nanti kamu pegang tangan Juli lalu angkat pedang kertas itu ke langit dan tusukkan ke dada kamu. Begini," kata Xin memberikan contoh.


Yuri menatap agak miris melihat pedang itu ditancapkan Xin ke dadanya.


"Apa itu pedang sungguhan?" Tanya Ria memecahkan keheningan.


Semua anggota drama tertawa mereka bersulang karena berhasil menipu mata para mahasiswa.


"Nih kamu pegang," kata Xin ke Yuri dan kedua sahabatnya.


Mereka memegang tampak asli tapi ternyata ter buat dari beberapa kertas yang tebal.


"Ini pedang kertas lihat ada sedikit ruang kan disini kalau ditancapkan ke manapun," kata Xin. Pedang itu masuk kedalam tanpa melukai kulit.


"Pedang ini akan merosot masuk ke dalam pembungkusnya hahaha kita berhasil membuat semua orang tertipu. Kami tidak pernah menggunakan alat sungguhan," kata Adrian sang pembuat peralatan bohongan.


"WOW! Ini pedang kertas? Keren! Seperti sungguhan," kata Yuri kagum.


"Jadi itulah kenapa kamu melihat aku begini, agak mengerikan?" Tanya Xin menggelengkan kepala sambil tertawa.


Wajah Yuri memerah saat tahu pedang itu terbuat dari kertas. "Ya maaf, kan aku bukan anggota drama," katanya mengusap wajahnya.


"Ya makanya kenapa juga Ketua memilih dia hanya karena pernah drama di sekolah dasar. Begini nih kelakuan amatir," kata Sely mengibaskan rambutnya.


"Hahaha biarkan saja. Sely iri karena akting kamu sangat bagus, Yuri. Nih, kamu coba tusuk deh teman kamu pakai ini," kata Xin memberikan pedang itu.


Yuri melakukannya dan benar saja pedang kertas itu merosot ke dalam. "Oh benar juga," katanya lalu memberikan pada Xin.


"Nah ini namanya Adrian, dia tugasnya membuat prakarya untuk keperluan drama. Oke deh istirahatnya selesai, kita lanjutkan ke adegan berikutnya!" Kata Xin menepuk tangannya.


Kemudian adegan panggung kembali berlanjut. Yuri bersiap untuk kalimat selanjutnya. "Oh, pedang. Dadaku adalah sarung mu berkarat lah di sini, matikan lah aku agar bisa menyusul Juli," kata Yuri lalu mengangkat pedang dan mendaratkannya ke dadanya lalu pura-pura mati.


"YAK! BAGUS YURI! Nah bagaimana? Kamu bisa kan?" Tanya Xin yang menepuk punggungnya dengan semangat.


Yuri menatap pedang itu lagi. "Benar-benar tampak asli," katanya agak merinding.

__ADS_1


Semua anggota drama serta kedua teman Yuri bertepuk tangan. Sely hanya jutek kepada Yuri, dia menggigit saputangannya karena sebal.


"Sely, karena suara kamu sedang sakit kamu bisa memperagakan itu nanti. Harus sama seperti yang dilakukan Yuri supaya penonton tidak merasa kalau kalian berganti peran," kata Xin menghampirinya.


"A..ku.. di pe..ra..n ma...na?" Tanya Sely sambil memegang tenggorokannya.


Xin menghela nafas. "Di take ini, kamu masih bisa tampil di adegan Juni yang tidak bisa bersuara," tunjuk Xin membuat Sely menganga.


Sely masih saja cemberut tapi apa mau dikata, suaranya persis nenek-nenek begitu. "Apaan sih? Aktingku jauh lebih baik dari anak ini. Hanya karena wajahnya imut dan penampilan bak putri, semua memuji aktingnya! Dia merebut peran utamaku! Coba saja Yuri kecelakaan, aku bisa memperlihatkan kemampuanku yang sesungguhnya!" Pikir Sely dengan mata yang membara.


Setelah itu mereka bertiga pulang dan berjanji akan datang lagi untuk latihan. Mereka bertiga bercanda soal drama tadi sambil memainkan kalimat yang Yuri peragakan.


"Asyik juga ya bisa melihat Yuri memainkan drama," kata Ria dengan senang.


"Iya kamu kan selama ini sibuk dengan magang. Kita bertemu juga agak cepat," kata Isak.


Yuri tertawa. "Huh! Kalian enaknya saja menonton, aku yang susah nih. Mana setiap hati harus mulai latihan juga," kata Yuri menggaet leher mereka berdua.


"Lalu kerja sambilan kamu bagaimana?" Tanya Isak.


"Tidak apa-apa pemilik toko justru menyarankan aku agar lebih banyak berkegiatan di kampus," kata Yuri teringat Eris.


"Nanti aku traktir kalian makan apa saja deh," kata Yuri.


"Pamerannya sebentar lagi. Ayo Yuri kamu bisa!" Teriak Ria dan Isak bersamaan.


Beberapa menit kemudian, Isak melihat bayangan seseorang dari belakang mereka. Dia berbalik badan dan orang itu seperti bersembunyi. Isak memandangi Yuri dan Ria yang sedang bercanda.


"Kamu kenapa? Sejak dari tadi tidak ada suara lagi," kata Ria memeluk Isak.


"Sini," kata Isak memberikan kode pada Yuri.


"Ada apa?" Tanya Yuri penasaran.


Isak lalu merangkul mereka berdua. "Kalian tidak merasa kalau kita diikuti orang?" Bisik nya.


Mereka berdua terdiam lalu perlahan melirik ke belakang. Seorang laki-laki besar, dengan badan tegap, tinggi dan memakai kacamata hitam memandangi mereka lalu berbalik arah.


"Siapa ya?" Tanya Yuri agak cemas.

__ADS_1


Dia pernah bertemu dengan Thanatos saat rohnya melanglang buana ke dimensi lain sebelum akhirnya ke toko Eris perawakan laki-laki tegak itu mirip Thanatos.


"Kamu kenal Yuri? Wajah kamu seperti menjawab begitu," kata Isak agak lega melihat orang itu menjauh.


"Mirip dengan orang yang aku kenal tapi tidak mungkin itu dia," kata Yuri ketakutan. Kalau memang benar Thanatos, apa yang dia lakukan?


"Dia membuntuti kita sejak kapan, Isak?" Tanya Ria gemetaran.


"Sejak kita keluar dari kampus. Aku kira tukang ojek yang cari alamat ternyata bukan," kata Isak.


Kemudian mereka berjalan dengan tenang dan tiba di persimpangan jalan. Isak menuju arah atas dan sisanya berjalan ke arah kiri dan kanan.


"Yuri," kata Ria berbisik.


"Apa?" Tanya Yuri.


"Orang itu masih mengikuti," kata Ria dengan gemetaran.


"Setelah kuta berpisah di depan, langsung lari sampai rumah. Ok?" Tanya Yuri.


Ria menganggukkan kepalanya dengan gugup. Sampai di depan, mereka melakukan ancang-ancang hendak berlari secepat kilat.


"SEKARANG!" Teriak Yuri dan Ria bersamaan dan mereka melesat seperti mobil balap yang hampir kehabisan bensin.


Thanatos yang mendadak melihat mereka berpencar dan ngibrit seedan-edannya terlihat kebingungan. Bagaikan ada bayangan yang keluar dari badannya hendak mengejar Ria, Thanatos tersadar siapa target sebenarnya.


Yuri. Bayangannya lalu masuk kembali dan Thanatos berlari dengan putaran kaki yang tidak terlihat saking cepatnya. Yuri saat itu lebih jauh di depan dan berbelok lalu istirahat, dia mengatur nafasnya yang sudah ngik ngok ngik ngok.


Dia berada di perkotaan yang ramai, melihat ke belakang orang itu tidak mengejarnya, Yuri lalu berjalan biasa. Tanpa disadari Thanatos juga sudah berada di belakang Yuri cukup jauh kebelakang.


Yuri merasakan hawa tidak biasa dan berbalik. Thanatos berjalan ke arahnya, Yuri kaget sekali. "Ya ampun! Jadi dia benar-benar mengikuti aku? Kalau begini sih kenapa aku tadi tidak terpikirkan untuk ke rumah Ria saja?" Pikirnya kemudian diam di tempat.


Melihat Yuri tidak bergerak, Thanatos pun ikut diam di tempat. Seakan cermin, Yuri kemudian melakukan gerakan Thanatos pun ikut mengkopi paste nya.


Sampai-sampai Yuri melakukan gerakan tarian ular, Thanatos pun mengikutinya. Beberapa orang menertawai mereka berdua. Thanatos kebingungan lalu melihat Yuri tiba-tiba berlari ke arahnya dan dia kaget.


Terpikir mau lari juga tapi dia teringat bahwa dia adalah Thanatos sang Death dari dunia bawah. "Kenapa aku harus lari dari manusia lemah? HAHAHAHA!" Pikirnya saat berpaling, Yuri sudah ada di hadapannya.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2