
"Anu, Panji," kata Miu memikirkan soal yang pernah dialami sewaktu kecil.
"Hm?" Tanya Panji menatap lembut Miu.
"Waktu aku kecil kenapa kamu bisa tiba-tiba menghilang begitu saja dari kapal? Aku mencari mu kemanapun tapi tidak ada yang melihatmu," kata Miu dengan wajah yang penuh tanda tanya.
"Ah, itu... Hmmm," kata Panji kehilangan kata-kata. Karena baginya ini adalah dunia mimpi, sulit menjelaskannya pada Miu.
"Lalu sekarang kenapa bisa tiba-tiba ada di kamarku? Itu kan aneh. Kamu alien?" Tanya Miu.
Wajahnya memerah. "Bukan dong. Begini, sejak kecil kota bertemu itu aku terus merasa ingin bertemu lagi denganmu. Lalu kupejam kan mata dan... TADA! Aku ada di depanmu," jelas Panji karena sulit menjelaskannya.
"Hebat! Kamu penyihir ya?" Tanya Miu terkesan.
"Bukaaaaan. Haduh, bagaimana ya menjelaskannya? Karena ini mimpi jika aku pejamkan mata hanya dengan memohon untuk bertemu denganmu, kapanpun aku bisa muncul di hadapanmu," kata Panji tersenyum malu.
"Jadi aku ini cinta pertama kamu ya?" Tanya Miu dengan wajah yang merah.
Panji juga sama dan memainkan tangannya. "Se-seperti... itulah,"
"Aku bisa? Aku tidak boleh pergi menemui mu? Jadi bergantian," kata Miu semangat.
Panji berpikir. "Kalau dari kamu ya tidak bisa," kata Panji.
"Lho, kenapa? Kan bermimpi juga," kata Miu tidak mengerti.
"Kamu kan ada di dalam mimpiku sekarang," kata Panji.
"Hah? Panji, ini bukan mimpi. Aku nyata dan kamu juga. Coba pegang tanganku, kamu merasakannya kan?" Tanya Miu yang memegang wajah Panji.
Panji menggelengkan kepalanya. "Ini mimpi, Miyu. Karena aku hanya bisa datang bila memimpikan mu," kata Panji. "Mimpi juga bisa merasakan rasa sama dengan kenyataan," jelas Panji.
Miu lalu berwajah murung. Baginya ini bukan mimpi karena demam dia merasakannya, justru Panji lah yang aneh.
Panji menatapnya, ada perasaan yang tidak enak. "Wajahnya jangan sedih begitu. Kalau aku ingin bertemu denganmu seharian, aku pasti lakukan," katanya.
"Benar? Janji ya kamu bisa datang dan bermain seharian denganku. Kita akan jalan-jalan," kata Miu memegang tangan Panji.
"Iya, aku janji," kata Panji membelai kepala Miu.
__ADS_1
"Baiklah. Lalu siapa namamu? Kita sering bermain tapi kamu tidak pernah memberikan nama lengkap," kata Miu menyilang kan tangannya.
"Haha maaf aku lupa," kata Panji tertawa.
"Huh, dasar. Aku Miu Matsuragi. Kamu?" Tanya Miu.
"Panji Hermawan," jawabnya dan mereka kocaknya berkenalan.
"Ah ya namanya waktu itu dia memberitahukan. Setelah itu di hari kemudian dia benar-benar menepati janjinya tapi aku tidak mengira saat itu dia dalam keadaan koma. Cukup aneh dia agak pucat tapi terus menemaniku sampai pukul 2 malam. Kedua orang tuaku menyiapkan tempat tidur namun paginya, tempat itu masih rapi," kata nenek memejamkan kedua matanya lalu menangis.
Eris masih mengamatinya dalam bola kristalnya. Kesedihan dan kenyataan yang dilihat nenek itu mengenai kekasihnya.
Tokonya semakin penuh dengan pengunjung dan Yuri kelelahan. Akhirnya Eris membuat beberapa lembar kertas orang lalu berubah menjadi koki dan pelayan.
**Kembali ke tempat di mana Panji sangat ceria saat itu.
"APAAA!? Bahkan sampai berkenalan? Saat kamu kemarin koma?" Tanya Sato tidak percaya. Padahal di rumah itu sangat heboh bajkan Sato juga menangis memanggil namanya.
"Iya. Maaf ya membuat kamu cemas, aku lupa meminum obat sih," kata Panji mengakui.
"Jangan begitu lagi dong, kamu membuat aku juga koma," kata Sato yang meneteskan sedikit air matanya.
Sato bengong rasanya tidak masuk di akal. "Ya tetap saja seram sampai bisa berkenalan segala. Aku jadi penasaran seperti apa penampakannya," kata Sato berpikir.
"Kalau begitu aku gambarkan deh sebagai bentuk rasa maaf ya. Lalu bagaimana sekolahmu?" Tanya Panji sambil menggambar.
Sambil Sato bercerita mengenai betapa membosankannya sekolah. Panji menggambarkan sosok Miu yang sekarang.
"Sudah?" Tanya Sato tidak sabar.
"Nih. Bagaimana?" Tanya Panji**.
Meskipun gambar Panji masih kurang baik, tapi Sato bisa melihat jelas. "**Manis sekali sukar dipercaya ini benar dia?" Tanya Sato.
"Yaa begitulah aku tidak pintar memggambar sih tapi kurang lebih seperti itu dia yang sekarang," kata Panji bangga sekali.
"Sudah SMP juga kan. Kelas berapa?" Tanya Sato memandangi gambarnya.
"Kelas 1," jawab Panji.
__ADS_1
"Wah, sama denganku sekarang dong," kata Sato kaget.
"Oh benar juga ya. Aku lupa berapa usiamu," kata Panji tidak menduganya.
"Jadi kamu hanya ingat usia dia berapa sedangkan aku, kamu lupakan ya," kata Sato dengan wajah mematikan.
"Hahaha maafkaaan," kata Panji memohon ampun.
"Enak sekali kamu hanya dengan bermimpi saja kamu bisa mendapatkan gadis manis," kata Sato memandangi gambar Miu.
"Haha senangnya aku. Selain manis, dia itu cantik lho. Bagiku Miu yang tertawa dalam mimpi sangat cantik!" Kata Panji dengan tegas.
Menatap sahabatnya yang cemberut karena keadaan sekolahnya yang kebalikan.
"Aah, kalau bisa kamu aku ajak ke dalam mimpiku dan lukenalkan pada Miu," kata Panji yang menyandarkan kedua tangannya di atas kepalanya.
"Enak saja! Mana sudi aku mau masuk ke dalam mimpimu! Bisa-bisa aku jadi nyamuk disana," kata Sato masih cemberut.
"Hahaha kamu minta pun aku tidak akan ajak! Miu milikku seorang. Minggu depan kami akan hiking ke gunung bersama kedua orang tuanya dan lalu, kalau nanti dia liburan sekolah, aku juga diajak ikut ke pantai. Bagaimana?" Tanya Oanji menggoda Sato.
Sato menjulurkan lidahnya dan menghela nafas. "Enak ya. Kamu punya Miu. Aku? Begitu ke sekolah, impianku mengenai perempuan jadi hancur berantakan. Di kelasku sendiri hanya ada perempuan yang gemuk," kata Sato tertelungkup.
"HAHAHAHA! Jangan begitu. Coba kamu ceritakan suasana di kelasmu itu seperti apa? Oh ya bagaimana hasil pra karyamu?" Tanya Panji yang sangat ceria.
Sati heran memandangi Panji yang biasanya selalu murung karena penyakitnya. Lalu Sato menceritakan semuanya dan Panji banyak tertawa**.
"Wah, dia tertawa. Panji yang biasanya bosan mendengar cerita tentang sekolah termasuk teman-temanku tapi kali ini dia tertawa. Syukurlah," **pikir Sato tersenyum.
Panji antusias sekali memegang dan menatap karya yang dibuat oleh Sato lalu dia menguap.
"Aku sepertinya mulai mengantuk," kata Panji mengucek matanya.
"Ya sudah kamu tidur saja titip salamku pada kekasihmu ya," kata Sato mengerti, ini waktunya dia pulang.
"Aku belum menyatakan," jawab Panji agak malu.
"Ya nyatakan dong. Aku pulang dulu ya," Kata Sato berdiri dan sedikit mencondongka badannya. Lalu sekejap dia mencium pipi Panii dan langsung kabur.
Panji melemparkan bantalnya dan mengusap keras pipinya. "Pipiku hanya untuk Miu seorang!!" Teriaknya dari balik pintu.
__ADS_1
Bersambung** ...