
Yuri yang mengamati masih agak penasaran dengan wanita cantik. Dia memandangi Arae, karena biasanya Arae bertindak sebagai detektif.
"Hei, Arae apa kamu tidak penasaran?" Tanya Yuri.
Arae mengerti maksudnya dan mereka memutuskan akan mengintai wanita tadi. Eris tahu ini akan terjadi, orang yang bertindak sebagai penyelidik akan bertambah.
"Yuri, bawa Jam waktu ini karena kamu bekerja dalam toko, dan aku menghentikan gerakan waktumu. Bila kamu ingin keluar, bawa jamnya supaya kamu tidak terlihat bersama dengan Arae," kata Eris memberikan jamnya kepada Yuri.
"Indah sekali," kata Yuri memandang jam saku itu.
"Bayaran dari seorang nenek yang sering datang ke toko ini. Sebelum kami bertemu denganmu, nenek itu selalu ikut mendengarkan cerita pembeli," ucap Raven yang berubah menjadi manusia.
"Oh, begitu. Apa jam ini ada fungsi lain?" Tanya Yuri karena apapun benda yang ada dalam toko Eris, pasti ada maksud.
"Tentu. Tapi kamu tidak perlu tahu," kata Eris membawakan jam pasir.
Arae sudah berubah bajunya sedangkan Yuri memakai topi untuk menyembunyikan kepalanya. Lalu mereka keluar dari toko tersebut dan mengikuti wanita tadi.
Wanita itu lalu berpapasan dengan beberapa orang dan mengobrol, Arae yang memakai kacamata hitam otomatis menghalangi Yuri.
"Bertambah?" Tanya Yuri.
"Ya," kata Arae menambahkan masker untuk menutup hidungnya.
"Sepertinya rumit ya kalau bisa melihat," kata Yuri menatap wanita itu tanpa adanya hal yang aneh.
"Penampakannya seperti air selokan yang warnanya sudah menghitam lalu dijadikan uap dan itu membumbung tinggi," jelas Arae menatap Yuri yang memucat.
"Hoeeeeek," katanya sambil menjulurkan lidahnya agak geli membayangkannya. Yuri bersyukur dia tidak bisa melihatnya, wanita itu lalu memasuki sebuah taman dan menemui 3 orang laki-laki.
"Benar dia tidak memiliki kekasih," gumam Arae.
"Lalu mereka bertiga siapa?" Tanya Yuri yang juga telah memakai kacamata hitam.
Jam itu membuat mereka tidak bisa terlihat jadi bisa sedikit dekat dengan mereka.
"Woi, Lira! Kemana saja? Lama sekali," sapa salah satu dari mereka bertiga.
Wanita bernama Lira itu duduk dengan kesal dan mengeluarkan rokok lalu menghisapnya. "Aku habis dari rumah yang isinya ajaib itu," katanya menghembuskan asap abu-Bu dari mulutnya.
Arae tidak melihat ada kepulan asap hitam saat Lira mengobrol dengan mereka. Dia berkata jujur jadi hanya dengan orang lain dia selalu berbohong. Tapi kenapa?
"Hahaha itu kan hanya kabar burung. Jadi kamu percaya?" Tanya teman 1 yang juga menghisap rokok.
"Lalu mau apa kamu kesana?" Tanya teman 2 yang duduk jongkok di depannya.
"Awalnya aku tidak berminat masuk ke sana tapi entah kenapa kedua kakiku tidak bisa menolak. Aku masuk dan... ya konsultasi. Pemilik toko itu ternyata masih anak-anak sekitar usia 12 tahun," kata Lira menghisap lagi lalu menghembuskan.
"HAHAHAHA jadi kamu mempercayai apa kata anak kecil itu? Tidak seperti kamu saja," ejek teman 3 dengan suara tawa yang parau.
"Kalian kan belum pernah lihat. Anaknya misterius juga. Banyak barang berharga, ada emas juga sayangnya saat itu yang terpikirkan hanyalah masalah yang aku alami," kata Lira kembali berpikir.
"Apa kalian tidak merasa janggal? Mana ada anak usia 12 tahun diserahkan menjaga toko dengan isi barang yang bernilai," kata teman 2 agak aneh.
"Ya bisa saja. Lain kali kalau kamu kesana ajak kami ya," kata teman 3.
__ADS_1
"Baiklah, kalau bisa ya aku merasa anak itu bukan sembarang anak" kata Lira menghisap rokok dengan keras.
"HAHAHAHA yang benar saja. Masa kamu takut sama anak kecil?" Tanya teman 1.
"Jangan macam-macam deh, aku kesana juga membicarakan soal rasa di mulutku dan jari kelingking," kata Lira menunjukkan jarinya yang masih kaku.
"Oh iya ya jari kamu seperti batu. Laly apa kata anak kecil itu?" Tanya mereka penasaran.
"Kalau soal jari kelingking, aku harus kembalikan uang yang sudah aku curi dari calon pengantin korban kita itu," kata Lira agak sebal.
Mereka terkejut bagaimana bisa anak itu tahu? Kan dia pastinya baru bertemu dengan Lira.
"Apa kamu menceritakan kepada anak itu siapa kamu sebenarnya?" Tanya teman 1 agak mengancam.
"Tentu saja tidak! Hanya kenapa temannya tahu kalau aku termasuk anggota Penipu Pernikahan? Lalu soal jariku karena aku sering melakukan janji tetapi tidak pernah ditepati," kata Lira memperhatikan jarinya sendiri.
"Kamu hanya lewat atau memang penasaran ingin masuk?" Tanya teman 2.
"Dengar ya, aku sama sekali tidak punya niat untuk masuk ke sana. Seakan-akan ada yang menyeret kedua kakiku untuk melangkah. Ya kesana!" Kata Lira.
Mereka berempat hening sejenak, berpikir memang sangat aneh. Apakah ada magnet sesuatu yang membuat orang terseret masuk ke dalam toko?
"Oke, masalah itu nanti kita pikirkan lalu apa kamu mau mengembalikan uang itu?" Tanya Teman 1.
"Ya bagaimana lagi. Dari aku yang tidak cerita siapa aku, eh temannya sudah tahu kan aneh. Oh, ayolah kita kembalikan kalau tidak, aku akan kehilangan jari kelingkingku. Ini adalah sumber pencarian kita bukan?" Tanya Lira meminta mereka setuju.
"Aaahh sial! Uangnya itu kan mau aku simpan untuk menikah nanti. Bagaimana kalau kita ganti profesi saja?" Teman 2 memberikan usul.
"Ini justru profesi yang lebih menguntungkan. Apalagi Lira adalah artis kita," kata Teman 3 agak kurang setuju.
"Begini saja. Ayo kita buktikan kalau kita mengembalikan uangnya, jari kelingking ku dapat digerakkan bukan? Bagaimana kalau kita buat sandiwara?" Tanya Teman 3.
"Anak itu mana bisa tahu kalau kamu sudah mengembalikan uangnya kan. Tenang saja," kata teman 2 dengan santai.
Mereka semua setuju berpendapat bahwa Eris pasti akan percaya. Hanya saja mereka tidak tahu keberadaan Arae dan Yuri, dekat dengan mereka.
"Kita tidak akan memberitahukan Eris?" Tanya Yuri berbisik takut ketahuan.
"Eris selalu tahu lebih dulu dari kita. Tenang saja," balas Arae. Setelah itu Arae mengajak Yuri untum pergi karena Yuri hanya terbatas bisa keluar dari toko.
Jam saku menunjukkan sekitar 10 menit lagi waktu Yuri habis dan waktu akan kembali berjalan normal kalau dirinya terlambat masuk toko.
"Ayo, kita lakukan karena aku mirip dengan calon kamu yang dulu, aku akan berperan menjadi dia," kata teman 3 yang menyisir rambutnya.
Lira mengangguk sambil tertawa.
Drama versi mereka kemudian dimulai dengan mengambil tempat dari rumah orang yang sedang kosong. Dengan sedikit batang kawat mereka bisa membobol rumah mewah itu dan berpura-pura sebagai pemilik.
Lira kemudian datang mengetuk dan dibuka oleh temannya yang sudah menjelma mirip dengan calon yang dulu. Lira menangis meminta maaf sambil mengembalikan uang yang telah mereka ambil dari ATM.
Saat penyerahan uang, temannya itu mengangguk setuju dan memberikan nasehat pada Lira. Setelah itu Lira pergi.
"Bagaimana? Mudah kan HAHAHAHA!" Tawa teman 3 lalu mereka juga tertawa bersama.
"Coba sekarang kamu gerakkan jari kamu, aku yakin pasti sudah sembuh. Kamu tidak perlu percaya dengan apa kata anak itu," kata teman 1 menatap jari Lira.
__ADS_1
Karena senang drama itu sudah berakhir, Lira mencoba menyentuh dan menggerakkan namun yang terjadi...
"KYAAAAA!!" Teriak Lira diiringi dengan tangisan keras.
"Kamu kenapa!?" Tanya mereka semua.
"Jariku... jariku," kata Lira menahan rasa kesetrum ditambah perih yang menghujam.
Mereka melihat, jari kelingking Lira tampak seperti ada garis-garis ungu menghias di sekitaran jari kelingkingnya.
"Sepertinya kita memang harus mengembalikan uang itu ke pemilik sebenarnya," saran teman 1 mengkhawatirkan Lira yang menahan sakit.
"Ini hanya kebetulan! Lira sudah sering mengalami sakit di kelingkingnya kan. Ayolah, jangan pura-pura," kata teman 3 yang menatap Lira dengan pandangan gurauan.
"Ahhh... tapi... ini memang... sakit," kata Lira menangis meringis. "Seperti akan dipotong sesuatu," katanya.
Mereka akhirnya menunggu selama 10 menit dan rasa sakit itu pergi dengan sendirinya. Lira meniup jarinya perlahan, jari itu kembali tidak bisa digerakkan.
"Jadi tidak akan kita kembalikan?" Tanya Teman 1 membelai Lira yang sudah tenang.
"Berhentilah bersikap cengeng dan ketakutan seperti anak kecil. Ayo kita jalan-jalan," ajak teman 3 agak menyeret Lira.
Sebelum mereka pergi, sudah tentu mereka mengambil barang berharga di rumah itu. Lira mengambil sekotak tembakau lalu meminum alkohol dengan puas.
Dirinya kesal karena jarinya terasa sakit dan mengguyurnya dengan sebotol anggur. Entah kenapa Lira melihat jarinya tampak seperti patung. Agak licin dan... keras.
"Jariku," kata Lira kepada ketiga temannya yang duduk menghabiskan makanan.
"Apa lagi? Sudahlah, nanti akan sembuh," kata teman 3 dengan memainkan sepatu barunya.
Mereka kemudian mengunci rumah besar itu lagi setelah memberantak kan isi rumah. Pura-pura mereka adalah pemiliknya lalu meninggalkan rumah dengan membawa banyak barang mewah.
Saat tengah berjalan menuju mobil, tiba-tiba Lira terpleset batu yang entah dari mana. Dia meringis dan menyumpahi dirinya bahwa hari ini sangat sial baginya.
Saat Lira hendak berdiri, beton pipa terjatuh dari atas kepalanya. Seperti ada yang mendorongnya lalu melemparkannya ke arah dirinya. Otomatis Lira tergeletak lagi dan tidak sempat mengangkat tangannya, pipa beton itu tergeletak persis sebelah jari kelingkingnya.
Bukan Arae atau Eris karena mereka telah sampai di toko tapi asap hitam itulah yang menarik pipa beton itu dan melempar ke arah Lira.
Lira yang melihat itu, sudah tentu histeris. "TIDAAAAAK!!!" Dia menarik jarinya dan memeriksanya sambil menangis.
Secepat kilat dia menyambar tas penuh uang itu lalu berlari tanpa mobil menuju kediaman orang yang telah dia tipu.
"Kamu kenapa? Dengar, Lira itu hanya kebe..." kata teman 3 menenangkan.
Lira yang sudah mirip orang gila mengacak-acak rambutnya. Dengan ketakutan, air matanya berlinangan. "Berisik! Aku yang mengalami bukan kamu! MINGGIR!" Teriaknya.
Karena saling kalapnya, dia berlari dengan cepat ke rumah itu. Mantan calonnya yang memang dia tipu untuk diambil uangnya.
Sesampainya Lira menekan bel pintu dan berharap dia ada di rumah.
"Ya? Siapa," kata suara laki-laki membukakan pintu.
"Tora! Ini! Uang kamu, aku kembalikan. Aku minta maaf sudah menipumu dengan berjanji akan menikahi mu tapi... aku membawa kabur uang pernikahan kita. Tolong maaf...maafkan aku!" Kata Lira sambil menangis bersujud di hadapannya.
Bersambung ...
__ADS_1