Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
7


__ADS_3

"Kak, dimana rumahnya?" Tanya Anta penasaran. Ya kali kalau dekat bisa ajak malam mingguan.


"Jalan Tameng," jawab Artemis dengan wajah dingin namun suara hangat.


"Yah, jauh sekali kalau dekat kan aku bisa main ke rumah kakak," kata Anta dibarengi ketawa cekikikan dari yang lain.


"Kak, sudah punya pacar?" Tanya Saka pada Apollo.


"Sudah ada," kata Apollo tersenyum.


Sontak semuanya kecewa lalu melirik ke arah Artemis.


"Kalau kakak?" Tanya Ringu.


Semua berharap Artemis masih single.


"Aku tidak berminat mencari pacar," jawab Artemis dengan memandangi sekeliling taman.


Kecewa untuk yang kedua kalinya. Tapi tidak berminat masih ada luang untuk menjadi kekasihnya.


"Hei! Kamu ini terlalu dingin menjawabnya," kata Apollo membenturkan tangannya.


"Kalau tidak begitu, kita akan terus diikuti sama mereka. Siapa pacar kamu?" Tanya Artemis ingin tahu.


"Itu juga alasan. Aku tidak mau lagi pacaran. Sudah mengalami kejadian tidak enak selama 2x," kata Apollo mengingat kedua mantan yang mau menjadi pacarnya hanya karena wajah gantengnya.


"Perempuan yang kita temui kebanyakan mereka menyukai kita karena mirip si BTS. Aku tidak suka, ingin dikenal diluar itu," bisik Artemis lagi.


Linda lalu menghampiri teman-temannya untuk segera membentuk formasi. Tapi teman-teman lainnya malah terus berisik mengenai kehadiran mereka berdua.


Karena kalau begini terus waktu semakin malam, akhirnya Artemis langsung maju. "Kapan kalian akan melakukan pemanggilan arwah?"


"Ah... iya ya kapan, Linda?" Tanya Saka yang agak linglung.


"Aku kan sudah bilang kita akan melakukannya sekarang tapi kalian terus saja bergosip. Jadi atau tidak?" Tanya Linda agak bete.


Kemudian mereka semua menyiapkan persiapan yang akan dilakukan. Nemesis sudah membawa koran untuk mereka duduki.


"Alat-alat yang kalian siapkan apa saja?" Tanya Apollo mulai mengeluarkan kameranya.


"Sederhana sekali kok kebetulan Nemesis meminjam barangnya," kata Ringu memperlihatkan pada mereka.


"Hmmm hanya lonceng dan papan aneh ini?" Tanya Artemis sambil menulis.


"Iya cukup sederhana dan mudah didapatkan meski terkadang kami harus membeli sih. Kakak silakan duduk dimana saja aku sudah membawa koran lebih," kata Nemesis memberikannya pada Artemis dan Apollo.


"Dari mana kami dapatkan lonceng ini? Kesannya bukan dari negara kita," kata Apollo memperhatikan.


"Aku dapatkan dari hasil perjalanan sih. Gara-gara melamun jadi tidak memperhatikan kemana kaki melangkah. Sebuah toko megah menjual banyak barang aneh, dari situ aku dipinjamkan dua barang ini," kata Nemesis yang meletakkan lonceng di depannya sekaligus papan Ouija yang dia buka.


"Papan Ouija? Kamu berani? Kabarnya papan ini sangat angker," kata Apollo memotret segalanya.


"Di situlah serunya," kata yang lain bersamaan.


"Oke, kita akan melakukan yang biasanya disini. Semuanya sudah cocok," kata Ringu menatap yang lainnya.


"Kalian hentikan banyak bertanya pada mereka berdua. Sekarang sudah pukul 12 malam, aku ingin kita fokus ke permainan ini," kata Nemesis dengan tegas membuat semuanya mengangguk serius.


Apollo dan Artemis duduk berdampingan kemudian mereka semua membentuk semacam lingkaran saling berdempetan. Artemis dan Apollo masih terus saja memperhatikan lonceng dan papan itu. Toh, banyak korban berjatuhan.


"Aku masih saja terus mengagumi lonceng itu, Sis," kata Arika yang sejak tadi terdiam.


"Papan Ouija ini memang sudah sepaket?" Tanya Apollo.


"Iya, Dari tokonya sudah menyatu bagus kan kalau kita dentangkan, mungkin sekalian arwah yang kita panggil menggeser kunci ini," kata Nemesis memperlihatkan semacam bulatan terbuat dari plastik.


Arika penasaran lalu didentangkan lonceng itu sekali, bunyinya jernih namun keras.


"Arika! Jangan dibunyikan lagi, suara lonceng itu keras kan kalau ketahuan satpam bagaimana?" Tanya Anda dan Ringu panik.


"Jarak taman ini dengan sekolah cukup jauh menurutku satpam tidak akan dengar," kata Apollo memperhatikan.


"Aku sudah membawa lilin ada empat. Aku yakin disini tidak dipasang lampu taman," kata Saka mengambil lilin.


"Bagus!" Puji Nemesis.


"Kita akan melakukan Worikirisama dulu kan. Kembali ke rencana awal, Sis," kata Arika masalahnya dia sudah membuatnya masa tidak jadi?


Nemesis berpikir. "Benar juga sih kamu sudah membuatkannya. Baiklah kalau begitu. Kalian siap?" Tanya Nemesis ke semuanya.


Lilin sudah dinyalakan dan ditempatkan di arah Barat, Utara, Timur dan Selatan. Ada pancuran kecil untuk burung-burung meminum air disitu.

__ADS_1


Mereka semua mengangguk kepala dan saling berpegangan tangan. Lingkaran terbentuk kembali hanya mereka berenam, Artemis dan Apollo tidak termasuk ke dalam kegiatan mereka.


"Kamu dapat mantranya?" Tanya Nemesis kepada Arika.


Arika mengeluarkan kertas yang sudah ditulisnya. "Sudah ini. Kita harus mengucapkannya bersama-sama sebanyak 3 kali. Setelah itu, kita akan membacakan mantra yang kedua sebanyak 3x juga. Selesai, letakkan lonceng ini di atas papan Ouija," jelas Arika.


"Jadi kita akab menggabungkan Worikirisama dengan kedua benda ini?" Tanya Linda terkejut.


"Apa boleh buat waktunya terbatas, Linda lagipula kita juga sudah bosan kan untuk kegiatan yang biasa," kata Arika.


"Aku setuju. Untuk wori kita cukup memanggil arwah level rendah saja. Kalau tidak seru, kita beralih ke lonceng dan papan Ouija ini. Kalian semua fokus dan waspada ya. Bila lonceng ini berbunyi sekali, tandanya arwah yang kita panggil sudah hadir," jelas Nemesis memperingatkan.


Mereka semua mengerti dan Apollo memfoto formasi mereka dari berbagai arah. Sudah seperti wartawan saja dia lalu duduk menunggu.


"Kalian yakin ini akan aman?" Tanya Apollo mengingat teknik mereka menggabungkan semuanya.


"Tenang saja kami sudah biasa melakukannya dan lihat sampai saat ini kami baik-baik saja kan," kata Nemesis percaya diri.


"Benar. Yang ini pun tidak akan terjadi apa-apa kok. Tenang saja, kak," kata Anta.


"Yang kalian lakukan tetap saja namanya pemanggilan arwah meski namanya berbeda," kata Artemis.


"Tenang saja, Kak Artemis, jangan cemas dong. Kita semua ini sangat beruntung, arwah yang kita panggil semuanya bisa dipulangkan," kata Arika.


"Kita semua sudah pro," tambah Saka.


NB: Ini hanyalah fiktif belaka. Jangan dicoba!


Mantra 1 :


...O n ori kiri tei meiri tei...


...Meiwa ya shima renai so waka 3x...


Angin malam berdesir lamban bergerak hanya melewati mereka semua. Mereka terdiam menunggu meskipun angin memukul kepala mereka namun koin yang mereka letakkan sama sekali tidak bergerak. Setelah itu...


KRIK KRIK KRIK TOKKEEE TOKKEE


Tidak ada lagi angin malam seolah-olah mereka enggan melewati mereka semua lagi. Lalu mereka memutuskan untuk membaca mantra yang keberhasilannya sudah dihitung 100 persen pasti terjadi.


Mantra 2 :


...Disini ada pesta Pestanya Kecil-kecilan...


...Datang tak dijemput pulang tak diantar...


...Kami memanggilmu wahai arwah...


...Bermainlah bersama kami 3x...


Mantra yang sudah dikenal satu negara Indonesia tingkat keberhasilan sudah tidak diragukan lagi. Mau menggunakan alat apapun pasti berhasil 100 persen.


Semua menunggu lagi Angin malam datang dengan kekuatan besar mendorong mereka semua seakan hendak mengusir keheningan malam. Arika dan Saka terdorong keras ke belakang.


Sisanya berusaha melawan lajunya angin. Apollo dan Artemis membantu mereka untuk duduk.


"Anginnya kencang sekali," kata Apollo menatap langit.


"Hai, arwah bila kau sudah datang bunyikan lonceng ini sebagai tandanya!" Teriak Nemesis pada keheningan.


Angin lalu berhenti. Mereka semua kembali membetulkan formasi dan menatap lonceng atau papan. Tapi tidak ada yang berubah.


"Sepertinya hari ini gagal ya," kata Artemis menghela nafas.


"Itu lebih baik. Bagaimana kalau kita sudahi saja?" Tanya Apollo.


"Belum," jawab mereka fokus pada bulatan plastik yang ada di atas papan.


Lima detik bulatan itu bergerak tanpa ada jari yang meletakkannya disana. Artemis dan Apollo terkejut sedang mereka berenam tersenyum.


Arae tampak hadir begitu juga Eris dan seekor gagak. Mereka duduk di atas pepohonan memperhatikan kegiatan mereka.


Eris melihat aura hitam di sekitar mereka. "Mereka dalam bahaya," kata Eris.


"Ya karena mereka terlalu sombong apalagi mereka memanggil banyak arwah. Sadar tidak sih?" Tanya Arae menikmati malam itu.


"Pintar memanggil tiga cara akhirnya mereka banyak yang berkumpul. Kalau begini, kita akan berurusan juga dengan mereka," kata Eris menatap tajam.


"Eris. Itu," tunjuk Arae pada kabur hitam yang ada 2 meter dari kelompok Nemesis.


"Itu dari lonceng kalau saja mereka sadar," kata Eris menatap jauh.

__ADS_1


Makhluk kabut hitam itu tidak bergerak seakan menunggu sesuatu. Di sekitarnya muncul setan-setan kecil yang berlari menuju tempat mereka semua.


Arae mengeluarkan kabut putih pekat yang membuat taman itu dikelilingi kabut di luar. Setan kecil itu berhenti dan hanya terus berkeliling mencari jalan masuk.


Di bawah, Artemis merasakan sesuatu yang berbahaya mendekat dan menatap keenam gadis yang senang usaha mereka berhasil.


"Ada apa?" Tanya Apollo melihat temannya agak gelisah.


"Firasat ku buruk. Semoga kegiatan ini hanya sebentar dan aku merasa ada yang mengamati kita," kata Artemis berjaga waspada.


"Aku harap mereka secepatnya sadar kalau kegiatan ini tidak ada manfaatnya. Mempermainkan arwah sama sekalu dengan mereka memainkan nyawa," kata Apollo memotret sekitarnya.


"Kak, bergerak," kata Saka mengajak Apollo dan Artemis untuk menyaksikannya.


"Ada yang mau bertanya?" Tanya Nemesis melihat semuanya.


"Aku," jawab Arika dengan jahil. "Kamu ada disini?" Tanyanya pada Papan Ouija.


Bulatan itu bergerak ke arah kata Ya.


"Apakah kamu setan kecil?" Tanya Arika lagi.


Bulatan itu masih di kata Ya.


"Kedua lelaki yang ada disini apa mereka benar masih single?" Tanya Saka.


'Tidak'.


Jawabnya membuat mereka semua kecewa termasuk Nemesis yang menyukai Artemis.


"Ada berapa yang datang kemari?" Tanya Ringu penasaran.


Bulatan itu kemudian bergerak ke huruf B-A-N-Y-A-K.


Yang lain kaget mereka tidak mengira akan ada banyak arwah yang datang. Mereka mengira hanya 1 biji.


"Itu wajar taman ini tidak ada yang didatangi orang. Karena itulah menjadi tempat nyaman warga makhluk tembus pandang," kata Saka.


Sekejap kemudian mereka semua sudah banyak bertanya mengenai persahabatan, cinta, persaingan sampai hal yang diluar batas. Mereka berdua memperhatikan bulatan itu bergerak cepat.


"Aku agak tidak percaya," kata Apollo berbisik.


Artemis mengangguk setelah itu tiba-tiba lonceng berbunyi sebanyak tiga kali, mengagetkan semua orang.


"Sis, ada apa? Loncengnya," kata Anta kaget.


Kertas Wori buatan Arika kemudian tersobek menjadi serpihan. Mereka semua berteriak lalu mundur dan bergabung dengan Artemis.


"Memang seperti itu?" Tanya Artemis.


"Tidak, kak. Ini pertama kalinya. Hei, bagaimana ini kertas itu seharusnya dibakar," kata Arika ketakutan.


"Bakar saja sekarang. Ayo, aku bantu," kata Artemis melepaskan pelukan dari empat gadis. Lalu dia mengumpulkan serpihan itu dan Arika menyalakan pemantik.


Kertas itu terbakar menyisakan debu lalu terbawa oleh angin. Tiba-tiba bulatan itu bergerak lebih cepat dan terlihat berupa huruf yang bergabung.


'D-I-A D-A-T-A-N-G L-A-RI!!'


Mereka semua membacanya yang dimaksud 'Dia' siapa? Saat Arika hendak meletakkan tangannya, bulatan itu terlempar begitu saja.


"KYAAAA!!" Teriak Arika.


"Kita kan belum meminta mereka pergi," kata Nemesis agak kaget.


"Tidak biasanya seperti ini. Memangnya yang datang itu sangat berbahaya?" Tanya Linda agak gemetaran suaranya.


"Hei, kita hentikan saja dan kalian pulang," kata Apollo menurutnya ini ada yang salah.


"Tidak, kak. Masih banyak waktu. Lanjut?" Tanya Nemesis.


Meski pertama kalinya begini tapi mereka setuju. Artemis dan Apollo menyisir rambut mereka dan menghela nafas.


Eris dan Arae melihat makhluk itu kini mendekati kabut, setan kecil dia tebas membuat mereka menghilang.


"Kita tidak bisa melakukan apapun. Kita nikmati saja pertunjukannya," kata Arae tersenyum jahat.


"Karena mereka yang memanggil tidak ada gunanya kita berusaha melenyapkan," kata Eris.


"Ah, benar juga kita menebas mereka seperti menebas angin. Apa yang mereka tuai, mereka sendirilah yang harus mengatasinya. Tugas kita hanyalah melihat bagaimana mereka akan mengatasinya nanti," kata Arae berdiri di atas kabel.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2