
Ana hanya mengangguk lalu memandangi kertas yang ada di hadapannya. Dia sebagai wakil ketua klub, membagikan kertas keputusan dan pengumuman untuk kegiatan sekolah.
"Ini untuk drama kita nanti. Ana sudah membuatkannya jadi aku harap kalian dapat bekerja dengan lebih baik lagi. Tabiko, bisakah kamu tidak seenaknya pulang? Sudah jadi keputusan bersama kalau kita semua pulang pukul 5 sore," kata Ketua klub.
"Aku kan harus..." kata Tabiko mencoba menjelaskan.
"Kalau kamu masih mau menjadi pemeran utama, patuhi aturan klub ini. Kalau tidak, kamu bisa keluar," kata ketua dengan tegas.
Tabiko agak kesal tapi mau bagaimana lagi hanya di klub ini, dia bisa menunjukkan kecantikannya. "Baiklah baiklah aku akan ikuti aturannya," katanya angkat tangan.
Beberapa jam kemudian, rapat itu pun selesai semuanya lega dan merenggang kan punggung mereka.
"Rapat selesaaaaaai! Hei, kalian mau tidak ke toko yang aku datangi? Di sana keren-keren lho lalu ada patbingsoo dan menu enak lainnya," kata Ana dengan penuh semangat.
"Waah, aku mau aku mau," kata anggota yang lain lalu menular ke Ketua dan lainnya juga.
"Kamu mau ikut tidak, Tabiko? Ah ya lupa, kamu kan pasti sibuk luluran ya," kata ketua.
Tabiko tentu saja tidak mau ketinggalan apalagi kalau ada menu yang enak. "Aku ikut," katanya.
"Kita pergi sejam lagi ya karena di depan masih ramai," kata ketua menunjuk ke arah lantai dasar sekolah.
Mereka semua keluar dan melihat polisi berdatangan begitu juga dengan ambulans.
"Pelakunya memang vampir ya?" Tanya Ana menatap kerumunan di bawah.
Tabiko hanya terdiam mendengarkan dan melihat keramaian.
"Ini kan yang ke empat kalinya pelaku masih belum diketemukan," kata anak lainnya.
"Yang anehnya selalu terjadi di hari Sabtu dan korbannya pasti perempuan," kata A.
"Kenapa tidak laki-laki ya?" Tanya B agak aneh.
"Mungkin itu syaratnya, bisa jadi karena darah perempuan lebih manis. Kalian tahu kalau kebanyakan korbannya memiliki golongan darah Rhesus," kata Ketua.
Tabiko hanya tersenyum mendengarnya dan Ana secara kebetulan menangkap itu.
"Kenapa kamu senyum?" Tanya Ana heran.
"Ah, tidak apa. Hari ino cuacanya cerah ya," kata Tabiko pura-pura memandangi langit, tidak menduga kalau Ana melihatnya tersenyum tadi.
"Cerah apanya? Ada kejadian begini kan jadi terganggu kegiatan kita juga. Bukankah golongan darah rhesus itu langka? Katanya ada lima orang saja dan itu tersebar," jelas Ana.
"Di kelas sebelah Rei kan golongannya rhesus. Aku juga baru tahu kalau di sekitar sini ternyata banyak lho golongan rhesus," jelas ketua membuat Tabiko menjadi ceria.
"Tapi sepertinya ada pengecualian juga deh. Salah satu korban golongan darahnya O," kata C.
__ADS_1
"Itu pasti karena rhesus sudah habis kan. Kalau begitu adikku dalam bahaya dong?" Tanya Sari agak memucat.
Tabiko mendengar itu dan kedua matanya tampak berbinar, hal itu juga tertangkap oleh Ana.
"Adik kamu rhesus?" Tanya Tabiko yang tumben sekali bertanya pada anggota biasa.
"Iya, dia jarang main keluar karena kalau ada yang terluka lumayan membutuhkan waktu untuk sembuh. Wah, aku harus beritahu orang tuaku nih," kata Sari menghubungi orang tuanya. Lalu Sari berjalan keluar kelas untuk menelepon. Tabiko diam-diam beralasan juga untuk keluar.
Saat Tabiko dirasa sudah pergi, Ana mencoba memastikannya ke semua temannya.
"Hei, kalian lihat tidak Tabiko tertawa saat mendengar adiknya Sari itu rhesus," kata Ana dengan serius.
"Ah masa sih? Merinding kalau iya mungkin itu perasaan kamu saja dia kan cantik jadi agak lumayan..." kata yang lainnya.
Ana kemudian menganggap mungkin itu hanya perasaannya saja. Di tempat lain, Sari berhasil menghubungi orang tuanya dan menanyakan dimana adiknya. Lalu menghubungi adiknya sambil berjalan menuju kantin sekolah.
"Ya, ada apa Kak?" Tanya Adiknya menjawab dari sana.
Saat Sari hendak mengatakan sesuatu, Tabiko mendorongnya jatuh dari tangga dan dia akhirnya ambruk pingsan.
"Kak? Kakak kenapa? Halo?" Tanya adiknya keheranan dia mendengar suara jatuh dengan cukup keras.
Tabiko lalu mengambil ponsel Sari dan sedikit batuk.
"Maaf, Kakak kamu ada sedikit urusan. Dia memberikan ponselnya ke saya. Kamu adiknya?" Tanya Tabiko dengan memainkan rambut panjangnya.
"Kakakmu ingin mengajakmu jalan-jalan sepulang dari sekolah. Katanya janjian di taman kota K pukul 9. Apa kamu bisa?" Tanya Tabiko dengan senyuman haus darah.
"Baiklah, kebetulan aku juga akan membeli kado untuk teman. Tolong katakan pada Kakak, aku akan ke sana. Terima kasih," kata adiknya Sari menutup ponselnya.
Ponsel lalu Tabiko tutup dan dia menyeringai sambil menjilat mulutnya sendiri. Dia mendapatkan mangsa lain kebetulan untuk persediaan darah agar badannya selalu bercahaya.
Beberapa detik, Ana dan yang lainnya mendapati Sari tergeletak di bawah tangga. "Sari! Sari! Kamu kenapa?" Tanya Ana membantunya bangun.
"Hah? Aduuuh aku seperti didorong oleh seseorang deh," kata Sari memegang semua bagian badannya.
"Siapa?" Tanya Tabiko.
"Tidak tahu. Jahat sekali sih, apa salahku coba?" Tanya Sari berdiri dan mendapati ponselnya sudah mati.
Tabiko pura-pura cemas. "Kamu sudah memberitahukan adikmu?" Tanyanya.
Sari ingat lalu menyalakan ponselnya. "Sial! Baterainya habis. Ponsel kalian bagaimana?" Tanya Sari.
Tabiko memperlihatkan pada Sari, dia juga habis baterai padahal ponselnya memang jarang sekali dia pakai. Ana juga merasa aneh pada kelakuan Tabiko.
"Tumben kamu bawa ponsel," kata Ana.
__ADS_1
"Ya.. lama-lama aku butuh juga," kata Tabiko lalu memasukkannya ke dalam saku seragamnya.
Yang lainnya juga sama apalagi tersisa 2 batang yang kalau dipakai menelepon sudah pasti langsung mati.
"Ana?" Tanya Sari penuh harap.
"Aku lupa bawa ponsel. Lebih baik kamu langsung pulang saja," kata Ana agak tidak enak.
Sari berpikir dan memandangi ponselnya, seingat dia baterainya masih cukup untuk menelepon tapi kenapa tiba-tiba habis?
"Jangan terlalu cemas deh, pembunuh vampir itu kan aksinya tengah malam bukan sore," kata Tabiko supaya Sari ikut dengan mereka.
"Iya juga ya," kata yang lainnya setuju.
"Aku tetap ikut. Aku harap adikku tidak pulang malam hari,* kata Sari memasukkan ponselnya ke saku.
Tabiko tentu saja tertawa keras dalam hati, dirinya akan bisa menikmati darah adiknya malam ini.
Dalam toko, Yuri disarankan menyiapkan banyak peralatan makan serta gelas dan mangkuk. Raven disana untuk membantu begitu juga dengan Ella.
Setelah itu pintu terbuka dengan lebar dan Ana muncul dengan ceria. "Hai semua! Aku bawa banyak pengunjung nih," katanya dengan ceria.
"Selamat datang," kata semuanya bersamaan.
Tabiko memasuki toko itu dan angin besar berhembus ke arahnya.
"WAAAA!!" Teriak Tabiko menutup wajahnya.
Yang lain memandangi Tabiko dengan aneh, mereka melihat Tabiko tengah melindungi wajahnya sendiri.
"Ada apa sih?" Tanya Ketua agak sebal dengan kelakuan Tabiko hari ini.
Tabiko lalu membuka tangannya dan melihat semua anggota drama memandanginya keheranan.
"Kalian tidak lihat tadi ada angin besar yang menabrak ku," kata Tabiko merapihkan rambutnya.
"Angin? Tidak ada. Perasaan kamu saja itu. Ayo masuk," kata Ana.
Mereka mengikuti Ana ke ruangan paling dalam. Sudah tentu Eris mengubah semuanya menjadi seperti sebuah toko kue yang mewah.
Setiap meja sudah tersaji kan dengan teh beraroma enak. Mereka lalu duduk sesuai formasi.
"Wah,benar kata Ana tempat ini cantik sekali," kata anggota lain memandangi.
Eris lalu keluar membawakan menu dan Arae menyediakan bahan masakan. Tabiko menatap Etis tanpa berkedip, baru kali itu dirinya melihat anak perempuan yang begitu cantik jelita.
Bersambung ...
__ADS_1