
"Kalian datang sebagai tamu? Siapa para gadis itu?" Tanya pelayan lainnya.
"Adik temanku yang memberikan kerja sampingan untuk menyelidiki kegiatan mereka di luar sekolah," kata Artemis menepuk bahunya lalu mengambil menu.
"Ah ya," jawab temannya itu lalu bersiap menuliskan pesanan mereka.
"Maaf ya jadi sedikit terganggu. Kalian mau pesan apa?" Tanya Artemis memberikan daftar menu.
"Kalian ganteng sih tidak heran banyak yang ingin menyentuh apalagi berfoto. Betul tidak teman-teman?" Tanya Linda sambil senyum.
Mereka semua mengangguk, mereka pikir hanya mereka saja yang mengagumi tapi ternyata banyak sekali. Di antara yang lainnya banyak yang berpenampilan lebih menarik untuk mendapatkan perhatian Artemis dan Apollo.
Saat yang lain tengah memesan menu, Ringu hanya memandangi luar dari jendela di sampingnya. Dia melamun soal anak kecil yang ditemuinya dalam mimpi.
"Sis, sepertinya Ringu benar sakit deh. Dari tadi dia terus melamun," bisik Anta memperhatikan Ringu.
Nemesis memandanginya dan mendengus. "Tidak perlu dipikirkan paling juga karena lapar. Kita pesan saja yuk, coba saja kamu ajak dia untuk pilih menu," katanya.
Anta lalu menawari Ringu untuk makan dan Ringu sekejap semangat lagi. Mereka memesan dan menunggu, saat makanan datang mereka sambut dengan sumringah.
Para pelanggan yang tadi mengerubungi mereka sudah sedikit jumlahnya karena melihat Artemis dan Apollo sibuk makan. Ringu juga raut wajahnya sudah tampak cerah lagi.
"Tadi sewaktu aku mau membangunkan kamu, kamu bermimpi buruk?" Tanya Anta sambil melahap makaroni panggang nya.
Ringu jadi teringat lagi dan menghentikan makannya. "Iya," katanya.
"Mimpi apa?" Tanya Anta melihat temannya berhenti makan.
Artemis yang memiliki telinga tajam mendengar obrolan Anta dan Ringu sambil minum.
"Ada anak kecil berambut putih panjang dia hanya bilang, "Jangan memainkannya lagi." sambil menunjukkan papan Ouija yang Nemesis pinjam. Apa kalau kita mainkan akan ada bencana?" Tanya Ringu pada Anta.
"Kamu kenal anak itu?" Tanya Artemis pada Nemesis yang garpu nya terjatuh ke atas meja.
Nemesis tampak bingung, dia sadar telah melanggar janjinya yang hanya memainkannya satu kali dan sudah berhasil. Tapi papan itu belum dia kembalikan.
"Eh? Oh... tidak. Itu hanya mimpi, Ringu. Ayo makan lagi," kata Nemesis dia menghindari tatapan Artemis dan Ringu.
"Tampaknya benar anak itu yang memiliki papan Ouija tersebut. Kalau Nemesis enggan mengembalikannya, biar aku yang lakukan," pikir Ringu. Dia agak ketakutan karena malah didatangi oleh Eris.
"Lalu apa kalian akan melakukan lagi pemanggilan arwah?" Tanya Artemis selesai makan.
"Entahlah, ketua grup kan Nemesis, kak," kata Linda.
"Tentu saja tidak, Kak. Kita hanya berempat," kata Nemesis.
"Bagus. Aku harap kalian benar-benar kapok. Korbannya juga teman kalian sendiri. Ayo, kami antar kalian pulang," ajak Artemis.
Keempat anak SMU itu lalu memasuki mobil, mereka diam hening di dalam mobil menunggu kedatangan Artemis yang sedang membayar tagihan.
Sekarang giliran Apollo yang menyetir. Artemis juga diam. Satu per satu mereka antar kan dan terakhir Nemesis, yang terus cemberut dan pulang tanpa mengatakan apapun.
"Kenapa dia cemberut begitu sih?" Tanya Artemis keheranan.
"Ck, dia itu ingin diperhatikan sama kamu. Dia kan suka sama kamu. Bukannya kamu tertarik sama dia di awal?" Tanya Apollo.
"Tadinya tapi setelah melihat seperti apa kelakuannya pada temannya yang sakit dan responnya pada Ringu. Sepertinya aku tidak tertarik lagi," kata Artemis lalu mulai mengeluarkan rokok.
"Kamu tertarik dengan Arika ya? Ayo mengaku," goda Apollo.
"Hahahaha kok tahu sih?" Tanya Artemis memukul pelan sahabatnya.
"Tahulah tatapan dan nada kamu beda dengan Nemesis. Cieeee penasaran nih sama yang berjilbab," kata Apollo.
"Tapi Arika masih jauh, SMU pula," kata Artemis menyandarkan dirinya ke kursi. Rokok belum dinyalakan.
"Tunggulah. Cinta tidak memandang usia, tunggu sampai dia kuliah kamu bisa gas," kata Apollo tertawa keras.
Nemesis keluar rumah dan berlari setengah ke seberang lalu berteriak, "KAK ARTEMIS, AKU HARAP KAKAK MAU MEMBUKA HATI UNTUK AKU!!" Teriaknya lalu berlari masuk ke dalam rumah.
Apollo terdiam lalu tertawa lebih keras dan mobil pun melaju. "Nah lhooo Arika versus Nemesis, siapa yang menang?" Tanyanya.
__ADS_1
"Berisik," jawab Artemis membuka jendela mobil dan merokok. Artemis lebih tertarik pada Arika karena disamping berjilbab, wajahnya yang imut dan tegas membuat hati Artemis luluh.
Dalam perjalanan mereka mendengarkan lagu-lagu dalam Radio Prambors. Sekarang sedang mendengarkan lagu BTS berjudul Zero o'clock yang dimana mereka juga mendendangkannya.
"Kamu suka sama siapa di antara mereka?" Tanya Artemis menyelesaikan rokoknya.
"Aku? Tidak ada. Mereka semua bukan tipeku," kata Apollo.
"Ah, benar juga apalagi pekerjaan kita masih seorang pelayan di Cafe," kata Artemis mengerti.
"Iya. Aku agak kapok, setelah tahu aku bekerja dimana mereka memutuskan katanya wajahku ganteng mereka kira bekerja di tempat bonafit," kata Apollo menggelengkan kepala.
"Untung saja mereka tidak bertanya kita bekerja dimana," kata Artemis membesarkan radionya dan sedikit menampilkan gerakan dari lagu itu.
Hari sudah berganti malam, di rumah Nemesis dia masih mengingat apa yang dikatakannya dan menutup wajahnya katena malu.
"Hahhh, apa yang sudah aku lakukan sih? Gara-gara ingat apa kata Arika, kira-kira apa yang dipikirkan oleh Kak Artemis ya? Aduuuh, aku malu!" Kata Nemesis dengan wajah yang merah.
"Nemesis, makan malam!" Teriak Ibunya dari arah ruang makan.
"Iya," kata Nemesis lalu datang.
Eris masuk kamar Nemesis dan melihat papan Ouija, bulatan itu bergerak namun Eris tidak melakukan apapun dan memantau dari luar jendela.
Setelah makan malam selesai, Nemesis memasuki kamarnya lalu duduk di atas karpet lantainya. Dia harus mengembalikan barang itu dan mulai mencari tapi dia tidak menemukan loncengnya.
"Lho? Loncengnya kemana? Aku yakin di taruh bersama papan," kata Nemesis mencari ke segala tempat.
Eris masuk kembali dan berdiri di belakang Nemesis. Seketika bulu roma lehernya tegak, dadanya berdebar, dia merasa ada seseorang di belakangnya.
"AP..." Kata Nemesis yang kaget.
Eris menunjukkan dahi Nemesis membuat kedua matanya menjadi kosong. "Kamu tidak pernah meminjam lonceng itu."
Dia lalu menghilang setelah menghapus ingatan mengenai lonceng pada Nemesis. Lalu segalanya kembali normal dan Nemesis kembali seperti biasanya.
"Hmmm papan ini harus aku kembalikan," kata Nemesis memandang papan Ouija yang tertutup lalu membukanya. Bulatan plastik masih berada di kata Tidak.
"Kalau tidak salah kata gadis dalam toko, papan ini bisa dipakai sendiri. Seperti apakah kalau aku pakai sendirian ya?" Tanya Nemesis membawa papan itu ke bawahnya.
"Hali, Ringu ada apa? Kamu sudah baikkan?" Tanya Nemesis.
"Lumayan aku kepikiran apa kata Arika," kata Ringu agak ragu.
"Soal?" Tanya Nemesis. Tangannya dia angkat merasa pasti ada sesuatu.
"Aku juga mau keluar dari grup. Menurutku tidak sepantasnya kita mengganggu dunia lain," kata Ringu.
"Kok begitu sih? Dengar ya apa yang Saka dan Arika alami itu hanya kebetulan. Arika saja sekarang sehat kembali kan, kamu jangan jadi penakut," kata Nemesis yang sebal sekarang semakin banyak yang keluar.
"Iya tapi aku tetap tidak mau lagi. Maaf ya," kata Ringu.
"Kenapa sih? Yang lebih parah dari kita banyak kok tapi mereka baik-baik saja. Ayolah, Ringu masa kamu juga keluar? Halo? Ringu? Sial!" Kata Nemesis kesal. Ringu sudah menutup teleponnya.
Karena tersadar hanya tersisa tiga orang, akhirnya dia mengatakan grup mistis akan dibubarkan dan keluar dari grup WA. Arika sudah tentu membacanya, dia bersyukur grup itu sudah tidak ada.
Akhirnya Nemesis mengurungkan niat untuk mencoba papan Ouija tersebut dan menutup papannya. Lalu Nemesis teringat sesuatu dan menelepon Arika yang masih berada di Rumah Sakit.
"Assalamualaikum. Ohh, hai Nemesis. Apa kabar?" Tanya Arika dengan semangat.
"Baik. Kamu sendiri? Sudah sehat?" Tanya Nemesis berbasa basi.
"Yah lumayanlah tidak ada mimisan lagi. Kabar grup dibubarkan aku senang," kata Arika.
"Oh ya? Kenapa?" Tanya Nemesis agak judes.
"Karena memang tidak sepantasnya kita mengganggu dunia mereka. Kak Artemis juga bilang begitu," kata Arika dengan senang.
Nemesis menjadi sebal entah kenapa. Padahal yang dia tahu Artemis selalu memperhatikannya bukan Arika. "Oh... sepertinya aku mengganggu keharmonisan kamu dengan kak Artemis ya,"
Arika kaget membacanya. Sepertinya Nemesis menyukai Artemis juga dan Arika kurang menangkapnya.
__ADS_1
"Kamu ini kenapa sih bicara begitu? Aku tidak merasa terganggu kok, terserah Kak Artemis mau menyarankan apapun kan," kata Arika keheranan.
"Aku suka sama dia dan dia juga menyukai aku. Jadi aku merasa kehadiran kamu itu mengganggu hubungan aku," kata Nemesis menyerang Arika yang masih sakit.
Arika lalu menangis pelan apa itukah alasan Kak Artemis menolaknya? Tapi dia harus tetap seperti Arika biasanya. "Memangnya Kak Artemis sudah menerima kamu?"
"Ya belum sih tapi aku yakin akan diterima kok," kata Nemesis yang masih belum ada kepastian.
Arika lega ternyata hanya karena Nemesis cemburu saja. "Yang fair saja ya kita memang menyukai kak Artemis tapi bukan hanya kita, Nemesis. Ringu, Anta dan semua pelanggan di cafe tadi juga sama," kata Arika membuat Nemesis tersadar.
"Tapi kamu tidak tahu kan kalau selama kenal dia, aku selalu menangkap pandangannya hanya kepadaku saja," kata Nemesis tidak mau kalah.
"Kamu itu sama dengan semuanya. Perempuan yang lemah dengan lelaki ganteng apalagi Kak Artemis dan Kak Apollo sudah bukan termasuk ke dalam golongan anak lelaki remaja lagi. Mereka sudah masuk ke dalam golongan lelaki dewasa. Kita semua juga tahu kamu cenderung lebih suka lelaki dewasa tapi kamu lupa, kamu itu masih SMU. Sekarang saja bisa-bisanya kamu suruh aku mengalah," kata Arika menulis panjang.
Nemesis membacanya dia diam. Kalaupun Arika benar mengalah, dia masih harus menghadapi 99 orang perempuan yang menyukai Artemis.
"Jadi kamu mau mengalah apa tidak?" Tanya Nemesis.
"Kenapa kamu merasa terancam olehku? Aku tidak cantik. Aku mau tidur." Kata Arika menutup ponselnya dan mematikannya.
Nemesis kesal sekarang dalam pikirannya memikirkan bagaimana caranya agar Arika mengakui untuk mengalah. Kemudian Nemesis melihat papan Ouija lalu membukanya.
Akhirnya dia memainkan lagi papan itu sendirian dan meminta bantuan agar membuat Arika lebih parah sakitnya.
Di luar kedua mata Eris terlihat memerah seperti darah tentu saja Arae pun turut hadir dengan ditemani gagak hitam yang memandangi Nemesis.
"Tampaknya bola kehidupan selanjutnya adalah dia," kata Arae.
Gagak terbang mengeluarkan suara nyaring. Nemesis melihat ke luar beberapa gagak terbang di sisi jendela.
Dalam papan ouija itu terlihat kata Ya dengan warna darah memenuhi papan Ouija namun tidak terlihat oleh mata Nemesis.
Di Rumah Sakit, Arika batuk dengan parah sampai mengeluarkan darah. Dia menangis, kedua orang tuanya menenangkan putrinya. Arika ketakutan apakah doa-doanya selama ini tidak mampu membuatnya aman?
"Sis, sudah dengar kabar? Arika mengalami hal sama dengan Saka. Apa dia akan meninggal?" Tanya Linda dan Anta bersamaan.
Nemesis hanya terdiam, dia membutuhkan pertolongan dan terjadi. "Bodoh! Tidak akan nanti juga sembuh," balas Nemesis.
Besok paginya, mereka bersekolah seperti biasanya. Bangku Arika masih kosong dan Nemesis terlihat senang sekali. Ringu menatap Nemesis dengan curiga.
"Arika masih sakit?" Tanya Anta pada Nemesis.
"Sepertinya begitu. Dia bilang batuk-batuk parah," kata Linda dengan sedih.
Guru belum datang dan anak-anak akhirnya mulai berpesta. Ketua kelas datang dan membawa tugas ujian.
Saat Nemesis mengerjakan soal, dia batuk dan ketiga temannya menatapnya. "Kenapa? Tolong ya jangan berpikiran macam-macam," kata Nemesis.
Mereka kembali mengerjakan tugas dengan biasa. Lalu Nemesis mengerjakan lagi saat fokus, darah menetes dari mulutnya. Nemesis kaget lalu memegang mulutnya dan berdiri mengambil cermin.
"Ap... kenapa?" Tanya Nemesis. Dia membuka mulutnya dan terdapat darah segar meski sedikit.
"Ada apa, Sis?" Tanya ketua kelas.
Nemesis berbalik lalu jatuh ke lantai dan batuk darah banyak. Semua murid berteriak, sebagian berlari ke lorong guru.
Di saat semuanya panik, Nemesis semakin lama batuk mengeluarkan banyak darah. Eris hadir disana berdiri memandangi Nemesis.
Waktu terhenti hanya ada Eris dan Nemesis.
"To...long. Kenapa aku..." kata Nemesis memandangi dirinya.
"Kamu melanggar perjanjian. Apalagi teman macam apa yang mendoakan temannya lebih menderita? Hanya agar dirimu bisa dekat dengan orang," kata Eris yang berjalan ke arah Nemesis.
Nemesis menangis dia sadar hatinya telah hitam berharap Arika terus sakit dan dia bisa mendapatkan Artemis. Darah semakin banyak keluar dari mulutnya.
"Teman kamu selamat," kata Eris menampilkan papan Ouija yang sudah ada dalam tangannya.
Nemesis terkejut dan dadanya semakin panas.
"Karena kamu meminta bantuan selain Tuhan kamu, semua yang kamu inginkan memantul kembali pada diri kamu. Arika selamat, kamulah yang akan menjadi penggantinya Selamat datang ke duniaku, Nemesis," kata Eris menyambut.
__ADS_1
Nemesis lalu kehilangan banyak darah dan meninggal. Semuanya gaduh dan guru menyerah.
Dalam toko, Bola kehidupan Nemesis juga langsung memasuki cermin.