Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
4


__ADS_3

Eris muncul tanpa menggunakan senjatanya.


"Kamu habis dari mana?" Tanya Arae.


"Thanatos mengincar nyawa Yuri," kata Eris menatap Arae dengan serius.


"Kenapa?" Tanya Arae bingung.


"Aphrodite yang memerintahkan," kata Eris dengan pandangan tajam.


Arae menggelengkan kepalanya. "Dia tahu dari mana kalau ada manusia yang bekerja disini?" Tanyanya.


"Cupid," jawab Eris tentu saja siapa lagi yang memiliki mulut ember. Apalagi dia sudah bertemu dengan Yuri baru-baru ini.


"Si Chibi bersayap. Kakak angkat kamu itu terlalu posesif. Yuri kan tidak tahu apa-apa masa sampai sebegitu nya?" Tanya Arae menempatkan kedua tangannya di pinggang.


"Yuri tidak masuk kampus ya," kata Eris mencari melalui cermin nya.


"Ada kemungkinan dia pingsan sewaktu kita mengantarnya pulang," kata Arae membersihkan gelas.


Eris muncul di depan rumah Yuri dengan menggenggam bunga dan sekotak makanan. Bajunya masih sama karena orang tua Yuri sudah tahu siapa dirinya.


Yuri sedang berlatih dalam kamarnya keadaannya kini sudah baik-baik saja. Pasti akan ada penjelasannya nanti saat akan istirahat, ada ketukan di pintu kamarnya.


"Ya?" Tanya Yuri berdiri.


"Ada Eris datang," kata Mamanya dibalik pintu.


Yuri kaget, tidak biasanya Eris datang ke rumahnya apalagi sampai bertemu dengan krang tuanya. Yuri memandangi jendela kamar yang terbuka tapi malah Yuri lewat pintu depan?


"Ya," katanya berlari ke pintu dan membukakan.


Eris berdiri di samping Mamanya Yuri, dan Mamanya menggenggam bunga sakura serta makanan cemilan.


"Silakan anggap saja rumah sendiri. Mama akan ambilkan teh dan kue ya," kata Mamanya senyum dan menepuk bahu Eris lalu turun ke bawah.


"Bagaimana kabarmu?" Tanya Eris memasuki kamar Yuri.


Pemandangannya tidak berbeda hanya saja kini lebih terlihat suasana dewasa. Banyak foto dan buku serta pernak pernik cantik.


"Baik yah meskipun agak masih ketakutan," kata Yuri lalu mengambil bantal untuk duduk.

__ADS_1


"Kamu cerita yang terjadi pada orang tuamu?" Tanya Eris duduk dengan santai.


"Iya tapi aku hanya cerita kalau ada orang jahat yang bermaksud menculik ku, mengikuti ku sampai rumah," kata Yuri menghela nafas.


"Bagaimana kamu jelaskan soal luka di leher?" Tanya Eris.


"Aku katakan bahwa orang itu sempat mencekik ku dari belakang. Yah, mana mungkin kan aku cerita kalau dewa kematian berusaha membuatku mati," kata Yuri tertawa.


Eris menghela nafas.


"Tumben sekali kamu biasanya suka muncul tiba-tiba di jendela kan," kata Yuri menunjukkan jendelanya.


"Itu kan tidak sopan. Setidaknya aku ingin bertemu dengan kedua orang tuamu secara langsung," kata Eris.


Yuri tersenyum menurutnya Eris banyak berubah dari yang biasanya dingin atau datar, sekarang mulai keluar sifatnya yang lain.


"Lalu ada apa kamu kemari?" Tanya Yuri. Sebelum Eris menjawab, terdengarlah suara ketukan di pintu.


Yuri lalu membukakan dan Mamanya membawakan teh hangat dan beberapa puding yang dibuatnya. "Dimakan ya terima kasih buah tangannya, Eris," kata Mama Yuri.


"Anda tidak perlu repot-repot," kata Eris membungkukkan kepalanya.


"Ah, tidak apa-apa justru selama ini saya berterima kasih sekali. Mama mau pergi dulu ya, kamu jangan kemana-mana," katanya.


Eris memandangi cangkir tersebut dan melihat cemilan di hadapannya. "Biasanya aku yang selalu menyajikan teh dan cemilan."


Yuri tertawa, benar juga ya lalu Yuri memberikan teh tersebut dan memakan pusing. "Ah, kamu tidak bisa memakannya ya," kata Yuri teringat.


"Tidak apa-apa," kata Eris memakan puding itu dan dia terkejut. Rasanya enak sekali, dia menyendok lagi dan Yuri tertawa melihatnya.


"Enak ya?" Tanya Yuri.


"Enak sekali. Apa namanya?" Tanya Eris memperhatikan makanan yang licin tetapi tidak berbau aneh.


"Namanya puding. Mamaku pintar membuat berbagai macam puding, salah satunya ini," kata Yuri.


Saat Eris menghabiskan pudingnya dengan puas, teko kemudian melayang dan mengisi penuh cangkirnya begitu juga dengan Yuri.


"Enak sekali memiliki kekuatan seperti itu," kata Yuri memandangi piring kecil dan teko yang terbang.


"Harganya mahal," kata Eris lalu meminum teh.

__ADS_1


"Hmmm, syarat menjadi penyihir atau orang yang ingin memliki kekuatan sepertimu. Sulitkah?" Tanya Yuri yang mencoba menyentuh tekonya.


"Bisa dari hasil menjual nyawa," kata Eris membuat Yuri melongo. "Bagaimana kabarmu dengan Drama?" Tanya Eris melihat buku naskah yang terbang ke arahnya.


"Menyenangkan! Sudah lama juga aku tidak memainkan peran. Besok aku akan kembali berkuliah lagi, aku tidak mau ketakutan ini mengambil alih hidupku," kata Yuri.


Eris kemudian membuat perintah agar semua benda tidak terangkat. Eris berpikir lalu... "Apa kamu bisa berhenti ikut dalam drama?" Tanyanya.


Yuri berhenti makan puding. "Kenapa?" Tanyanya.


"Nyawa kamu diincar Thanatos," kata Eris menatap lurus pada Yuri.


"Tapi kenapa, Eris? Alasannya dia mau membunuhku apa!?" Tanya Yuri dengan suara gemetaran.


Eris tidak bisa mengatakannya bahwa kakak angkatnya lah yang memerintahkan Thanatos.


"Aku tidak mungkin bisa keluar, Eris. Sudah terlambat! 2 hari lagi festival sekolah diadakan dan peran aku pun sudah siap," kata Yuri.


"Kamu tidak tahu seperti apa Thanatos. Apa yang diceritakan oleh temanmu dalam diskusi kuliah memang benar adanya. Tapi ada di mana Thanatos harus kembali ke dunia orang mati saat waktu pasang surut terjadi," kata Eris memberitahukan.


"Lalu kapan itu?" Tanya Yuri berharap ada celah.


"Pukul enam sore," kata Eris.


Yuri menghitung dengan tangannya lalu berhenti. "Itu kan saat aku berada dalam pertunjukan. Eris bagaimana ini?" Tanya Yuri cemas sekali.


"Tidak ada cara lain selain mengecoh nya sama seperti yang dilakukan oleh seorang raja di sana," kata Eris membuat Yuri agak lemas.


"Menipu? Memangnya Thanatos sebodoh itu?" Tanya Yuri.


"Aslinya dia sangat bodoh dan tidak memiliki perhitungan. Tapi yang berbahaya adalah bila dia mulai mengeluarkan senjatanya makhluk sekecil apapun tidak ada yang bisa menghindarinya. Sama seperti saat dia mencekik mu, semuanya akan terasa mati membeku," kata Eris memandangi Yuri.


"Kenapa dia harus melakukan itu padaku?" Tanya Yuri lagi memaksa.


"Kakak angkat kutahu kalau ada manusia yang bekerja dalam tokoku dan mengirimkan Thanatos untuk menarik bola kehidupanmu," cerita Eris.


"Haaaah? Hanya karena itu? Aku kan hanya bekerja di toko mu, kekuatan juga aku tidak punya," kata Yuri tidak percaya.


"Di dunia kami, manusia tidak diijinkan bekerja bersama apalagi kolaborasi dengan warga kegelapan. Termasuk aku yang diturunkan ke Bumi, itulah kenapa aku pernah menolak kamu untuk bekerja di sini kan. Sampai akhirnya memang aku memerlukan bantuan mu," kata Eris.


"Jadi aku ini manusia pertama yang bekerja di toko kamu?" Tanya Yuri tidak percaya.

__ADS_1


"Ya. Aku memliki toko ini atas saran Ratu untuk mengkamuflasekan warga Kegelapan dan tujuanku disini," kata Eris.


Bersambung ...


__ADS_2