Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
3


__ADS_3

Kudo yang baru saja datang dan masuk ke dalam kelas, terkejut saat mendengar bentakan Mia kepada teman-temannya.


"Mia, jangan menyalahkan orang lain dong. Aku mengerti perasaan kamu, aku yang salah tapi jangan kamu kasari teman-teman kamu. Ingat ya betapa mereka mau mengorbankan waktunya hanya untuk keegoisan kamu pada senam," kata Kudo.


Mia mendengarnya namun dengan kedatangan Kudo membuat suasana hatinya lebih memburuk. Tentu dia ingat bagaimana saat meminta tolong menggantikan piketnya, padahal temannya itu pun mempunyai kesibukan lain.


"Iya kamu ini benar-benar tidak tahu diri. Menyesal aku membantu kamu sampai kami dimarahi selalu terlambat masuk klub," kata teman lainnya sakit hati.


"Dari awal ya kamu yang memasang wajah baik hati pada mereka lalu seperti inikah balasannya? Karena musibah yang kamu alami, kamu tumpahkan ke semua orang," kata Kudo lagi.


Mia kemudian berdiri dari kursinya sedetik kemudian menampar Kudo. Mereka semua terkejut melihatnya dan menarik Kudo dari jangkauan Mia.


"MEMANGNYA KAMU PUNYA HAK UNTUK BICARA BEGITU?" Teriak Mia memanas.


"Mia, kamu keterlaluan! Ayo Kudo, jangan dekati dia lagi, kelakuannya sama sekali tidak bisa diduga. Aku kira kamu memang bisa dijadikan teladan tapi nyatanya..." kata Tari yang menjauh.


Mia duduk kembali dengan kesal, air matanya keluar. Pak guru kemudian memasuki kelas melihat situasinya tampak aneh, beliau langsung melihat Mia dan yang lainnya.


"Hei, ada apa ini? Sampai kapan kalian mau ribut-ribut? Ayo kembali ke tempat duduk kalian masing-masing," katanya sambil meletakkan buku dan yang lainnya.


Mereka kemudian ribut tidak menyadari guru telah memasuki kelas. Mia dan Kudo berdiam diri syukurlah tempat duduk mereka berjauhan.


"Pak, sepertinya terjadi sesuatu ya. Bapak tampak senang," kata salah satu murid.


"Tentu saja karena sekolah kita bukan hanya memiliki atlet senam tapi juga pelukis yang hebat," kata pak guru dengan suara yang ceria.


Semuanya sudah pasti memandangi Kudo yang senyum jahil.


"Wah, ada apa nih Pak?" Tanya siswi yang lainnya.


"Ada berita besar anak-anak, lukisan Kudo terpilih masuk Museum Ando," kata Pak Guru menunjuk ke arah Kudo.


"Hehehehe," kata Kudo tertawa bangga.


Semua murid bertepuk tangan dan menepuk bahu Kudo. Mia yang mendengarnya sudah pasti juga sangat kaget dan dia memandang sinis padanya.


Kudo tahu itu dan menyengir mendengus pada Mia.


"Sehabis ditampar Mia ternyata peri keberuntungan lebih berpihak pada Kudo ya. Rasakan!" Kata A mengejek Mia.


"Apa? Siapa yang menampar kamu, Kudo?" Tanya Pak Guru.


"MIA," teriak semua murid-murid.


"Mia, kenapa kamu tampar Kudo?" Tanya Pak guru keheranan tidak menyangka dibalik keluwesan Mia, ternyata ada binatang buas.


Mia tidak menjawab. "Karena dia sudah membuat..." kata Mia terpotong.


"Mia menyalahkan Kudo, Pak gara-gara dia pergelangan kakinya bengkak dan yah, pertandingannya tentu saja dia gagal," celetuk anak siswi lain.


"Kenapa kamu menyalahkan Kudo? Murid yang membenturkan bahunya waktu itu sudah meminta maaf kan. Sungguh Bapak kecewa sama kamu, seharusnya kamu banyak mengoreksi diri sendiri bukan menampar dia," kata pak guru menghela nafas.

__ADS_1


"Tidak apa, Pak. Maklum kan dia jarang piket dan lebih rajin berlatih senam. Sekarang kalian jangan begitu lagi, lihat kan hasilnya?" Tanya Kudo.


Mia menundukkan kepalanya dia kesal, marah dan juga sedih. Dia menghapus air matanya berpikir dunia ini tidak adil.


Semua mengangguk dan mulai mendengarkan Pak guru lagi.


"Pqk, Museum Ando kan yang sering banyak dikunjungi orang ya. Keren kamu, Do!" Kata Toru mencubit pinggangnya.


"OW! Sakit dong sudah ditampar di pipi, masa sekarang sakit dicubit di pinggang?" Tanya Kudo mengelus pinggangnya, semua murid menertawai.


"Setelah pamerannya selesai, lukisan Kudo akan dipajang di lorong gedung museum. Kalian semua harus datang untuk melihatnya ya, buat kelompok untuk kesananya dan katakan tugas sekolah," kata Pak guru.


"BAIK, PAK!" Kata semua murid.


Pelajaran berlangsung dengan khidmat, harus membuat kelompok pun Mia sendirian. Temam-temannya enggan satu kelompok dengannya karena ucapannya menyayat hati.


Mia kemudian merasakan denyutan pada kakinya dan meringis kesakitan. Kudo melirik Mia, ada rasa iba kepadanya.


Bel istirahat berbunyi, pak guru keluar setelah memberikan tugas. Lalu murid-murid mulai memberikan selamat pada Kudo.


Melihat itu, Mia mengepalkan kedua tangannya dan memandang sengit pada Kudo. "Dia tidak akan kumaafkan!! Dia telah menghancurkan mimpiku! Sedangkan dia sendiri enak-enak berendam dalam kebahagiaan. Aku benci! KUDO, AKU BENCI KAMU!" Teriak Mia dalam hatinya.


Yang lainnya menuju kantin sedangkan Mia sudah disiapkan makanan dari rumahnya.


"Hei, Mia mau aku bawakan kamu makanan tidak dari kantin?" Tanya Beberapa temannya dari agak jauh.


Mia terdiam dia hanya mengangkat bekal dan cemilannya. Temannya itu kemudian keluar kelas dan meninggalkan Mia sendiri.


Sesampainya, toko itu masih ada di sana.


"Yang bisa melihatnya, tandanya dia membutuhkan pertolongan tapi tidak selalu begitu kok," balas murid lain dari kelas lain.


"Hari ini kelihatan lebih jelas apa karena aku membutuhkan sesuatu?" Tanya Mia dalam hatinya.


Mia masuk dan membuka pintu.


"Selamat datang," kata Ela menyambut Mia yang sama sekali tidak peduli dan langsung menuju kasir, tempat dimana Eris berada.


Ela hanya memandangi Mia dengan bengong sudah nya dia kesal karena baru kali ini ada pembeli yang tidak ramah.


"Waktu itu kamu di depan tidak ada keperluan. Apa sekarang ada? Tidak mengintip lagi ya," kata Eris menatap pada Mia.


Mia salah tingkah, ternyata dia tahu. "Hmmm, aku minta maaf karena aku tidak yakin soal toko ini," kata Mia menundukkan kepalanya.


"Sekarang yakin? Toko ini nyata hanya bukan dalam dimensi manusia. Lalu? Ada keperluan apa?" Tanya Eris menyajikan teh dan makanan.


"Aku ingin membuat Kudo menderita! Merasakan apa yang aku rasa," kata Mia langsung to the point.


"Itu bukan kesalahannya. Kenapa kamu terus mempermasalahkan? Apa menurutmu kelakuan sendiri baik? Bisa jadi itu adalah ujian untukmu, apa kamu bisa bijak atau... seperti sekarang," kata Eris dengan wajah yang dingin.


"Tepat seperti yang mereka katakan. Anak ini dingin sekali," pikir Mia.

__ADS_1


"Wah, baru kali ini ada yang langsung mengajukan masalah daripada memilih benda," kata Raven berbisik pada Ela.


"Mau balas dendam?" Tanya Eris tersenyum dingin.


"Iya kalau tidak, aku tidak bisa tenang. Seharusnya saat jatuh itu, ada yang membuat bagian dari tubuhnya juga luka. Tapi tidak ada," kata Mia kesal.


Eris lalu mengambilkan benda dengan bentuk yang lucu dan imut tapi menyimpan kekuatan kelam.


"Saran ku, ini," kata Eris memberikan cermin berbentuk bulat dengan hiasan ornamen di sekelilingnya.



*Ini hanya contoh saja


Mia heran dan memegangnya. "Ini kan cermin. Lalu apa kegunaannya? Maksudmu aku harus bercermin untuk melihat diriku sendiri?!" Tanya Mia marah dan meletakkannya kembali.


"Kemampuan emosi kamu buruk sekali ya," kata Eris.


Mia terdiam. "Untuk apa cermin ini?" Tanyanya.


"Kamu bisa melihat toko ini karena kebencian kamu meski tidak selamanya seperti itu. Ada berbagai penyebabnya kenapa bisa terlihat terutama bila ada seseorang dengan kemampuan spiritual yang tinggi," kata Eris.


Ya, Mia memilikinya. Banyak. Dia tidak suka Marina yang dia anggap sebagai musuh dalam klub bisa maju jabatannya, lalu ada Kudo, teman-temannya.


"Nama cermin ini adalah Cermin Kebencian memang bagimu seperti cermin biasa untuk berdandan tapi apa kamu bisa melihat pantulan mu disana?" Tanya Eris.


Mia lalu mencobanya dan alangkah kagetnya pantulannya tidak ada. Hampir saja dia jatuhkan cermin itu untungnya dia sadar kalau toko itu memang ajaib.


"Kamu masih hidup," kata Eris memberitahukan.


"Lalu kenapa..." kata Mia yang masih syok.


"Manusia biasa tidak akan bisa melihat toko ini secara bebas. Meskipun ada yang pernah, mereka akan bisa menemui toko ini lagi di tahun nanti yang akan datang. Kamu pasti tahu kan info ini," kata Eris.


Mia mengangguk. "Jadi jnfo itu benar ya,"


"Cermin ini bukan untuk dipakai berhias diri melainkan membalaskan dendam dengan apa yang ingin kamu balas kan," kata Eris menaruh minuman untuk Mia.


Mia meminumnya dan entah kenapa membuat dirinya rileks.


"Ada 3 jenis yang bisa cermin ini lakukan. Sesuai dengan namanya kamu bisa mengurung 'harta'nya," kata Eris.


"Harta? Kalau uang dia tidak begitu kaya berbeda denganku," kata Mia pada Eris.


"Yaitu sesuatu yang bagi orang itu sangat penting dan berharga. Kamu tahu apa?" Tanya Eris.


Mia berpikir, tiba-tiba sana cermin itu menampakkan apa yang penting bagi Kudo. Lukisan.


"Ah! Benar juga dia kan sangat bangga sekali dengan karyanya," kata Mia tersadarkan.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2