Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
1


__ADS_3

Pukul 5 sore akhirnya mereka semua pulang, semua siswa siswi berhamburan dari setiap kelas. Kirika sedang bersiap pulang saat Tania dan Ina menyenggol Kirika untuk melihat ke arah jendela.


"Apaan, sih?!" Tanya Kirika yang mengelus pinggangnya.


"Cieee yang dijemput. Tuh pacar kamu yang bolos sekolah. Heran, sudah pakai kacamata dan baju bebas saja dia," kata Tania di sebelah jendela.


"Namanya juga idola part time. Betul tidak?" Goda Haikal yang melihatnya juga.


"Kenapa sih tidak keluar saja dari sekolah kalau ujungnya malah banyak bolos," kata Ina menggelengkan kepala.


"Masa sih? Si bodoh itu buat apa sampai datang segala? Kalau ketahuan guru, mati dia!" Kata Kirika memandangi Anemoi yang sok keren.


"Kalau dia keluar sekolah otomatis tidak bisa bertemu Kirika kan. Yah, kita juga tahu kalau dia bersekolah disini hanya untuk status saja," kata Haikal agak sinis.


"Sudahlah, Kal. Dia bukan saingan kamu otak kalian berbeda jauh," kata Tania yang langsung kabur saat Haikal mengejarnya.


"Kalian janjian ya," kata Ina menunggu Kirika.


"Idih, tidak kok. Aku saja tidak tahu kalau akan dijemput," kata Kirika menghela nafas.


"Ya sudah kasihan dia sejak tadi sepertinya menunggu kamu. Yuk!" Ajak Ina sambil menggantungkan tangan kirinya dia bahu Kirika.


Di luar sekolah, semua murid bertanya padanya siapa yang dia tunggu.


"Hanya teman, itu mereka," kata Anemoi menunjuk ke empat orang yang berjalan ke arahnya.


"Oh, teman sekelas kamu. Aku kira kekasih, aku kan jadi patah hati nanti. Kami pulang dulu ya," kata beberapa perempuan melambaikan tangannya.


"Aduh aduh, kesini mau jemput Kirika atau bertemu penggemar sih?" Tanya Haikal menggoda Anemoi yang memerah


"Huh! Usil! Hai Kirika? Tampaknya kamu memakan semua bingkisan mereka ya," kata Anemoi melihat Kirika tidak membawa kantung.


"Anak-anak makan juga. Kenapa kamu disini? Tidak bekerja?" Tanya Kirika yang cuek.


"Tadinya aku mau beri kamu kejutan tapi para penggemar tahu kalau aku datang hehe," kata Anemoi malu lalu bercanda dengan Haikal.


"Ayoook pulang bersama," kata Haikal tanpa memperhatikan bahwa Anemoi sebenarnya ingin jalan berdua dengan Kirika.


Ina dan Tania pun sama saja menghalau mereka berdua jalan bersama. Kirika dan Anemoi hanya bisa pasrah lagipula mereka harus begitu karena penggemar Anemoi berada disana untuk mengawasi.


Mereka berbicara dengan seru menggoda Anemoi dan Kirika yang sudah sebulan jadi pasangan. Meskipun dalam hati Kirika tampak was-was dengan apa yang mau dia utarakan.


"Kita mau ke mana nih?" Tanya Kirika, dia ingat dengan janjinya yang akan mengunjungi sebuah toko.


"Ke tempat kerja aku ya, aku traktir kalian makan deh," katanya dengan ceria.


"Ayooo," jawab mereka termasuk Kirika yang masih agak cemas.


Sesampainya di kedai ramen, mereka berempat langsung duduk dan memilih menu. Tentu saja yang masak adalah bosnya, Anemoi mengantarkan pesanan mereka. Dari jauh terlihat seorang perempuan yang cantik memandangi keakraban Anemoi dengan Kirika.


Meski sering bolos sekolah, disamping menjadi idola Anemoi juga terampil dalam menata makanan dan menghidangkan pada tamu. Anemoi sering diberi banyak tip oleh tamu karena wajahnya yang ganteng dan lucu.


"Hei, yang mana kekasih kamu?" Tanya bosnya memperhatikan.


"Itu yang rambutnya dikepang kebelakang. Cantik kan bos?" Tanya Anemoi gembira.


"Cih, aku yang lebih cantik," kata Siana menggeser posisi bosnya.


Mereka berdua lalu terdiam dan Anemoi kabur dengan mengantarkan menu yang mereka pesan. Kirika jatuh cinta pada Anemoi saat dia unjuk kebolehan memanjat tebing di tempat latihan bersama ayahnya. Sejak itu juga Kirika banyak mengikuti kegiatan agar bertemu dengannya, kebetulan Anemoi juga menyukainya.


Anemoi menyukai Kirika karena dia gadis yang pemberani. Awalnya Anemoi malas karena menyangka Kirika tipe perempuan yang terlalu lembut tapi ternyata salah dugaan. Bahkan sebenarnya Anemoi mencari tahu dimana Kirika bersekolah dan mendaftarkan diri meski hanya untuk status saja.


"Kirika, sekarang saja kamu katakan pada Anemoi tentang kepindahan," kata Ina.


"Iya mau sampai kapan kamu terus diam? Nanti keburu pindah," kata Haikal.


"Aku setuju," kata Tania.


Tanpa mereka ketahui, pembicaraan mereka didengarkan oleh Siana dan dia mendapatkan kesempatan besar untuk mendapatkan Anemoi.


"Permisi ya. Jadi kamu ini pacarnya Anemoi? Kenalkan aku Siana pegawai di kedai ini," katanya dengan sok tahu.


"Oh hai aku..." kata Kirika yang kebingungan.


"Kamu tidak cantik amat tuh kok bisa sih jadi pacarnya Anemoi? Kurang cocok deh kalau kamu bersanding dengan dia, lebih baik aku. Kamu mau pindah ya sudah deh pindah saja dengan tenang biar Anemoi dengan aku," kata Siana dengan kesan judes.


Yang lain langsung tidak menyukai dirinya. "Ih, percaya diri sekali. Sampai sekarang situ tidak jadi pacarnya juga artinya bukan tipe," kata Ina.


"Ya belumlah kalau saingannya seperti teman kamu ini sih kecil ya. Jauh-jauh deh," kata Siana berkacak pinggang.

__ADS_1


"Ada apa ini ribut-ribut? Siana ngapain kamu disini? Itu cucian masih menumpuk, sudah jangan suka cari masalah. Sana!" Kata bosnya menyuruh dia pergi.


Dengan wajah kesal Siana berlalu dan mereka menertawakannya.


"Maaf ya, meski pegawai lama. Dia begitu karena ditolak cinta oleh Anemoi," kata bosnya.


"BOS!!!" Teriak Siana semakin kesal.


Anemoi yangs sedang mengambil persediaan keheranan. "Kenapa?" Tanyanya.


"Biasa Siana berpikir kamu milik dia. Hah perempuan jaman now," kata bos masuk ke dapur.


"Kamu tidak apa-apa kan. Biar aku marahi dia," kata Anemoi bete.


"Jangan. Sudah tidak apa-apa kok. Kita makan dulu ya," kata Kirika yang mulai mengunyah dengan mantap.


"Jangan dilihat terus dong Kirikanya nanti menghilang lho," kata Haikal.


Mereka semua tertawa saat wajah Anemoi memerah lagi lalu Siana datang mengganggu.


"Anemoi, kamu sudah diberitahu belum oleh pacar kamu kalau dia mau pindah? Ops! Maaf ya kelepasan," katanya kemudian pergi dengan senyuman jahatnya.


Kirika menatap Anemoi dengan cemas.


"Benar? Kamu mau pindah? Lalu kita bagaimana?" Tanya Anemoi yang agak kecewa.


Kirika mengangguk sedih. "Ayahku dipindah tugaskan jadi kami sekeluarga harus pindah," kata Kirika yang menangis.


"Jangan menangis. Mau bagaimana lagi, kan kita masih bisa video call. Nanti kalau uang tabunganku sudah penuh juga kita masih bisa janji bertemu kan," kata Anemoi tersenyum.


"Benar kamu tidak marah?" Tanya Kirika yang masih basah dengan air mata.


"Ya tidaklah, kamu ini hidup di jaman abad berapa sih? Jadi kamu takut mengatakannya selama ini, takut aku minta putus? Kita sudah banyak menghabiskan waktu dan usaha untuk bersatu. Jangan mikir yang aneh-aneh," kata Anemoi menjitak kepala Kirika.


"Aduh! Lalu Siana itu pegawai baru?" Tanya Kirika penasaran.


"Oh, dia sudah lebih lama disini dari aku. Justru aku yang baru kalau dia bicara macam-macam jangan dipikirkan. Salah satu penggemar aku juga soalnya," bisik Anemoi pada mereka.


"Tapi mengesalkan ya serasa kamu milik dia. Terlalu fanatik!" Kata Tania sengaja dikeraskan agar terdengar.


"Namanya juga PENGGEMAR ya bukan CALON PACAR," kata Ina lebih ditekankan. Mereka semua tertawa tentu saja terdengar oleh Siana yang tanpa sengaja memecahkan gelas.


"Kamu ini kerja yang benar dong. Harus berapa gelas dan piring lagi kamu pecahkan? Kamu mau buat kedai ini tutup ya? Hei, Siana gaji kamu dipotong untuk mengganti gelas," kata bosnya bergema.


"Apa aman kalau aku pindah?" Tanya Kirika takut.


"Hahaha seperti bukan kamu saja, aku tidak tertarik sama dia meski memang tubuhnya menggoda ya. Bercandaaa kamu lebih cantik dari dia dan lagi aku suka tipe tomboi," kata Anemoi memegang tangan Kirika.


"Hote hote nih... Panas!" Teriak Ina dan Tania. Haikal menyeka wajahnya yang tidak berkeringat.


Setelah itu mereka selesai pukul 6, sudah waktunya pulang. Anemoi akan mengantarkan Kirika dan yang lainnya lalu, Siana melambaikan tangan.


"Jangan lupa ya kamu pindah, aku kandidat selanjutnya menjadi pacar Anemoi. Daah," kata Siana tertawa.


Kirika yang mendengarnya hanya menjulurkan lidahnya dan menarik kerah baju Anemoi. "Benar ya meski aku pindah kamu tidak akan selingkuh!" Seru Kirika.


"Iya iya tentu saja. SIANA, AWAS KAMU! Aku tidak tertarik sama kamu sudah kubilang berapa kali pun, mana mau menjadi pacar kamu," kata Anemoi membuat Siana sangat marah lalu membanting pintu kedai.


Kirika tersenyum puas, dia percaya pada Anemoi. Setelah itu diantarkan pulang. Di rumah pun keluarganya tengah memasukkan peralatan mereka ke dalam kotak kardus.


"Kirika, ini kotak untuk barang-barang kamu," kata ibunya memberikan 10 lembar kardus yang masih berupa mentahan.


Dengan hati yang riang, Kirika membereskannya sebentar lagi dia akan pindah tanpa perlu mencemaskan soal Anemoi toh, masih ada teman-temannya.


Malam pukul 9, Kirika ingin berjalan sebentar menikmati saat-saat dirinya mengenang semua di kota itu. Saat dia menaiki ayunan, Siana datang dan melihat Kirika yang sedang sendirian. Kesempatan baginya untuk menjatuhkan Kirika.


"Lho, kamu disini," kata Siana dengan ketus.


"Mau apa kamu?" Tanya Kirika dengan sinis.


"Aku hanya mau bilang saja nanti kamu pergi, aku akan bisa mendapatkan Anemoi," katanya dengan suara yang angkuh.


"Hah! Anemoi bukan laki-laki seperti itu yang mudah mencampakkan," kata Kirika balas dengan sengit.


"Kamu akan meninggalkan dia pergi jauh saat dia merasa rindu dan kamu tidak bisa bertemu. Menurutmu dia akan berbuat apa?" Tanya Siana membuat Kirika kaget.


"Dia bukan kekasih yang seperti itu. Jaga ya ucapan mu!" Kata Kirika sambil berdiri.


"Oh.. lalu kamu mau apa? Memukul aku? Menjambak? Hahaha perempuan jelek seperti kamu mana bisa. Aku peringatkan ya kamu ini terlalu polos jadi perempuan. Lelaki manapun pasti akan memilih perempuan yang bisa diajak jalan, bisa dilihat dibanding perempuan yang hanya bisa didengar suaranya saja," kata Siana sambil menunjuk ke arahnya.

__ADS_1


"Kami akan janjian bertemu kok," kata Kirika.


"Setiap hari? Setiap minggu? Atau jangan-jangan sebulan 1 kali? Hahaha percuma aku yakin, kalian akan cepat putus. Kamu kan tidak tahu dia sedang apa karena jauh dari kamu," kata Siana.


"TIDAK!" Teriak Kirika tidak ingin mendengar perkataan Siana.


"Coba kamu pikirkan saja, masih ada waktu sebelum kamu benar-benar pindah dari kota ini kalau saat kalian nanti hubungan jarak jauh, akan seperti apa akhirnya. HAHAHAHA!!" Kata Siana berlalu meninggalkan Kirika yang terduduk lemas di atas pasir.


Kirika lalu berjalan menuju rumahnya sambil berpikir apa yang dikatakan Siana mungkin saja akan terjadi.


"Kalau dipikir-pikir mungkin ada benarnya juga. Surabaya dan Bandung kan jauh, kalau ingin bertemu saat liburan sekolah pun ongkosnya bagaimana? Kalau telepon, juga harus memikirkan biayanya. Mana mungkin harus setiap hari, tekor nanti kan ya," pikir Kirika mumet.


Dia memukulkan kepalanya kebingungan harus bagaimana agar dirinya selalu tahu kalau Anemoi baik-baik saja. Apalagi ada Siana.


"Aku tahu Anemoi itu idola pasti uang honornya besar tapi kan... aku juga tidak mungkin bisa sering meneleponnya pasti akan mengganggunya. Kalau aku kerja paruh waktu diijinkan tidak ya?" Pikir Kirika lagi. Dia kemudian berjongkok memikirkan solusi.


Tanpa dia sadari, di hadapannya muncul portal menuju toko Eris berada tepat di depannya. Kirika berdiri lalu berjalan lagi tidak memperhatikan portal yang jelas berbeda penampilannya. Kemudian saat Kirika merasa sudah berada di rumahnya, dia membuka pintu dan merasakan aura yang berbeda. Kirika memandang takjub di hadapannya ternyata toko itu lagi.


"Lho? Sejak kapan aku sampai disini? Apa karena banyak pikiran jadi aku tidak tahu arah pulang ke rumah?" Tanya Kirika bingung.


Eris masih belum tampak di dalam, Kirika mencari orang.


"Selamat datang," sapa Ela tersenyum.


"Ah, syukurlah ada orang. Apa masih buka?" Tanya Kirika pada Ela tapi tidak ada jawaban.


"Silakan," kata Eris yang lagi-lagi sudah berdiri di hadapannya.


"Maaf ya malam hari aku datang," kata Kirika merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa toko ini bisa buka kapan saja. Tisu," Eris memberikan lembaran kepada Kirika yang sembab.


"Terima kasih. Aku sedang galau sebenarnya sebentar lagi aku akan pindah, ayahku naik jabatan dan ditugaskan bekerja di Surabaya. Aku baru saja 2 bulan jadi dengan pacarku dan meski dia berkata akan baik-baik saja tapi perempuan itu..." kata Kirika menangis lagi.


Beberapa menit dia menangis dan sadar telah merepotkan Eris lalu menghapus air matanya.


"Silakan," kata Ela menyerahkan teh hangat padanya lalu membawanya duduk.


"Terima kasih. Tehnya enak sekali," kata Kirika merasa enakkan.


"Lalu kamu bimbang harus ikut pindah atau tidak?" Tanya Eris yang duduk di hadapannya.


"Ya meski dia seorang idola tapi kalau harus terus menelepon dan bertemu... mana mungkin juga kan. Tapi dia bekerja juga sebagai pelayan di kedai ramen. Tapi... tapi..." kata Kirika yang masih tidak yakin dirinya akan baik-baik saja.


Eris langsung berjalan menuju rak dan menggenggam 2 buah lonceng. "Gunakan ini," kata Eris memberikan pada Kirika.


"Ini kan... tapi bagaimana cara aku mengembalikannya? Rumahku tidak ada di kota ini lagi," kata Kirika menatap Eris.


"Tidak perlu kamu susah-susah memcari toko aku atau setelah urusan kamu selesai, tidak perlu datang kemari. Bila urusan sudah seleaai lonceng ini akan pulang dengan sendirinya," kata Eris menyisakan banyak tanda tanya pada Kirika.


"Meski aku tidak mengerti, aku akan putuskan untuk meminjamnya. Terima kasih Eris," kata Kirika berdiri dan beranjak pergi.


"Ada petunjuknya kamu tidak mau tahu?" Tanya Eris.


"Hahaha aku lupa! Saking senangnya bagaimana cara memakainya? Hanya tinggal aku goyangkan saja kan?" Tanya Kirika mencoba sendiri.


"Menurutmu mudah tapi sebenarnya ada pantangannya," kata Eris.


Kirika mendengarkan dengan tegang. "Aku harap pantangannya tidak terlalu sulit," mohonnya.


"Lonceng pasangan ini bisa kamu gunakan seberapapun jauhnya jarak kalian. Jika satu lonceng dibunyikan seperti yang kamu lihat beberapa kali, maka satu pasangannya akan merespon," kata Eris.


Kirika lalu mengelus dan mencium lonceng itu dengan senang. "Seberapa jauhnya?" Tanya Kirika.


"Seperti handphone namun tetap saja hanpdhone memiliki batas jaringan kan. Kalau ini sama sekali tidak ada bahkan bila kau berada di dunia lain, lonceng itu masih bisa digunakan. Tapi jangan sampai lonceng ini dibunyikan oleh orang selain kamu dan pasangan," kata Eris.


"Eh? Jangan? Kenapa? Kalau begitu aku harus bilang padanya untuk menjaganya ya jadi benar-benar hanya aku dan Anemoi saja," kata Kirika bahagia sekali.


Eris terdiam tidak menjawab pertanyaannya. Lalu saat Kirika meluar dari tokonya, Eris menjentikkan jarinya dan lenyap.


"Ah! Aku lupa mendengar jawaban dari pertanyaanku. Eris apa..." kata Kirika lalu menolah kebelakang tapi dia hanya seorang diri. Dan lagi berada di depan rumahnya.


Dia mencari ke sekitar rumah dan kaget dirinya ternyata sudah sampai lalu Eris dan tokonya kemana? "Aneh sekali tapi sudahlah buktinya lonceng ini berada dalam dekapanku. Eris dan tokonya memang ajaib!" Kata Kirika lalu masuk rumahnya.


"Kirika, kamu dari mana? Hei, bawa apa itu? Bukankah itu lonceng?" Tanya ibunya terkesan dengan kagum.


"Jangan dipegang ini dari temanku," kata Kirika lalu masuk kamarnya.


"Anak itu, aku pikir dia akan sedih tapi sepertinya sudah teratasi," kata ibunya.

__ADS_1


"Syukurlah, Ayah juga lega. Ayo kita makan, bagian Kirika disimpan saja nanti juga kalau lapar dia akan turun," kata ayahnya.


Bersambung ...


__ADS_2