
Malam hari di rumah Reony, mereka kedatangan suami Venus dan ayahnya membicarakan hal yang sangat penting. Melihat itu Reony memasuki kamarnya dan menunggu mereka sampai selesai. Setelah mendengar pintu tertutup, Reony keluar melihat ayahnya.
"Ada apa Ayah? Kenapa suami ibu Venus datang?" Tanya Reony duduk disampingnya ayahnya.
Ayahnya menatap Reony dengan kedua matanya yang berkaca-kaca ingin mengatakan yang sebenarnya namun tidak mau membuat anak angkatnya sedih.
"Tidak apa-apa beliau menawari Ayah pekerjaan," katanya dengan senang.
"Benarkah!? Syukurlah lalu apa pekerjaannya?" Tanyanya dengan kedua mata yang berbinar.
Ayahnya tidak tahan menatap wajah putrinya yang cantik itu. Akhirnya dia akan ceritakan seluruhnya.
"Ini," kata Ayahnya meletakkan gelang emas tersebut membuat Reony berbinar.
"Gelang cantik. Tunggu sepertinya aku pernah melihatnya dengan yang dipakai Bu Venus. Ayah! Jangan-jangan ini..." kata Reony terkejut dia takut kalau ketahuan hidup mereka akan lebih sengsara.
"Tenang saja ini memang mirip dengannya tapi berbeda. Ini imitasi. Dengarkan Ayah, Nak. Ini kisah sewaktu kamu sedang mempersiapkan tes akting," kata Ayahnya.
Lalu diceritakan lah segalanya. Mengenai Eris pun tidak ada yang beliau lewatkan, apalagi saat mendengar ayahnya menyebutkan ciri sosok Eris ini. Itu adalah anak yang pernah dia lihat sewaktu di pantai.
"Ayah tidak takut?" Tanya Reony yang gemetaran.
Ayahnya tertawa. "Awalnya Ayah pikir anak itu mau memakan kami tapi dia ternyata menawarkan gelang itu juga kepadaku. Tapi kamu tahu kan bagaimana Venus sebenarnya. Ayah yakin anak itu sebenarnya baik," katanya.
"Begitu," kata Reony lega mendengarkan pendapat ayahnya. Lalu memegang gelang emas imitasi tersebut. "Jadi itu gelang Venus tapi mana mungkin gelang itu bisa membuat kita sukses tanpa usaha," kata Reony menyimpannya lagi.
"Ini sungguhan. Coba kamu lihat Ibu Venus yang kulitnya sama seperti Ayah mengendor. Lalu tiba-tiba diberi banyak peran apalagi membintangi iklan sampai iklan obat. Itu kan aneh, sekarang usianya saja sudah memasuki 79 tahun. Ayah yakin gelang itu memberikan efek hipnotis pada siapa saja yang melihatnya," kata Ayahnya.
"Lalu Ayah ditugaskan untuk menukarnya? Itu kan beresiko, aku akan membantu juga," kata Reony menggenggam tangan Ayahnya.
"Iya kalau berhasil, suami Bu Venus akan memberikan uang 500 juta. Nak, kita akan pergi dari kota ini dan memulai hidup baru," kata Ayahnya dengan semangat.
Reony memandangi Ayahnya yang sudah tua, lalu menangis memeluk Ayahnya.
"Tapi Ayah kalau tidak sesuai rencana bagaimana? Aku tidak mau lagi kehilangan orang yang aku sayangi," kata Reony menangis.
"Kita pikirkan saja hal yang baiknya ya. Kalaupun gagal, kita balaskan pada suaminya yang membuat ibumu menderita," kata Ayahnya menepuk lembut Reony.
Keesokan harinya yang dinanti akhirnya tiba juga, Venus tengah mempersiapkan untuk tampilan nanti dengan membereskan kostum terbaru yang dia pesan lewat toko online.
"Baju ini cocok sekali dengan gelang Venus. Ahhh hidupku memang sempurna!" Katanya melemparkan banyak bingkisan bunga.
Suaminya kemudian masuk selama ini dia tidak pernah tidur dengan istrinya itu. Karena matanya sakit dalam kamar itu, semua hiasan menjadi emas.
"Bisakah kamu hentikan kebiasaan membeli barang? Lihat sampai penuh begini kotak perhiasan lalu lemari baju juga," katanya dengan wajah kesal.
Baju suaminya hampir tidak ada terpaksa dipindahkan ke kamar lainnya. Istrinya kesal mendengar semua Omelan nya.
"Ini kan hasil uangku, bukan dari uang kamu lagi. Sesuka akulah," katanya sambil tiduran di atas tebaran uangnya. "Bagaimana? Apa kamu bisa memberikan setumpuk uang ini pada pelakor kesayanganmu?" Tanyanya tertawa keras.
Suaminya kaget kalau kehidupan keduanya sudah diketahui. Mana uangnya juga Venus kunci dalam brankas agar suaminya menyesal.
"Kamu tahu itu?" Tanyanya.
"Tentu saja. Aku yang tidak bisa lagi kamu puaskan pasti kamu mencari yang lebih muda. asal kamu tahu saja, aku tidak akan pernah membiarkan kamu mengeluarkan uang untuk dia sepeserpun!" Kata Venus tertawa menang.
Sayangnya yang tidak Venus ketahui, brankasnya sudah lama dia jebol. Dan dia masukkan tanah dan bebatuan ke dalamnya.
"Tahu dirilah kamu ini sudah tua seharusnya memikirkan kehidupan masa tua bukannya begini. Sudahi akting kamu, bakatnya pun sudah menua sama dengan pemiliknya!" Ucap suaminya kesal.
"Diamlah! Mulai sekarang, aku yang tua ini akan selalu terlihat muda bahkan para wartawan pun bertanya apa rahasia awet mudaku," kata Venus.
"Oh, jari gelang ini memang ada sesuatunya ya. Yang tua akan terlihat muda, kalau mereka tahu penampakkan kamu yang aslinya seperti apa pasti akan jadi bahan tertawaan ya hahahaha," kata suaminya tertawa keras.
"Kembalikan! Gelang itu tidak ada untungnya dipakai lelaki tua seperti kamu. Huh! Kalau lihat tampang kamu, aku jadi ingat dengan supir tua itu. Pergilah ke rumah istri mudamu," kata Venus mengusirnya.
"Hahaha nenek kering berubah menjadi muda entah apa yang terjadi pada semua mata mereka," kata suaminya pergi.
Siang harinya seperti biasa akan dilakukan pemijatan. Reony tengah mempersiapkan kosmetik dan segalanya sambil memikirkan kata-kata anak kecil yang misterius itu, dia menggelengkan kepalanya.
"Bu, persiapan memijatnya sudah lengkap," kata Reony yang memberitahukan.
"Kamu juga kasihan kalau dipelihara hanya untuk di bunuh,"
Bayangan pak produser muncul di benaknya.
"Kamu lebih cocok memerankan Venus dibandingkan wanita itu,"
__ADS_1
Sosok anak kecil itu juga muncul dan membuatnya semakin terperosok ke dalam rasa kebimbangan.
"Kalau tetap begini, sampai tua aku benar bersama wanita ini. Sampai usia mudaku habis aku akan dipelihara untuk dibunuh! Aku harus melenyapkannya semua gangguan yang menghalangi kesempatanku," pikir Reony.
Saat itu cermin sakunya yang terbuka sedikit memancarkan sosok lelahnya. Memperlihatkan Reony yang mengambil selendang panjang untuk mencekik Venus yang istirahat. Lalu kemudian dia teringat dengan rencana ayahnya dan menghentikan niatnya kemudian memijat bu Venus. Cermin itu pun menjadi biasa lagi.
"Setidaknya aku tidak membuat tanganku kotor untuk membunuhnya. Lagipula wanita ini mungkin sebenarnya kesepian karena tidak memiliki anak. Toh usianya sudah mencapai 80an, hidupnya pun sangat tipis," pikir Reony tersenyum.
"Reony, kamu sudah simpan kan gelang kesayanganku? Jangan sampai kamu lupa besok dibawa ke tempat aku syuting. Dan kamu jangan berani mencoba gelang itu. Tidak pantas dikenakan gadis pembantu sepertimu," kata Venus sambil memejamkan matanya.
Meski kata-katanya kasar tapi berkat dirinya bekerja, bisa memakan makanan mewah dan membawanya ke rumah. Dia akan lebih bersabar lagi sampai Ayahnya berhasil.
"Sudah, Bu," jawabnya dengan wajah kelamnya. Dia sengaja agar Ayahnya dapat menukarkannya.
Setelah itu, Ayahnya sudah berada di dalam kamar Venus. Pak Sapto sudah memberi tanda pada gelang itu dengan menempelkan kertas putih untuk yang palsu. Dia membongkar semua kotak perhiasan bahkan lemari baju. Info yang dikabarkan oleh suaminya mengatakan gelang itu disimpan dekat meja telepon, namun saat dicari tidak ada!
Sudah pastilah dipindahkan waktu pemijatan 10 menit lagi akan berakhir. Pak Sapto terduduk kemudian melihat sesuatu dari bawah kemari pakaian Venus.
"Ternyata dia membuat laci lain! Ini dia!" Serunya dengan gembira. Dia lalu mengeluarkan gelang yang sudah diberi tanda, Pak Sapto membawa 2 buah gelang yang sama.
Ternyata Reony memiliki teman yang dulu pernah menawarinya gelang imitasi dengan harga Rp 200.000. Benar hoki sekali nasib mereka kini. Rencananya bercabang, yang satu ditukarkan dengan yang asli lalu disimpan dalam laci kecil Venus. Satu lagi diberikan pada suaminya Bu Venus sedangkan yang asli sudah tentu untuk Reony anaknya.
Pak Sapto keluar kamar dan kaget melihat Venus dan Reony berada di dapur bawah. Pak Sapto menunggu tanda, tentu Reony juga menyadari kehadirannya.
"Bu, ini saya buat teh kesukaan Ibu," kata Reony yang sudah memasukkan bubuk obat tidur.
"Ah, bagus," katanya langsung meminumnya tanpa curiga.
Setelahnya Venus tertidur pulas. Reony memberi tanda padanya untuk turun. "Bu Venus sudah tertidur," kata Reony.
Pak Sapto turun. Memberikan gelang yang adli pada Reony. "Rencana kita berhasil. Nak, kamu masih menyimpan cermin saku pemberian kami?" Tanya Ayahnya.
"Iya, aku bertemu dengan anak yang Ayah ceritakan dia bilang cermin ini akan menjadi lawan bila aku terus menyimpannya. Bagaimana?" Tanya Reony memegang cermin saku itu.
"Biar Ayah yang simpan. Stelah ini, raihlah masa kejayaanmu yang telah direbut Venus. Orang ini harus menerima balasannya," kata Ayahnya menatap nenek kurus kering yang sedang tertidur pulas.
Setelah itu ayahnya pergi sambil membawa gelang asli. Venus bangun tersadar dia marah.
"KAMU MEMBERI SAYA OBAT TIDUR!" katanya marah.
"Bu, saya tidak mencampur apapun. Ini buktinya," kata Reony yang meminum juga minuman itu. Tidak terjadi apapun.
Hari yang berharga akhirnya datang tentu Reony masih membantu Venus dengan segala kebutuhannya sampai ditemani di ruangannya. Setelah itu Reony meninggalkan Venus dan memasuki ruangan aula teater sambil tersenyum sinis.
Venus mengenakan kostum mahalnya dan merasa agak lemas tapi dia menyangka karena kelelahannya berlatih. Tidak lupa dia memakai gelang Venus yang palsu.
Tampillah dirinya mengucapkan adegannya yang beberapa pemain malah menertawakan bahkan menahan tawa.
"Kenapa mereka menertawai ku? Ah ya, mereka pasti iri dengan diriku," pikir Venus yang tidak menyadari kalau yang dia pakai adalah gelang palsu.
Seluruh penonton juga malah menahan tawa menatap nenek-nenek kurus tanpa daging dengan suara serak.
"Apa ini semacam hiburan?" Tanya A.
"Benarkah itu Bu Venus? Sudah tua sekali," kata B.
"Itu sih tengkorak bukan manusia," kata yang lainnya.
"Hei, sudah turunkan wanita tua itu. Kita batalkan untuk saja ini masih persiapan. Siapkan pemain baru kita, panggil Reony dia yabg akan tampil," kata Direktur.
Tentu Reony pun sudah bersiap, Ayahnya hadir memberikan baju yang akan dia kenakan. Pak produser yang menyiapkan segalanya mulai baju dan peralatan kosmetik.
"Kamu sudah siap?" Tanyanya.
"Tentu," kata Reony dengan ceria.
Di panggung, Venus diturunkan dengan kebingungan, dia bertanya. "Ada apa ini?" Tanyanya.
"Bu Venus, hentikan. Pemeran Anda sudah digantikan oleh yang lain. Sadarlah, Anda ini sudah uzur," kata kru yang lainnya memegangi Venus.
"LEPASKAN! KALIAN TIDAK TAHU, SAYA INI SUDAH EBRTAHUN-TAHUN BERAKTING DENGAN BAIK. KALIAN..." katanya.
"Bercerminlah bagaimana penampakan kamu sekarang ini. Sudah tua begini bukannya sadar malah semakin rakus," kata yang lain.
Mereka menyerahkan cermin dan Venus terkejut. Wajah asli dan kondisinya kini semuanya jelas terlihat. Dia memeriksa gelangnya dan memeriksa ternyata...
"Ini... gelang ini palsu! Siapa... REONY! KURANG AJAR MANA DIA?" Teriak Venus dengan suara khas nenek-neneknya.
__ADS_1
"Nenek-nenek memakai gelang emas? Aneh sekali," kata yang lain tertawa.
"Kulit mudaku... wajah tidaak tidaaaak. Aku harus merebutnya kembali," kata Venus berjalan lalu melihat Reony di atas panggung dengan kostum Dewi Venus.
"Wah, kalau ini baru dewi!" Kata yang lainnya.
"Aktingnya seperti sungguhan ya," kata penonton lain sangat terkesan.
Venus yang memandanginya hanya terdiam lalu dia melihat gelang emas miliknya. "ITU GELANGKU! KEMBALIKAN DASAR ANAK PEMBANTU!" Teriaknya. Namun sebelum sempat naik, para penjaga mengusirnya.
Reony melihat kejadian itu lalu tertawa menang dan meneruskan adegannya. Akhirnya berakhir. Venus diluar gedung mendengarkan suara tepuk tangan yang meriah sekali. Dia menahan amarahnya lalu pulang.
"Suara tepuk tangan itu milikku. Milikku!" Serunya dalam keheningan malam.
Dia pulang sendirian, menyetir sendiri tanpa suaminya. Berjalan dengan lelah sambil mencaci maki tidak jelas. Saat di dapur dia menuangkan limun dan melihat botol kecil dalam wadah beras.
"SIALAN! DIA BENAR-BENAR MEMBERI AKU OBAT TIDUR!" Teriak Venus membanting botol itu sampai hancur.
Tanpa disadari sosok Reony berdiri di bawah jendela yang disinari bulan. Tersenyum menatap ke arahnya lalu berjalan mendekati.
"Siapa? Apa itu kau Reony? Anak keparat! Berani-beraninya kamu mencuri GELANGKU!" Teriak Venus sambil menggenggam gelas piala untuk memukulnya.
"Hihihihi tidak sadat bahwa Anda perlahan menua selama memakai gelang itu. Anda lelah kan? Itu karena energi kehidupan Anda menjadi makanan baginya membuat Anda terlihat muda," jelas "Reony" sambil duduk di dekat jendela.
"Kamu... kurang ajar... aduh! Pinggangku," katanya menjerit kesakitan.
"Anda tahu, selama Anda memakai gelang itu sebenarnya hal yang sesuai kenyataan perlahan menggerogoti semua bagian tubuh. Sebaiknya segera kembalikan setelah Anda terkenal bukan. Itulah syaratnya tapi Anda melanggar," kata "Reony" menampakkan mulutnya yang tertawa.
"Tidaaaaak aku tidak mau menua. Aku masih belum puas menjadi bintang utama. Reony anak itu yang berada di panggung," ucap Venus.
"Reony" berubah menjadi Arae yang imut dengan tanduknya juga. Menatap Venus dengan wajah iblisnya.
"Wah wah, ternyata kenapa kamu betah di dunia manusia karena ini?" Tanya tukang kebun muncul.
"Sayang, Tampaknya Reony sudah berhasil membuat impiannya menjadi nyata. Sadarlah, Nek waktumu sudah habis," kata tukang cuci mobil.
"Hah? Kalian siapa? Semua pelayan bahkan tukang kebun dan cuci mobil seharusnya sudah aku pecat juga. KALIAN SIAPA!?" Teriaknya ketakutan.
Mereka berdua akhirnya menampakan dirinya. Raja dan Ratu kegelapan sambil tertawa mereka senang rencananya berhasil. Sayap hitam menekuk membungkus diri mereka.
"Arae, selanjutnya kami serahkan padamu," mereka menghilang dan Arae menyambut dengan senang.
Eris muncul dengan mendengus nafas kedua orang tuanya ikut berperan. "Bagaimana rasanya?" Tanya Eris.
Venus ketakutan dan menangis. "Maafkan aku! Tolonglah aku masih memerlukan gelang itu huhuhu," kata Venus memohon pada Eris.
"Aku beritahukan Reony yang asli telah lama pergi untuk menggali potensinya. Yang kamu lihat di atas panggung memang dia dan sekarang, roda takdir yang sebenarnya akan mulai berputar," kata Arae memegang dagu Venus sambil tertawa.
"Ka...kamu...si...apa..." kata Venus dengan suara seraknya sama persis dengan suara Reony. Dia memegang lehernya.
"Hahahaha! Bagaimana rasanya memiliki suara serak seperti Reony? Aku? Arae sang penjaga pintu kegelapan," kata Arae memperkenalkan dirinya dengan manis.
"Arae, sudah cukup. Sisanya urusan aku," kata Eris. Arae mundur masih menikmati limun yang Venus buat.
"Tolong Nak, kembalikan aku menjadi muda," kata Venus memohon, mengiba.
"Masa pembayaranku sudah habis, Venus. Bagaimana isi perjanjiannya? Kamu sudah berhasil seharusnya mengembilkan gelangnya. Kalau kamu lakukan, usiamu tidak akan menjadi setua ini," kata Eris yang kemudian memegang tangan kiri Venus dan berubah menjadi segar.
Venus yang melihatnya langsung takjub. "Oh ternyata tanpa perlu gelang itu dengan menyentuhmu, aku bisa kembali muda. Aku ingin muda, akan dibayar berapapun harganya dengan apapun," kata Venus yang dengan wajah menyeringainya
"HAHAHAHA MANUSIA TIDAK TAHU DIRI! Serakah sekali hei, Eris biar aku makan saja ya," pinta Arae yang terbang di sekitarnya.
Venus lalu berusaha memegang tangan Eris tangan selanjutnya pun kembali segar lalu berusaha meraih wajah Eris lalu tongkat bermahkota kan setengah bulan menghalanginya.
"Hei, Nek kamu bertindak kurang ajar padanya kalau lebih jauh lagi akan ku makan kamu semuanya," ancam Arae yang kedua matanya berwarna putih merah.
Eris tertawa melihat Venus yang memohon tidak seperti dulu saat dia mengambil gelangnya begitu saja. "Pembayaran untuk gelang itu juga sudah lunas. Tenang saja," kata Eris berdiri.
"Benarkah!? Jadi aku bisa kembali muda kan. Tapi... lunas karena dengan apa?" Tanyanya keheranan.
Mereka berdua tertawa mengerikan yang membuat Venus gemetaran.
"Your Life," ucap keduanya.
Venus yang tidak bisa berteriak pun akhirnya menjadi mangsa keduanya. Arae yang memakannya habis sedangkan Eris menarik bola kehidupannya. Arae berubah menjadi monster bertanduk mengerikan yang memakan habis seluruh badan Venus.
"Arae, perbaiki cara makanmu," kata Eris. Darah Venus berhamburan.
__ADS_1
"Ah, maaf," katanya menundukkan kepalanya dan menjilat pipi Eris yang ada darah lalu mereka menghilang.