
"Kalian memang sama sekali tidak tahu?" Tanya Kay sambil tertawa.
"Prof berasal dari Inggris tapi setahu aku, orangnya sudah tua sih kalau dia memang benar ada murid bukannya terlaku riskan ya?" Tanya Chris membantu menjelaskan.
"Sudah tua tapi memiliki murid?" Tanya Ares meras aneh. Dia tentu saja sempat mendengar mengenai Profesor Davis.
"Disini tidak ada ya yang bisa berbahasa asing?" Tanya Iran menatap semuanya.
Tapi anggota Chris menunjuk Chris sendiri sebagai orang Inggris meski penampilannya mirip orang Korea.
"Chris juga bisa," kata Eris.
Chris tersenyum saat Eris menyebutkan namanya. Sisna agak cemburu melihatnya.
"Bukankah Chris kelahiran Indonesia Inggris ya? Rambutnya hitam dan kulitnya juga biasa," ucap Dani agak meremehkan.
"I came from England, I went to Indonesia on personal matters or rather the head of the church ordered me to join this game. Hair has nothing to do with which country i was born in. Englishs people also have black hair," kata Chris dengan penuh senyuman ke arah Dani.
Semua orang disana tidak percaya dengan logat Chris yang membuat Dani dan Kay hanya diam sambil mendengus kalah.
Semuanya bertepuk tangan dengan nada inggris yang kental. Chris hanya tertawa dengan wajah yang agak merah karena malu.
"Wow!" Seru mereka semua.
"Apa rambutmu benar-benar hitam?" Tanya Yuri memperhatikan setiap sudut.
"Tidak hehehe aku mencat nya supaya bisa sesuai dengan kebanyakan orang sini," kata Chris.
Mereka tentu histeris dengan kemampuan bahasa asing Chris yang sangat lancar. Tentu saja hal itu sampai terdengar ke Tim Olive. Tentu saja Olive gembira dia mengobrol dengan Chris menggunakan bahasa Inggris.
Namun Chris menjaga jarak dengannya, itu terllihat oleh Yuri, Iran, Ares, tentu Eris, Mila dan Rio. Karena misinya adalah Olive yang kemungkinan mengaku-aku sebagai murid Profesor.
Anggota timnya mengajak jalan-jalan dan dengan agak genit mengajak Chris, namun Chris menolak dan Olive agak sedih.
Chris kemudian duduk bersama yang lain agak bersebelahan dengan Eris yang sedang mengunyah kue dengan wajah datar.
"Your language is fluent ( Bahasa Inggris kamu lancar ya," kata Eris tanpa menatapnya.
Chris senyum dan memakan kue yang sama. "I have an acquaintance in Indonesia and he taught me this language. He said so as not to be found out. My identity is very secret.
( Aku memiliki kenalan di Indonesia dan dia mengajariku bahasa ini. Katanya agar aku tidak ketahuan. Identitas asliku sangat rahasia ),"
Chris meletakkan ibu jari di mulutnya sekilas, mereka bertiga mengerti. Yuri dan Ares mengerti dan mengangguk.
Eris menatap Chris, dia tahu siapa Eris sebenarnya. "Can you keep who i am a secret? This activity is highly suspicious. Once done, you are free to eliminate me
( Bisakah kamu merahasiakan siapa aku? Kegiatan ini sangat mencurigakan. Setelah selesai, kau bebas untuk melenyapkan aku )," kata Eris membuat mereka berdua terkejut.
__ADS_1
Chris memikirkan apa kata Eris.
"Jangan! Kumohon. Eris bukan iblis yang jahat," kata Yuri dengan suara pelan.
"Oke, i will keep secret, after this done..." kata Chris menatap Eris yang menatapnya tanpa emosi.
Pembicaraan mereka terpotong dengan kedatangan Sani menuju Chris.
"Eris," kata Ares sangat cemas. Nampaknya ide buruk mereka mengikuti permainan tantangan maut ini. Tapi Eris tidak perduli dan Yuri meminta untuk pulang saja.
"Eris, kita pulang saja yuk kalau harus melihat pendeta muda itu melenyapkan kamu..." kata Yuri dengan kedua mata yang ingin menangis.
Eris tetap menolak, menatap Iran yang terus mencuri pandangan pada Yuri. Dia harus bisa menenangkan Yuri.
"Kamu yang bersemangat soal hal ini dan sekarang menyerah begitu saja? Jangan bodoh," kata Eris kemudian berjalan menjauh.
"Hei, tenang saja Yuri. Eris tidak akan mudah dikalahkan," kata Ares berbisik membuat Iran agak cemburu.
Chris yang mengobrol dengan Sani menatap Eris sedikit dan melanjutkan obrolannya.
"Kalau kamu orang Inggris, apa kamu bisa menjadi penerjemah?" Tanya Sani berharap.
"Tentu saja tapi buka kah dari tim mereka ada yang bisa menerjemahkan juga?" Tanya Chris.
"Aku inginnya sama kamu, pendeta," kata Sani dengan malu.
Beberapa jam kemudian Yoshi mendatangi ruangan mereka satu per satu memeriksa. Yang ternyata semua tim Olive sedang keluar bersama, ruangan tim Chris juga kosong. Dan melangkah cepat menuju ruangan tersisa.
Dan mereka semua bubar tapi tidak dengan Chris.
"Kenapa tidak kembali ke ruangan mu?" Tanya Ares.
"Aku masih ada urusan di sini, apakah kalian tidak ingin aku mendoakan ruangan ini?" Tanya Chris.
"Ah, Tuan Chris Anda masih disini," kata Yoshi.
"Benar, saya akan membacakan doa, saya merasakan ada hal aneh di setiap ruangan," kata Chris dengan jujur.
Sontak semua anggota tim Ares langsung bersikap tegang. Mereka mendekati Chris dengan wajah agak takut.
"Apa itu?" Tanya Yoshi dengan wajah yang biasa.
"Berapa tahun Anda bekerja di sini?" Tanya Chris mulai serius.
"Sudah 10 tahun," jawab Yoshi.
"Selama itu apa Anda tidak mencium bau amis?" Tanya Chris.
__ADS_1
"Maksudnya?" Tanya yang lain bersamaan.
Chris menatap mereka semua, "Saya masuk ke gedung ini dan mencium bau darah yang pekat,"
"Aku juga!" Kata Yuri angkat tangan.
Fuji memandangi Yuri dan dia ingat apa yang dilakukan oleh Eris, menurutnya pun ada aroma darah yang kuat.
"Selama bekerja disini memang saya tidak pernah mencium bau seperti itu, Tuan," kata Yoshi.
Chris terdiam dan berpikir. Yoshi lalu menatap Ares, "Apakah ruangan ini kurang cocok?" Tanyanya.
"Tidak Pak, ini sudah cukup bisa menampung 3 tim yang main kemari," kata Ares dengan sopan.
"Dan banyak buku yang menyenangkan juga," kata Dio menunjukkan beberapa buku lama.
Merasa mereka butuh banyak info, Ares langsung berinisiatif. Mendengar penjelasan Chris sudah tentu Ares pun ingin banyak tahu.
"Pak, maaf apa boleh saya mewawancarai Anda? Karena tidak ada kegiatan lain," kata Ares memandangi Eris.
Eris mengangguk setuju, Chris langsung ikut juga dan Yoshi duduk di sofa dalam ruangan tersebut. Akhirnya Mila, Rio dan Sisna beserta Iran datang kembali karena Chris lama tidak datang.
"Baik, apa saja yang ingin Anda tanyakan?" Tanya Yoshi duduk dengan tegak.
Anggota Ares sisanya lebih tertarik menonton dalam kamar masing-masing, atau mencari sesuatu yang menarik. Yang lain sudah tentu ingin ikut serta juga dan Yoshi mengangguk.
"Pertama saya, saya ingin tahu kejelasan pemilik gedung ini yang sebenarnya. Benarkah dari kalangan seleb?" Tanya Fuji.
"Itu benar," jawab Yoshi.
Mereka heboh dan Chris ber dehem membuat mereka saling menutup mulutnya.
"Bisakah Anda ceritakan mengenai rumah yang mirip istana ini?" Tanya Chris yang juga duduk di sofa. Dia tahu Ares membantunya untuk lebih mengenal mengenai keanehan yang ada.
Yoshi mengangguk, kemudian dari tim Olive muncullah Yogi, Rey, Panca dan Rika saja yang datang mereka belum menyapa lagi.
Mereka juga mendengar soal mewawancarai Yoshi dan tertarik untuk ikut mendengarkan.
"Benar apa kata kalian bahwa rumah ini dimiliki oleh seorang seleb tapi mengenai identitasnya, saya tidak bisa beritahukan. Sangat pribadi," kata Yoshi.
"Tidak apa-apa," kata Sani melirik Fuji. Mereka memberikan kode lewat mata.
"Rumah ini dibuat seleb tersebut dengan tujuan sebagai vila tapi orang tuanya sama sekali enggan tinggal disini," jelas Yoshi.
"Kenapa?" Tanya Yuri.
"Kata mereka rumah ini terdapat Iblis," kata Yoshi membuat mereka kaget.
__ADS_1
Eris yang mendengarnya masih saja memandangi pemandangan di luar, sudah tentu dia tahu ada sesuatu yang aneh di dalam rumah besar ini.
Bersambung ...