Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
6


__ADS_3

Apollo baru saja keluar dari toko kaset dan membeli beberapa CD lagu kesukaannya lalu masuk ke sebuah cafe. Dia melihat sekelilingnya dan menduduki tempat yang agak jauh dari keramaian.


Nyx melihatnya lalu menghampiri meja Apollo. "Silahkan menunya," kata Nyx dengan tersenyum lalu memberikan kertas dan pulpen dan menunggu Apollo.


Apollo meletakkan earphone nya dan membaca semua menu, dia akan lama memilih pesanan. "Aku akan memanggil bila sudah siap," katanya pada Nyx.


"Baik," kata Nyx lalu merapikan meja yang lainnya.


Apollo mengeluarkan beberapa data dan lembaran kertas. Dia dapat klien yang menyuruhnya membuatkan sebuah kerangka rumah.


Beberapa saat Aiolos memasuki cafe itu dengan senyuman yang cerah. "Siaang," katanya.


"Huh, kamu terlambat. Tuh dipanggil bos," kata Nyx menunjuk ke kantor Bos mereka.


"Oke," kata Aiolos yang bergegas berganti baju dan memakai topi cafe tersebut.


Anemoi dan kekasihnya memasuki cafe itu dengan gembira. Nyx kemudian menghampiri mereka dengan tersenyum.


"Kalian mau duduk dimana?" Tanyanya.


"Syukurlah masih banyak kursi yang kosong," kata kekasihnya bernafas lega.


"Memangnya cafe ini terkenal?" Tanya Anemoi memandangi sekelilingnya.


"Ah, kami ingin di tengah saja," kata kekasihnya.


"Baik, silakan. Ini menunya bila sudah siap silakan panggil pelayan lain," kata Nyx memberikan menu serta kertas dan pulpen.


Mereka berdua mengangguk. Nyx pergi dan membereskan cangkir dan peralatan lainnya.


"Cafe ini terkenal karena kedua kakak yang tadi. Tapi aku kan sudah punya kamu," kara kekasihnya.


"Dasar. Awas ya kalau kamu selingkuh," kata Anemoi membelai kepala kekasihnya itu.


"Tidak dong," katanya. Mereka lalu memesan makanan, pelayan lain melayani mereka.


Aiolos lalu keluar dengan senyuman biasanya lalu mulai melihat pesanan menumpuk. Lalu masuklah Ares dan Poi yang tentunya mendengar dari beberapa teman, menu makanan di sana sangat enak.


Ares dan Poi duduk di antara Apollo dan Anemoi, di ujung ada Artemis. Ya, Artemis sudah berada disana sebelum semuanya datang. Nyx datang lagi dengan membawa menu.


"Silakan menunya," kata Nyx kepada mereka berdua.


Ares dan Poseidon menatap Nyx lalu tiba-tiba merasakan denyut kepala yang sangat tajam. Nyx kebingungan tapi segera kepalanya juga seperti terhubung dan sakit kepala.


"Ada apa? Kamu kenapa?" Tanya Aiolos menatap Nyx yang hampir roboh.


"Kalian sakit?" Tanya Artemis menghampiri mereka.


Lalu Aiolos melihat sekelebat penglihatan dimana membuatnya sedikit pening. Nyx memegang tangan Aiolos, tanpa diduga Artemis memegang tangan semuanya.


Dalam penglihatannya, Aiolos melihat mereka semua seperti dalam satu kelompok dan melawan sesuatu yang besar. Ares pun ada bertarung dengan pedang yang panjang. Artemis, Apollo, Ares, Poseidon, Nyx, dirinya dan... Anemoi.


"Hei hei," kata yang lain agak siaga.

__ADS_1


Anemoi memandangi mereka keheranan. Aiolos lalu melepaskan tangan dan membantu Nyx untuk duduk.


"Baiklah, semua tampak sudah aman," kata Artemis lalu duduk kembali. "Anu, saya mau memesan," kata Artemis memandangi pelayan lain.


Menjauh dari mereka, rasa sakit di kepalanya mereda, agak aneh. Kemudian Nyx memutuskan untuk membantu Aiolos di dapur.


Mereka pergi, Ares dan Poi kembali seperti biasa. "Ada apa ini?" Tanya Ares kebingungan.


"Entahlah, aku tidak mengerti juga. Kita harus kendalikan ingatan ini yang entah milik siapa," bisik Poi pada Ares. Dia agak malu.


Ares setuju dan mulai mengepalkan tangannya menahan ingatan itu untuk keluar lagi. Akhirnya beberapa waitress melayani mereka semua masing-masing.


Nyx lalu mengantarkan pesanannya dan bernafas bersiap-siap bila sakit kepala menyerang tapi tidak. Hanya saja dia merasakan getaran aneh bila menghampiri meja Ares.


Artemis yang memandangi wajah Nyx dan kedua anak SMU itu hanya tersenyum dan menyilang kan kedua tangannya di dadanya.


"Silakan pesanannya," kata Aiolos mengantarkan pesanan Artemis.


"Terima kasih. Kalau kamu datang ke meja mereka berdua lagi tidak akan ada yang terjadi," kata Artemis lalu mulai makan.


"Eh?" Tanya Aiolos memandangi Artemis menunggu jawaban.


Karena tidak menjawab juga, Aiolos pergi ke dapurnya keheranan dan menyiapkan pesanan Ares. Benar saja tidak ada rasa sakit kepala atau listrik saat Aiolos menghampiri mereka.


"Terima kasih," jawab mereka lalu menyantap pesanan dan senang.


Aiolos menatap Artemis sambil berjalan menuju tempatnya dan merasa aneh sekali. "Woi, kamu tadi kenapa?" Tanyanya ke Nyx yang masih bengong.


"Tadi aku pening saat berdiri di depan 2 anak SMU itu. Kenapa ya? Apa kamu merasakannya?" Tanya Nyx yang masih terduduk.


Nyx menatap teman masa kecilnya itu yang memang tahu memiliki kekuatan supranatural. Anehnya yang tidak punya efek hanya Apollo dan Artemis.


Beberapa jam kemudian semuanya serentak berdiri dan berjalan menuju kasir, dimana Aiolos berada.


"Berapa semuanya?" Tanya mereka bersamaan dan saling berpandangan.


Aiolos kebingungan, dia memencet mesin tapi semuanya bertanya. "Tunggu tunggu sebentar bagaimana kalau kalian semua mengantri saja?" Tanya Aiolos tersenyum.


"Aku duluan yang berhasil ke kasir," kata Anemoi lalu melangkah ke urutan terdepan bersama kekasihnya.


"Tidak, aku dulu,* kata Apollo berusaha mendorong Anemoi.


"Hei, kalian..." kata Ares yang berusaha menjelaskan.


Poi ikut melangkah ke depan meninggalkan Ares yang bermaksud menahannya. "Ayolah semuanya mengalah saja dengan kami yang masih anak SMU," katanya tidak mau kalah.


Akhirnya mereka semua berantem di depan Aiolos yang sudah kebingungan. Ares menahan kekesalannya melihat mereka semua termasuk Poi berubah seperti anak kecil.


Nyx lalu keluar dengan membawa kalkulator ponselnya.


"Saya dulu saya dulu," mereka semua berkata begitu. Bahkan kekasih Anemoi sampai menjambak rambut Apollo karena berusaha menjatuhkan kekasihnya.


"Ya ampun," kata Artemis lalu maju ke depan. "Saya bayar duluan. Betapa?" Tanyanya mengeluarkan dompet.

__ADS_1


Poi yang kerahnya diangkat oleh Anemoi, lalu Apollo yang melawan kekasih laknatnya Anemoi saling menjewer telinga, lalu tangan Poi yang menahan kaki Anemoi. Semuanya menatap Artemis yang mengeluarkan dompet.


"Enak saja. Aku dulu," kata mereka semua. Yah sedetik kemudian Artemis ikut masuk heboh dengan yang lain.


Ares memejamkan kedua matanya lalu meledak. "SUDAH HENTIKAN!! Yang aku lihat pertama datang menurut instingku, adalah orang ini ( Apollo ),"


Apollo bangga kepada mereka dan menyombongkan diri.


"Lalu kalian berdua sepasang kekasih yang masuk selanjutnya," kata Ares.


Anemoi dan kekasihnya menunduk malu dan senyum. Kekasihnya melepaskan tangannya dari telinga Apollo.


"Lalu kita berdua yang datang. Sudahlah, Poi! Jangan seperti anak kecil juga," kata Ares menyeret sahabatnya keluar dari pergolakan tim itu.


Poi hanya mendengus kesal.


"Terakhir orang ini. Meskipun mungkin dia sudah lama ada di dalam cafe," kata Ares menatap Artemis yang membetulkan setelan kemejanya.


"Menyebalkan sekali orang ini," kata Poi dan mereka semua memandangi Artemis yang membersihkan bajunya dari debu.


"Berhentilah memperebutkan posisi pertama kalian semua itu yang utama dalam posisi perang nanti. Kita semua akan berada dalam barisan terdepan! KALIAN PAHAM!?" Seru Ares dengan suara yang berat.


"PAHAM, KOMANDAN!!!" Seru mereka semua dengan gerakan hormat. Kekasih Anemoi keheranan melihat kekasihnya juga ikut membalas.


"Yank, mau wajib militer ya?" Tanyanya bingung.


"Eh? Oh iya ya kenapa juga aku..." kata Anemoi kebingungan.


"Perang? Kita kan sudah damai sejak lama ya," kata Nyx.


"Ah, maksudnya supaya kalian tidak saling perang memperebutkan siapa duluan yang bayar makanan. Kalau kalian mau, mereka akan membantu kalian menghitung jumlah totalan," kata Aiolos menunjuk ke beberapa pegawai.


"Tidak usah, ini salah kami. Siapapun ya g pertama tidak masalah. Silakan," kata Anemoi dan Poi.


"Haha memang akulah yang pertama. Ayo Kak, berapa semuanya?" Tanya Apollo cengengesan.


"Semuanya Rp 67.000 pas," kata Aiolos menghitung semua makanan yang dipesan.


"Nih, ambil saja kembaliannya," kata Apollo lalu keluar dari cafe, sebelumnya dia menjulurkan lidah mengejek mereka semua.


"Anu. Berapa?" Tanya Anemoi dengan wajah merah.


"Semuanya Rp 150.000 pas," kata Aiolos.


"Ini. Yuk," ajak Anemoi.


"Semuanya Rp 70.000 pas juga," kata Aiolos tertawa.


Ares dan Poi membayar. Lalu mereka pulang.


"Anda Rp 250.000," kata Aiolos kepada Artemis.


Artemis serahkan uang lalu menatap Aiolos yang sedang memasukkan uang itu lalu pergi.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2