Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
Lanjutan ...


__ADS_3

"Suara yang ber gesek itu terus menerus terdengar. Kami semua berkata mungkin itu hanya perasaan saja tapi setelahnya beberapa teman dan guru yang lewat ikut mendengar. Mereka bertanya dengan bersamaan, 'Suara apa itu?' Suaranya terus terdengar bahkan semakin keras," kata Aiolos.


"Kamu tidak mengetuknya dan berteriak untuk berhenti?" Tanya Nyx.


"Tidak ada yang berpikiran kesana ya kami pikir hanya seperti suara gesekan dedaunan. Karena kami semua ketakutan, kami tidak meneruskan penyelidikan itu tapi setiap malam suara sebelah terus terdengar. Ternyata bukan hanya kami saja yang terganggu tapi di lantai 4 dan 2 juga sama. Sampai akhirnya para guru meminta tindakan pada pihak penginapan," terang Aiolos.


"Mereka percaya?" Tanya Poi.


"Awal tentu saja mereka menolak percaya karena ada yang iseng. Guru dan murid kelas lain menjelaskan suara itu lalu pihak penginapan berkata, 'Jadi memang ada ya.' Setelah itu mereka berdiskusi," kata Aiolos rehat sejenak.


Mereka semua berpikir entah kenapa tampaknya di penginapan pun angka 3 adalah angka kesialan.


"Yah, ini sih ujungnya sudah bisa ditebak," kata Anemoi bersembunyi di balik baju Poi karena merinding.


Aiolos mengangguk. "Aku berkata bahwa kami berempat sudah menyelidiki dan berpikir bahwa ada kamar yang seharusnya kosong di sebelah kamar kami. Pihak mereka tentu tidak percaya begitu saja apa yang kami katakan. Lalu temanku berkata, 'Jalan itu terlihat buntu karena sebenarnya dihalangi semacam triplek tebal. Kalau tidak percaya, sini akan aku tunjukkan,' katanya," cerita Aiolos.


"Mereka mau?" Tanya semuanya.


"Mereka menolak alasannya akan merusak sarana artis tersebut," kata Aiolos.


Mereka semua kecewa sekali. Eris bisa tahu memang benar ada sesuatu dalam kamar itu. Dia tahu penginapan itu dulunya sebuah rumah, terdapat seorang anak yang sering dikurung oleh kedua orang tuanya. Pendidikan keluarga itu sangat tidak biasa sepertinya sampai ajal anak itu menjemput, salah satu orang tuanya menyembunyikan mayat anak itu di dalam kamar.


"Ih! Jelas-jelas kan banyak yang dengar suara itu," kata Arae kesal juga.Yang lain pun setuju hanya Eris yang tidak berminat mengomentari.


"Semakin hari semakin banyak protes dari kamar lain, karena kelelahan pihak sana akhirnya setuju mengikuti saran kami. Kami sampai disana benar saja dinding itu bukanlah tembok melainkan triplek. Akhirnya setelah memberitahukan sang artis, mereka dibolehkan untuk mendobrak," kata Aiolos.

__ADS_1


"Wah, seru nih," kata Artemis.


"Beberapa pegawai membawa sekop dan gergaji lalu meyakinkan mereka bahwa memang benar ada kamar lain. Karena tidak mungkin hanya mereka dan para guru yang bekerja kan. Pihak penginapan meminta para pekerja untuk datang," kata Aiolos.


"Kenapa sih tidak keluar saja setelah tahu banyak yang aneh?" Tanya Nyx geram.


"Kalau pulang berarti aku tidak bisa ikut bercerita disini kan?" Tanya Aiolos memandanginya.


"Oh, benar juga," kata Nyx memegang dagunya.


"Kemudian..." kata Aiolos menarik nafas.


Eris yang tengah duduk di depan ruangan lain mendengar suara yang terjatuh. TRAK! Aura aneh keluar dari kamar belakang namun Eris tidak menghiraukannya.


Dalam ruangan itu terdapat berbagai macam senjata jaman dahulu. Ada pedang, panah dan busur, tameng, tombak dan belati.


Aiolos masih melanjutkan ceritanya meskipun suasana dalam ruangan itu mulai dingin.


"Para pekerja berdatangan dan segera menghancurkan dinding lorong itu dan yah, jalannya masih berlanjut sampai ujung. Tepat apa yang kami katakan, ada sebuah kamar lagi di sebelah kamar kami," kata Aiolos berhenti menatap semuanya.


Mereka semua sangat fokus mendengarkan kisah Aiolos dan Aiolos tersenyum semakin semangat.


"Kamar yang sama hanya saja pintu kamar itu dipasang banyak kayu yang menyilang. Kamar itu... tidak memiliki gagang pintu, semua sisinya diberi perekat yang sangat kuat dan paku yang sangat banyak," kata Aiolos.


"Mengerikan," kata Arae. Eris menatapnya dengan datar.

__ADS_1


"Hei, apa kamar itu sangat berbahaya? Apa ada isinya?" Tanya Nyx tidak sabaran.


"Apakah itu artinya kamar tersebut memang di segel? Tidak ada celah kami bisa membukanya semua disumbat dengan triplek tebal yang terpotong-potong," kata Aiolos.


Lilin miliknya tiba-tiba mengeluarkan desis an keras dan asap menyembur berwarna putih pekat. Mereka semua terbatuk-batuk dan mengibaskan tangannya.


"Kenapa nih?" Tanya Apollo berusaha mengusir asap lilin.


Arae diam-diam meniupkan angin yang membuat asap itu menghilang dan mereka bernafas lega.


"Asap lilin kok pekat ya?" Tanya Poi merasa aneh.


Mereka semua merasa semakin aneh dan suasananya mencekam, udara sekitar ruangan menjadi dingin. Meskipun yang lain akhirnya mengusap-usapkan tangannya agar tidak kedinginan, suhu ruangan kembali turun.


"Karena sangat membuat penasaran, mereka menghancurkan pintunya menggunakan kapal dan bor. Aku dan teman-teman melihat isi kamar itu dindingnya penuh tulisan darah. 'KELUARKAN AKU DARI SINI!' Setelah melihatnya, kami lari ketakutan. Mereka semua menutup hidung karena aroma darah yang sudah membusuk. Ceritaku selesai," kata Aiolos meniup lilinnya lalu menggosok kedua tangannya.


Mereka semua hening, jantung berdebar tidak karuan. "Terasa tidak sih semakin dingin suasana di ruangan ini?" Tanya Nyx memandangi semua orang.


"Iya. Kalian sama sekali tidak bereaksi apapun ya. Apa ada AC tersembunyi?" Tanya Artemis mengunci jaketnya.


"Semuanya pintar bercerita ya meskipun penakut," kata Eris tiba-tiba.


"Namanya juga pengalaman. Selanjutnya?" Tanya Ares. Karena tidak ada yang maju, Ares pasrah mengangkat tangannya. "Selanjutnya aku ya," katanya.


Arae merasakan hawanya mulai menusuk apalagi garam mulai mencair menjadi air dan wadah air mulai ber iak keras.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2