Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
9


__ADS_3

Kembali di Radio Seram dimana sang MC masih merasa aneh dengan kisah yang dibawa oleh Diega. Tapi terlalu takut untuk mengungkapkan.


"Kok aku merasa nih orang sedang menceritakan pengalamannya yang aneh ya? Mau di cut tapi gaji aku kena potong nanti," pikir Ekok menahan rasa ngerinya. Dia melirik ke arah Ketua yang juga sama pucat nya.


Ketua hanya memberikan kode untuk meneruskan cerita Diega meski agak spooky. Mereka yang ada disana juga berpikiran hal yang sama.


"Kok aku merasa tuh orang agak aneh?" Tanya A merasa bulu kuduknya berdiri.


"Aku juga sama. Dia memang menceritakan pengalamannya tapi agak... aneh. Seperti sedang menceritakan hidup dia yang dahulu," kata wakilnya.


"Kamu sudah punya anak? Masih semuda ini? Satu kan?" Tanya Ekok penuh tanda tanya.


Diega tertawa malu. "Mereka memanggilku Paman karena aku memang masih terbilang muda memiliki anak," katanya.


Semuanya terdiam mendengarkan kisahnya.


"Setelah ini panggil tukang ruqyah deh," bisik Direktur ke Ketua Radio.


Dia yang mendengarnya tentu saja terkejut. "Serius, Pak?" Tanyanya.


Direktur mengangguk lalu keluar ruangan. Seketika itu juga ruangan terasa mulai dingin, karena waktu Diega yang mulai sedikit.


Para staf mulai tegang mereka memakai jaket meskipun hai itu diluar sangat panas.


"Anak aku ada empat, sepasang. Yang paling terakhir namanya Ares," kata Diega mengingat anak laki-lakinya yang paling dewasa.


Siaran yang didengar oleh Poseidon, seketika dia menepuk bahu Ares. "Bro, ini Paman kamu. Paman yang sudah menghilang itu," katanya setengah berteriak.


Di rasa firasatnya benar, Ares mengemudikan motornya dengan mengebut. "Kali ini aku harus bertanya padanya. Dimana dia berada selama ini? Kenapa tidak pulang. Dan lagi, dia Ayahku!?" Pikir Ares.


"Ares? Wah, lalu seperti apa anak keempat ini?" Tanya Ekok yang masih bertahan.


"Dia sangat berisik karena menyukai kesempurnaan tapi paling bisa dipercaya. Istriku kadang mengalami masa sulit menenangkan ketiga anak yang lain, dialah anak yang selalu mendisiplinkan kakak-kakaknya. Bahkan saat istriku meninggalkan aku duluan," kata Diega yang suaranya meredup karena sedih.


"Aku turut berduka cita," kata Ekok.


"Terima kasih tapi aku senang sekarang. Aku bisa bertemu lagi dengan istriku dan melihat anak-anakku sudah besar dan Ares menjadi panutan mereka," kata Diega yang merasa waktunya semakin sedikit.


"Tunggu tunggu senang karena bisa bertemu sang istri? Bagaimana caranya?" Tanya Ekok.


Staf lain mulai merinding. Mereka menyadari bahwa Diega ini kemungkinan sudah tidak ada dan yang datang sekarang, adalah rohnya! Ekok juga berpikir begitu tapi dia harus terus melaksanakan tugasnya.


"Mereka kini dirawat oleh adikku dan istrinya. Aku benar-benar bersyukur mereka mau menerima," kata Diega.


"Kamu kan masih hidup. Tunggu, aku bingung. Kamu memanggil istrimu memakai... Jailangkung atau mungkin Papan Pemanggil Arwah?" Tanya Ekok yang tidak mengerti.


Para staf histeris, mereka memberikan tanda pada Ekok bahwa Diega bukanlah manusia. Jendela ruang siaran itu tiba-tiba saja berembun.


Diega lalu berdiri sambil memandang liontin nya dan tersenyum. Ekok juga lantas berdiri, kedua tangannya gemetaran dan wajahnya pucat.


Eris pun muncul hendak membawa Diega di saat terakhir. Lalu dia merasakan aura kuat entah dari mana berasal lalu menghilang.


Di luar gedung, Ares dan Poseidon tiba dan langsung bergegas memasuki kantor Radio Seram. Beberapa karyawan terkejut bukan main sambil berteriak.


"KIM NAMJOON! KIM SEOKJIN! ADA APA NIH DI RADIO KITA?!" Teriak salah satu karyawan perempuan.


Karen berisik membuat karyawan lain berhamburan keluar dan berteriak. Well, dari belakang mereka mirip anggota BTS tapi tentu saja berbeda karena potongan rambutnya.


"Apa radio kita memiliki janji dengan mereka?" Tanya staf lainnya yang juga berlari mengikuti kemana mereka pergi.


Poi menyadari sekarang banyak orang yang berlari di belakang mereka. "Mereka mengejar kita. Bagaimana?" Tanya Poi.


"Kita kecoh. Ayo!" Kata Ares memutar kepala.


Sebelum pergi, dia sudah mencari tahu tentang tempat Radio Seram dan menemukan beberapa tempat yang jarang di datangi orang, mereka berdua menuju tempat itu dan bersembunyi.


Karyawan lain mencari mereka kehilangan jejak.


"Mereka hilang kemana? Apa mungkin kita salah lihat?" Tanya B penasaran.


"Kita lihat kok hanya... memang benar mereka anggota band Korea yang booming?" Tanya satpam yang memang juga fans.


Mereka hening sejenak lalu berpikir, mana ada Direktur radio tiba-tiba mengajak mereka mempromosikan. Tanpa Artis ataupun boyband, Radio itu sudah memiliki banyak penggemar.


Akhirnya kerumunan itu bubar dengan cepat, sebagian mereka kecewa meski bukan member BTS tapi toh mereka berdua sangat tampan.

__ADS_1


"Aman?" Tanya Poi pada Ares.


"Yup. Ayo kita menuju kantor Radio Seram. Aku takut kehilangan jejak Pam... Ayah," kata Ares lalu mengendap-endap keluar. Poi juga mengikuti dari belakang.


Sampailah mereka di depan ruang siaran, Ares dengan jelas melihat Diega yang sedang berdiri di pintu siaran.


"PAMAN! PAMAN, INI AKU! ARES!" Teriak Ares dengan lantang. Ares mengetuk pintu dengan keras.


"Tenang, tenang. Mereka masih on air," kata Poi menenangkan Ares.


"Ada apa sih di depan kantor? Seperti ada yang mengetuk pintu dengan hantaman palu," kata staf yang menjaga mic.


"Coba kamu lihat mungkin penggemar," kata staf lainnya.


Staf tersebut lalu keluar ruangan dan memeriksa membukakan pintu. Dengan terkejut nyaris setengah mati, staf itu melongo.


"B-BT-BTS!" Katanya terbata-bata.


Mereka berdua menghela nafas. "Kami bukan mereka," jawab Poi dan Ares bersamaan.


Staf itu lalu menenangkan dirinya sendiri. "Kalian mirip sekali sih. Ada keperluan apa ya?" Tanyanya sudah tenang.


"Tolong, Pak. Saya mau bertemu paman... ayah saya! Tolong, kami sekeluarga telah mencari beliau selama sepuluh tahun tapi tidak pernah ditemukan," jelas Ares memohon dengan sangat.


"Sepuluh tahun!? Tapi... dia... Kamu anaknya yang keempat?" Tanya Staf itu kebingungan.


Ares mengangguk sambil menahan tangis.


"Tunggu kalau selama sepuluh tahun tidak ditemukan berarti dia... Ayah kamu kelahiran tahun berapa?" Tanya staf itu dengan wajah memucat.


Dijelaskan lah semuanya oleh Ares, dia juga menunjukkan foto masa muda Ayahnya yang seharusnya kini dia sudah kakek-kakek.


"Ayo masuk. Lebih baik kamu lihat sendiri penampakannya," staf itu mempersilakan Ares dan Poseidon masuk.


Ares lalu memasuki ruangan dimana Diega berada dan dia kaget, Diega yang ada di hadapannya adalah dirinya yang masih muda dulu.


Diega pun tampak tahu bahwa Ares pasti akan datang. Diega lalu berjalan ke arah Ares dan memeluknya.


"Ayaaaaaah," Tangis Ares pecah saat sosok tegap itu memeluknya.


"Sudah Nak, malu kan masa laki-laki menangis," kata Diega menepuk bahu Ares dengan rindu.


Ares melepaskan pelukannya dan mengguncang ayah mudanya itu. "Ayah kemana saja? Kenapa tidak pulang? Lalu kenapa tampilan Ayah semuda ini? Ayah makan buah apa di gunung? Bibi sangat cemas," kata Ares yang tidak berhenti menangis.


Poi bisa melihat sosok Diega ini sebenarnya roh. Kedua matanya tidak bisa dibohongi dan dia juga merasakan aura yang kecil dari kejauhan.


"Eris, kamu kah itu? Kamu ternyata berada di dunia ini," Pikir Poseidon mengirimkan telepati pikiran.


Tentu Eris menerimanya dan terkejut setengah mati. "Poseidon," katanya lalu menghilang.


"Maafkan aku, Nak. Aku rindu pada Ibumu jadi saat Ayah berusia 78 tahun, hiking ke gunung sendirian sambil membawakan bunga. Berharap Ibumu datang namun yang menyambut ku adalah teman-teman abadinya. Usiaku sudah uzur, tidak mampu melawan dinginnya angin dan kabut disana," jelas Diega menangis juga.


"Ayah serangan jantung? Bodoh sekali," kata Ares menangis lagi.


"Yang kuat ya Nak. Jaga ketiga kakakmu meski mereka kini tinggal terpisah, salam untuk adikku dan istrinya. Kami selalu melihatmu dari kejauhan," kata Diega perlahan sosoknya memudar.


"Ayah, apa tubuh ayah..." kata Ares tak ingin Diega pergi.


"Datanglah ke gunung yang selalu Ayah ceritakan. Mereka pasti menyambut mu." Lalu menghilang lah Diega dengan senyuman lebarnya, terlihat sekali sekarang dia benar-benar gembira melihat Ares.


Para staf dan MC melihat kejadian itu, mereka membeku di tempat pertemuan itu memang menyedihkan. Ekok tentu saja langsung pingsan saat tahu dugaannya benar. Diega adalah roh!


Setelah itu pukul 3 sore Radio Seram ditutup sementara waktu dan penuh dengan karyawan yang ingin melihat mereka berdua.


Ares dan Poseidon memberikan klarifikasi mengenai kejadian tersebut. Mereka berdua tidak peduli apa yang karyawan lakukan dengan memfoto mereka.


"Jadi... apa yang ingin kalian beritahukan? Ya Tuhan, baru kali ini saya mengalami bertemu hantu. Jadi kalian ini adalah anak dari..." kata Ekok yang enggan menyebutkan nama Diega karena sudah meninggal.


"Paman alias Ayah saya sudah meninggal dari puluhan tahun lalu. Saya anak paling bungsu, keempat yang sebelah saya ini adalah teman dekat. Tetangga dari SMP sampai sekarang. Ketiga kakak saya hidup terpisah," jelas Ares yang sudah bisa tenang.


Poseidon menyapa mereka dengan mengangkat tangan lalu menurunkannya lagi. Staf perempuan sudah tentu histeris.


"Berarti dari tadi kami itu..." kata staf lainnya menatap ke arah Ekok.


"Ya kemungkinan Ayah ingin membagikan cerita dan membuat kode pada saya dan ketiga anak lain supaya selalu mengingat dia dan Ibu," kata Ares menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Kamu mirip dengan Ayah kamu. Kalian tahu kalau mirip juga dengan anggota boyband Korea?" Tanya Wakil.


Mereka berdua mengangguk pelan. "Sejak usia 20 tahun sudah terlihat sangat mirip tapi kami bukan mereka," kata Poi.


"Ngomong-ngomong, aku pernah bertemu dengan yang mirip Jungkook dan Jimin lho di Cafe," kata A membuat mereka kaget.


"Serius?" Tanya yang lain.


Dia mengangguk.


"Di sekitar mana?" Tanya B penasaran.


"Cafe Coffee and Bakery di dekat Mall Pruit," katanya.


"Kalau aku pernah berpapasan dengan yang mirip Jhope dan Suga kebayang kalau mereka ini dipertemukan dengan yang asli bagaimana ya?" Tanya yang lainnya.


"Maaf. Sekali lagi kami bukan mereka dan tolong hargai keberadaan kami berdua atau yang lainnya, sebagai manusia biasa bukan idola," kata Poi dengan nada galak dan jutek.


Ares setuju dengan sarannya. Membuat yang lainnya mengerti dan berhenti memfoto mereka.


"Jadi benar kalau Ayah kamu itu lama menghilang? Kalau memang dia masih hidup kira-kira usianya berapa tahun?" Tanya Ekok yang memakai jaket dan sarung tangan.


"Sekitar 79 ya karena bulan ini ulang tahunnya. Bibi eh Ibuku meninggal di usia 60 tahun," kata Ares.


"WADUH!" Teriak Ekok dan yang lainnya. Ekok lalu pingsan lagi dan di seret ke ruangan sebelah.


Di toko Eris, Diega dan Keling duduk sambil memandangi cermin besar dan mereka tertawa menatap Ares.


"Tampannya dia mirip kamu ya," kata Keling memegang wajah Diega.


"Oh iya dong siapa dulu bibitnya," kata Diega tertawa keras.


Mereka mesra sekali dengan tampilan tua bukan muda. Arae yang menatap mereka sangat gembira, sangat jarang ada tamu seperti mereka.


"Dia akhirnya bisa bertemu denganmu untuk yang terakhir kalinya," kata Keling.


"Kenapa tidak datang dengan wujud tua?" Tanya Arae ingin tahu.


"Penampilan terakhir harus memberikan kesan yang lebih segar kan. Cukup aku meninggal di usia yang senja," kata Diega tertawa khas kakek-kakek.


"Lalu kalian datang kemari meminta bantuan Eris?" Tanya Arae.


"Begitulah. Aku juga pertama kalinya memasuki toko ini, indah seperti yang kamu selalu ceritakan. Aku berpikir kapankah memiliki kesempatan yang sama dengannya," kata Diega memegang tangan Keling.


"Lalu aku ceritakan saja tampaknya dia ingin sekali bertemu dengan Eris dan berterima kasih," kata Keling menatap Eris.


"Sebelum kami pergi," kata Diega.


"Kalian bahagia?" Tanya Eris mendatangi mereka.


"Tentu! Semua berkat mu," ucap mereka berdua lalu tersenyum bersama.


Eris memperlihatkan tabung berisikan darah dari Keling dan juga ayahnya dahulu. "Bayarannya sudah ku terima. Kalian tidak perlu tinggal di dunia kegelapan, pergilah ke sisi terang. Karena kau, bukanlah siluman," kata Eris memegang tangan Keling dan Diega.


Kulit mereka berubah, semuanya! Menjadi wujud muda. Pintu toko terbuka dan menampakkan tangga emas yang terhubung dari toko menuju langit.


"Lalu bagaimana dengan keempat anak-anakku? Apa mereka memiliki hutang dari aku?" Tanya Keling.


Yang mereka tidak tahu adalah Ares adalah dewa yang menyelamatkannya dahulu kala. Dan dia juga yang membuat janji saat Eris bertemu dengan ketujuh reinkarnasi dewa nanti, dia harus membunuh mereka. Agar takdir mereka berubah.


"Jangan cemas. Mereka bersih," kata Eris menatap Keling.


Keling lega begitu juga Diega meskipun dia melihat sekilas kekhawatiran mengenai salah satu anak mereka. Namun Diega mempercayakan sepenuhnya pada Eris, karena dia yakin Eris adalah anak yang baik.


"Hanya satu yang sudah membuat permintaan," bisik Eris saat melihat mereka berdua menaiki tangga tersebut.


Mereka berdua tertawa dan menaiki tangga bersamaan. Pintu toko tertutup secara otomatis, Keling tidak ditolak dia benar-benar sudah menjadi manusia.


Cahaya mentari memasuki toko itu membuat jejak mereka dalam toko menghilang menjadi bulatan cahaya. Arae menyentuhnya dan merasakan kehangatan.


"Aku harap itu bisa terjadi padamu juga, Eris," kata Arae berbisik saat Eris memasuki dapur tokonya.


Malam harinya, Arez menceritakan semuanya kepada ketiga kakaknya yang menghubungi Ares dengan tablet. Mereka menangis karena merindukan Ayah mereka serta Ibu.


Ares dan ketiga kakaknya bermimpi bertemu dengan Keling dan Diega, dan mereka bernostalgia sampai tidak terasa, menangis dalam tidur.

__ADS_1


Dalam Radio Seram kemudian mereka menutup studio itu dan Ekok mencari pekerjaan lain. Dirinya sangat ketakutan, berbagai profesi dijalankan tapi tetap saja bakatnya sebagai MC radio terkadang terbawa sampai ke tempat kerja barunya.


__ADS_2