
Keesokan harinya festival tiba banyak orang-orang berdatangan ke universitas dimana Yuri berada. Hiasan gerbang depan dibuat semenarik mungkin, stand makanan sudah siap berdiri menanti pembeli.
Saat itu dalam ruang drama Yuri tengah bersiap untuk drama nanti sore pukul 5. Dia menyiapkan gaun yang sudah dibuat oleh klub juga kosmetik.
"Oke, hati ini adalah waktunya bagi kita beraksi!" Kata Xin dengan semangat. Mereka semua bersorak.
"Yuri, kelas kita kan buat stand resto mini ya. Jadi kita harus membantu mereka dulu," kata Ria.
Kemudian mereka semua berpencar untuk mengikuti kegiatan yang ada. Arae dan Raven sudah tentu datang sebagai sepasang kekasih dan membeli beberapa makanan buatan kelas Yuri.
"Kalian datang. Silakan," kata Yuri.
Ada banyak sekali kue kering, basah, dan cemilan lainnya.
Eris sibuk dalam toko karena takut Thanatos akan mendatanginya sebagai balasan hari lalu. Benar dia datang dengan muncul dari cermin Eris.
"Tenang, Paman sudah mendapatkan solusinya jadi kamu tidak perlu se cemas itu," kata Thanatos memandangi semua barang dalam toko Eris.
"Dengan apa?" Tanya Eris agak curiga.
"Rahasia. Lebih baik kamu jaga pegawai kesayanganmu, aku sedang mengusahakan agar Aphro tidak mengganggu aku lagi," katanya sambil tersenyum dan BUFF! pergi begitu saja.
Eris agak cemas karena Thanatos selalu menggunakan cara kotor. Dan yah, tidak bisa dipercaya begitu saja setidaknya Yuri bisa aman.
Sebelum mereka menuju kelas, Ria sudah terlebih dahulu memasang kamera di depan panggung. Dia menyiapkan 5 roll yang akan terpasang secara otomatis. Isak juga membantu kelas mereka dengan menjadi koki.
Yuri bekerja dengan memikirkan nasibnya hari ini. Dia memandangi semua keadaan lalu kedua temannya yang tengah sibuk melayani pembeli. Yuri agak menangis mengingat Death mengincarnya.
"Kamu kenapa? Seperti ketakutan. Kemarin kamu selamat kan sampai rumah?" Tanya Isak yang menangkap pandangan Yuri.
Yuri tidak dapat membendungnya lagi lalu mengajak Isak dan Ria ke belakang ruangan dan menceritakan semuanya. Tapi tidak bagian soal Thanatos dan Eris yang berperang.
"Jadi orang besar itu ingin membunuhmu? Astaga! Tahu begitu kenapa kamu tidak diam dulu di rumahku?" Tanya Ria yang agak menangis.
"Sudah tidak apa-apa kok. Aku sedang gugup untuk drama nanti," kata Yuri berbohong.
Ria dan Isak menatap temannya itu. Mereka tahu kalau Yuri sedang menenangkan dirinya.
"Kamu tahu kan kalau kami bisa melihat kamu sedang berbohong. Ceritakan yang sesungguhnya, Yuri. Kami sudah terbiasa dengan cerita ajaib kamu dulu itu," kata Ria memaksa.
Kemudian Yuri terpaksa menceritakan yang sebenarnya soal Thanatos. Ria seakan tidak percaya namun tidak mau bertanya dahulu. Isak juga kaget dan ternyata nama-nama dewa itu memang benar adanya.
"Lalu Thanatos ini mengincar nyawa kamu karena bekerja di toko ajaib itu?" Tanya mereka berdua.
Yuri mengangguk. "Thanatos adalah dewa kematian. Aku dan Eris serta yang lainnya sedang mencari jalan keluar, agar dia tidak menebaskan senjatanya ke arahku," kata Yuri dengan terisak.
__ADS_1
"Sepertinya tidak akan semudah itu. Yang kita hadapi Death lho," kata Isak. Ria menyenggol pinggang Isak.
"Aku setuju dengan Eris sih sangat tidak mungkin juga kita bisa menghindari kematian. Tapi kalau memang benar sudah waktunya," kata Ria menenangkan.
"Banyak berdoa sebelum drama itu mulai supaya ada yang bisa menolong mu saat Thanatos datang," kata Isak merangkul Yuri.
"Kami akan membantumu sebisa mungkin," kata Ria menepuk bahunya.
Sely yang berada dalam panggung berlatih dengan semua dialog dan bagian Yuri dengan penuh perasaan. Artemis memasuki aula itu dan berjalan ke belakang layar. Dia tersenyum pada Sely dengan memakai topeng Phantom of The Opera.
"Kamu sedang berlatih?" Tanya Artemis.
Sely melirik dan kaget sekali melihat Artemis. "Ya Tuhan! Aku kira kamu hantu ternyata kamu memakai cosplay Phantom," kata Sely menempuk dadanya.
"Hahaha maafkan saya. Saya pikir aula ini kosong ternyata ada yang sedang berlatih," kata Artemis membungkukkan badannya.
"Hah! Orang lain tidak diijinkan memasuki belakang panggung," kata Sely yang sudah tenang.
"Apa aku terlihat seperti hantu?" Tanya Artemis dengan suara yang lembut.
"Yah, dengan ruangan kosong lalu kami berjalan memakai topeng sebelah," kata Sely menatap wajahnya.
"Ah," kata Artemis menjentikkan jarinya.
"Aku lupa tentu saja kamu bebas memakai cosplay apapun, ini kan festival," kata Sely menghela nafas.
"Kenapa kamu berlatih di sini? Tidak di ruangan itu," tunjuk Artemis.
"Mereka tidak membiarkan aku berlatih bersama yang lain termasuk Yuri si pemeran utama sementara. Huh! Kalau aku yang memerankannya pasti akan lebih mengharukan!" Dengus Sely dengan kesal.
Artemis tahu itu dan mengeluarkan sesuatu daei jasnya. "Kamu mau menjadi pemeran utama?" Tanya Artemis.
"Tentu saja. Siapa sih yang akan menolaknya? Hanya karena suaraku kemarin serak, peran itu malah diberikan pada yang bukan anggota," kata Sely duduk di tumpukan kotak kayu.
Artemis lalu memperlihatkan barang yang dia bawa pada Sely. "Ambil. Ini akan membuatmu menjadi pemeran utama," Katanya.
Sely menerimanya lalu keheranan lalu membukanya. "Apa ini? Ini kan bedak," kata Sely.
"Ya memang bedak coba kamu pegang lagi ambil beberapa bedak," kata Artemis.
"Kalau begitu untuk apa kamu... ah!" Kata Sely mengerti setelah mencoba mengambil beberapa bedak. Permukaan memang bedak biasa tapi saat disentuh terlihatlah warna yang berbeda.
Itu adalah bubuk hitam berasal dari arang. Sely mengerti maksudnya dan menutupnya. "Terima kasih," kata Sely.
"Kamu bisa menggunakannya untuk mendapatkan banyak pujian dan penghargaan di atas panggung," kata Artemis.
__ADS_1
Sely memandangi Artemis lalu dia memalingkan wajahnya. "Kakak ini siapa? Dan kenapa mau membantuku?" Tanya Sely curiga.
"Membantu? Hahaha! Hanya seseorang yang tidak punya kerjaan. Baiklah, aku tunggu dialog penuh perasaanmu di atas panggung," kata Artemis lalu berpamitan pergi.
"Dadar orang aneh tapi boleh juga rencananya," kata Sely memasukkan bedak itu ke sakunya.
Di kejauhan Artemis memandangi Sely lagi dan tertawa dengan jahat lalu keluar.
Yuri selesai dengan pekerjaannya dan memandangi jam sudah hampir pukul 5 sore. Yuri meminta ijin untuk kegiatan lain pada dosennya dan diijinkan. Ria dan Isak juga ikut serta.
Dalam aula sudah penuh dengan penonton yang memenuhi kursi. Semua anggota Drama berkumpul dan berdoa bersama. Isak sudah menyiapkan pemukul kayu untuk Thanatos nanti.
Artemis sudah ada disana duduk di tengah. Yuri telah selesai memakai pakaian perannya dan... drama pun dimulai. Mereka semua menyaksikan kesungguhan Yuri dalam memainkan perannya.
Beberapa orang menangis saat melihat adegan menyedihkan Juni dan Juli. Sely di belakang panggung sudah menyiapkan gaun pilihannya yang sangat cantik.
Setengah jam kemudian drama inti selesai dan tirai menutup untuk mempersiapkan adegan selanjutnya. Yuri yang berkeringat terduduk lemas.
"Yuri, dialog kamu hebat!" Kata Xin memeluknya.
"Terima kasih," kata Yuri tertawa tipis. Dia memandangi jam dengan cemas.
"Yuri, kamu harus di rias ulang lagi. Keringatnya membuat luntur make up," kata anggota drama yang lain.
"Ah! Benar juga. Kalau begitu aku akan merias sebentar untuk membetulkannya," kata Yuri berlari kecil menuju ruang ganti.
Sely sudah ada disana berlatih adegan yang lain dan menatap Yuri lalu tersenyum usil.
Di luar ruangan beberapa pemain mondar mandir mencari peralatan kostum.
"Hei, sebentar lagi giliran Juni muncul. Kemana dia?" Tanya Xin mencari pemeran tokoh laki-laki.
"Aku disini. Aku mencari pedang kertasnya dulu," katanya.
"Oke," kata Xin lega lalu memeriksa yang lainnya.
Tanpa sepengetahuan mereka semua Thanatos muncul menyamar dan mengganti pedang kertas menjadi pedang sungguhan. Tampilannya dibuat sama persis. Adrian yang membantu mencari menemukannya dan memasangkan ke tokoh laki-laki.
"Beres!" Kata Adrian puas. Dan pemeran itu menuju panggung bersiap-siap rebahan.
Dalam ruang ganti, Yuri memoleskan krim lalu mencari bedak tapi tidak ketemu. "Aaahhh, bedaknya malah ketinggalan! Bisa-bisanya di saat begini," katanya kesal pada dirinya sendiri.
"Kamu kenapa? Masa pemeran utama lupa membawa bedak?" Tanya Sely dengan angkuh.
"Aku sudah bawa kok hanya ketinggalan. Sely, boleh aku minta bedak kamu?" Tanya Yuri hati-hati.
__ADS_1
Bersambung ...