
Malam hari tiba, bola kristal masih menampilkan Andriani yang memakai baju gothic nya. Dalam kamar Eris dia melihat matahari sebentar lagi akan bersembunyi. Baju itu akan hidup dan menyadari bahwa dirinya mulai haus. Baju itu memiliki kisah yang amat menyeramkan.
Seorang perempuan cantik selalu memakai pakaian itu namun karena sikapnya yang sangat bengis dan berhati kejam pada siapapun, membuatnya menjadi bahan olokan. Dirinya sangat menginginkan kecantikan yang melebihi dewi Aphrodite sehingga melakukan hal yang diluar nalar dewa dewi. Memikat banyak laki-laki muda agar mereka meninggalkan kekasih lalu dia bisa membunuhnya. Membunuh para perempuan muda yang memiliki paras wajah melebihi kecantikan dirinya.
Dia menyayat wajah gadis-gadis itu lalu dibubuhi mantra hitam dan dia menempelkannya pada wajahnya. Menjadikannya topeng yang kemudian dia serap sisa kehidupan gadis itu. Akhirnya Zeus memerintahkan para penyihir ilmu putih untuk memusnahkannya. Namun perempuan itu membubuhi pakaiannya akan selalu haus darah wanita cantik.
Zeus tidak dapat melakukan apapun pada sihir perempuan bengis itu, akhirnya kekuatan pakaian itu diserahkan pada Eris. Hanya dia yang mampu membersihkannya dengan cara baju itu harus meminum darah perempuan Bumi. Meskipun Zeus agak keberatan tapi apa mau dikata, setelah meminumnya Eris mampu memusnahkan baju itu.
Dalam kamar Andriani dia sedang tiduran dan tertawa senang karena berhasil meluluh lantakkan hati sang pujaan tanpa tahu dia telah melanggar janjinya dengan tidak memikat 2 orang lelaki. Alhasil usahanya kembali normal hanya saja dia masih tidak menyadarinya.
"Yeeesss! Akhirnya aku jadi dengan kak Kratos! Kakak senior yang tampan itu sudah ada dalam genggamanku! David? Kelar hidup dia HAHAHA! Pasti menyesal dia saat ini yah, sudah terlambat juga sih," katanya sambil kembali berdiri dan memandangi dirinya dengan baju yang dia kenakan.
Kemudian dia menutup kembali lemari pakaiannya tadi dia hendak mengambil piyama tapi tidak jadi karena masih terbayang sosok Kratos yang gagah.
"Andriani, kamu sudah pulang? Kita bicara ya," kata David mengirimkan pesan.
Tapi ponsel Andriani berada jauh darinya jadi pesan itu itu tidak dia lihat. "Baju ini memang sangat cantik bila hanya aku yang memakainya. Hmm jadi sayang kalau harus dilepas," kata Andriani yang melepaskan pita rambutnya.
Andriani mengambil ponselnya dan membuka kamera lalu selfie sendirian. "Cantiknyaaaa aku akan pakai baju ini saja ah besok pagi baru aku lepas," katanya.
Waktu sudah mulai menunjuk ke arah jam 12 malam, saat sedang bergaya tiba-tiba Andriani merasakan lehernya sesak.
"Duh, kenapa nih? Perasaan panas sekali, bajunya seperti menyempit. Ah, buka jendela deh. Huwaaaa segaaaar," kata Andriani.
"Dek, jangan lupa ganti bajunya ya," kakaknya mengingatkan.
"Iya iya, aku ganti deh lagipula apa perasaanku saja ya baju ini tampaknya seperti mencekik leherku. Ugh... Akhirnya, coba aku lihat," kata Andriani melepaskan baju itu.
Dia kini memperhatikan pakaiannya tapi tidak ada sesuatu yang salah apalagi aneh. Dia meraba bagian leher masih tetap sama. Karena dirasanya aneh, Andriani memutuskan untuk mandi. Baju itu dia taruh begitu saja di kasurnya.
"Ini dimana? Siapa yang memakai baju kesayangan Tuanku?" Tanya baju itu lalu berdiri.
Eris hadir. "Kau sudah dipinjam oleh gadis ini. Bersikaplah baik," katanya.
"APA!? HOHOHOHO jadi begitu baiklah. Aku akan menghisap darahnya, sudah lama aku tidak mendapatkan gadis cantik," kata baju itu.
Eris kemudian menghilang sambil menyeringai. "Itu urusanmu, urusanku sebentar lagi selesai," kata Eris.
Baju itu jatuh kembali ke kasur. Andriani selesai mandi dan menggantungkan bajunya di atas gantungan. Kemudian mengambil piyama, baju mengeluarkan energi hitam yang menyelimuti Andriani. Dia kaget lalu kedua matanya kosong mendengarkan apa kata baju itu.
__ADS_1
"Pakailah aku. Berfotolah, pakai lebih lama lagi sampai kamu puas. Mari menari bersamaku," kata baju itu.
Andriani mengangguk lalu memakai lagi baju itu dan tersadar. "Lho? Kapan aku pakai baju ini? Tadi aku kan mau pakai piyama. Lho? Lho?" Tanya Andriani kebingungan. Bajunya mulai menyempit apalagi lehernya serasa ada yang mencekiknya.
"Ugh.... Kenapa... masih ada 2 hari lagi..." kata Andriani berusaha melepaskan bajunya. Dia berjalan tertatih-tatih menuju lemari tempat dimana dia menyimpan gunting.
"Gadis bodoh! Siapa yang mengijinkanmu memakai aku!? Bersyukurlah kamu sangat cantik, Tuanku pasti akan senang kalau dia masih hidup," kata baju itu membuat Andriani ketakutan.
"Bajunya hidup!? Tapi... aku sudah... meminjamnya... 2 hari waktunya," kara Andriani berusaha mengambil gunting.
"HAHAHAHA!! Eris meminjamkannya padamu, anak itu apa kau tidak tahu siapa dirinya? Dia sedang dalam misi untuk kepulangannya, dia membutuhkan nyawamu," jelas baju itu
"Anak itu Eris? Ugh... uhuk uhuk lepaskan! Kalau kamu mau, lepas dari tubuhku dan pergilah," kata Andriani lalu berusaha menggunting namun nihil.
"Kau pikir bisa mengoyak ku dengan gunting biasa? Gadis bodoh, coba pikir lagi kau sendiri yang berkata akan membayar apapun dengan yang kamu miliki. Nah tidak keberatan kan kalau itu adalah NYAWAMU HAHAHAHA!" Kata baju itu semakin kuat mencekiknya.
Andriani tidak kuasa lagi memegang gunting dan melepaskannya, menahan baju itu untuk membuatnya pingsan. "Mama... Papa... Kak Sarah maafkan, Andriani... KAKAK!!!" Teriaknya.
Sarah yang baru saja tiba di rumah mendengar teriakan adiknya yang panik. Lalu langsung masuk rumah dengan terburu-buru dan menuju lantai atas. Tanpa melihat buku-bukunya yang berserakan bertebaran di lantai teras rumah.
"DAVID!!" Teriak Sarah yang melihat David dengan motornya tiba.
"ANDRIANI!!" Teriak mereka berdua panik.
David memegang gunting dan berusaha mengoyaknya tapi gunting itu malah patah.
"DEK! BERTAHANLAH! Kakak kan sudah bilang ganti bajunya. Kenapa sih kamu tidak mau mendengarkan?" Tanya kakaknya yang panik lalu berusaha merobek bajunya.
"Aku...sudah lepas...kan tapi... entah kenapa... aku sudah... memakainya lagi," kata Andriani dengan nafas yang masih tersisa.
Kakaknya menangis lalu David berusaha menusuk tidak ada hasilnya. David memeluk kekasihnya itu mengakui selama ini terlalu santai.
"Maafkan aku, Dria. Maafkan," kata David yang sudah menyerah.
"Kak. Eris, nama anak itu Eris," kata Andriani berusaha memberitahikan.
"Dek, bertahan dek. Kita akan kembalikan bajunya anak itu pasti bisa menolong kamu," kata Sarah menangis dengan keras.
Wajah Andriani mulai memucat, darahnya terserap banyak. Eris muncul di luar kamar saat Andriani menoleh dia melihat Eris melayang di udara.
__ADS_1
"E..." ucapnya kaget.
"Sudah cukup," kata Eris membuat baju itu kembali menjadi biasa dan bola merah kelam berada di sampingnya.
"Sayang sekali tapi aku sudah kenyang. Lalu kamu mau aku melakukan apa?" Tanya roh perempuan itu.
Di dalam kamar, baju gothic itu menjadi normal dan Sarah dapat merobeknya. Segera saja David juga membantu. Sarah kaget bukan main adiknya memang sudah memakai baju piyama.
Andriani bisa bernafas tapi hanya sebentar Eris memberi waktunya untuk mengucapkan perpisahan. "Eris, kak. Dia itu anak... i...b..." ucap Andriani yang akhirnya terhenti.
"ADEEEEKKK!!!" Teriak Sarah lalu David pun menundukkan kepalanya.
"Zeus memerintahkan ku untuk melenyapkan mu saat kau meminum darah manusia dan sekarang adalah saatnya kamu tertidur panjang," kata Eris membakar bola itu dengan api yang dimilikinya.
"TIDAK MUNGKIIIIINNN!!" SLAP menghilang lah bola roh itu habis tanpa ada abu sekalipun. Eris lalu memasuki kamar itu dan keadaan sekitarnya terhenti.
"Andriani, apa yang kau inginkan sudah kau dapati. Sayangnya kau terlena oleh permintaan pemilik baju ini. Hihihihi sekarang pembayarannya aku ambil. Selamat malam," kata Eris meletakkan tangannya di dada dan sekejap bola nyawa Andriani dia dapatkan.
"Kakak," ucap bola itu lalu Eris mematikannya. Bola yang berwarna putih menjadi hitam.
Keesokan harinya mereka mengubur jasad Andriani. Kedua orang tuanya menangis dengan histeris, Sarah memberikan alasan bahwa rumah mereka tengah dirampok dan Andriani dicekik menggunakan baju sampai kehabisan nafas. Dalam hatinya dia mendendam pada Eris dan akan mencarinya sampai dapat.
Beberapa tahun terlewati tampaklah Sarah dengan kondisi yang baim-baik saja dalam rumahnya yang megah tapi tidak terurus. Kedua orang tuanya tidak terlihat, semua keadaan kacau sarang laba-laba berada dimanapun dia berada. Sarah mengambil gelas lalu menuangkan susu, mengambil roti dan memakannya.
"Permisi, paket!" Kata seseorang di balik pintu. Kemudian dia lari keluar dari halaman tersebut.
Sarah keluar melihat kotak kayu besar dan tulisan. "Nak, pulanglah. Mama Papa kamu sudah tidak ada, kami merindukanmu. Paman dan bibi akan mengurus semuanya, lupakan kejadian yang lalu. Hiduplah dengan lembaran baru bersama kami," isi surat itu.
Sarah menangisi suratnya. Tahun lalu saat adiknya meninggal secara aneh, tidak selang itu Mamanya bermaksud mengakhiri hidup tapi Papa dan Sarah mengetahuinya. Mama terus menyalahkan dirinya lalu jatuh sakit, Papa sudah lelah dan memilih cerai dengan Mamanya. Sarah sendirian tidak ada harapan lagi tapi Mamanya kemudian dibawa oleh bibi dan sekarang hidup.
Sedangkan Sarah masih belum bisa melupakan apa yang dikatakan oleh adiknya. Eris adalah anak iblis, dia harus menemukannya dan membuatnya membalas. Sarag memutuskan untuk menjalani hidupnya sendiri tapi... sejak hari itu rumah megahnya menjadi bahan ejekan tetangga. Secarik surat berada di bawah surat pertama.
"Nak, sudah lupakan. Itu semua kecelakaan tidak ada yang salah. Mama sudah sehat, kita buat halaman bunga yang indah disini. Mama sudah ikhlas menerima Andriani pergi. Kamu tidak mau melihat Mama sakit lagi kan. Pulanglah Mama menunggu."
"Mama... Sarah harus balas dendam pada pemilik toko itu tapi... disini pun aku tidak ada kehidupan," kata Sarah merindukan keluarganya.
Akhirnya dengan tekad balas dendam dia menurut dan pergi dari rumah itu menuju rumah paman dan bibinya.
"Aku akan kembali, tunggu saja Eris. Saat itu aku akan memulai perhitungan denganmu." Janji Sarah meninggalkan kota dan rumahnya.
__ADS_1
"Akan kutunggu, Sarah." Jawab Eris di dalam tokonya sambil tertawa.