
Gadis itu memastikan perkataan Eris dengan malu. Benar, semua orang yang ada disitu tidak ada yang menyadari kehadirannya. Mereka sibuk dengan urusan masing-masing tidak ada yang saling melihat barang yang mereka inginkan.
Tidak ada yang melihatnya ada dalam toko itu seolah-olah mereka senang dengan dunia mereka sendiri. Kemudian memutuskan untuk membuka mantel jaketnya itu.
"Tapi kamu jangan mengejekku ya," kata gadis itu pada Eris yang berdiri di hadapannya.
"Ya," jawabnya tanpa ekspresi.
Terlihatlah dengan jelas bagaimana kondisi tubuhnya mulai dari wajah sampai ujung kaki. sebagian badannya dipenuhi bintik-bintik kecil hitam dan gelembung yang tersebar. Wajahnya penuh luka sayatan dan goresan juga.
Ada cakaran atau pukulan lebam yang tidak bisa dijelaskan. Gadis itu menahan air matanya jatuh menyentuh kulitnya.
"Bagaimana? Mengerikan bukan. Seperti yang kamu lihat seluruh tubuhku seperti ini karena kecelakaan. Wajahku juga banyak sayatan karena teman-temanku sewaktu di Sekolah Dasar bahkan sekarang malah satu kelas dengan mereka," katanya.
"Lumayan kacau juga lukanya mereka tidak mungkin menyerang kalau kamu tidak berbuat sesuatu," kata Eris memperhatikan setiap sudut tubuhnya.
"Ya aku sadar bahwa dulu aku bertingkah menyebalkan dan... meremehkan beberapa anak kelas. Aku tahu itu salah, aku hanya usil tapi anak itu tidak terima lalu... ya begini," katanya terisak-isak.
"Sudah kamu periksa ke dokter?" Tanya Eris.
"Mereka semua menyerah apalagi gelembung kecil ini setelah sembuh, muncul lagi. Orang tuaku juga menyerah tidak tahu harus bagaimana lagi," ceritanya yang kemudian duduk di bantal dingin yang tidak membuat tubuhnya kesakitan.
Eris memandang semua luka dan gelembung itu. Agak aneh kalau sampai tidak bisa sembuh. "Ada yang lain? Lalu saat sekolah apa yang bisa kamu lakukan untuk menutup ini semua?" Tanya Eris yang duduk di hadapannya.
"Aku selalu memakai perban menutupi seluruhnya, sekarang julukan ku adalah Mummy. Gelembung dan bintik ini aku tidak bisa menjelaskan apa penyebabnya," tunjuk gadis itu. Dia pencet lalu pecah tapi beberapa menit kemudian tumbuh lagi.
Eris memegang satu dan keluarlah semacam cairan kental berwarna putih. Gadis itu melihatnya dan terkejut. Gelembung yang Eris keluarkan lalu tidak muncul lagi.
"Ada lagi? Ini bukan penyakit biasa," kata Eris memusnahkan dengan api ungunya.
"Aku tidak tahu kenapa bisa masuk ke dalam toko ini saat aku sedang mengarah ke danau tiba-tiba saja sudah masuk ke sini," kata gadis itu menghentikan tangisannya.
"Kamu dikutuk seseorang," kata Eris.
Gadis itu tidak terkejut tampaknya dia juga menyadarinya. "Oleh siapa? Apa karena kelakuan aku?" Tanyanya.
Eris mengangguk. "Ada yang sangat membencimu sejak dulu, ada sebab ada akibat dia sangat iri kepadamu. Jawabannya tentu kamu tahu kenapa," katanya.
"Teman sekelas yang sudah lama kenal aku?" Tanya gadis itu.
"Iya dan dia sekelas denganmu," kata Eris.
"Ada dua orang tapi kalau benar orang itu, kenapa? Iri karena aku kaya? Punya banyak barang, tapi aku tidak bahagia. Aku sudah menganggap dia seperti saudaraku sendiri," katanya kebingungan.
"Kamu tidak akan tahu apa yang ada di dalam hati mereka," kata Eria dengan kedua mata yang berkilat.
"Apa menurutmu aku bisa sembuh atau lepas dari penyakit terkutuk ini? Aku sangat menderita, aku tidak bisa keluar rumah sesukanya. Setiap melangkah, gelembung ini pecah dan itu sangat perih," katanya memperlihatkan telapak kakinya yang juga sama.
"Hmmm dia benar-benar membencimu," kata Eris bertopang dagu.
"Aku ingin mengakhiri hidupku tadi tapi..." katanya memperhatikan toko itu. "Bukankah disini tidak ada toko ya," katanya aneh.
"Aku bisa membuatmu lepas dari kutukan itu," kata Eris.
"Aku akan melakukan apapun agar bisa sembuh dari penyakitnya mengerikan ini. Aku akan mendengarkan apapun yang kamu katakan. Aku mohon" katanya memohon. Bahkan tangannya saja tidak bisa saling menyentuh.
Lalu Eris berdiri dan mengambil sabun garam beserta serbuk bubuk dan memberikannya pada gadis itu.
"Apa ini?" Tanyanya agak aneh. Dia membauinya dan harum sekali.
"Sabun garam dan bubuk garam hitam," kata Eris duduk kembali.
"Harum sekali dan cantiknya," kata gadis itu dengan kedua mata yang berbinar.
"Ini bukan sabun haram biasa, sabun ini bisa menghilangkan semua masalah yang sedang kamu hadapi. Penyakit apapun akan hilang tapi tentu saja tidak akan instan," kata Eris.
__ADS_1
"Ya tentu saja. Aku akan mencobanya," katanya dengan yakin. Mulutnya mengeluarkan darah kalau semakin lama sebenarnya dia akan meninggal dengan sendirinya tapi Eris berpikir masih banyak kehidupan yang indah.
"Makan permen ini, tubuhmu sepertinya sudah tidak tahan dengan sakit," kata Eris memberikan permen dengan wangi bunga untuk gadis itu.
Dia tampak berkaca memang kenyataannya tidak kuat. Dia memakannya meski saat mulutnya dibuka, terasa perih dan sakit.
"Hmmm wangi dan enak sekali. Oh! Mulutku tidak terasa sakit lagi," katanya kaget.
"Itu garam yang aku buat dijadikan permen hanya tidak aku jual secara bebas. Sebagai alas," kata Eris.
Gadis itu mengangguk.
"Apa kamu bisa bersabar? Dan menahan rasa sakitnya?" Tanya Eris kemudian.
"Perih?" Tanya memucat.
"Sangat sampai merasa kamu lebih ingin bunuh diri saja," kata Eris membuat gadis itu syok.
"Sesakit itu," katanya termenung.
"Itu adalah harga untuk dirimu yang selalu mengejek, meremehkan dan menghina orang-orang. Rasa sakit itu sebanding dengan kelakuan kamu. Jadi bagaimana?" Tanya Eris.
"Aku bisa! Aku akan tahan. Sekarang saja semua penyakit ini sudah seperti mengiris nyawaku," katanya dengan tekad yang kuat.
Eris tersenyum. "Bagus. Sehari gunakan empat kali setiap hari sesuatu kebutuhan kamu. Setelah mandi dengan sabun ini, keringkan lalu tabur bubuk ini di depan kamarmu, cukup tabur sedikit sekepal tangan kamu lalu biarkan," kata Eris menunjuk.
"Untuk apa?" Tanya gadis itu dia pikir bubuk itu harus ditebarkan ke seluruh tubuhnya.
"Memusnahkan sesuatu yang jahat mendekati kamu. Sedikit saja kamu bisa mengukurnya menggunakan tutup botol sirup," kata Eris.
"Baiklah," katanya dengan yakin.
"Aku peringatkan lagi rasanya akan sakit sekali tapi kalau kamu ingin sekali penyakit itu hilang permanen, aku yakin kamu akan kuat. Masukkan sabun itu ke dalam air yang akan kamu gunakan untuk mandi, airnya akan berubah warna menjadi hijau. Kamu bisa gunakan berendam atau di bilas terserah kamu saja," jelas Eris.
"Sepertinya mau aku bilas saja dulu takutnya tidak kuat kalau harus berendam. Kalau begitu aku akan pulang ke rumah dan menjalaninya. Ini benar bisa menyembuhkan semuanya kan?" Tanyanya memastikan.
"Ya?" Tanyanya berbalik.
"Jangan dimakan. Sepenasarannya kamu, jangan pernah memakan garam itu meski hanya 1 butir kecil," kata Eris.
"Ah, tidak aku tahu garam ini kan untuk kecantikan bukan untuk dimakan. Tapi aku akan mengingatnya. Lalu pembayarannya?" Tanyanya mengeluarkan dompetnya.
"Datanglah lagi bila sabun itu mulai mengecil," kata Eris menutup pintu tokonya.
"Jadi masih berlanjut ya. Baiklah, aku siap!" Katanya.
Eris sudah mempersiapkan segalanya. Botol garam itu sudah tentu habis juga dibeli banyak orang. Tapi tidak masalah di gudangnya dia akan membuatkan lagi.
Gadis itu sampai di rumah dan masuk ke kamarnya dengan pelan. Lukanya berdenyut-denyut, orang tua tidak ada di rumah itu mereka sedang bekerja mencari dokter yang handal untuk merawat anaknya.
Rumah sederhana tapi megah, halamannya juga indah sekali ditanami dengan bunga bakung putih yang menari seakan menyambut majikannya pulang.
Gadis itu memasuki kamarnya dan menyalakan lampu lalu menyiapkan air dalam bathub nya. Air panas dan dingin bercampur sampai setengah badannya dan memasukkan sabun itu ke dalamnya memakai kain.
Setelah itu dia keluar dan menyiapkan empat lembar handuk takut banyak darah yang keluar dari gelembung. Saat kembali, dia takjub airnya berubah menjadi hijau bening. Diangkat lah sabun nya yang tidak tampak terlalu basah.
"Ajaib," katanya lalu menaruh sabun itu dengan aman.
Kemudian dia ambil kapas sehelai dan memasukkannya lalu menarik nafas, dalam hitungan 3 dia langsung menaruh ke kulitnya. Dan ....
"AAAAAAAAAA!!! PERIIIIIHHHH," Teriaknya. Sangaaat perih sekali.
Dia menahan rasa perih yang menggigit itu. Sambil memejamkan kedua matanya, pasrah bila darah berceceran. 5 menit rasa sakit perih itu menjalar lalu mereda.
Dia membuka kedua matanya dan melihat kapasnya langsung kering. Dia buka dan gelembung itu menjadi mengecil, saat dipegang masih luar biasa sakit namun tidak ada darah yang keluar.
__ADS_1
"Huff huff padahal sakitnya luar biasa tapi tidak ada darah sama sekali. Ayo, Ambrosia kamu bisa," katanya pada dirinya sendiri. Sadar bahwa gelembungnya masih tetap sama, dia tahu mana ada obat yang langsung membuatnya sembuh.
Beberapa menit, tangannya sudah selesai dia basuh dengan keringat yang bercucuran, dia memasang AC sedingin mungkin. Tangannya sudah tidak sakit lagi dan dia memutuskan untuk menenggelamkan dirinya langsung di dalam.
"Ini tidak seberapa dengan yang kamu katakan pada setiap orang. Inilah balasanku," katanya dengan yakin. Dia menenggelamkan dirinya sambil menangis.
Dalam airnya dia menahan derita rasa perih yang mengerubungi tubuhnya. "Aku harus bertahan anak itu bilang rasa... nya memang... parah... sekali. Tapi tidak kuduga akan sesakit iniiiiiii!!" Dalam hatinya.
Dia jadikan rasa denyutan itu sebagai nyanyian dan perlahan membiasakan diri dengan rasa. 15 menit sudah terlewati, dia selesai mengeringkan tubuhnya yang masih banyak gelembung dan bintik.
"Akhirnya. Ini ajaib tidak ada darah yang keluar saat aku mengobatinya dan lagi, airnya menjadi air biasa? Ah, jadi itu obatnya. Ah ya, bubuk ini harus aku tabur di sudut pintu.
Selesai, dia tertidur di kasurnya dengan nyenyak tanpa menggunakan perbannya.
Malam hari tiba kedua orang tuanya lelah. Mereka menuju kamar anaknya di lantai 2 sambil membawakan sekotak kue.
"Ambrosia, kamu sudah bangun? Ini Mama dan Papa, kami membawakan kamu oleh-oleh kue Blanc Mont kesukaan kamu," ketuk Mamanya yang cemas.
Ambrosia kemudian bangun dan menggeliat, entah kenapa badannya terasa enakkan. "Sebentar," katanya melangkah ke pintu.
Dia membuka kunci lalu membiarkan orang tuanya masuk.
"Bagaimana penyakitmu? Kamu sudah ke dokter kan? Tadi ada telepon dari sekolah, kata mereka kapan kamu mau masuk sekolah?" Tanya Mamanya yang tidak melihat ke arah Ambrosia.
"Aku tidak mau sekolah, Ma. Aku masih malu sampai kapan aku masih harus menggunakan perban ini di sekujur tubuhku?" Tanya Ambrosia yang juga masih belum menyadari sesuatu.
Mama dan Papanya tidak memandangi anaknya karena tidak kuat melihat gelembung menjijikkan itu. Mereka berbincang sambil saling membelakangi, Papanya menunggu di pintu depan kamarnya.
"Haruskah kita pergi ke luar negeri sayang?" Tanya Mamanya ke suaminya.
Papanya menghela nafas.
"Tenang saja Ma tadi aku pergi jalan-jalan dan memasuki toko yang aneh. Orangnya memberikan aku sabun garam untuk mengatasi penyakit ku ini," kata Ambrosia memandang kecut kedua orang tuanya.
"Apa sabun itu aman untuk kulitmu, sayang? Lebih baik jangan terlalu sembarangan. Nanti kalau lebih parah bagaimana?" Tanya Mamanya yang masih membelakanginya. Ada rasa sedih rasanya tidak sanggup menatap anak satu-satunya itu.
"Ini aman. Anak yang berbicara denganku kelihatannya tidak berbohong. Aku tadi sudah pakai sepulang dari jalan-jalan," kata Sia.
"Benarkah?? Lalu?" Tanya Papanya yang berusaha tegar.
"Rasanya PERIIIIIHHHH sekali sampai tadi agak tidak kuat menahan sakitnya," kata Sia.
"Kamu berdarah banyak, Nak?" Tanya Papanya yang membayangkan sebelumnya.
"Tidak ada hanya sakit saja," jawab Sia.
Mama dan Papanya bengong mereka saling memandang. "Tidak ada darah? Kamu yakin?" Tanya Mereka.
"Iya. Nih periksa handuknya, aku gunakan hanya 1 lembar saja untuk mengeringkan," kata Sia melempar 4 handuk.
Mereka berdua memeriksa benar saja tidak ada lumuran darah dan mereka kebingungan. "Bagaimana bisa? Sia obatnya..." otomatis Mamanya menatap Ambrosia yang sedang duduk di kasur.
Mamanya bengong dan kaget.
"Ada apa, Ma? Kenapa melihat Sia begitu?" Tanyanya berdiri ketakutan.
Mamanya maju dengan mulut yang masih terbuka. Lalu menangis. "Pa, Papa!" Teriaknya.
"Apa sih, Ma? Papa disini. Ada apa?" Tanyanya.
Mama menarik tangannya untuk masuk dan melihat anak mereka.
"Nak, gelembungnya," kata Mamanya dengan wajah menangis.
Karena keheranan, Sia lalu membuka cermin besar yang sudah dia bungkus dengan kain. Dia berdiri disana, gelembungnya kini mengecil tapi bintik masih ada.
__ADS_1
"Ini... gelembungnya..." kata Sia yang juga kaget.
Bersambung ...