Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
23


__ADS_3

"Ya, makhluk itu memang zombie tapi lebih mengerikan dari zombie yang kita lihat dalam film. Tapi kenapa bisa?" Tanya Chris agak aneh.


"Seleb itu aku rasa, aku tahu siapa," kata Yuri memperlihatkan sesuatu dari ponselnya.


Eria menghubungi Yuri karena merasakan firasat sangat buruk dan dikatakan makhluk yang berada di vila tersebut berasal dari seorang seleb.


Seleb tersebut melakukan pesugihan dengan Zombie, makhluk yang tidak ada dan dibuat entah dari mana.


Ada juga namanya, mereka terkejut namun Eria belum yakin apakah seleb itu yang berada di belakang pembunuhan.


Dan disebutkan bahwa hal itu juga sempat ketahuan oleh beberapa orang. Kemudian dia sembunyikan tidak lain dalam vila ini.


Seleb itu mengunjungi dukun hitam dan minta dibuatkan semacam makhluk penjaga. Tujuannya agar semua karirnya berjalan lancar.


"Kita panggil Yoshi untuk menjelaskan ini semua," kata Eris.


Mereka setuju, dan dipanggil lah. Yoshi datang, mereka menunjukkan semua keterangan dari Eria.


Yoshi terkejut sesaat lalu terdiam, tidak menanggapi.


"Benarkah, Pak? Tolong jawab," kata Yuri memaksa.


"Anda tahu juga siapa yang menculik Olive dan Anita kan? Zombie!" Kata Rika.


Yoshi tidak bisa bicara, ruangan itu tentu dipasang penyadap. Karena banyaknya peserta yang mengatakan hal yang harus dia simpan, akhirnya Yoshi menulis dalam kertas.


"Saya hanya diberitahu untuk diam jadi makhluk itu tidak akan membunuh,"


"Astaga! Astaga!" Teriak semua peserta.


Fuji semakin bulat untuk keluar dari rumah tersebut, dia memasuki kamar dan membereskan semuanya.


Yoshi tahu sebagian pasti akan pulang dan menulis kembali,


"Nona saya menaikkan uang menjadi lima puluh juta bila ada yang berhasil bertahan sampai seminggu,"


"MAJIKAN KAMU GILA!!" Teriak Rika dan Panca panik.


"Apa Anda menginginkan kami bertaruh nyawa di sini?" Tanya Rio dengan marah.


Yoshi diam kemudian pamit untuk pergi dengan wajah datar dan dingin. Yang lain heboh dan panik memikirkan uang sebegitu banyak.


"Bagaimana sekarang?" Tanya Iran.


"Yang bisa kita lakukan hanya berhati-hati, kita sama sekali tidak tahu apa yang akan Yoshi lakukan. Apalagi seleb ini pelakunya," kata Eris.


"Tapi kita masih belum yakin juga apakah benar? Terkadang Eria juga suka meleset perkiraannya," kata Sani.


Sejak hari itu sampai seterusnya mereka menjadi lebih waspada. Yuri dan Ares dan siapapun sama sekali tidak boleh hanya berdua.

__ADS_1


Bila ada yang mandi, mereka saling berjaga zombie itu bisa menyerang kapan saja tanpa memperhatikan siang atau malam.


Saat menunggu giliran Ares mandi dan Yuri menyiapkan makan siang, Eris kaget kedatangan dua bola arwah.


Dia diam tidak bergerak memandangi bola yang mendatanginya dan berhenti di depannya. Dengan ragu, dia mengulurkan tangan.


"Ara dan... Dio," sebut Eris tidak percaya. Kenapa? Bukankah mereka berada di tempat aman?


Bola-bola itu saling bertabrakan dan berteriak tidak mempercayainya. Eria tidak dapat berbuat banyak, mereka memang sudah tiada.


Yuri datang begitu juga Ares yang menatap kilatan bulat pada tangan Eris. Mereka menahan menatap Eris yang berwajah sedih


Terdengarlah suara gaduh dan Eris mengirimkan bola arwah itu pada toko dengan sebuah dimensi.


"ARA DAN DIO TIDAK ADA!! Mereka tidak ada dalam ruangan!!" Seru Panca dengan panik.


"Padahal mereka bersama kami hanya keduanya sedang membuat kopi. Saat kami berbalik, mereka tidak ada," kata Rika yang pusing.


"Apa benar dia ( Yoshi ) juga ikut permainan ini?" Tanya Eris bertanya sendiri.


Chris dan teman-temannya datang setelah mendengar apa yang terjadi. Saat itu hari sudah menjelang malam, harapan mereka untuk selamat semakin menipis.


Mereka semua menuju pintu depan namun tidak dapat terbuka. Mencari kunci dan dicoba satu per satu pun tidak bisa, sampai Yoshi datang.


"Tidak ada yang bisa keluar dari vila ini kalian sudah menandatangani perjanjian selama seminggu," kata Yoshi dengan santai.


"Kamu gila ya! Ara dan Dio yang bersama kami sampai tidak ada! Tidak ada jejak hanya tersisa barang mereka! Kemana kamu membawanya?" Tanya Tora menarik kerah baju.


Tora terdiam mendengarnya, apakah maksudnya Yoshi mereka harus mencari tahu sesuatu?


"Saya hanya menyarankan bertahan meski kalian semua dalam satu ruangan. Makan malam akan siap pukul tujuh malam," kata Yoshi lalu pamit pergi.


"Keterlaluan sekali orang itu. Masa kita benar-benar menjadi umpan?" Tanya Sisna.


Eris berpikir ada sesuatu, Yoshi memberikan kode agar mereka semua menyadari sesuatu.


Para pelayan tidak ada yang terlihat, makanan sudah tersaji dengan kepulan asap. Mereka memasuki aula dan makan tanpa semangat.


Eris pun berwajah sangat serius, dia harus membuat semua orang keluar dan sisanya bisa dia bereskan bersama Arae.


"Eris jadi lebih tegang dari sebelumnya berarti ini semakin serius," pikir Yuri cemas.


"Kita pasti keluar," kata Ares.


"Iya," jawab Yuri. Iran agak cemburu melihat kedekatan Yuri dan Ares, meski tahu mereka tidak ada hubungan apapun.


Mereka semua makan bersama dan Sisna mengatakan sesuatu.


"Aku sejak masuk rumah ini memang mencium bau darah yang sangat pekat. Seakan-akan semua ruangan dicat dengan darah," kata Sisna menatap makanannya.

__ADS_1


"Kenapa kamu tidak bilang sebelum kita seperti ini?" Tanya Mila kesal. Kadang Sisna selalu menyembunyikan hal yang penting.


"Apa kalian akan peduli? Chris yang mengemban misi menyelidiki Olive yang ternyata Palsu, Lalu Rio yang semangat memenangkan uang dan juga kamu," kata Sisna.


Chris hanya diam, tentu dia pun merasakan hal itu dan enggan diceritakan.


"Seharusnya kita keluar saat tahu Olive bukan murid Prof," kata Chris menyesal juga.


"Terkadang keingintahuan memang tidak seharusnya ada. Tapi namanya juga manusia, selalu penasaran bukan," kata Eria yang memakan daging merah.


"Kamu berkata begitu seperti bukan manusia saja. Aku yakin kamu juga pasti tergiur dengan uang itu kan," kata Rika.


Yuri sadar, sebagian salahnya yang memaksa Eris untuk menerima ajakan. "Itu salahku,"


"Bagaimana bisa?" Tanya mereka.


"Karena aku memaksa Eris untuk mengikuti permainan ini. Maaf," kata Yuri.


Eris tidak masalah, kapan lagi dia bisa merasakan kasus menyenangkan begini. Hanya saja para peserta menjadi taruhannya.


"Baunya seperti apa?" Tanya Ares.


"Baunya seperti semua ruangan dibasuh darah. Itulah kenapa aku sering mandi dan kamar dipasang bau dupa," kata Sisna.


Mereka semua merinding, tentu Yuri dan Eris pun mengaku hal yang sama.


"Sepertinya seleb itu memeras semua darah peserta dan benar-benar dibuat sebagai air mandi," kata Mila.


"Kamu tahu ya wujudnya sejak awal? Kenapa tidak bilang?" Tanya Sisna pada Eris.


Eris menatap Sisna yang sangat kesal. Semua orang membutuhkan penjelasan.


"Kenapa harus aku? Bukankah kamu yang selalu membanggakan pendeta? Apakah kemampuanmu hanya sekedar memusnahkan roh kecil?" Tanya Eris membuat Sisna kaget.


Yang lain pun terdiam, mereka tidak mempercayai Eris yang memang bisa tahu.


"Yah, maafkan mengenai itu. Karena kamu bagi kami, mungkin orang asing," kata Mila.


"Kalian semua bagiku adalah orang yang tidak penting. Aku hanya akan mengusahakan jalan keluar untuk dua pegawai, sisanya cari saja sendiri," kata Eris meneruskan makannya.


Mereka terdiam. Saat-saat genting, bisa-bisanya mereka mencari kesalahan. Padahal Eris sudah memperingatkan tapi mereka tidak percaya.


"Aku hanya bilang bahwa monster itu selalu membutuhkan darah segar. Bahkan dia bisa membuat siapa saja hilang, di siang hari tandanya dia sangat membutuhkan," kata Eris.


"Tapi untuk apa?" Tanya Chris.


"Mungkinkah... menjadi manusia?" Tanya Kei yang tiba-tiba.


Bisa jadi, siang hari menyerang. Mereka pikir hanya malam di saat semua tertidur. Ternyata...

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2