
Di dalam mobil, mereka menggunakan sabuk pengaman dan Apollo menyetir mobilnya menuju warung nasi yang diarahkan oleh Artemis.
"Eh, Mis besok kamu ada acara tidak?" Tanya Apollo sambil melihat ke depan.
Artemis yang sedang menghitung uang dalam dompet menjawab temannya itu. "Tidak ada. Rencananya sih mau liburan di rumah. Kenapa?" Tanyanya sedang jilat jarinya menghitung lembaran uang receh.
"Aku punya teman yang berkuliah di Universitas B, dia punya adik. Dia sangat cemas kepada adiknya itu yang masih duduk di bangku sekolah memintaku untuk melihat kegiatan mereka. Mau ikut tidak?" Tanya Apollo lalu mobilnya berbelok ke tanda panah.
"Hah!? Anak SMA? malas ah, pasti genit semua. Memangnya kegiatan apa sih?" Tanya Artemis menaruh dompetnya di celana.
"Ayolaaah kalau libur juga kamu hanya bermain game saja. Lagipula job kali ini seru," kata Apollo merayu sahabatnya.
"Memangnya mau apa sih?" Tanya Artemis memandangnya.
"Jadi kata kakaknya itu, adiknya punya geng dan senang sekali melakukan kegiatan pemanggilan arwah. Tahulah kamu juga dulu pernah kan bermain," kata Apollo.
"Ya tentu saja tapi kan Pol, itu seram. Meski hanya bermain saja kalau serius kejadian datang yang lebih besar bagaimana?" Tanya Artemis yang agak seram kalau soal hantu.
"Nah, kata kakaknya sih sudah sering mengalami kedatangan tapi bisa dipulangkan kok. Ikut yuk siapa tahu bisa sekalian kenalan dan dapat pacar hehehe," kata Apollo mencolek bahu Artemis.
"Aku pikirkan dulu," kata Artemis sambil manyun.
"Sekarang mikirnya, aku mau kasih kabar nih. Cepat!" Suruh Apollo sambil tertawa.
"AAAARGH!!" Teriak Artemis kesal karena Apollo kadang tidak sabaran.
Apollo tertawa melihat Artemis yang stres karena disuruh berpikir cepat. "Aku dapat kerja sampingan dari teman yang bermacam-macam usianya. Kamu tahu tidak di Bandung juga sedang Hot soal permainan arwah," katanya.
"Aku heran memangnya mereka tidak takut? Lagipula berhentilah kamu mengambil kerja sampingan yang aneh-aneh. Kalau kita sedang sial, bisa-bisa ikut terluka!" Kata Artemis mengguncang bahu temannya itu.
"Aku sedang menyetir. Hentikan! Dia hanya minta di foto kan seperti alat-alat katanya lebih bagus juga kalau aku terjun langsung mengikuti kegiatannya. Seram juga tapi demi... Uaaaang," kata Apollo sambil menggesekkan jari telunjuk dan jempol.
"......" Artemis mendengarnya. Yah, meskipun mereka bekerja di Cafe kopi yang banyak pengunjung bahkan non stop tetap saja, biaya hidup di Jakarta sangat mahal.
"Bagaimana? Bagaimana?" Tanya Apollo.
"Gila juga sih lebih baik kalau mereka sudah ahli bukan yang sering mengalami. Itu pekerjaan sampingan yang beresiko sekali. Kamu kok sering menerima sampingan seseram sih?" Tanya Artemis.
__ADS_1
"Ya, aku juga takut sebenarnya tapi honornya lumayan besar sih. Lalu sebagai pengalaman juga aku belum pernah dan belum mencobanya juga, aku sudah tahu bahayanya," kata Apollo menghela nafas.
"Ya baguslah kalau kamu sudah tahu. Berdoa dulu. Kalau tidak salah di Jepang juga ada cara memanggil arwah kan. Mantra nya sama caranya berbeda. Kakak teman kamu itu cemas?" Tanya Artemis.
"Iyalah, adiknya sudah sering melakukannya dengan teknik yang berbeda. Kabarnya mereka akan mencoba cara yang ekstrim. Kakaknya mirip kamu yang suka bicara aneh," kata Apollo. Mobil mereka memasuki gang besar.
"Aneh sekali hobi adiknya," kata Artemis menggelengkan kepala.
"Ikut ya nanti aku beritahu ke kakaknya. Ok? Ok?" Tanya Apollo.
Artemis mau tidak mau harus mengikutinya dan mengangguk membuat Apollo sangat senang. Ya seperti kata teman sejati dalam suka duka pasti selalu ada. Saat kondisi mengerikan, membahagiakan bahkan sedih selalu bersama. Kena terror juga karena dianggap sebagai member BTS yang bekerja di Indonesia, selalu bersama-sama menghadapinya.
"Lalu ada info apa lagi?" Tanya Artemis.
"Mereka bersekolah di SMU X, yah sering melakukan pemanggilan begitu, kadang lokasinya berganti-ganti. Yang sekarang lokasinya di halaman sekolah yang letaknya agak jauh dari bangunan sekolah mereka," kata Apollo lalu mobil mereka berhenti karena lampu merah.
"Dih, anak SMU jaman Now ya sama sekali tidak takut," kata Artemis agak merinding.
"Aku setuju memanggil berani tapi saat dihampiri malah kabur. Tempatnya angker soalnya halaman itu dikelilingi oleh pepohonan besar dan tinggi. Kalau siang memang enak jadi rindang tapi kalau malam... Lalu, yang akan melakukannya itu 6 orang perempuan," kata Apollo.
"HAH!? Perempuan semua!? Jangan-jangan diantara mereka termasuk adik teman kamu?" Tanya Artemis menganga.
"Sok tahu sekali mereka. Lalu aku tugasnya apa?" Tanya Artemis.
"Kamu foto saja bukti-bukti alat dan kegiatan mereka tenang bayarannya aku bagi dua kok hehehe," kata Apollo menyengir.
"Baiklah. Kapan itu?" Tanya Artemis menatap temannya.
"Malam ini," kata Apollo singkat.
"HAH!? GILA APA!?" Teriak Artemis. Dia menepuk dahinya kalau begitu sih mana bisa mempersiapkan hati.
"Yah belum pasti juga sih katanya mereka masih mencari alat lain yang lebih menantang nanti akan dihubungi lagi. Jadi aku sedang menunggu beritanya," kata Apollo akhirnya mereka tiba di warung nasi.
"Aku merasa tertipu ya sama kamu," kara Artemis melepaskan sabuk pengaman.
"Hahahaha," kata Apollo sukses!
__ADS_1
"Jangan sampai ya kita juga ikut didatangi," kata Artemis bersiap keluar mobil.
"Hei, teror manusia itu lebih menakutkan dari hantu. Sudah berapa kali kita kena teror sampai akhirnya kita foto tempat kelahiran kita di kampung. Baru berhenti," kata Apollo mengingatkan mereka dengan peneror maniak BTS.
Artemis tertawa mengingatnya. Apollo dari kota Yogyakarta dan Artemis dari Semarang membuat sasaeng itu langsung membeku di tempatnya. Lalu meminta maaf karena ternyata mereka memang bukan anggota BTS yang menyamar.
"Tenang saja kita hanya sebagai saksi kok bukan yang ikut memainkannya. Makanannya enak disini?" Tanya Apollo memasuki warung nasi itu.
"Mantap! Kamu pilih saja makanannya, aku yang traktir sekalian promosi tempat juga, sebarkan ya ke teman kamu yang lain. Tuh lihat menunya juga banyak," kata Artemis langsung tergiur melihat jengkol goreng.
"Mereka harus tahu mana ada Member BTS suka jengkol hahaha," kata Apollo memfoto Artemis makan jengkol.
"Hahahaha," kata Artemis makan dengan lahap.
"Makan sini, Ujang?" Tanya Ibu warung.
"Seperti biasa. Dua porsi ya untuk teman saya," kata Artemis.
"Siap siap. Pilih silakan mau makan pakai apa. Berkat kamu, warung Ibu banyak pembeli," katanya menepuk lembut tangan Artemis.
"Alhamdulillah," jawab Artemis.
Mereka lalu memilih lauknya, tentu Apollo pun senang makanan kesukaannya ada semua disini. Dan lagi harganya murrraaah! Mereka makan menggunakan tangan dan minum dengan air teh pahit.
Tiba-tiba angin datang menerobos ke arah jendela dimana Artemis duduk. Mempermainkan rambutnya yang bergelombang lalu dia rapihkan dengan tangan jari kirinya.
Dia menghentikan kegiatan makannya dan berusaha menutup jendela tapi entah kenapa sulit. Seperti ada yang menahan juga lalu menyerah karena sedang kelaparan.
Meski angin terus mempermainkan rambutnya yang lembut, mereka bersenda gurau sambil mengobrol mengenai pekerjaan dan kegiatan nanti malam.
Di kejauhan berdirilah Raja yaitu ayah dari Eris mengawasinya. Dia mengirimkan angin untuk meyakinkan bahwa Artemis bisa menyadari kehadirannya.
Dalam dunia kegelapan, Raja berkawan dengan Artemis dengan baik. Dalam Bumi, dia terkejut ada reinkarnasi dewa Artemis. Tapi sepertinya tidak bisa menyadari kehadirannya.
"Mungkin orangnya berbeda. Hmmm," setelah itu Raja menghilang kembali ke dunianya.
Artemis lalu menatap langit di tempat Raja tersebut tadi berdiri. Dia hanya merasa ada yang memperhatikannya entah di mana. Apollo sibuk menambah porsi dan meminta sepiring bihun dicampur kuah rendang.
__ADS_1
Bersambung ...