Girl Of Darkness

Girl Of Darkness
26


__ADS_3

Eris kembali ke dalam kamar, Arae tentu masih mengamati dia ingin sekali menghabisi sang monster.


Ada sesuatu yang menahannya entah apa tapi bukan kekuatannya juga bukan Eris. Dia mengamati dari luar tidak ada siapapun yang menyelinap atau bahkan pelayan.


Mondar mandir dia merasa semakin aneh, seharusnya banyak pelayan yang mengerjakan sesuatu di kebun atau gudang.


Raven hinggap di sebelah cerobong. "Nona curiga dengan kegiatan disini?"


"Lho? Raven, kok ada disini? Toko bagaimana?" Tanya Arae.


"Toko tutup saja Aiolos kelelahan. Aku datang untuk melihat-lihat," kata Raven menatap vila besar itu.


"Selama kamu terbang, apa melihat ada pelayan atau kepala pelayan di sisi rumah lain?" Tanya Arae yang melayang dengan api.


"Hmmm aku melihat tapi tidak yakin juga kalau itu mereka," kata Raven.


"Tidak yakin kenapa?" Tanya Arae.


"Manusia atau roh," jawab Raven membuat Arae terbelalak.


"Tunggu tunggu maksudmu roh bagaimana? Bukannya mereka manusia? Bisa makan juga kan?" Tanya Arae.


Tidak percaya kalau pelayan itu memang roh yang mungkin tertahan atau ditahan oleh sesuatu.


"Aku tidak melihat mereka ada waktu makan, yah aku kan mencoba cari celah juga," kata Raven mengusap wajahnya.


"Masa? Pagi? Siang atau malam?" Tanya Arae agak tegang.


"Tidak ada. Yang aneh ya saat mereka mengunjungi aula untuk mengantarkan makanan, aku mengikuti. Tapi anehnya tidak tampak lagi," kata Raven.


"Masa iya mereka tembus? Itu kan artinya," kata Arae terdiam.


"Ya Nona, menurutku roh mereka tertahan disini oleh seseorang. Kalau ada yang kerasukan, ya mereka meminta tolong untuk diselamatkan," kata Raven.


"Eris, aku harap kamu baik-baik saja karena aku tidak bisa masuk untuk membantu," kata Arae penuh kecemasan.


"Katanya para peserta satu per satu meninggal. Kamu pasti tidak tahu kan soal itu," kata Raven.


"Apa!? Bagaimana bisa?" Tanya Arae kaget.


"Aku bertanya ke sesama burung gagak atau merpati yang terbang melewati lahan ini. Menurut mereka vila itu sudah kosong seharusnya. Dan ada yang lebih menyeramkan," kata Raven melompat ke pundak Arae.


"Apa?" Tanya Arae.


"Burung merpati putih berkata, dindingnya bermandikan darah orang-orang yang meninggal," kata Raven.


"Merpati biasanya suka berbohong," kata Arae yang terdiam.


"Tapi memang gagak pun berkata hal yang sama, Nona. Mereka bahkan lihat sendiri beberapa pelayan mengucurkan darah itu dari atap," tunjuk Raven.


Arae tidak mampu berkata apapun, saat dia ke atas memang semerbak bau pekat mayat makanya dia pingsan.


"Bagaimana dengan kepala pelayan ini?" Tanya Arae menunjukkan bola besar di tangannya. Yoshi.


Raven berpikir, dia jarang melihat orang besar itu. "Aku tidak tahu sih orang ini, jarang juga keluar dari vila. Menurutku dia manusia, untuk saat ini,"


"Apa jangan-jangan roh pelayan itu memang tertahan ya dalam vila? Apa kepala pelayan itu tidak tahu kalau rekannya sudah lama mati," kata Arae bergumam.


"Tidak, Nona," kata merpati putih datang.

__ADS_1


"Eh?" Tanya Arae menatap merpati yang agak takut melihat Arae dengan ekor segitiga.


"Ah, burung ini yang mengatakannya. Katakan pada Nona ku info yang kamu tahu," kata Raven.


Merpati itu mengangguk. "Kepala pelayan itu sudah tahu sejak lama kalau rekan-rekannya sudah mati,"


"Lalu tidak ada perlawanan?" Tanya Arae.


"Mereka tidak bisa berbuat banyak, Nona. Kepala pelayan yang saya tahu, sudah berumur. Saya pun heran kenapa masih muda ya?" Tanya merpati itu memiringkan kepalanya.


Mereka bertiga terdiam dan memandangi vila tersebut.


Dalam ruangan tidak ada yang bertingkah lagi, semuanya tertidur dengan Chris yang berada dekat pintu. Mila di samping dan Sisna tengah bersama Rio.


Pagi menjelang, Yuri dan Sani bangun terlebih dahulu. Eris sih jangan tanya ada dimana. Mereka bertugas saling membangunkan yang lainnya.


Sani kemudian membuka selimut dan menyadari Rika tidak ada. Dengan panik langsung menuju Chris yang tengah berdiri.


"Rika tidak ada! Bagaimana ini? Jangan-jangan dia berhasil di seret," kata Sani panik.


"Rika tidak ada. Aduh," kata Fuji mulai membenamkan kepalanya.


"Tenanglah," kata Chris memandangi Rio dan mereka mencari.


Eris menemukan secarik kertas dan membacanya, lalu memberikannya pada Sisna.


"Dia menuju lorong itu lagi. Dia meninggalkan pesan," kata Sisna.


Semuanya terkejut para laki-laki beranjak dan membaca.


"Anak itu! Kapan dia mengerti kalau rumah ini berbahaya? Ayo kita cari!" Seru Rio dengan melemparkan kertas.


"Tenang saja, dia akan kembali," kata Eris.


"Maaf," kata Rika berjalan pelan menuju kursi.


"Kamu kemana lagi sih? Belum cukup ya bertemu monster?" Tanya Iran marah.


Rika tidak menjawab nampaknya dia agak syok sekali sambil memegang kameranya.


"Kamu kenapa?" Tanya Yuri cemas.


"Ada apa? Wajahnya lebih pucat. Ceritakan," kata Ares dengan lembut.


Rika masih terdiam, dia menatap kameranya dan menaruh di atas meja. "Kalian akan terkejut bila melihat isi video disini," katanya pelan.


"Kenapa? Hanya demi ini kamu keluar lagi? KAMU INI KENAPA SIH," kata Mila yang ditahan oleh semuanya.


Rika diam kedua matanya berair. Yuri menyuguhkan teh dan makanan, sudah pagi juga.


Yang lainnya sudah bangun dengan keadaan rambut seadanya. "Kamera ya? Ada apa dengan isinya?" Tanya Kei menguap.


"Periksa sajalah," kata Rika lemas.


Sani kaget dan melihatnya. "Ini kamera milik Rika. Sebenarnya aku sempat meminta dia memberikan kameranya, karena kamera dia lebih bagus dari pencahayaan,"


"Untuk?" Tanya mereka.


"Kami ingin membantu kalian ya dengan membuat konten juga. Sebenarnya ada apakah ini semua. Kenapa peserta lalu menghilang tidak dapat ditemukan," kata Sani merangkul Rika.

__ADS_1


"Sudah, kalau begitu kita lihat saja detik-detik sebelum Tora berakhir," kata Yogi. Mereka setuju dan mengambil laptop.


"Hei, bagaimana kalau kita gunakan layar proyektor? Kalau laptop layarnya kan kecil," kata Sisna mengusulkan.


Chris mengambil proyektor bersama Rio dan Mila. Ternyata mereka memang niat sekali menyelidiki bangunan ini.


Semua peralatan telah siap, Yoshi tidak pernah datang kembali semenjak perpisahannya itu. Dia sudah berakhir hidupnya saat tayangan itu mereka saksikan.


Penampakan itu muncul sebelum mereka menemukan rumah terlarang. Tampak Taro melemparkan kameranya secara tidak sengaja dan menampilkan arah lorong kegelapan.


"Taro masih hidup?" Tanya Key.


"Iya, dia tidak sengaja melemparkan kameranya katanya siapa tahu ada sesuatu yang tertangkap. Arah sana bukan main gelapnya," jelas Sani.


Kemudian beberapa jam mereka melihat bagaimana ketiganya menampilkan sapaan pada penonton. Termasuk ke bagian horornya.


Saat sesuatu di belakang Taro muncul dan mereka menutup mulut dan mata. Dengan jelas sorotan dari kamera Taro dan Rika, suara leher Taro di putar.


"KYAAAA!!" Teriak para perempuan.


Para lelaki pun tidak kuasa mendengar suara KREK serta teriakan terpendam Taro.


Terdengar suara langkah berat mendekati dan melemparkan tubuh Taro ke tembok.


"Hentikan," kata Yuri dan Fuji menangis.


"Jangan hentikan, lihat saja," kata Rika.


Terdengar juga suara Sani dan Rika yang berteriak dalam kamera. Taro yang masih setengah sadar, berusaha memegang kamera. Dan mengarahkan ke arah yang lain.


Meski dirinya seharusnya sudah tidak bernyawa, dalam pikiran dia harus membantu yang lain. Nasibnya dia korbankan sampai mendapat petunjuk.


Kamera Taro dia arahkan ke arah rumah yang nampak jelas seseorang yang berjalan ke luar. Tiba-tiba tubuh Taro diseret begitu saja dengan kejam.


Saat itu Taro sudah berakhir Eris tidak melihat hal itu, Yuri menangis dan ingin pulang saja.


Mereka melihat jelas sesuatu dimasukkan ke tubuh Taro dan dia bangkit, berdiri dengan leher yang hampir putus.


Terdengar suara Sani yang menjelaskan bahwa mustahil orang yang lehernya dipelintir masih bisa hidup.


"Mundurkan kurangi gerakan. Fokus pada mulut Tora," kata Chris.


Meski menyeramkan Yogi melakukannya dan terdengar suara rintihan.


La...ri. Me...re..ka... a..ka..n mem..bu..nu..h


Semuanya terdiam, Sani menangkap suara Tora yang ingin mereka keluar selamat dari vila berdarah.


"Hei, lihat siapa ini?" Tanya Rio menunjuk.


Key memperbesar dan mereka kaget. "Itu kan Yoshi,"


"Benar, dugaan ku dia memang terlibat," kata Chris marah.


"Tapi kan dia menolong kita dengan menembak. Memangnya Yoshi ada dua? Kembar?" Tanya Mila.


"Bukan kembar, ini hanya soal berbagi peran saja. Ada kemungkinan zombie yang mengejar kita semacam mesin," kata Eris.


"Bisa jadi. Cara dia memotong, memutilasi. Setajam itu kukunya," kata Iran.

__ADS_1


"Kamu tahu sesuatu?" Tanya Sani menatap Chris.


Bersambung ...


__ADS_2